Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 55


__ADS_3

"Ya Allah... Aku seakan kuat diuji berkali-kali, tapi kali ini aku merasa aku sudah tak kuat lagi ya Rabb.. Aku tak kuat menghadapi sikap dinginnya... huhuhu..." Hasna malah menangis tersedu-sedu di sana. Hingga sebuah tangan menyentuh pundaknya dengan lembut membuat Hasna langsung berhenti menangis.


"Masih mau nangis?"


Hasna mengenal betul suara itu, sebuah suara yang akhir-akhir ini membuat hati Hasna galau karenanya, suara dengan nada yang begitu dingin dan datar. Tak ada lagi Hasna dengar suara lembut dan romantis dari suaminya itu, semenjak Raihan dinyatakan mengidap penyakit Amnesia Anterograde oleh Dokter.


Dan semalam ternyata hanya mimpi yang Hasna rasakan. Dimana ia yang begitu bahagia karena Raihan telah mengingatnya dan mereka pun seperti saling melepas rindu dalam menghalau dinginnya malam.


Dengan cepat Hasna menghapus air matanya, ia tak mau Raihan melihat sisi yang lemah dari dirinya. Berbeda saat ia merasakan cemburu pada Dini dulu, Hasna langsung mencurahkan isi hatinya pada Raihan tapi sekarang Hasna seakan tak mau terlihat lemah di mata Raihan.


"Kalau masih, nggak apa.. ini pundakku bisa dijadikan tempat bersandar bila bebanmu terlalu berat."


Hasna menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku mau pulang, maaf kalau aku terpaksa keluar tanpa meminta izin darimu dulu." Ucap Hasna kemudian, lalu ia segera berdiri dari duduknya. Dan ia pun segera berlari menjauh dari Raihan.


"Tunggu.."


Seketika Hasna menghentikan langkahnya. Dan ia bisa merasakan Raihan berjalan mendekatinya.


"Kamu pikir aku nggak lelah.. Kamu pikir aku kuat menjalani semua ini dengan aku yang harus berpura-pura hilang ingatan akan dirimu.. Aku tersiksa Na, sungguh tersiksa..."


"Jadi..?"


"Ya, aku hanya berpura-pura tak mengingat dirimu dan berpura-pura hanya mengingat masa laluku dan melupakan masa yang baru saja kita rajut."


"Kenapa kau lakukan Rai, kenapa?"


"Karena aku tak kuat bila harus menghadapi kenyataan punya istri dua, dan itu semua karena dirimu yang mau aku menikah ulang dengan Dini, Hasna.. Sedangkan aku sudah bahagia kalau ternyata pernikahan aku dan Dini itu tidak sah. Karena aku.. aku hanya mencintaimu Hasna.. aku tak bisa berbagi cintaku pada yang lain baik itu pada Dini sekalipun."


"Tapi.. Ini tak lucu Rai, tak lucu.." Ucap Hasna menatap tajam mata Raihan.


"Iya Hasna.. aku bukan sedang bergurau, aku serius Hasna.."

__ADS_1


"Dengan membuat aku hampir gila karena mu, itu kamu katakan serius.. haaa." Ucap Hasna yang benar-benar marah pada Raihan. Matanya pun kembali tampak berkaca-kaca. Sekuat tenaga Hasna menahan air mata itu agar tak tumpah.


"Hasna, maafkan aku.. Aku hanya merasa cintamu itu tak sepenuhnya untukku, jadi aku terpaksa melakukannya.." Ucap Raihan sambil tertunduk, ia tak menyangka Hasna malah marah padanya.


"Apa? Kamu masih meragukan cintaku?"


"Kenapa Rai, Kenapa kamu masih ragu akan ketulusan cintaku padamu..?"


"Kenapa kamu masih ragu aku tak mencintaimu sepenuhnya..? Kenapa..? Rai.. aku hampir gila karena sikapmu... Dan itu yang kamu katakan aku tak mencintaimu sepenuhnya.." Ucap Hasna berturut-turut dan berapi-api.


"Tapi kamu memang benar Rai, cintaku memang terbagi, terbagi pada Sang Pemilik Jiwa ini.." Ujarnya kembali dengan nada yang lebih lemah.


"Hasna, aku sadar.. aku salah... aku hilang kendali, aku egois Hasna.. Maafkanlah aku.." Ucap Raihan dengan perasaan penuh penyesalan, ia tak menyangka bakalan akan jadi seperti itu. Hasnanya benar-benar marah padanya. Dalam harapannya, Hasna bisa dengan mudah menerima alasannya kenapa ia harus berpura-pura hilang ingatan akan Hasna.


Raihan memeluk Hasna dengan erat dengan tubuh yang berguncang hebat karena menangis menyesali perbuatannya, dan itu membuat hati Hasna luluh.


"Ya Rai, tak sepantasnya aku marah padamu.. Dan aku juga salah, karena niat baikku ternyata hanya menjadi beban bagimu.."


"Na.. kamu tahu.. aku paling tak bisa marah padamu, saat kamu marah padaku, hatiku terasa begitu hancur..." Ucap Raihan sambil terus memeluk Hasna. Tubuhnya terus berguncang karena tangisnya yang kian pecah.


Mereka pun menghabiskan waktu pagi itu hanya di dalam kamar. Entah berapa kali mereka lakukan, yang jelas mereka sama-sama saling melepaskan rindu setelah sekian lama tertahan.


"Sayang... Maafkan aku.. Terimakasih untuk segalanya..." Ucap Raihan lembut di telinga Hasna yang sudah tampak begitu kelelahan. Mereka baru saja habis menyucikan diri dengan langsung mandi besar sebelum merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur.


"Rai, aku ngantuk.." Dan Raihan seakan langsung mengerti bahwa kebiasaan istrinya itu akan langsung mengantuk setelahnya.


"Tidurlah sayang... Aku akan selalu ada di sisimu.."


Hasna pun tersenyum. Ia mengambil satu tangan Raihan dan meletakkannya di dadanya.


"Rai.. aku minta maaf karena aku sudah marah-marah padamu.. Aku takut Allah murka padaku Rai.. karena suaraku yang meninggi di depan mu.." Ucap Hasna dengan suara serak, matanya terpejam namun Hasna seperti memaksakan berbicara dengan suaminya itu.


"Sayang... Aku telah memaafkanmu jauh dirimu sebelum minta maaf, karena aku ingin selalu meridhoi mu.. agar kelak Surga berhak kamu dapatkan karena ridho dari suamimu yang pengecut ini."

__ADS_1


"Rai, aku jadi curiga deh, kamu itu sebenarnya tak mengalami koma setelah kecelakaan itu."


"Lho, kalau itu benar sayang.. cuma aku telah sadar dua hari sebelumnya, dan aku sangat takut untuk bangun. Saat aku menyadari ada kamu di sampingku aku ingin menikmati waktu itu berdua saja denganmu.."


"Ya Ampun Rai... apa punggungmu nggak pegal rebahan terus sambil terus berpura-pura koma selama dua hari lagi?" Ucap Hasna sambil tersenyum namun matanya masih saja terpejam.


"Nggak.. aku benar-benar menikmati di kelonin kamu terus."


"Lalu, Dokter itu juga jago akting berarti ya Rai.. termasuk Hery.."


"Iya sayang, Dokter muda itu adalah senior aku waktu sekolah dulu, Hery terpaksa mengajak sang dokter bekerjasama mengingat diriku ini yang pantas dikatakan laki-laki pengecut.." Ucap Raihan sambil tersenyum kecut.


"Jadi bukan aku orangnya yang pertama kali kamu lihat saat bangun dari koma mu Rai..?" Ujar Hasna sambil menyunggingkan senyumnya dengan mata yang masih terpejam.


"Sayang.. kamu masih ingat nggak waktu itu Hery datang ke Rumah Sakit lalu kamu minta tolong Hery untuk menjagaku sebentar, namun nyatanya kamu lama baru kembali, saat itulah aku terbangun sayang... aku bisa bertanya banyak hal pada Hery.."


"Lalu kalian berkerjasama buat ngerjain aku..?"


"Sayang.. sudahlah, aku jadi kembali merasa bersalah.."


"Mmmmh.. Rai... terimakasih ya... aku bahagia sekali... ternyata mimpi ku benar jadi kenyataan. Bedanya kamu itu hanya pura-pura saja."


Raihan langsung teringat akan kalimat yang keluar dari mulut Hasna saat tidur di pangkuannya dia atas mobil semalam. Raihan pun tersenyum sambil berucap,


"Itu karena hatimu terlalu baik sayang.. kamu tak mau berprasangka buruk sekalipun hatimu terluka.."


"Aamiin... Rai.. aku tidur dulu ya.."


"Ya sayang.. tidurlah.." Raihan mengecup kening Hasna lalu mengusap ubun-ubun nya tanda meridhoi istrinya itu. Raihan semakin merapatkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Hasna yang tidur terlentang.


Raihan yang sibuk mengusap-usap rambut Hasna akhirnya ikut terlelap.


Satu jam kemudian, tiba-tiba saja Raihan terbangun karena merasakan hawa panas dari tubuh Hasna yang menempel dengan dirinya, membuat tubuh Raihan banjir akan keringat. Dengan cepat Raihan bangkit untuk duduk, ia memeriksa kening Hasna dengan punggung telapak tangannya. Raihan langsung kaget karena merasakan suhunya yang sangat tinggi.

__ADS_1


"Astaghfirullah, panasnya begitu tinggi.."


TBC..


__ADS_2