
Pagi itu, Raihan mendapatkan kiriman beberapa foto lagi tentang Hasna dari nomor yang sama. Mulai dari Hasna yang bertemu Angga dan hendak naik mobil Angga sampai foto-foto Hasna dan Angga turun dari mobil Angga di Terminal Bus.
Semalam Raihan sudah mendapatkan info laki-laki yang bersama Hasna adalah Angga dan orang yang mengirimkan foto-foto itu adalah Dini, istrinya sendiri. Dan Raihan pun menjadi khawatir atas kedekatan Hasna dengan Angga. Menurut informasi kawan lamanya Raihan itu, Angga adalah sahabatnya Roby, namun Angga adalah laki-laki yang baik berbeda dengan Roby.
Sedangkan tentang Dini, Raihan bisa langsung mengira dan memahami rencana Dini yang pastinya ingin merusak kepercayaannya pada Hasna.
Dan sekarang masalah kembali muncul di pikiran Raihan. Kenapa Hasna malah pergi tanpa sepengetahuan darinya. Dan Angga yang seolah selalu ada untuk Hasna bahkan mau mengantarkan Hasna sampai Terminal.
Raihan segera menghubungi Hery, agar Hery bisa mendatangi Bik Ina mencari tahu alasan Hasna pergi.
Raihan kembali melanjutkan rapatnya dengan Direksi setelah rehat sejenak. Raihan ingin bisa segera menyelesaikan masalah yang sedang dialami di Perusahaan Cabang tersebut, namun nyatanya Raihan sangat sulit sekali dalam berkonsentrasi. Hingga rapat terpaksa ditutup sementara dan di lanjutkan esok harinya. Raihan pun kembali ke ruangannya. Ia merasa frustasi karena masalahnya yang dihadapinya semakin bertambah.
Raihan memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut hebat.
Raihan mengatur napasnya dalam. Ia juga tak mau kehilangan Hasna. Raihan melihat kembali di layar ponselnya foto Hasna yang sedang berada di Terminal Bus. Raihan seolah langsung teringat moment dimana ia menemukan Hasna di sana.
"Hasna pasti kembali ke Padang.." Gumam Raihan yang sedang duduk menyandar di kursi ruangannya itu.
Raihan memaksa dirinya untuk berkonsentrasi dulu dalam menyelesaikan permasalahan perusahaan, hingga ia kembali fokus dalam memeriksa segala dokumentasi dan laporan dari berbagai Divisi.
Hingga waktu pun terasa berjalan begitu cepat bagi Raihan. Tak terasa hari pun sudah sore. Panggilan masuk dari Hery menghentikan aktivitas Raihan.
"Halo, ya Her, apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang Hasna dari Bik Ina?"
"Udah dong Rai, makanya aku nelpon kamu.." Jawab Hery dari balik telepon.
"Cepat katakan Her.. Kenapa Hasna bisa pergi begitu saja."
"Kau tenang lah Rai, ini semua karena ulahmu juga yang nggak mau jujur pada Hasna, jadinya Hasna mengetahuinya dari orang lain."
"Orang lain, maksudmu siapa?"
"Aku bisa pastikan Dini yang mengirimkannya Rai karena menurut keterangan Bik Ina, Hasna mengenal siapa yang ada didalam foto itu karena ia mengirimkan foto pernikahan kalian pada Hasna."
"Astaghfirullah, Dini sungguh keterlaluan.."
"Makanya kau jangan jadi laki-laki pengecut Rai, sekarang kejar Hasna jika kau memang ingin mempertahankannya. Semoga saja Hasna bisa mengerti posisimu yang terpaksa menikahi Dini."
__ADS_1
"Makasih Her, bantu aku dengan do'amu.."
"Semangat terus dalam mengejar cintamu bro.. Doaku untukmu.."
"Thanks Her.. Maaf aku telah banyak merepotkan mu.."
"That's okey, aku tutup dulu."
Panggilan dari Hery pun terputus. Raihan seolah mendapatkan mood booster dari Hery sang sahabat sekaligus sudah seperti saudaranya itu. Raihan juga menyadari kesalahannya yang menyembunyikan statusnya dengan Dini dari Hasna. Hingga Raihan seolah bisa merasakan betapa hancurnya hati Hasna sekarang.
"Na, maafkan aku... Aku pasti akan mencarimu nanti.. Aku akan menunggu kedatanganmu di Kota Padang ini. Kota kampung halamanmu yang akan menjadi saksi pernikahan kita nantinya." Ucap Raihan dalam hatinya.
Ia segera menelpon seseorang meminta tolong untuk mencari tahu nama-nama penumpang setiap bus yang berangkat ke Kota Padang agar ia bisa mengetahui Hasna naik Bus apa. Sehingga ia bisa menunggu kedatangan Hasna langsung di tempat pemberhentian (Pool) Bus tersebut.
Lalu Raihan bersiap-siap untuk pulang. Ia sudah tak sabar menunggu hari esok.
***
Selama perjalanan, Hasna hanya terlihat murung namun hatinya tak henti henti berdzikir, sudah kesekian kalinya ia tersakiti oleh cintanya manusia. Namun ia tak mau cintanya Pada Sang Pemilik Hati menjadi lemah karenanya. Semakin ia tersakiti semakin ia ingin mendekat pada-Nya, meminta ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu.
Hasna menjadikan perjalanan itu sebagai wadah mengingat kebesaran Allah, betapa besarnya Allah dengan segala ciptaan-Nya yang memanjakan manusia. Hingga manusia bisa lupa akan kenikmatan yang sesaat.
Hasna berusaha melupakan semua kenangannya bersama Raihan, namun semakin kuat ia ingin menghilangkan memorinya tentang Raihan namun hatinya tetap tak bisa di bohongi bahwa Hasna masih berharap Raihan lah yang menjadi pendamping hidup dunia akhiratnya kelak.
Momen-momen kebersamaan ia dengan Raihan yang tanpa sengaja bertemu, melayang-layang di benak Hasna.
"Allah... jangan jadikan ingatan ku pada cintanya manusia melebihi ingatan ku akan cinta-Mu.." Gumam Hasna dalam hatinya. Air matanya seolah tak pernah kering, Hasna kembali menangis dalam diam, dalam keheningan malam dimana para penumpang telah terlelap dalam tidur mereka.
***
Sore hari di Kota Padang.
Raihan sudah mendapatkan info Bus yang ditumpangi Hasna, hingga ia sudah bersiap-siap di Pool Bus tersebut menanti kedatangan Bus itu yang membawa Hasna nya semenjak siang. Raihan terpaksa meng cancel jadwal rapat nya demi menunggu dan mempertahankan cintanya.
Senyuman Raihan terkembang saat melihat kedatangan Bus itu memasuki area Pool. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. Ia meraba dadanya dan menarik napas dalam.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
__ADS_1
Raihan memperhatikan satu persatu penumpang yang turun. Hingga akhirnya perhatiannya terpusat pada Hasna yang turun dari Bus.
Ingin Raihan segera memanggil nama Hasna dan berlari mendekati Hasna, namun tiba-tiba lidahnya menjadi kelu, saat melihat seorang laki-laki ternyata sudah duluan mendekati Hasna.
("Kejar Hasna Rai, jika kau memang ingin mempertahankannya.")
Kata-kata Hery, tiba-tiba berselancar bebas di benak Raihan.
"Hasna..." Panggil Raihan pada akhirnya sembari mengejar Hasna yang hampir masuk ke dalam mobil laki-laki itu.
Hasna terpaku di tempat ia berdiri mendengar suara Raihan, suara yang ia rindu tapi juga ingin segera bisa hilangkan dari memory nya.
"Kau Raihan kan?" Tebak laki-laki yang menjemput Hasna. Ia adalah Angga.
"Kau mengenalku?" Sahut Raihan yang kaget mendengar ucapan Angga yang mengenalnya.
"Ya tentu... kau adalah putranya Pak Raam Jaya."
"Bagaimana kau juga bisa mengenal Papaku?"
"Pak Raam pernah menolong Papaku saat Perusahaan yang dikelola Papa hampir bangkrut. Dan kita pernah bertemu di Perusahaan Papaku saat kau bersama Papa mu berkunjung. Apa kau lupa?"
Raihan mencoba mengingat-ingat, namun ia benar-benar lupa.
"Maafkan aku, aku benar-benar lupa.."
"Nggak masalah... Oh ya, kamu mengenal Hasna?"
"Benar, Hasna adalah calon is.."
"Kak, aku mau cepat sampai rumah, badanku lelah, jika kakak masih ada urusan aku naik taksi aja."
Hasna yang dari tadi diam menyela pembicaraan Angga dengan Raihan. Hasna seolah ingin menghindari Raihan.
TBC...
Adakah yang menantikan update nya Muhasabah Cinta Hasna? Author boleh kenalan nggak...?
__ADS_1