Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 53


__ADS_3

Pandangan mata Hasna terus mengitari pinggiran jalan yang mereka lewati. Walaupun sudah malam, namun Hasna tahu kemana arah mobil mereka melaju. Hasna melirik ke arah Raihan. Ia hendak menanyakan apa tujuan Raihan membawa dirinya ke daerah yang Hasna perkirakan akan mereka tuju. Namun Hasna malah mendapati suaminya itu sedang tertidur lelap.


Dengan ragu-ragu Hasna hendak membangunkan Raihan. Berkali-kali ia ingin menyentuh Raihan namun tak ada satupun niatnya kesampaian dan disaat ia memantapkan hatinya untuk membangunkan dan ingin menanyakan pada suaminya itu, sang sopir yang tidak pernah bersuara itu pun sekarang malah bersuara pada Hasna.


"Maaf Nona, Nona jika ngantuk tidur saja.. Kasihan Tuan Muda bila di ganggu tidurnya." Ucap sang sopir menatap Hasna dari balik kaca spion dalam mobil dengan suara tegas seakan tak mau bersahabat saja. Dari logat bahasanya Hasna jadi tahu bahwa sang sopir bukan berasal dari daerah yang sama dengannya seperti Pak Amir.


"I-iya Pak.." Jawab Hasna tergagap karena tak menyangka sang sopir melihat tingkahnya dan malah melarangnya untuk tidak membangunkan Tuan Mudanya itu.


Akhirnya Hasna memilih untuk tidur, Banyaknya pikiran yang berseliweran di kepalanya membuat ia pusing. Apalagi Raihan sudah tertidur disampingnya.


"Aku tahu kamu ini bukan Roby Rai, jadi aku yakin kamu tak ada niat jahat padaku." Gumam Hasna saat matanya terpejam. Ia malah teringat masa dimana ia dibawa kabur ke Solok oleh Roby saat ia berhasil selamat dari mobil yang dikendarai Pak Amir yang dulunya membawa dirinya, Raihan, Hery, Bu Lena, Pak Raam dan istri Pak Amir yang jatuh ke dalam jurang saat itu.


Raihan yang ternyata tadinya hanya berpura-pura tidur, langsung tersenyum melihat Hasna yang sudah terlelap yang kepalanya sudah bersandar di bahu Raihan.


"Tidurlah sayang... beristirahatlah dahulu karena malam ini kita akan lembur." Gumam Raihan sambil mengulum senyumnya. Ia malah merebahkan kepala Hasna ke dalam pangkuannya. Lalu mengusap-usap lembut pucuk kepala istrinya itu. Dan Hasna malah tidak terganggu tidurnya sama sekali. Malahan semakin terlihat nyaman di pangkuan suaminya itu.


Setengah jam kemudian..


"Rai, aku senang kamu akhirnya ingat padaku... Rasanya aku hampir mau putus asa Rai, aku tak kuat menghadapi sikap dingin mu.."


Raihan langsung kaget saat mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Hasna yang tertidur di pangkuannya tersebut. Raihan bisa melihat sekilas wajah Hasna yang tersenyum dari pantulan cahaya luar dari lampu mobil truk yang melintas. Hampir saja Raihan hendak mengangkat kepala Hasna dari pangkuannya karena mengira Hasna telah bangun dari tidurnya, namun Raihan dengan cepat mengurungkan niatnya karena Hasna yang malah bergerak mengubah posisi tidurnya mencari kenyamanan di pangkuan Raihan.


"Huuuft." Raihan menghembuskan napasnya kasar.

__ADS_1


"Kamu pikir, aku tak capek terus berpura-pura padamu sayang..." Gumam Raihan sambil mengusap-usap pucuk kepalanya istrinya itu kembali.


Dan Raihan pun mencoba memejamkan matanya karena jalan yang mereka lewati sudah mulai menanjak dan itu membuat Raihan teringat moment pertama ia melewati jalan itu bersama Pak Amir dan Hery.


Ingin rasanya ia menikmati pemandangan yang memanjakan matanya yang dulunya sempat tak ia nikmati sepenuhnya. Sungguh sayang bila melewati jalan itu tidak bisa menikmati pemandangan yang tersaji begitu indah memanjakan mata, namun karena gelapnya malam membuat Raihan hanya ingin memejamkan matanya dan akhirnya Raihan malah terlelap. Karena untuk mengobrol dengan sang supir pun Raihan takut membangunkan Hasna.


***


Bu Lena yang merasa bersalah pada Hery karena tak sengaja sudah memarahinya, ia pun kembali menemui Hery selepas shalat Isya nya yang kebetulan malam itu Hery memang menginap di rumahnya.


Tok Tok Tok..


Bu Lena mengetuk pintu kamar yang memang khusus diperuntukkan untuk Hery bila menginap di rumah itu.


"Her, boleh Mama masuk..?"


"Iya Ma.."


"Terimakasih Her..." Ujar Bu Lena pada Hery saat pintu dibuka Hery. Dan Bu Lena pun langsung berjalan menuju tempat tidur Hery, lalu duduk di pinggir ranjang itu.


Hery hanya menatap Bu Lena heran. Tidak biasanya Bu Lena bertandang main ke kamarnya. Dan Bukannya tadi mereka juga sudah selesai bicara. Hery pun memilih duduk di sebuah sofa yang ada di dalam kamar itu.


"Her.. gimana usahamu mendekati Suster Aisyah, apa mengalami kemajuan?" Tanya Bu Lena dengan menilisik wajah Hery, Bu Lena seolah khawatir Hery merasa sedih setelah ia marahi.

__ADS_1


Hery tersenyum dan itu membuat hati Bu Lena lega.


"Her, Mama harap kamu menemukan jodohmu secepatnya, karena Mama merasa usia Mama tidak akan lama lagi. Dan Mama juga rindu Papamu.. Hampir setiap malam Papa datang dalam mimpi Mama." Ucap Bu Lena yang entah kenapa memiliki firasat jatah hidupnya tak akan lama lagi di dunia ini. Akhir akhir ini kehadiran Pak Raam dalam mimpi Bu Lena membuat Bu Lena semakin menahan rindu pada suaminya itu. Suaminya seolah memanggil-manggil dirinya dalam mimpi itu.


"Ma, nggak boleh bicara seperti itu.. Apa Mama nggak mau melihat cucu-cucu Mama nanti tumbuh besar dulu."


"Maunya seperti itu Her, dan Mama sangat menginginkan Hasna segera hamil. Jadi Mama masih bisa melihat cucu Mama lahir. Dan kamu Her, Mama baru tenang bila kamu sudah menikah dan menemukan pasangan yang tepat dalam hidupmu."


"Ya Ma, Hery mohon do'a dari Mama ya.. Soal suster Aisyah, Hery nyerah deh Ma.. karena tak mudah menaklukkan hatinya yang sudah terlanjur kecewa pada lelaki." Jawab Hery seolah sudah putus asa mengharapkan hadirnya cinta Suster Aisyah padanya.


"Lho, bukannya kamu pernah bilang sama Mama kalau dulu Hasna juga menutup hatinya dari namanya lelaki sebelum mengenal Raihan. Kamu sih mungkin usahanya kurang.."


"Tapi Hasna dan Raihan kasusnya beda Ma, mereka seolah memang berjodoh dan sengaja dipersatukan oleh Allah walau dengan cara yang tak masuk dalam akal kita. Dan itu dia Ma, kenapa Raihan mau menerima tawaranku untuk bersandiwara."


"Ayo kenapa coba, cepat ceritakan Her.. Mama sudah nggak sabaran mendengarkannya.." Ucap Bu Lena yang tampak serius mendengarkan kelanjutan cerita Hery yang sempat membuatnya penasaran. Dan itu membuat Hery langsung tersenyum geli melihat tingkah Ibu angkatnya itu. Namun Hery kembali melanjutkan ceritanya,


"Karena Raihan merasa Hasna hatinya tak sepenuhnya mencintai Raihan Ma.. Entah karena trauma atas luka yang Hasna alami membuat Raihan berpikiran bahwa ia meragukan akan cinta Hasna padanya Ma. Bisa jadi rasa trauma Hasna membuat ia tak terlalu ingin memiliki rasa seutuhnya pada Raihan. Coba Mama pikir deh, mana ada wanita yang dengan mudahnya membagi suaminya dengan wanita lain apalagi wanita itu adalah sang mantan suaminya, dan wanita itu juga yang telah menghancurkan kebahagiaan Hasna saat hari pernikahannya dengan Roby. Dan itu Hasna lakukan Ma." Ujar Hery yang sengaja tak menyebutkan nama Dini lagi, karena Hery khawatir Bu Lena kembali terpancing emosinya sama seperti sebelumnya saat Hery menceritakan keburukan Dini pada Bu Lena.


"Ya sudah.. semoga pikiran kalian terhadap Hasna itu tidak benar. Karena Mama yakin cinta Hasna adalah cinta murni yang tulus keluar dari dalam hatinya. Karena cintanya itu juga membawa Dini kembali ingat akan dirinya yang telah berbuat kesalahan." Ucap Bu Lena yang kemudian bangkit dari duduknya.


"Iya Ma.." Jawab Hery singkat dan pelan. Ia malah teringat akan jawaban-jawaban Suster Aisyah yang selalu saja membuat hatinya tertohok. Hati Hery ternyata tak kuat menghadapi sikap judes Suster Aisyah padanya. Dan tiba-tiba saja ia kembali teringat pada Yulia.


"Mama akan hubungi Hasna, Mama tak mau Hasna semakin tersiksa karena sandiwara bocah itu.." Ucap Bu Lena kemudian ia berjalan keluar dari kamar Hery.

__ADS_1


"Haaaa, Ma.. jangan..."


TBC ..


__ADS_2