Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 49


__ADS_3

Setelah mereka makan siang, Hasna menyampaikan sesuatu pada Ibu Mertuanya yang masih duduk di kursi meja makan tersebut. Sedangkan Raihan sudah duluan masuk kembali ke dalam kamar dengan alasan badannya yang masih terasa lemas.


"Ma, Hasna boleh minta izin nggak..?" Ucap Hasna pada Bu Lena dengan hati-hati. Hesti yang tampak sibuk merapikan meja makan namun telinganya seolah awas tak mau ketinggalan berita.


"Iya sayang, memangnya kamu mau kemana?"


"Hasna mau ke Padang Ma, mau mengurus kuliah Hasna, karena sebentar lagi mau memasuki semester baru. Sayang rasanya kalau harus tertinggal lebih lama lagi kuliah Hasna."


"Iya sayang, Mama akan selalu mendukungmu.. Apa kamu sudah meminta izin pada Raihan..?"


"Belum sih Ma.."


"Kamu bicara dulu padanya ya, usahakan agar Raihan juga ikut bersamamu, kasian kamu sendirian nanti di sana.."


"I-iya Ma.."


Prank... Sebuah gelas yang ada di tangan Hesti meluncur bebas ke lantai.


"Maaf Bu saya tak sengaja.."


"Iya nggak apa-apa, lain kali kamu harus hati-hati.." Ucap Bu Lena pada Hesti sembari bangkit dari duduknya.


"Mama ke kamar dulu ya Na.."


"Iya Ma.." Sahut Hasna cepat. Hasna pun bangkit untuk berdiri, ia berjalan mendekati Hesti.


"Hati-hati ya dik, jangan sampai tangan atau kakinya terluka.. Dan ingat.. berhati-hatilah dan memikirkan matang-matang terlebih dahulu sebelum berniat melakukan sesuatu, jangan sampai hatimu ikutan terluka karenanya." Bisik Hasna di telinga Hesti yang hendak merunduk memilih pecahan kaca.


Hesti terkesiap mendengar ucapan Hasna.


"Maksud mbak Hasna apa ya..?"


***


Di dalam kamar, Raihan tampak tidur terlentang. Hasna pun memberanikan diri untuk masuk tanpa meminta izin dulu pada Raihan. Ia pun berjalan mendekati Raihan, lalu duduk di tepi ranjang itu.


"Rai, nggak baik tiduran setelah makan lho.." Ujar Hasna menasehati suaminya itu.


"Mmmh." Raihan hanya menggumam menjawabnya. Namun ia seolah tak mau di cereweti Hasna, ia pun membawa dirinya untuk duduk.


Hasna tampak menghela napasnya pelan lalu menghembuskan pelan kembali. Ia seperti mengumpulkan tenaga untuk bisa berbicara dengan suaminya itu.

__ADS_1


"Rai, aku mau bicara sesuatu padamu.."


"Mmmh, bicara aja.." Jawab Raihan dingin.


"Huuuft.." Hasna menghembuskan napasnya sedikit kasar sambil menguatkan dirinya untuk selalu bersabar.


"Rai, esok atau lusa aku mau ke Padang karena aku mau mengurus kuliahku Rai, sebentar lagi liburan juga mau habis, aku tak mau ketinggalan lagi di semester depan.." Ucap Hasna hati-hati dengan menatap wajah suaminya itu.


"Lalu urusannya denganku apa?" Tanya Raihan dengan nada ketus dengan wajahnya ia palingkan dari Hasna.


"Rai, kamu itu suami aku, jadi aku berkewajiban memberi tahu kamu, dan meminta izin dari mu juga.."


"Jadi kamu mau meninggalkan aku juga? Setelah Dini tinggalin dan khianati aku, begitu?" Tanya Raihan kembali masih dengan nada ketusnya, ia menghadapkan wajahnya pada Hasna lalu menatapnya dengan tatapan tajam.


"Rai, kamu mau ikut?" Tanya Hasna spontan menanggapi ucapan suaminya itu.


"Tentu.." Ucap Raihan dengan nada datar dan dingin.


"Alhamdulillah... aku akan pesan tiket untuk kita sekarang ya, lebih cepat lebih baik, esok kita berangkat." Ucap Hasna dengan hati senang karena tak menyangka suaminya itu mau ikut dengannya tanpa diminta. Sebenarnya Hasna was-was, jikalau Raihan tinggal, itu akan memberi peluang bagi Hesti menjalankan rencananya.


"Aku tak mau esok."


"Hari ini." Jawab Raihan datar.


"Haaa.." Hasna membulatkan matanya tanda tak mempercayai akan ucapan suaminya itu.


"Aku bilang hari ini, ya hari ini, kamu mau jadi istri durhaka..?" Raihan membulatkan matanya pada Hasna.


Hasna menggelengkan kepalanya cepat.


"Ka-kalau gitu, aku akan cari tiket pesawat yang berangkat hari ini..."


"Tak perlu, aku sudah meminta Hery membelikannya untuk kita berangkat hari ini. Kita akan berangkat pesawat jam 5 sore nanti."


Hasna langsung melongo tak percaya mendengarnya.


"Hey.. kok malah melamun.. segera bersiap-siap.. aku tak mau kita terlambat dan ketinggalan pesawat.." Ucap Raihan sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Hasna.


"Eh, i-iya.. baik Rai... aku akan segera siap-siap.." Ucap Hasna tergagap karena masih tak bisa mempercayainya. Hasna langsung bangkit dari sana, ia pun berjalan ke luar kamar. Namun sambil berjalan menuju lantai atas Hasna tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Bagaimana caranya Raihan bisa menghubungi Hery ya, bukannya HP nya hancur bersama kecelakaan itu? Lalu kenapa ia seolah tahu kalau aku ini mau ke Padang, ada apa ini? Atau Raihan memang ada urusan di Padang dan Hery memberi tahunya, tapi lewat apa dan kapan mereka berkomunikasi? Tapi aneh juga, Raihan baru saja sembuh masa ia harus mengurus perusahaan langsung? Dan tiketnya malah udah langsung di pesan buat dua orang, bukannya Raihan tak ingat padaku? Aaah Rai... kamu buat aku pusing aja..." Tanda tanya besar berseliweran begitu saja di benak Hasna.

__ADS_1


"Mbak.. mbak jadi ya ke Padangnya?" Tanya Hesti yang tiba-tiba menghentikan langkah Hasna yang hendak menaiki tangga.


"Jadi, hari ini saya akan berangkat.." Ucap Hasna dengan jujur pada Hesti.


Hesti tampak menyunggingkan bibirnya. Ia tampak senang mendengar Hasna yang berkata ia akan berangkat hari itu juga.


"Mbak berangkat sendiri kan?" Tanya Hesti dengan lugunya. Karena ia merasa yakin Raihan akan menolak diajak Hasna.


"Mmmh, sama malaikat saya yang menemani." Ucap Hasna yang sebenarnya malas meladeni Hesti.


"Kalau gitu berarti mbak berangkat sendiri, karena kata ibu guru dulu waktu saya sekolah, kita itu kemana-mana tidak akan sendirian karena ada dua malaikat yang selalu menemani." Ujar Hesti dengan lugunya.


"Kamu tahu artinya?"


"Ya... Kata Ibu guru kita nggak perlu takut lagi mbak, karena sudah ada dua malaikat yang menemani kita kemana-mana.."


"Tapi apa kamu tahu tugas mereka selain menemanimu apa saja?"


"Tau mbak, tapi saya lupa.. heheee."


"Huuuft, kamu bisa main HP kan? Bisa nulis?"


"Kalau main HP bisa dong mbak, anak batita pun bisa.."


"Kalau gitu kamu cari tugas malaikat yang menemani kita itu lewat Google, setelah tahu nanti tugasnya beri tahu saya.. Saya akan beri kamu sesuatu jika jawabanmu benar."


"Kalau itu mah gampang mbak.. nggak bisa nulis kata-kata kan tinggal diucapkan apa yang kita mau, langsung keluar deh apa yang kita cari.."


"Terserah kamu bagaimananya.."


"Baik mbak, aku searching dulu.. Beneran ya mbak aku dikasih hadiah.."


"Iya..." Hasna pun menaiki tangga meninggalkan Hesti yang tampak sibuk dengan ponselnya.


"Hesti, Hesti.. kamu bilang aku lugu ya kemarin.. Ternyata kamu lebih lugu lagi.. Astaghfirullah.. ya Allah.. ampuni dosaku, jangan sampai ada rasa sombong di hati ini ya Rabb.."


TBC..


FYI ya teman-teman.. Barusan kak Ninasyifa mengikhlaskan buat di donasikan ke yang lain saja reward dari author. Alhamdulillah ya, Terimakasih buat kak Ninasyifa, author doakan kak Ninasyifa semakin sukses karya-karyanya, silahkan mampir ke karya kak Ninasyifa juga ya teman-teman, dijamin suka.. Insyaallah.


Karena sudah diserahkan kembali ke Author kali ini, author mau niat di donasikan ke Pembaca dengan Bacaan yang Terbanyak ya teman-teman.. insyaallah laporannya dari NT hari Ahad atau Minggu esok author ambil datanya ya.. Siap-siap bagi siapa yang beruntung kali ini.. Bila author follow silahkan follow balik biar kita bisa langsung chat.. Terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2