Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 24.


__ADS_3

Sudah tiga bulan Hasna mengisi waktunya dengan mengajar mengaji di Mushala yang berada tak jauh dari rumah Raihan yang ia tempati.


Hasna sungguh terpanggil jiwanya dalam mendidik anak-anak. Bik Ina lah yang mengenalkan Hasna pada masyarakat di sana. Karena Bik Ina adalah penduduk asli daerah itu yang dipercayai Raihan untuk merawat rumahnya itu.


Rumah itu sebenarnya dibeli oleh Pak Raam Papanya Raihan dengan niat menolong orang yang punya rumah saja, kebetulan rumah itu adalah rumah adiknya Bik Ina yang ia jual karena membutuhkan uang untuk sekolah anak-anaknya di Kota, sehingga mereka lebih memilih tinggal di rumah kontrakan di Kota. Sedangkan suami Bik Ina dulunya pernah bekerja dengan Pak Raam menjadi supir pribadi Pak Raam. Saat suami Bik Ina menawarkan rumah itu pada Pak Raam, Pak Raam langsung membelinya dengan harga tertinggi. Sehingga adik Bik Ina masih bisa memulai mengangsur membangun kembali rumah di tanah pemberian orang tua mereka yang masih luas di daerah tersebut.


Lima hari telah berlalu setelah Raihan menemui Hasna, Raihan sama sekali belum menghubungi Hasna kembali. Hasna mencoba untuk tidak berpikiran buruk lagi pada Raihan.


Saat Hasna sedang sibuk mengajar, seorang laki-laki yang baru saja selesai melaksanakan sholat Asharnya di Mushalla itu hendak keluar mushalla namun dirinya malah terpaku saat melihat sosok yang ia kenal duduk berada di saf belakang bersama anak-anak mengaji.


"Itu bukannya Hasna...? Kenapa ia bisa ada disini?" Ucap laki-laki itu bertanya-tanya dalam hatinya. Semenjak Hasna pulang kampung dan menikah dengan Roby, laki-laki itu memang tak pernah bertemu Hasna lagi.


Laki-laki yang bernama Angga itu tak jadi keluar dari Mushalla, ia lebih memilih menunggu Hasna sampai selesai mengajar di dalam Mushalla, Ia kembali duduk di saf depan yang terbatas oleh tirai pembatas Saf laki-laki dengan perempuan itu. Angga mengisi waktunya dengan kegiatan tilawah Qur'an.


Angga cepat-cepat menghentikan kegiatan tilawah Qur'annya saat suara Hasna tak terdengar lagi. Ia menyibakkan tirai, sosok Hasna tak lagi ia lihat di sana. Angga mengembalikan Qur'an yang ia baca pada tempatnya kembali. Lalu ia bergegas keluar mencari Hasna.


"Hasna..." Panggil Angga sembari berjalan sedikit berlari mendekati Hasna.


Langkah kaki Hasna terhenti mendengar suara seseorang memanggil namanya. Hasna seolah mengenal suara itu. Ia kemudian membalikkan badannya melihat ke asal suara.


"Kak Angga, kakak kok bisa ada disini?"


"Harusnya aku yang bertanya pada mu Na.." Angga malah balik bertanya pada Hasna. Ia berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak normal saat ia berdiri tepat di depan Hasna. Angga sekuat mungkin berusaha menundukkan pandangannya dari melihat wajah Hasna. Wajah yang dulunya sempat ia rindukan.


"A-aku, aku..." Hasna tak tahu harus menjawab apa. Ia tak mungkin menceritakan apa yang telah ia alami pada Angga, dan ia juga tak bisa berbohong.


"Aku tahu kasus apa yang diperbuat Roby hingga ia dipenjara dan banyak sedikitnya aku juga tahu atas apa yang telah kamu alami Na.. Aku tak menyangka Roby berani berbuat sebejat itu padamu.."


Hasna tak terlalu terkejut mendengar ucapan Angga. Karena Hasna tahu Angga adalah sahabatnya Roby. Karena Angga jugalah dulunya Hasna yakin Roby adalah laki-laki yang baik. Namun Hasna sampai tak habis pikir, ternyata Roby terlalu hebat menyembunyikan belangnya sehingga Angga sahabatnya sendiri pun tak mengetahui sifat asli Roby.

__ADS_1


"Na, kalau gitu aku pamit, kebetulan aku ada kegiatan beberapa hari disini."


"I-iya.." Ucap Hasna tergagap.


Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sepasang mata dari tadi tengah asyik memperhatikan mereka. Beberapa jepretan telah berhasil diambilnya. Dan ia pun tersenyum bahagia sambil berucap,


"Aku yakin, dengan foto-foto ini Raihan akan benci pada Hasna, karena aku tahu sekali sifat Raihan yang posesif, dekat dikit aja sama laki-laki nggak boleh..."


Ia adalah Dini, Dini berjalan kembali menuju mobilnya, mobil yang diberikan Raihan padanya karena Raihan nggak mau terhalang dengan segala kegiatan Dini yang juga harus ke kampus menyelesaikan kuliahnya. Tentunya Dini juga sangat senang dibelikan mobil oleh Raihan sehingga ia bebas pergi kemana-mana dengan mobil itu.


Di dalam mobil, Dini mengirimkan foto-foto itu ke nomor ponsel Raihan mengunakan nomor baru yang ternyata sudah lama ia siapkan. Dini tersenyum puas.


"Aku tak menyangka bisa menemukan moment yang pas seperti ini.. Jadi aku tak capek-capek lagi memperkenalkan diriku sebagai istrinya Raihan padamu Hasna.. aku akan bermain cantik saja... Lihat saja Hasna.. aku tak akan membiarkan kamu merebut Raihan dariku..."


Dini memang berniat menemui Hasna setelah ia berhasil mendapatkan alamat Hasna dari teman sekampus Hery yang memang pernah melihat Hery bersama Hasna saat Hery mengantarkan Hasna sampai rumah. Kebetulan jalan menuju rumah orang tuanya melewati rumah yang ditempati Hasna tersebut.


Di kantor Pusat Perusahaan Raam Jaya, Raihan sedang asyik mengobrol dengan Radit Omnya Hery. Mereka sibuk membahas mengenai masalah yang terjadi di kantor Cabang yang ada Di Kota Padang. Jadi setidaknya diantara mereka harus ada yang terbang ke Padang untuk memantau masalah tersebut.


"Baik Om, aku akan pikirkan dulu siapa sebaiknya yang akan turun tangan kesana, aku atau Hery? Jadi nanti aku kabari Om lagi." Ucap Raihan yang mengabaikan pesan masuk itu. Ia membalas ucapan Radit yang memberi saran bahwa Raihan atau Hery saja yang berangkat ke Padang karena Radit juga sangat dibutuhkan di Kantor Pusat.


"Ok Rai, Om pamit dulu... Om tunggu keputusannya, lebih cepat lebih baik."


"Siap Om.."


Radit pun keluar dari ruang Raihan dan Raihan segera menghubungi Hery.


Setelah menghubungi Hery, mau tak mau Raihan sendirilah yang akan berangkat ke Padang. Awalnya Raihan sempat kecewa pada Hery, namun ia tak bisa memaksa Hery, karena bagaimanapun juga Hery sudah banyak membantu urusannya termasuk urusan Hasna, sehingga banyak sedikitnya berdampak pada kuliah Hery, dan Hery yang juga sibuk mempersiapkan judul untuk skripsinya.


Dan malam itu juga Raihan berangkat ke Padang. Raihan tak menemukan Dini di rumah saat ia pulang mengambil pakaiannya. Ia hanya bisa pamit pada Bu Lena Mamanya.

__ADS_1


"Ma, Raihan berangkat ya Ma..."


"Kamu nggak tunggu Dini pulang dulu... Apa ia sudah tahu kalau kamu akan pergi ke luar Kota seperti ini?"


"Belum Ma, Mama saja yang kasih tahu ya.."


"Ya Ampun Rai, kamu ini suaminya... Bagaimana pun juga Dini berhak tahu setiap apa kegiatan mu.. Apalagi ke luar daerah seperti ini..."


"Ma, Raihan nggak punya banyak waktu.. Nanti Dini juga akan mengerti sendiri, lagian udah malam gini ia kenapa juga belum pulang.."


"Dini tadi ia bilang ke Mama bahwa ia ke rumah Mamanya.."


"Ya sudah Raihan pamit Ma, doakan Raihan ya Ma agar urusannya cepat selesai, hingga Raihan bisa menepati janji Raihan pada Hasna."


"Iya Rai.. doa Mama selalu untukmu, kamu hati-hati di sana.. Mama kok jadi rindu juga pada Hasna.. Jadi Mama juga nggak sabar ingin bertemu Hasna di pernikahan kalian."


"Iya Ma, makasih, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam.."


Tak lama setelah Raihan pergi, Dini yang tadinya merasa kesal karena pesan yang ia kirim dari tadi sore sama sekali tak dibuka Raihan. Hatinya bertambah sakit setelah ia tahu dari Bu Lena Raihan pergi begitu saja tanpa pamit padanya.


Dini melampiaskan kemarahannya pada barang-barang yang ada di dalam kamar mereka.


Bu Lena yang mendengar bunyi barang-barang yang di lempar Dini dari luar, hanya bisa mengelus dadanya.


"Ok Rai, aku tak akan tinggal diam... aku tak akan membiarkan kalian menikah." Ucap Dini setelah tak ada lagi barang yang bisa ia lempar, dengan napas yang menderu hebat, ia tersenyum sinis merencanakan rencana selanjutnya.


Ia segera mengambil ponselnya, lalu ia mengetikkan beberapa kalimat, dan pesan itupun terkirim.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2