
Dini membisikkan rencananya pada Roby, tampak Roby mengangguk-anggukkan kepalanya tanda menyetujui rencana Dini.
Roby segera menghubungi orang suruhannya untuk menjalankan rencana mereka segera.
Setelah itu, Roby mendekatkan mulutnya pada wajah Dini, Dini bisa mencium bau alkohol dari mulut Roby.
"Mari kita bersenang-senang dulu malam ini.." Ucap Raihan sedikit berbisik membuat bulu roma Dini merinding.
"Jangan macam-macam kau Roby.."
Dini mendorong tubuh Roby agar menjauh darinya.
"Hahahaha, apa kau nggak rindu akan kebersamaan kita malam itu?"
Roby menarik tangan Dini yang ingin bangkit dari duduknya.
"Lepaskan, aku bilang lepaskan..."
"Ayolah sayang... malam ini saja..."
"Kau memang laki-laki brengsek sekaligus bodoh Roby, apa kau nggak takut ditangkap Polisi..?"
"Hahahaha, tenang aja... mereka nggak bisa sembarangan menangkap ku, butuh waktu lama mengumpulkan bukti bahwa aku bersalah. Jadi mari kita bersenang-senang dulu..."
"Aku nggak mau... pergi kau dari sini.."
"Jangan gitu sayang..."
Roby semakin menggila, ia seperti mau melahap habis Dini malam itu. Ia mendorong Dini ke dinding sehingga Dini tak bisa bergerak dibawah kungkungannya. Namun Dini tak kehabisan akal, ia mendorong lututnya kuat tepat mengenai pusaka Roby, sehingga Roby terduduk meringis kesakitan. Dini meraih ponselnya yang ia taruh di atas meja ruang tamu, ia segera menghubungi polisi.
Roby berusaha untuk bangkit kembali.
"Kau mau kemana sayang... tenaga mu kuat juga ternyata... jika sampai milik ku tak berfungsi lagi.. kau juga yang akan menyesal kan.." Roby menceracau tak jelas, ia berjalan mendekati Dini dengan sempoyongan.
Dini berlari keluar rumah. Sampai di jalan, ia menyetop sebuah taksi, Dini masuk ke dalam taksi tersebut dengan senyum licik yang terpancar dari wajahnya.
"Kau hanya menyusahkan aku saja Roby, lebih baik kau mendekam di penjara saja.." Ucap Dini dalam hatinya sambil tersenyum puas. Ia yakin rencananya selanjutnya akan berjalan lancar.
"Mau diantar ke mana Nona..?" Tanya sang sopir pada Dini.
"Jalan Sudirman saja pak.. yang cepat ya pak.."
"Baik Nona.."
__ADS_1
Sampai di jalan Sudirman, Dini segera turun dari taksi tersebut setelah membayar ongkos taksinya. Dini berlari menuju sebuah gang Komplek Perumahan Elit. Ia yang sudah terbiasa ke sana dengan mudah mendapatkan izin dari Satpam yang menjaga.
Dini merobek bagian lengan bajunya, kemudian ia kembali berlari menuju sebuah rumah mewah yang ada di ujung komplek Perumahan itu.
"Ma... buka pintunya Ma..." Ucap Dini dengan menggedor-gedor pintu rumah mewah itu.
Tak lama seseorang membuka pintu.
"Nona Dini?" Ucap bik Minah yang kaget melihat Dini malam-malam datang ke rumah itu. Bik Minah adalah seorang paruh baya yang sudah lama bekerja di rumah Bu Lena Mamanya Raihan.
"Iya bik, izinkan saya masuk bik.." Ucap Dini dengan napas terengah-engah.
"Ayo non, silahkan...!" Bik Minah mempersilahkan Dini masuk.
"Non, duduk dulu, bibik akan ambilkan minum dulu."
"Iya bik, terimakasih.."
Bik Minah segera berjalan ke dapur, ia menunda pertanyaannya dulu yang penasaran atas apa yang terjadi pada Dini, apalagi setelah melihat lengan baju Dini yang robek.
Bu Lena yang mendengar suara berisik, ia pun terbangun. Karena kamar yang Bu Lena tempati berdekatan dengan ruang tamu itu.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini..?" Gumam Bu Lena sembari bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati pintu melihat siapa yang datang.
Bu Lena membiarkan Dini sampai tenang, kemudian ia membawa Dini duduk.
"Ma.. izinkan Dini nginap disini malam ini.. Dini takut Ma, Roby..ia..ia.." Dini kembali menangis terisak-isak. Kepalanya ia rebahkan di pangkuan Bu Lena.
Bu Lena melihat lengan baju Dini yang robek, hingga Bu Lena seolah bisa menyimpulkan apa yang telah terjadi pada Dini.
Bu Lena mengusap kepala Dini lembut. Hati Bu Lena memang mudah tersentuh, apalagi melihat keadaan Dini yang tampak kacau.
"Kamu boleh nginap disini.. Mama akan minta Bibik siapkan kamar untukmu.."
"Terimakasih Ma, tapi.. apa boleh Dini tidur di pangkuan Mama sebentar saja.."
"Iya, nggak apa-apa.." Bu Lena memang sudah mengenal sifat Dini. Dini dulunya memang sering manja padanya karena Bu Lena tahu Dini kekurangan kasih sayang dari Mamanya sendiri yang super sibuk. Namun sekarang, Bu Lena merasa was-was apabila Dini tahu ia yang bahagia akan kemunculan Hasna kembali.
Bu Lena memang sudah bisa menerima Dini untuk kembali pada Raihan karena Dini begitu pandai mengambil hati Bu Lena, ia yang mengaku dulunya ia hanya korban dari Roby sehingga ia meninggalkan Raihan. Apalagi Hasna menghilang, dan Bu Lena berpikir dengan menyatukan Raihan dengan Dini kembali dapat mengembalikan semangat hidup putranya yang hilang, karena Bu Lena tahu Dini adalah cinta pertama putranya itu.
Namun ternyata Hasna kembali dan putranya sendiri yang menemukannya. Bu Lena pun merasa jadi serba salah.
Tiba-tiba dua orang pria bertopeng bertubuh besar membuka pintu rumah itu dengan mudahnya. Bik Minah memang tak mengunci pintu itu kembali setelah Dini masuk.
__ADS_1
"Kalian siapa?" Ucap Bu Lena yang kaget melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba.
"Mmmmmph, mmmmph." Bu Lena berusaha berteriak tapi mulutnya sudah duluan disumpal dengan gulungan kain dan tangannya diikat asal.
Bik Minah yang keluar dari dapur sedang membawa minuman teh hangat untuk Dini, juga ikutan jadi sasaran mereka. Bik Minah langsung diikat dan mulutnya disumpal pakai gulungan kain, lalu ia digiring ke kamar mandi kemudian pintunya dikunci dari luar oleh seorang laki-laki bertubuh besar itu. Kekuatan Bik Minah yang meronta-ronta tak sebanding dengan kekuatan laki-laki itu.
Dini yang tadinya pura-pura tidur, seolah tak mengerti atas apa yang terjadi. Ia segera bertindak dan mencoba melakukan perlawanan pada dua laki-laki tersebut.
Dini mengambil sapu, ia memukul-mukul mereka.
"Aaaaaak.." Teriak Dini saat sebilah pisau menusuk perutnya.
D*rah segar langsung menyembur dari balik pakaian Dini yang robek akibat tusukan pisau itu.
"Dini..." Teriak Bu Lena yang ternyata sudah berhasil melepaskan ikatan tangannya dan sumpalan mulutnya. Bu Lena segera berlari mendekati Dini yang tergeletak di lantai.
Dua laki-laki itu pun langsung kabur.
"Ya Allah Din... kamu bertahan ya.. Mama akan segera menelepon Pak Ujang agar bisa membawamu ke Rumah Sakit."
Pak Ujang adalah Supir pribadi Bu Lena yang rumahnya tak jauh dari Komplek Perumahan itu, jika malam Pak Ujang memang pulang kerumahnya.
"Ma... Dini sangat menyesal telah meninggalkan Raihan, Dini sangat mencintai Raihan..." Ucap Dini dengan suara lemah, ia meraih tangan Bu Lena yang hendak berdiri untuk menelpon Pak Ujang.
Bu Lena mengangguk-anggukan kepalanya. Dirinya begitu cemas melihat kondisi Dini, ia seperti berhutang nyawa pada Dini karena Dini berani melawan dua laki-laki itu.
"Ma.."
"Iya sayang..."
"Apa Dini... boleh meminta sesuatu.. Ini adalah permintaan terakhir Dini Ma..."
"Iya sayang.. katakanlah..."
"Dini mau Raihan segera menikahi Dini... Biar setelah itu, jika Dini tak hidup lagi.. Dini sudah bahagia karena pernah menjadi istri Raihan.." Ucap Dini dengan napas yang tersengal-sengal. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk berbicara pada Bu Lena.
Dini tak menyangka, orang suruhan Roby benar-benar melukai dirinya. Padahal ia sudah mewanti-wanti pada Roby agar orang suruhannya itu hanya berpura-pura saja melukainya.
"Din.. Dini...!"
Bu Lena mengguncang-guncang bahu Dini, karena Bu Lena melihat Dini menutup matanya setelah berbicara. Namun mata Dini tak kunjung terbuka. Bu Lena pun semakin panik.
"Apa yang telah terjadi Ma?" Ucap seorang laki-laki yang baru saja sampai di rumah itu.
__ADS_1
TBC...