
"Iya Ma, kami berangkat sekarang ya Ma.. ini juga perintah dari Raihan.."
"Haaaa, maksudnya?" Ucap Bu Lena seakan tak mengerti dan tak percaya mendengar ucapan Hasna.
"Hasna juga nggak mengerti Ma, Raihan seakan tahu Hasna pergi ke Padang. Tapi Alhamdulillah tanpa Hasna minta Raihan yang ingin ikut sendiri dan malah ingin berangkat hari ini juga. Katanya tiket pesawat sudah dibelikan Hery yang berangkat jam 5 sore nanti. Aneh juga kan Ma, kapan Raihan menghubungi Hery dan pakai apa? Bukannya ponsel Raihan udah hancur bersamaan kecelakaan itu?" Ucap Hasna tanpa jeda pada Bu Lena.
Bu Lena pun tampak berfikir mengingat kejadian kemarin. Sedangkan Hesti yang tadinya masih mematung di sana segera beranjak dari situ, ia sepertinya tidak berminat lagi menguping pembicaraan tentang Raihan dan Hasna. Seolah Hesti sadar akan perbuatannya yang salah ingin merebut Raihan dari Hasna.
"Sepertinya kemarin deh di Rumah sakit saat Mama keluar, Hery kan tinggal tuh menemani Raihan. Tapi apa mungkin Raihan yang baru siuman langsung meminta Hery membelikan tiket pesawat buat kalian. Sementara Raihan, ia kan tidak mengingat kamu... Mmmmh atau jangan-jangan..." Ucap Bu Lena dengan mengira sesuatu telah disembunyikan Raihan dan Hery darinya.
"Ehem ehem."
Suara deheman Raihan mengagetkan Bu Lena dan Hasna.
"Ma, Raihan antar dan temani istri Raihan dulu selama di Padang ya. Mama kan suruh Raihan melupakan Dini, jadi beginilah cara Raihan melupakannya dan membuka hati buat Hasna. Mama baik-baik di rumah ya." Ucap Raihan yang ternyata sudah berada di dekat mereka. Raihan meraih tangan Mamanya lalu menciumnya.
Bu Lena tercengang, ia tampak masih belum mempercayai perkataan putranya itu sepenuhnya. Dan masih ada yang mengganjal di pikiran Bu Lena bahwa pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh putranya itu. Namun dalam hatinya yang paling dalam, Bu Lena begitu bersyukur jika memang putranya itu dengan mudahnya bisa move on dari Dini dan dengan cepatnya mau membuka hatinya pada Hasna.
"Oh ya, kalian naik apa? Atau Mama akan suruh Pak Ujang yang mengantarkan kalian. Kamu nggak mungkin juga kan nyetir sendiri Rai." Ujar Bu Lena kemudian, walau kondisi mobil Raihan yang dikendarainya dulu saat kecelakaan sudah kembali baik, namun Bu Lena khawatir Raihan menyetir mobilnya sendiri walau hanya sampai bandara.
"Nggak usah Ma, kami naik taksi aja, taksinya udah nunggu di depan."
"Haaa." Sahut Bu Lena seakan tak percaya, putranya seolah sudah membuat rencana yang matang tanpa ia sendiri tahu apa sebenarnya yang telah terjadi pada putranya itu. Namun Bu Lena memiliki firasat dan itu nanti akan ia tanyakan langsung pada Hery.
"Huuuft" Bu Lena menghembuskan napasnya sedikit kasar.
"Ya sudah kalian berangkat, hati-hati ya.. Karena bila lama-lama Mama di dekat mu Rai, itu hanya membuat Mama pusing dan bingung padamu.." Ucap Bu Lena spontan mengungkapkan apa yang ia rasakan pada putranya itu dan Bu Lena seolah tidak sabar ingin memanggil Hery dan bertanya banyak hal padanya.
Raihan tampak mengulum senyumnya. Ia kemudian menggenggam tangan Hasna sambil berucap,
"Yuk berangkat!"
__ADS_1
Hasna yang tadinya hanya menjadi pendengar yang baik, terkejut saat tangannya di genggam Raihan. Pandangan mata Hasna refleks melihat ke arah tangan Raihan yang sudah menggenggam tangannya dengan lembut. Dan itu tak luput dari perhatian Bu Lena yang tampak tercengang dengan perubahan sikap Raihan yang menurutnya tidak masuk di akalnya tersebut. Sedangkan baru dua hari Raihan bangun dari koma dan ia kehilangan ingatannya akan Hasna.
"Ma, Hasna berangkat ya.." Ucap Hasna pa Bu Lena saat tangannya sudah di tarik Raihan.
Bu Lena hanya bisa menjawab dengan anggukan kepalanya pada Hasna, dan menatap kepergian mereka dengan tanda tanya yang sudah penuh berlari-larian di benaknya.
***
Di perjalanan menuju Bandara, Hasna hanya diam, ia tak berani bertanya apapun pada Raihan walau sebenarnya juga banyak tanda tanya di benak Hasna tentang suaminya itu, sama seperti Bu Lena Ibu Mertuanya itu.
Sedangkan Raihan juga diam. Ia seperti tampak sedang tertidur. Karena sesekali kepalanya rebah ke bahu Hasna yang duduk disampingnya.
Suasana di dalam taksi begitu baku, hanya terdengar suara dari penyanyi lagu Pop yang di setel Pak Supir. Mungkin untuk menemani ia selama menyetir agar tidak mengantuk. Apalagi ia menghadapi penumpangnya yang hanya diam seperti mereka tersebut.
Dan akhirnya mereka pun sampai di Bandara.
Hasna merasakan bahunya kebas atau mati rasa sebelah, karena Raihan benar-benar tertidur menempelkan kepalanya di bahu Hasna tersebut.
Raihan membuka matanya. Dengan cepat ia membetulkan posisi duduknya saat ia tersadar kepalanya telah bersandar di bahu Hasna.
"Maaf." Ucap Rai singkat pada Hasna,
"Nggak apa, udah halal juga kan.."
"Mmmh, maksud aku bahu kamu pasti sakit.."
"Nggak apa, ini cuma kebas aja nanti juga hilang." Ucap Hasna sambil memijit-mijit bahunya.
Raihan pun hendak menolong memijit bahu Hasna namun ditolak halus oleh Hasna.
"Rai, kasian Bapak Supir nya nanti lama menunggu."
__ADS_1
"Eh iya.."
Raihan segera merogoh sakunya lalu ia tampak berbicara dengan sang sopir taksi sedangkan Hasna langsung turun. Ia pun menunggu Raihan di sana.
"Rai, kita shalat Ashar dulu ya, baru check-in." Ucap Hasna saat Raihan sudah berdiri di dekatnya dengan satu tangannya menarik koper pakaian Hasna sedangkan Raihan tampak tidak membawa apapun. Karena untuk pakaiannya, Raihan tidak terlalu ambil pusing lagi karena di rumah penginapannya yang di Padang, banyak pakaiannya yang memang sengaja di tinggal di sana. Jadi setiap kali ia ke Padang, ia tak perlu membawa pakaian ganti lagi.
"Tentu.." Jawab Rai singkat.
Mereka pun langsung mencari tempat Shalat yang ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tersebut dan setelah itu mereka lanjut check-in dan menunggu pengumuman selanjutnya untuk menaiki pesawat.
Pesawat mereka terbang tepat waktu, dan mereka pun akhirnya sampai di Bandara Internasional Minangkabau pukul 18.45. Karena waktu Maghrib sudah berlalu. Mereka pun akhirnya berniat menjamak shalat Maghrib mereka di waktu Isya nanti.
Setelah mereka sampai di luar gedung Bandara, sebuah mobil sudah menunggu mereka. Hasna tampak tak mau bertanya siapa yang menjemput mereka itu. Karena Hasna berpikir, mobil itu adalah mobil orang kepercayaan Raihan selama ia di Padang yang datang menjemput mereka juga kali ini.
Dengan sigap Raihan membukakan pintu penumpang buat Hasna, sama seperti saat mereka naik taksi dari rumah menuju Bandara, dan itu sontak membuat Hasna tersanjung sekaligus heran pada Raihan. Kenapa suaminya yang katanya tak ada rasa padanya itu karena hilangnya ingatannya sekarang malah berlaku romantis padanya.
Hasna pun menahan gejolak rasa penasarannya pada suaminya itu, namun ia masih belum berani bertanya apa-apa pada Raihan. Sedangkan Raihan memutari mobil, dan ia masuk kemudian duduk disamping Hasna.
Mobil pun melaju meninggalkan area Bandara. Saat mobil keluar dari jalurnya Bandara, sang supir membawa mobilnya terus melaju lurus melewati jalan Bypass, dan Hasna tampak bingung, ia pun memberanikan diri menanyakannya pada Raihan.
"Rai, kita mau kemana ya? aku tak bilang kita akan ke rumah almarhum Nenek, dan aku tahu ini bukan jalan ke tempat penginapan kan?" Tanya Hasna sambil memperhatikan jalan yang mereka lewati. Memang kalau ke rumah peninggalan Neneknya itu, harus melewati jalan Bypass dulu kemudian baru belok kiri saat di persimpangan lampu merah. Sedangkan kalau ke tempat penginapan Raihan, keluar jalurnya Bandara mereka seharusnya belok kanan langsung masuk ke Kota Padang.
Raihan tak menjawab. Ia seolah-olah memperlihatkan pada Hasna dirinya tengah sibuk dengan ponselnya, tanpa ingin diganggu oleh Hasna. Dan Hasna pun akhirnya hanya bisa menghela napasnya pelan karena Raihan tak menanggapi ucapannya. Sebenarnya Hasna merasa kecewa, namun ia berusaha untuk tidak berpikiran buruk pada suaminya itu.
TBC...
**Hai teman-teman sobat readers, maaf ya kemarin author bolong update nya karena author terpaksa keluar kota menemui saudara yang baru mengalami kecelakaan mobil. Namun sesuai janji sebelumnya author sudah mendapatkan satu nama pembaca dengan bacaan terbanyak kemarin, jadi mohon yang telah author hubungi lewat chat follow balik ya kak biar bisa balas chat author. Dan... untuk data minggu kemarin yang akan dikalkulasikan dengan data sampai hari kamis juga sudah author ss ya ...
Dan itu insyaallah nanti author umumkan barengan aja di hari Jum'atnya.. Nggak apa ya, author simpan aja datanya dulu..
Terimakasih buat teman-teman yang udah beri support full dengan like, komentarnya untuk karya ini. Boleh dong.. jika merasa karya ini layak mendapatkan gift dan bintang lima nya dari kalian, Author pasti sangat bersyukur dan berterima kasih pada kalian**.. hehehe.. Salam santun dan sayang dari author buat semua...🙏🤗🥰
__ADS_1