
Hasna dan Raihan baru saja hendak menikmati aktivitas selepas shalat Subuh mereka yang seolah dua hari ini sudah seperti sarapan wajib bagi mereka. Mereka tidak jadi menginap di rumah Bu Lena tapi lebih memilih tinggal di rumah yang pernah ditempati Hasna sebelumnya. Walau Bu Lena keberatan akan keputusan Raihan yang ingin membawa Hasna tinggal di sana. Namun Bu Lena tetap tidak bisa memaksakan kehendaknya agar anak dan menantunya itu tinggal bersamanya, karena Bu Lena seolah mengerti perasaan putranya yang tidak mau terganggu dengan ada bayang-bayang Dini yang tinggal di rumah itu juga.
Dan kehadiran Hasna kembali ke rumah itu membuat Bik Ina yang pernah menemani Hasna selama tiga bulan di sana menyambutnya dengan perasaan senang dan bahagia. Akhirnya Tuan Mudanya bisa menikah juga dengan Hasna.
Pagi yang begitu syahdu bagi Hasna dan Raihan yang baru saja mereguk manisnya cinta yang sudah dihalalkan untuk mereka.
Tiba-tiba ponsel Raihan yang ada di atas nakas berdering sehingga membuat raut wajah Raihan berubah seketika.
"Siapa sih, ganggu aja.."
"Rai, coba lihat dulu siapa yang telpon.." Ucap Hasna dengan setengah geli melihat raut wajah suaminya yang berubah jadi cemberut layaknya anak kecil yang direbut kesenangannya. Hasna pun menowel kedua pipi suaminya itu karena gemas.
"Malas sayang... dah biarin aja ya..." Ucap Raihan yang malah semakin merapatkan tubuhnya pada istrinya itu.
"Rai.. tapi itu ponsel kamu bunyi terus... pasti ada yang penting deh..."
Hasna mendorong tubuh suaminya dengan pelan agar mau mengangkat panggilan itu terlebih dahulu.
"Iya deh sayang... tungguin aku ya..."
"Ya ampun Rai, dah kayak mau kemana aja, disuruh nungguin.." Hasna geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu yang benar-benar sudah seperti perangko karena sukanya hanya nempel terus pada Hasna.
"Iya Her, ada apa?"
Terdengar sudah suara Raihan mengangkat panggilan suara dari Hery.
Hery yang sudah kesal karena teleponnya tak kunjung diangkat Raihan langsung melayangkan kalimat protes pada Raihan.
"Kamu itu ya Rai, lama sekali ngangkat teleponnya, apa kamu nggak khawatir keadaan aku disini?"
"Memangnya kamu kenapa Her? Seharusnya aku yang nanya sama kamu ngapain juga nelpon pagi-pagi gini, gangguin orang yang lagi honey moon aja.."
"Rai, sadar woi... udah pagi.. jangan nempel terus sama Hasna.. Apa nggak cukup waktu semalam buat kalian...?"
"Makanya kamu itu cepat nikah Her, biar tahu rasanya.."
"Iya, nanti aku akan menikah dengan Suster Aisyah aja, nungguin Yulia lama banget.." Jawab Hery asal, hingga Suster Aisyah yang mendengar ucapan Hery semakin dibuat bingung dengan tingkah pemuda yang ada di depannya itu. Belum lagi pikiran buruknya pada Raihan suami pasiennya yang terlihat acuh pada istri pertamanya gara-gara sudah menikah lagi.
["Bukannya cepat memberi tahu suami sang pasien malah ngerumpi, dan kepedean pula bahwa aku mau dengannya." Gumam Suster Aisyah dengan sendirinya di dalam hatinya.]
"Suster Aisyah yang jagain Dini kau maksud? Jangan bilang kau jatuh cinta pada pandangan pertama padanya?"
"Ya nih Rai, jiwaku untuk segera memiliki istri meronta-ronta gara-gara dirimu.."
__ADS_1
"Parah kamu Her, dasar laki-laki nggak setia.."
"Nggak ada salahnya kan, Yulia kan belum jadi istriku, jadi nggak ada salahnya mencoba buat kenalan dengan Suster Aisyah.. siapa tahu jodohku Suster Aisyah kan.."
"Terserah kamu lah... selamat berusaha... semoga segera ketemu dengan jodohnya.."
"Btw, kamu disuruh cepat datang kesini oleh Suster Aisyah Rai.."
"Sepagi ini?"
"Iya, jangan sampai pamor pewaris tunggal Raam Jaya turun gara-gara pandangan jelek Suster Aisyah padamu Rai.."
"Lho, kenapa bisa begitu..?"
"Pokoknya kamu segera kesini, nanti aku ceritain sambil klarifikasi pada sang Suster."
"Jangan bilang kau udah cerita macam-macam tentang ku padanya.."
"Aku keceplosan Rai.." Ucap Hery yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Her, awas ya..." Ucap Raihan yang kesal dengan Hery. Dan ia pun meletakkan ponsel itu kembali diatas nakas.
"Hasna.. sayang..." Panggil Rai pada Hasna yang sudah tak terlihat lagi di kamar itu.
Raihan pun segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan ia mencium aroma masakan dari dapur.
Hasna yang tampak sedang sibuk di dapur bersama Bik Ina langsung kaget saat satu tangan melingkar di pinggangnya. Sehingga Hasna yang sibuk memotong wortel dengan pisau tak sengaja pisau itu melukai jari tangan Hasna.
"Auuu." Jerit Hasna saat merasakan tangannya tergores pisau dapur.
"Sayang...kamu kenapa?"
Hasna menunjukkan jarinya yang terluka pada Raihan sambil memejamkan matanya, badan Hasna tampak gemetar seperti orang ketakutan.
"Sayang, jarimu terluka, maafin aku sayang.."
Raihan segera meraih jari istrinya itu, lalu dengan sigap ia menghisapnya, dan satu tangannya masih setia melingkar di pinggang istrinya itu. Sehingga Bik Ina yang melihat momen tersebut jadi salah tingkah karena melihat perlakuan Tuan Mudanya yang lembut dan romantis.
"Sayang, udah.. nggak sakit lagi kan?"
Hasna mengangguk lemah.
"Bik, saya bawa Hasna ke kamar dulu ya.."
__ADS_1
"Iya Nak Raihan.. sebaiknya nak Hasna istirahat, sepertinya nak Hasna takut melihat d*rah.."
"Sekalian tolong bawakan minuman hangat ya bik.."
"Baik nak Raihan.."
Raihan memapah Hasna berjalan kembali ke dalam kamar, jika nggak ada Bik Ina mungkin Raihan sudah menggendong istrinya itu. Karena Hasna sendiri yang langsung menolak saat dirinya seperti mau digendong suaminya itu katanya malu sama Bik Ina.
Tak lama mereka sampai di kamar, Bik Ina juga udah sampai membawakan minuman hangat untuk Hasna.
"Sayang.. diminum dulu.."
Raihan membantu Hasna untuk minum. Dan Hasna pun menurut patuh meminum minuman hangat tersebut dari tangan suaminya.
"Makasih bik.."
Bik Ina segera keluar dari kamar itu setelah mengambil kembali gelas minuman itu.
"Sayang, udah nggak apa-apa kan?" Raihan tampak begitu mengkhawatirkan Hasna, tak sedikitpun ia mengkhawatirkan keadaan Dini. Dan ia pun hampir lupa bahwa Hery menyuruhnya agar segera datang ke Rumah Sakit jika tak diingatkan oleh Hasna.
"Rai, barusan Hery nelpon kan? Apa kamu nggak mau ke Rumah Sakit menggantikan Hery Rai? Kasian Hery kan.."
"Iya sayang, tapi aku mau ke Rumah Sakitnya bareng kamu.. Jika kamu nggak kuat, aku juga bisa katakan pada Hery untuk bersabar dulu."
"Jangan Rai, aku kuat kok..."
"Kalau gitu, aku bantu siapkan pakaianmu ya, kamu disini aja.."
"Ya Allah Rai, nggak usah... biar aku sendiri aja, seharusnya aku yang siapin pakaian kamu.."
"Sayang, kamu tenang disini, biar aku aja yang siapin, Okey..!"
"Ya udah.. makasih ya Rai..." Hasna tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan begitu manis dari suaminya itu. Sungguh Allah membalas semua kesakitan dan kepahitan hidup yang dialami Hasna dulu dengan kebaikan-kebaikan yang ditunjukkan Raihan padanya. Tak terasa air mata bahagia mengalir dari pelupuk mata Hasna.
***
Setibanya mereka di Rumah Sakit, Hasna dan Raihan masuk ke ruang rawat Dini. Mereka masuk langsung disambut tatapan dingin oleh Suster Aisyah.
Dini masih terlihat tidur karena pengaruh obat penenangnya.
Hasna berjalan mendekati Dini, dan itu tak lepas dari perhatian Suster Aisyah.
"Din.. aku nggak tahu siapa yang salah disini, kamu tiba-tiba hadir kembali dalam hidup ku, dulu kau datang disaat waktu yang tidak tepat hingga pernikahan ku hancur hari itu juga dan sekarang untuk kedua kalinya kau berhasil merebut nya dariku. Aku ikhlas Din, jika memang Allah menakdirkan dirimu harus berada dalam kehidupan kami. Aku ikhlas, aku akan berusaha menyayangi mu seperti saudaraku sendiri, aku akan ikhlas berbagi suami denganmu..." Ucap Hasna dengan suara yang bisa didengar oleh siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
TBC..