Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 45


__ADS_3

Perlahan Dini membuka pintu kamar Hasna. Ia hanya membuka pintu itu sedikit, ia melihat Hasna meringkuk di ranjangnya. Ia bisa mendengar suara tangisan Hasna di sana. Dan melihat tubuh Hasna berguncang karena menangis.


"Rai, apa nggak ada sedikitpun memori tentang aku kamu ingat Rai...?" Ucap Hasna di sela tangisnya, dan itu terdengar jelas oleh Dini.


"Rai... bagaimana aku kan menjalani hari-hari nanti di sini, sedangkan kamu tak mengingatku, dan kamu hanya mengingat Dini... hiks hiks hiks.."


"Mungkin lebih baik aku terluka karena kau pukul.. daripada aku terluka karena tak dianggap olehmu Rai.. Rasanya lebih sakit Rai... Bagaimana caranya aku menghadirkan cintamu lagi padaku, sedangkan kamu bersikeras berkata hanya mencintai Dini pada Mamamu.. hiks hiks hiks.."


"Ya Allah.. jangan Kau hukum aku yang bila dikarenakan aku lupa atau melakukan kesalahan. Aku tak sanggup memikulnya ya Allah... hiks hiks hiks."


Perlahan Dini menutup pintu kamar itu kembali. Dini pun segera turun ke lantai bawah.


Dini kembali masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil tas kecilnya, ia pun keluar dari Rumah itu tanpa pamit pada siapapun.


***


Satu hari pun berlalu, Dini belum kembali ke Rumah. Selama itu juga Bu Lena berada di Rumah Sakit dan mengurus segala administrasi Raihan karena hari ini Raihan sudah diperbolehkan pulang.


"Ingat Rai, kamu harus tetap memperlakukan Hasna dengan baik karena ia istrimu dan kamu harus bisa memperlakukan Hasna layaknya seorang istri." Tekan Bu Lena pada Raihan setelah mereka di dalam mobil yang dikendarai Pak Ujang, supir pribadi Bu Lena.


Bu Lena sama sekali tidak ada membahas status Dini sekarang pada Raihan karena Bu Lena memiliki pemahaman bahwa pernikahan Dini dan Raihan tidak sah. Jadi ia tidak perlu lagi mengatakan bahwa mereka sudah menikah. Karena menurut Bu Lena, takutnya nanti malah membuat Hasna tambah terluka. Bu Lena jadi begitu memikirkan nasib Hasna.


"Ma... tapi bagaimana caranya..? Aku tak ada rasa padanya.."


"Ya Allah... ampuni aku.." Desah Bu Lena sambil mengurut dadanya yang terasa sesak.


Bu Lena pun ingat pesan Dokter agar tak memaksa Raihan. Ia pun memilih diam dan menikmati perjalanan yang sungguh melelahkan yang dirasakan Bu Lena. Seketika Bu Lena teringat mendiang suaminya.


"Pa.. Mama rindu..." Gumam Bu Lena.


***


Mereka pun sampai di rumah.


Bik Minah, bik Surti dan Hesti menyambut kedatangan mereka. Sedangkan Hasna masih mengurung diri di dalam kamarnya.


"Bik, Hasna mana?"

__ADS_1


"Maaf Bu, Non Hasna dari semenjak pulang Rumah Sakit tidak pernah keluar dari kamarnya Bu, Dan Hasna selalu menolak saat di ajak makan." Jawab Bik Minah dengan raut wajah sedih.


"Astaghfirullah... Hasna pasti sangat terluka.. "


"Maaf Ibu, apa Ibu tak menanyakan Non Dini?"


"Ah iya, dia baik-baik saja kan..?"


"Tidak tahu Bu, waktu Non Hasna pulang saat itu Non Dini pergi dari rumah, kami tidak tahu kemana perginya.." Lapor Bik Minah kembali pada Bu Lena.


"Oh ya sudah, mungkin Dini pulang ke Rumah Mamanya.."


"Hei kamu, mau kemana Rai?" Tanya Bu Lena saat melihat Raihan masuk ke dalam kamar yang di tempati Dini.


"Masuk kamar lah Ma, tubuhku masih lemas Ma, aku butuh istirahat.."


"Iya maksud Mama, kamar kalian itu di lantai atas.. Sana naik.."


"Ma, tolong jangan paksa aku dulu Ma.. aku belum bisa bertemu dengannya.."


"Assalamu'alaikum.." Terdengar suara seseorang mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam, Dini?" Sahut Bu Lena yang kemudian diam terpaku menatap Dini.


Raihan yang tadinya mau menutup pintu tapi saat mendengar Mamanya memanggil nama Dini, Raihan mengurungkan niatnya. Ia pun keluar kamar memastikan benarkah ada Dini di sana.


"Din, akhirnya kamu datang juga.. Aku kira kamu tidak mengkhawatirkan aku..?" Ucap Raihan seketika merasa bahagia menatap Dini karena Dini nya ada di sana. Namun sesaat kemudian matanya terpaku pada sesuatu yang ada di gendongan Dini.


"Din.. kamu bawa apa..?"


"Rai, ini anakku..." Dini berjalan mendekati Raihan dan ia membuka kain penutup gendongan yang menutupi wajah putranya itu. Kondisi putra Dini sudah membaik, Dini yang pergi dari Rumah langsung ke Rumah Sakit dengan niat menjemput putranya itu karena sudah diperbolehkan pulang. Dan ia membawa putranya ke Rumah Mamanya. Tapi saat Dini mendapatkan kabar bahwa Raihan pulang hari ini, Dini langsung berangkat ke Rumah Bu Lena dan ia sengaja membawa putranya juga ikut dengannya.


"Anakmu..? Ma-maksudnya? Sahut Raihan tergagap.


"Iya Rai, ini adalah anakku.."


"Nggak mungkin.. Kamu bohong.. mana mungkin kamu punya anak sedangkan kamu belum menikah? Kamu itu baru saja masuk kuliah Din.. masih tingkat pertama.. dan kamu juga janji padaku bahwa kita akan menikah nantinya setelah kita lulus kuliah.."

__ADS_1


"Rai.. aku tidak bohong.. Aku telah mengkhianati cinta mu Rai... Jadi tolong.. jauhkan pikiranmu tentang aku Rai.. Karena aku sekarang tidak mencintai mu lagi..."


"Tidak Din.. kau pasti bohong padaku..."


Raihan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menarik-narik rambut nya.


"Aaaargh..." Raihan berteriak, ia merasakan rasa sakit teramat sangat di kepalanya. Ia berlari masuk kamar, lalu membanting pintu.


"Ma..." Ucap Dini pada Bu Lena yang tiba-tiba saja sudah memeluknya dari belakang. Kemudian Bu Lena beranjak ke arah depan Dini, lalu mengusap lembut air mata Dini dengan tangannya. Karena ternyata Dini tak kuat menahan tangisnya setelah mengucapkannya pada Raihan.


"Sayang... Mama.. Mama Tak tahu harus mengucapkan apa padamu.. Tapi Mama harus berterima kasih pada mu Din.." Ucap Bu Lena dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ma, Mama tak perlu berterima kasih.. Dini lah seharusnya berterima kasih pada Mama karena Mama masih tetap menyayangi Dini walau Dini telah banyak berbuat kesalahan pada kalian.. Dan juga Hasna... hiks hiks hiks.." Ucap Dini sambil menangis terisak-isak.


Bik Minah, Bik Surti dan Hesti tampak mengelap air mata mereka dengan lengan baju mereka. Mereka ikutan terharu melihat momen tersebut.


"Izinkan Dini bertemu Hasna Ma.."


"Iya sayang.. silahkan..! Sini cucu Mama, biar Mama gendong.."


Bu Lena mengambil alih menggendong putra Dini dari tangan Dini. Dini pun semakin merasakan haru karena Bu Lena menganggap anak Dini cucunya.


Dengan langkah mantap Dini menaiki tangga. Ia menata hatinya, ia harus melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sekarang.


Dini mengetuk pintu kamar Hasna. Satu kali tak ada sahutan dari dalam. Kemudian ia mengetuknya kembali. Masih tak ada sahutan. Dini memegang handel pintu yang ternyata pintu itu tidak dikunci sama sekali.


Dini menghela napasnya pelan, lalu menghembuskannya kembali dengan pelan. Dini memperhatikan suasana di dalam kamar Hasna. Ia tidak mendapati Hasna di atas ranjang. Lalu netranya kembali mengitari ke sekitar sambil berjalan masuk ternyata Dini melihat Hasna sedang dalam keadaan sujud memakai mukena di balik ranjang. Lama Dini menunggu Hasna bangkit dari sujudnya. Namun Hasna tak kunjung bangkit.


Baru saja Dini hendak berjalan mendekati Hasna, Dini melihat Hasna dengan gerakan lamban bangkit dari sujudnya. Dini menghela napas lega, ia tadinya sempat berpikiran buruk karenanya.


Hasna pun mengucapkan salam. Hasna menyelesaikan sholat sunnah Dhuha nya yang sudah ke enam rakaat pagi itu.


"Rum.."


Hasna terkesiap mendengar suara yang ia kenal. Hasna seperti tak sanggup menoleh. Ia hanya diam terpaku.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2