
Dengan langkah gontai, Hasna keluar dari ruangan Dokter. Tubuh Hasna pun tersandar di dinding depan kamar rawat Raihan.
Dokter mengatakan bahwa Raihan mengalami Amnesia Anterograde yaitu ketidakmampuan seseorang untuk mengingat informasi yang baru saja diterimanya. Informasi yang seharusnya disimpan dalam memori jangka pendek menghilang. Kondisi tersebut terjadi karena kerusakan di otak mengakibatkan ketidakmampuan untuk mentransfer informasi atau peristiwa yang baru terjadi. Meski demikian, penderita Amnesia Anterograde masih dapat mengingat informasi dan peristiwa lama yang terjadi jauh sebelum mengalami cedera. Pada sebagian orang, Amnesia Anterograde dapat menyebabkan kehilangan ingatan secara sementara atau permanen.
Hasna merogoh ponselnya, ia menghubungi Bu Lena, Ibu Mertuanya.
"Ma, Alhamdulillah Raihan udah sadar Ma.. Mama segera kesini ya.." Ucap Hasna dengan suara yang dibuat seperti sedang bahagia pada Ibu Mertuanya itu.
Namun Hasna tak sanggup menunggu jawaban dari Ibu Mertuanya lagi, ia segera menutup telponnya. Hasna pun berlari ke Mushalla yang ada di Rumah Sakit tersebut.
Hasna menumpahkan segala perasaannya di sana pada Tuhan-nya.
"Ya Allah... Aku tahu ini wujud cinta-Mu padaku.. Namun kali ini rasanya aku tak sanggup menghadapinya ya Rabb... Aku lelah... huhuhuhu..." Hasna menangis tersedu-sedu. Seorang perempuan yang kebetulan ada di sana memberi sentuhan lembut di punggung Hasna.
"Sabar ya dik... Allah tak akan memberikan cobaan yang melewati kemampuan umat-Nya, akak yakin Adik sanggup melewatinya." Ucap orang itu dengan lembut dan ramah. Dari bahasanya Hasna bisa mengenal perempuan itu berasal dari pulau Sumatera sama dengan dirinya.
Hasna menganggukkan kepalanya pada perempuan itu, yang jika ditaksir usianya sekitar 40 an.
Perempuan itu pun beranjak dari Mushalla itu, sedangkan Hasna dirinya sudah tak tahu lagi harus bagaimana, pergi menemui suaminya kembali ia seperti tak sanggup karena ia sendiri tak dikenali Raihan. Ia sudah seperti orang asing oleh suaminya sendiri.
Akhirnya Hasna memutuskan dirinya untuk shalat dua rakaat berharap hatinya tenang. Setelah shalat Hasna yang lelah pun akhirnya duduk meringkuk di pojok ruangan Mushalla itu. Kepalanya ia topangkan diantara kedua lututnya, kedua tangannya saling membelit punggung betisnya. Pikirannya pun melayang kemana-mana hingga akhirnya tertidur.
***
Satu jam an kemudian, Bu Lena pun sampai di Rumah Sakit bersama Hery. Kebetulan Hery mampir main ke rumah Bu Lena. Seperti kebiasaannya sedari dulu.
"Mama, Herry.. kalian berdua saja, Papa mana? Lalu Dini, apa ia tidak mengkhawatirkan aku, dimana ia?" Tanya Raihan saat Mamanya dan Hery memasuki ruang rawatnya.
__ADS_1
Hery dan Bu Lena saling lirik, merasakan keanehan dari pertanyaan Raihan tersebut. Namun Bu Lena seketika tidak mengambil pusing, ia mendekati putranya itu.
"Alhamdulillah.. Rai kamu akhirnya bangun juga.. Mama jadi nggak bisa tenang di rumah karena memikirkan kamu dan juga Hasna. Hasna pasti sangat lelah menunggu kamu disini. Semenjak kecelakaan itu, Hasna tak pernah mau disuruh pulang."
"Hasna? Siapa Hasna Ma? Lalu Kecelakaan? Siapa yang celaka Ma?" Tanya Raihan pada Bu Lena seketika sontak membuat Bu Lena dan Hery kebingungan.
"Rai, masa kamu lupa siapa Hasna? Kamu itu habis kecelakaan sepulang dari Padang Rai.. Kami saat itu menanti kedatangan mu. Namun takdir berkata lain kamu mengalami kecelakaan di Tol Sedyatmo.. Sebulan lebih kamu koma.. Apa kamu tak mengingatnya?"
Raihan memegang kepalanya, seperti merasakan sakit di sana karena mencoba memaksakan untuk berpikir. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak mengingat itu.
"Astaghfirullah.. Ya Allah.. Kenapa lagi putraku ini..?" Resah Bu Lena.
"Apa mungkin Raihan Amnesia Ma? Tapi Amnesia sebagian gitu..? Ujar Hery pada Bu Lena.
"Ya ampun.. sudah seperti di Sinetron saja Her, pakai hilang ingatan saja.."
"Rai, jangan bercanda sama Mama deh... Kamu hanya berpura-pura kan..? Satu lagi Papa kamu itu sudah meninggal saat kecelakaan sewaktu kita pulang dari Alahan Panjang menuju Padang. Saat itu kamu dan Hasna mau menikah."
"Ma, Raihan tak mengingatnya.. Raihan dan Hasna mau menikah? Mana mungkin Ma..? Karena Raihan hanya mencintai Dini, dan Raihan hanya ingin Dini menjadi istri Raihan. Lagian siapa itu Hasna? Kenapa ia bisa ada di kehidupan Raihan... Aaaargh?" Ucap Raihan dengan nada agak kencang. Ia seperti tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya.
"Ya Allah Rai.. apa perlu Mama timpuk kepalamu dengan benda berat agar ingatanmu pulih kembali.." Ucap Bu Lena yang seperti kesal menghadapi putranya itu yang ia anggap hanya bersandiwara saja.
"Ma, yang sabar ya.. Di Sinetron juga, itu dibuat kisahnya karena kemungkinan di Dunia nyata benar adanya terjadi Ma?" Terang Hery pada Bu Lena yang seperti tak mempercayai adanya hilang ingatan yang dialami putranya itu.
Hasna yang tadinya berdiri terpaku di depan pintu karena hendak masuk ingin menemui Bu Lena, ia pun akhirnya mengurungkan niatnya. Ia pun berbalik arah dan saat itu ia hampir menabrak sang Dokter yang hendak masuk juga.
"Maaf Dok.." Ucap Hasna seketika itu ia berlari menjauh dari situ. Hati Hasna sungguh sakit mendengar pengakuan suaminya yang hanya mencintai Dini.
__ADS_1
Sang Dokter pun seolah mengerti perasaan yang dialami Hasna sekarang. Ia menatap iba pada Hasna yang tampak begitu sedih dan kacau. Lalu sang Dokter pun masuk.
"Dok, apa yang dialami putra saya? Kenapa ia jadi tak mengingat kecelakaan yang menimpa dirinya dan lupa akan istrinya, padahal mereka baru-baru ini menikah dan ia juga tak mengingat Papanya yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Sementara ia masih bisa mengingat kami.. Apa ada penyakit hilang ingatan seperti itu?"
"Benar Bu, pasien mengalami Amnesia Anterograde dimana pasien tidak mampu mengingat kejadian yang baru-baru terjadi tapi masih bisa mengingat kejadian jauh sebelum cedera yang merusak otaknya." Terang sang Dokter pada Bu Lena.
Hery yang mendengarnya tampak manggut-manggut.
"Jadi benar adanya.. Tadi Raihan juga tampak kesakitan Dok saat saya memaksa ia untuk mengingat semua itu." Ucap Bu Lena kembali dengan raut wajah mulai mengerti.
"Iya bu, saran saya jangan terlalu memaksakan pasien untuk mengingatnya sekaligus ya Bu, karena akan membuat pasien menderita sakit di kepalanya karena otaknya terpaksa bekerja. Perlahan saja sambil dituntun dengan hal-hal yang mungkin bisa membangkitkan ingatannya kembali. Kita berdoa saja semoga yang dialami saudara Raihan hanya bersifat sementara."
"Aamiin, terimakasih Dok.." Ucap Bu Lena sambil menarik napasnya kasar. Ia pun langsung kepikiran pada Hasna. Dan ia pun langsung bertanya kembali pada Raihan.
"Rai, dimana Hasna?"
***
Hasna akhirnya memutuskan untuk pulang ke Rumah Bu Lena, selama perjalanan ia terus menangis. Ujian yang ia rasa sekarang jauh lebih berat terasa daripada sebelumnya. Sang Supir Taksi hanya menatap iba pada Hasna melalui kaca spionnya. Ia tak tahu cara menghibur penumpangnya itu yang ia ketahui keluar dari Rumah Sakit, tentunya ada masalah berat telah menimpanya.
Sesampainya di Rumah Bu Lena, Hasna pun mengetuk pintu dan ia langsung masuk setelah pintu terbuka dalam keadaan mata yang sudah sembab.
Bik Minah yang membukakan pintu begitu terkejut melihat kondisi Hasna yang Bik Minah tahu Hasna adalah wanita yang kuat namun sekarang terlihat begitu rapuh dan kacau.
Hasna langsung berlari menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Sebuah kamar yang ada di lantai atas.
Dini yang baru keluar dari kamarnya yang berada di lantai bawah menatap aneh langkah Hasna yang terburu-buru menaiki tangga. Semenjak kecelakaan yang di alami Raihan itu, Dini belum sama sekali mengunjungi Raihan ke Rumah Sakit karena ia seperti nggak mau bertemu Hasna juga.
__ADS_1
Penglihatan Dini juga sudah kembali normal. Ia sudah bisa melihat kembali. Dini pun berjalan menaiki anak tangga. Ia penasaran atas apa yang telah terjadi, kenapa Hasna pulang sendirian sedangkan Dini tahu Raihan sudah sadar dari Bu Lena yang pamit ke Rumah Sakit.
TBC...