Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 33


__ADS_3

"Ya Allah Rai, kapan perginya kalau begini terus..."


"Sebentar saja..."


"Rai, nyeri semalam masih belum hilang lho ini..."


"Don't worry sayang.. kata orang-orang semakin sering nanti nyerinya akan hilang dengan sendirinya..."


Semakin lama debatan mereka semakin tak terdengar hanya suara kicauan burung yang terdengar bernyanyi ria menyambut udara pagi yang segar selepas hujan lebat membasahi bumi.


***


Siangnya di Rumah Sakit.


Dini tampak tak bisa menerima dirinya yang tak bisa melihat lagi. Walau Dokter sudah mengatakan bahwa kebutaan yang dialami Dini hanya sementara, tapi Dini tetap tak bisa menerimanya.


Dini berteriak-teriak menceracau tak karuan, sehingga Dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang pada Dini. Bu Lena tak tega melihat kondisi Dini. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Mamanya Dini juga seperti lepas tangan. Ia seperti tak mau tahu akan kondisi yang dialami putrinya itu.


Bu Lena sudah menghubungi Papanya Dini, namun Papa Dini sedang ada di Amerika karena urusan yang tak bisa ia tinggalkan. Hingga kemungkinan seminggu lagi ia baru bisa kembali ke Indonesia. Bu Lena harus menelan sendiri kemarahan yang diluapkan Dhani, Papanya Dini padanya, karena Dhani seperti tak terima akan kondisi putri dan cucunya tersebut. Ia menyalahkan Bu Lena dan Raihan yang tak pandai menjaga putrinya.


Bu Lena duduk bersandar di ruang tunggu, badannya cukup lelah karena dari semalam ia belum tidur sedikit pun. Ia memejamkan matanya, tak butuh waktu lama Bu Lena pun terlelap.


"Ma.." Raihan mengusap lembut pundak Mamanya. Raihan jadi merasa bersalah pada Mamanya, seharusnya ia yang berada di posisi Mamanya.


"Raihan, kamu sudah datang.." Ucap Bu Lena yang langsung terbangun saat merasakan sentuhan tangan Raihan dipundaknya.


"Ma, maafkan aku.. harusnya aku yang ada disini.." Ucap Raihan yang langsung mengambil posisi duduk disamping Mamanya.


"Nggak apa-apa Rai.. Mana Hasna?" Ucap Bu Lena menatap heran putranya itu karena tak melihat menantunya itu bersama Raihan.


"Tadi ia ke toilet dulu Ma, aku disuruh duluan nemui Mama.." Terang Raihan pada Mamanya.


Bu Lena pun menceritakan kondisi terkini Dini pada Raihan, tapi Bu Lena tak sedikitpun menceritakan Papanya Dini yang marah-marah pada Raihan karena takut menjadi beban bagi Raihan.


"Assalamu'alaikum Ma.."

__ADS_1


Hasna mengucapkan salam saat berada di dekat Bu Hasna yang tidak menyadari kedatangan mantunya itu. Sedangkan Raihan memberikan senyum manisnya pada Hasna.


"Wa'alaikumussalam.. Hasna..." Bu Lena memutar posisi duduknya menghadap Hasna, ia langsung merentangkan kedua tangannya. Hasna membungkukkan badannya untuk menerima pelukan dari Bu Lena. Bu Lena pun memeluk Hasna dengan erat.


"Mama rindu kamu sayang... Masyaallah kamu makin cantik saja.."


"Ma, maafkan Hasna... Hasna tak tahu kondisi kalian lagi setelah kecelakaan itu.. Maafkan Hasna yang menghilang dari kalian..." Mata Hasna sudah berkaca-kaca, ia seperti mengingat moment dimana ia di culik oleh Roby dan dipaksa menikah dengannya. Dan bagaimana tersiksanya kehidupan yang ia jalani saat itu.


"Sssst, kamu nggak salah apa-apa... Semua itu sudah takdir dari Allah, yang penting sekarang kamu tetap jadi mantu Mama kan..."


Hasna menarik dirinya dari pelukan Bu Lena. Ia bersimpuh di depan Bu Lena, lalu mengambil tangan Bu Lena, kemudian menciumnya dengan takzim sambil berucap,


"Hasna kembali meminta restu darimu Ma, meminta doa Mama selalu untuk pernikahan kami, agar kami selalu kuat dalam menghadapi ujian apapun nanti dalam kehidupan rumah tangga kami, termasuk doa untuk Dini ya Ma..."


"Iya sayang... tentu..." Bu Lena mengusap lembut kepala Hasna yang tertunduk diatas pangkuannya. Bu Lena terharu mendengar ucapan Hasna yang juga ingin meminta doanya utk Dini.


"Kamu sungguh berhati mulia sayang, semoga Dini nanti juga bisa menerima mu dengan ikhlas."


"Aamin... Terimakasih Ma.." Hasna mengangkat kepalanya kembali.


Bu Lena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Raihan memang sedikit banyaknya telah bercerita pada Mamanya apa yang telah terjadi pada mereka saat bertemu di Padang dan akhirnya malam itu mereka langsung menikah. Bagaimana Hasna yang masih memikirkan perasaan Dini dan mengesampingkan perasaannya sendiri.


"Duduk sini sayang.." Raihan menyuruh Hasna duduk disamping Mamanya dimana tempat ia duduk sebelumnya, lalu Raihan bergeser satu bangku disampingnya hingga Hasna duduk tepat berada ditengah-tengah mereka.


Bu Lena bisa melihat bagaimana besarnya cinta putranya itu pada Hasna lewat perlakuan manis yang di tunjukkan Raihan pada Hasna di depan Mamanya. Bu Lena belum pernah sama sekali melihat perlakuan romantis Raihan pada Dini walau mereka sudah menikah selama tiga bulan.


"Sebegitu terlukakah hati mu nak, hingga Dini tak mendapatkan perlakuan seperti Hasna darimu.." Monolog Bu Lena dalam hatinya.


"Hingga untuk melihat keadaan Dini dan anaknya secara langsung saja kau enggan nak.." Bu Lena kembali bermonolog sendiri sembari memperhatikan sikap Raihan yang malah sibuk mencuri perhatian Hasna.


"Rai, kalau Hasna capek, bawa Hasna pulang dulu, biar Mama disini menunggu Dini.." Ucap Bu Lena yang seolah mengerti kondisi putranya yang baru saja mereguk manisnya menjadi pengantin baru.


"Apa Mama nggak apa-apa disini sendirian, Hasna rasa Mama pasti butuh istirahat juga kan? Jadi biar kami saja yang di sini Ma, Mama aja yang pulang untuk istirahat." Sela Hasna cepat, ia merasa kasian melihat wajah Ibu Mertuanya itu yang tampak begitu kelelahan karena kurang istirahat.


"Tapi Na..." Raihan langsung menyela ucapan istrinya itu.

__ADS_1


"Rai.." Hasna mengedipkan matanya pada Raihan agar Raihan mendukungnya.


"Terimakasih sayang, Mama rasanya memang ingin sekali merebahkan badan ini.."


"Iya Ma.. Mama kesini sama siapa? Atau kami pesankan taksi dulu?" Tanya Hasna kembali memastikan Ibu Mertua nya pulang dengan apa.


"Nggak usah... Pak Ujang ada kok di parkiran, ia sengaja Mama suruh tunggu disini dari semalam." Jawab Bu Lena sembari kesusahan untuk bangkit dari duduknya, kaki Bu Lena yang sempat lumpuh pasca kecelakaan itu sudah sembuh walau tidak senormal dulu. Bu Lena tampak sempoyongan saat berdiri, hingga Hasna langsung memegangi tubuh Bu Lena.


"Mama nggak apa-apa?" Tanya Hasna pelan.


"Iya sayang, nggak apa-apa, memang kaki ini saja tidak terlalu kuat seperti dulu lagi.."


"Karena kecelakaan itu ya Ma..?"


"Iya, dulu memang sempat tak bisa digerakkan sama sekali, ini Mama harus sangat bersyukur bisa sembuh lagi. Dulu kata Dokter kemungkinan untuk sembuh kecil sekali.." Ucap Bu Lena yang berusaha untuk jalan walau dengan langkah pelan sedangkan Hasna dengan setia memegangi mertuanya itu.


"Masyaallah walhamdulillah, Mama pelan-pelan saja, biar Hasna hantar ke parkiran." Ucap Hasna sambil menuntun langkah Bu Lena.


Raihan yang tadinya senang karena disuruh istirahat di rumah oleh Mamanya sehingga bisa menikmati waktu berduaan lagi dengan istrinya itu, namun ia langsung kecewa atas sikap baik Hasna yang seolah tak memikirkan perasaannya yang masih ingin bermanja-manja dengan istrinya itu.


Raihan hanya diam mengikuti langkah Bu Lena dan Hasna dari belakang.


Setelah Hasna memastikan mobil yang dikendarai Pak Ujang pergi meninggalkan parkiran membawa Ibu Mertuanya. Hasna kembali teringat dengan suaminya.


"Rai, yuk masuk!' Ucap Hasna sembari membalikkan badan menyangka Raihan ada dibelakangnya.


Namun Hasna tak melihat sosok Raihan di sana.


"Bukannya Raihan tadi ikut di belakang, kok sekarang nggak ada ya..? Ucap Hasna heran sambil netranya memperhatikan ke sekeliling area parkiran. Hasna memang merasakan sosok Raihan yang tadinya mengikuti langkah mereka dari belakang.


"Rai..." Panggil Hasna kembali, namun sosok Raihan tak muncul lagi di sana. Hingga Hasna memutuskan untuk masuk ke dalam Rumah Sakit kembali.


Hasna sampai di ruang tunggu tempat mereka duduk sebelumnya, namun Raihan tetap tidak ada di sana.


"Raihan mana ya?" Hasna celingukan mencari sosok Raihan.

__ADS_1


Tiba-tiba Hasna mendengar suara seorang perempuan yang berkata-kata sambil berteriak-teriak dari dalam ruangan.


TBC...


__ADS_2