Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 18


__ADS_3

Hery segera memberhentikan mobilnya saat melihat seorang wanita bercadar melintas di depan mobil mereka. Dan di belakang wanita itu tampak seseorang sedang mengejarnya.


"Her, itu bukannya Roby..?"


"Benar Rai.."


"Segera selamatkan wanita itu Her.."


"Kasihan ia, pasti ia lari dari Roby karena tahu Roby Playboy."


"Her, cepat bergerak.. kau pancing Roby ke arah sana, nanti aku yang akan menuntun wanita itu."


"Okey, Bismillahirrahmanirrahim.." Hery segera keluar dari mobilnya, ia berlari mendekati Roby.


"Hey, ketemu lagi kita... Kebetulan sekali aku ingin mengajak kau duet.." Ucap Hery pada Roby, ia menghalang-halangi pandangan Roby.


"Minggir kau..." Roby mendorong badan Hery dari depannya. Sehingga membuat Hery terjengkang ke belakang.


"Kau jangan lari Has..." Teriak Roby terhenti menyebut nama wanita itu. Ia segera ingat bahwa Hery mengenal Hasna dan ia takut rahasianya terbongkar karena menyembunyikan Hasna.


Hery segera bangkit dan mendekati Roby kembali lalu membekapnya dari belakang.


"Eiiits, Has siapa? Hasan Husein kah? Ingat kau masih punya urusan denganku.. Kau harus tanggung jawab karena telah mendorong Hasna ke Danau dan sahabat ku Raihan harus koma gara-gara kau juga.." Ucap Hery asal.


"Tunggu... jangan-jangan yang kau kejar Hasna..?"


"Bu-bukan.. sok tahu kau.." Roby tampak gelagapan.


"Jangan-jangan mereka udah tau kalau penyebab kecelakaan itu..." Ucapnya dalam hatinya namun terhenti saat Hery menepuk pundaknya.


"Kalau bukan kau siapa lagi, barusan juga kau menghayal.. Ayo kau segera ngaku saja, biar hukuman nanti lebih ringan.." Lagi-lagi Hery bicara asal karena Hery belum mendapatkan informasi dari kepolisian bahwa kecelakaan itu sudah direkayasa sebelumnya oleh seseorang.


Sementara Hery berusaha keras menghalangi dan mengelabui Roby dengan kata-kata ngasalnya. Raihan telah berhasil menarik Hasna masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Maaf, tadi saya terpaksa menarik tanganmu.."


Hasna mengangguk cepat, ia merasakan jantungnya berdegup kencang, bagaimana tidak, kebiasaan meminta maaf Raihan berhasil membuat pikiran Hasna berkelana saat setelah Raihan menolong ia tenggelam di Danau dulu dan saat itu juga Hasna merasakan getaran di hatinya pada Raihan.


"Terimakasih.." Ucap Hasna singkat.


"Kamu rencananya mau kemana? Kenapa kamu bisa dikejar laki-laki itu?"


"Jika mas nggak keberatan, tolong hantarkan saya ke terminal Bus." Hasna berbicara dengan merubah suaranya, ia khawatir Raihan mengenal dirinya dan ia langsung berbicara to the poin saja.


"Alhamdulillah ada untungnya aku dipaksa mas Roby memakai pakaian seperti ini, sehingga Raihan tak mengenalku.." Ucap Hasna dalam hatinya sembari mengontrol debaran jantungnya.


Beruntung Roby memaksa Hasna memakai cadar, sehingga Hasna merasa bersyukur Raihan tidak mengenalnya.


"Baiklah.." Sahut Raihan singkat.


Raihan segera mengirimkan pesan singkat pada Hery. Lalu menjalankan mobil itu membawa Hasna ke terminal Bus.


Mereka pun sampai di terminal. Hery yang dikirim pesan oleh Raihan juga udah sampai di tempat berlangsungnya acara pernikahan anak dari teman baik almarhum Pak Raam itu.


Sedangkan Roby dibuat tak berkutik oleh Hery sehingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Hery walau ia sudah kehilangan jejak Hasna.


"Kau cari ia sampai dapat..." Ucap Roby pada seseorang lewat telepon saat ia sudah sampai di tempat acara pernikahan rekan kerjanya itu.


"Bagaimana kami mencarinya bos, bukannya bos menyuruh menutup wajahnya dengan kain... Apalagi pakaiannya serba hitam gitu, disini ada sih yang pakai pakaian itu bos, tapi apa itu ia?" Ucap orang suruhan Roby dari seberang telpon.


"Dasar bodoh.." Umpat Roby. Tak jauh dari tempat Roby berdiri, ternyata Hery menguntitnya. Hery penasaran siapa yang dimaksud Roby tadi menyebut naka Has, apa mungkin Hasna menurut pikiran Hery. Sehingga saat Hery diperintahkan Raihan untuk menghadiri acara itu terlebih dahulu, Hery juga melihat arah mobil Roby searah dengannya. Dan ternyata mereka sama-sama ingin menghadiri acara yang sama.


"Kalau gitu siapa namanya bos, biar kami tanya satu-satu nanti setiap bertemu yang berpakaian seperti itu."


"Namanya Hasna, buktikan kalian hebat dengan cara kalian itu. Aku tak mau tahu Hasna harus segera kalian temukan."


Hery kaget mendengar nama yang disebut Roby, ternyata benar dugaannya. Hery segera menelpon Raihan.

__ADS_1


"Iya Her.. Aku udah jalan menuju lokasi, kau tunggu saja.."


"Rai.. perempuan itu.. perempuan yang kau tolong..."


"Iya kenapa dengannya..? Aku sudah mengantarnya ke terminal.. Karena ia yang minta.."


"Rai, segera kau cari lagi ia.. Ia adalah Hasna, Hasna Rai.."


"Apa..? Bagaimana mungkin..?"


"Mungkin saja Rai.. segera putar balik mobilmu, susul ia.. selamatkan ia dari kejaran orang suruhan Roby Rai.. Setidaknya kalau ia bukan Hasna kau niatkan untuk menolong ia saja dari kejahatan Roby Rai.." Ucap Hery tegas, lalu ia mematikan telponnya meninggalkan Raihan yang tampak bingung.


"Ya Allah, bagaimana bisa.. Kalau ia Hasna kenapa ia seperti tak mengenalku?" Gumam Raihan merasa tak percaya sekaligus bimbang.


"Tapi nggak ada salahnya, aku akan mencarinya kembali." Ucap Raihan sambil memutar balik mobilnya. Ia kembali ke terminal tempat ia menurunkan Hasna di sana.


Sesampainya di sana kembali, Raihan segera turun dari mobil lalu mulai mencari sosok perempuan yang ia tolong itu. Raihan mengingat bahwa perempuan itu memakai pakaian serba hitam dan cadar hitam juga.


"Ya Allah, jika benar itu Hasna, tolong jaga ia dan pertemukan ia denganku kembali ya Rabb." Doa Raihan penuh harap pada Tuhannya.


Raihan melihat segerombolan wanita berpakaian sama, bercadar serba hitam berjalan di area terminal itu.


"Hasna..." Raihan mencoba memanggil nama Hasna, siapa tahu dengan memanggil namanya seperti itu salah satu dari mereka meliriknya.


Sedangkan Hasna yang tadinya melihat sosok Raihan, ia segera turun dari Bus yang hendak membawanya ke Padang. Disaat melihat segerombolan wanita bercadar sama dengannya itu turun dari bus lain, Hasna berjalan mengikuti mereka dari belakang, sehingga Hasna tampak seperti teman mereka saja sehingga mereka juga nggak menyadari kehadiran Hasna dalam kelompok mereka.


Hasna refleks langsung menoleh ke arah suara mendengar namanya di panggil. Namun Hasna segera tersadar ia cepat memalingkan wajahnya kembali fokus berjalan mengikuti segerombolan wanita bercadar itu.


Sedangkan Raihan malah gagal melihat ke arah Hasna yang menoleh sebentar padanya karena Ponselnya yang berdering.


"Rai, kenapa aku tak jadi dijemput? Terpaksa deh aku naik taksi, dan sekarang disini hanya ada Hery. Kamu sekarang lagi dimana Rai? Ucap seseorang dari balik telpon sesaat Raihan mengangkat panggilan itu.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2