Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 6


__ADS_3

"Jadi adik-adik kita mulai belajar ngaji kita sore ini dengan melafazkan Taawudz kemudian Basmalah terlebih dahulu ya.." Ucap Hasna pada murid-muridnya setelah ia memperkenalkan dirinya.


"Iya ustadzah.." Ucap mereka serentak.


Kelompok yang di handle Hasna berada di posisi jama'ah perempuan di bagian belakang yang terbatas oleh hijab. Dan kelompok yang di handle Haikal di bagian depan. Sedangkan Yulia tampak asyik dan fokus sendiri dengan kegiatannya membaca novel dari aplikasi ponselnya.


"Dengarkan ustadzah dulu ya, setelah itu baru ikuti sama-sama, mengerti ya.."


"Ngerti ustadzah..." Jawab mereka serentak dan antusias.


"A'udzu billahi minas-syaithaa nir-rajim.."


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Hasna menirukan dua bacaan itu dengan suara yang jelas dari pelafalan huruf-hurufnya yang terdengar tepat dan benar.


"Jadi sebelum kita masuk ke pelajaran nantinya pastikan adik-adik sudah betul dulu dalam melafazkan bacaan taawudz dan basmalah ini..."


"Ok kita coba sama-sama dulu ya..! Kita fasihkan dulu satu persatu.."


"A'udzu billahi minas-syaithaa nir-rajim.." Mereka pun melafazkannya dengan serentak, namun Hasna masih tampak belum puas dengan pelafalan huruf-huruf mereka.


"A'u, bukan 'a'u.. Hati-hati ya adik-adik.. huruf pertama itu adalah huruf Hamzah dan yang kedua itu huruf 'Ain. A itu keluar dari tenggorokan bagian bawah, sedangkan 'Ain dari tenggorokan tengah."


"A.. 'A.."


"Ok, coba kita latihan satu satu dulu.."


"A diucapkan dengan cara membuka rongga mulut sebesar ujung jari seperti ini nih coba perhatikan mulut kakak, A, A, A."


Mereka pun memperhatikan dengan seksama kemudian langsung mempraktekkannya.


"A, A."


"Coba suaranya ditekan, A. Oh ya bibir nya ditarik kesamping ya.. ibaratnya seperti kita senyum.."


Hasna terus mempraktekkan pada mereka bagaimana cara pelafalan huruf Hamzah itu dengan benar.


"Seperti ini ya ustadzah..."


Satu anak yang bernama Putri secara spontan menunjukkan ekspresinya sedikit memiringkan wajahnya dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan, sehingga tepat berada di samping bibirnya yang tersenyum. Ekspresi nya itu sontak membuat semua orang ketawa.


"Hahahaha, dasar kau ini Put, itu mah gayamu saat selfi... hahahaha." Ucap anak lain yang bernama Riki mengejek Putri hingga tawanya tak henti-henti.


Hasna pun tak bisa menahan tawanya, dari pancaran mata Hasna terlihat ia begitu bahagia. Kulit wajahnya yang putih seketika berubah menjadi merah muda. Ekspresi Putri sungguh membuat siapa saja yang melihatnya ikut merasakan lucu dan bikin gemes.

__ADS_1


Di sudut ruangan, tampak sosok Haikal yang berdiri terpaku menyandar ke dinding terus memperhatikan Hasna. Bibirnya yang merah terkembang merekah bagaikan bunga mawar yang baru mekar. Ia yang tadinya ingin keluar sebentar namun malah terdiam berdiri disitu.


"Ustadz Haikal... Kami juga mau belajar seperti mereka..." Teriak salah satu murid yang di handle Haikal, mereka seolah iri dengan kelompok yang di handle Hasna. Selama mereka mengaji dengan Haikal mereka tak pernah tertawa lepas seperti teman mereka itu.


Haikal jadi gelagapan saat pandangan Hasna tertuju padanya. Haikal dengan cepat keluar dari Mesjid.


"Kalian ngapain berdiri diluar seperti ini?"


Ucap Haikal yang kaget melihat Raihan, Hery dan Roby, sedang berdiri di balik kaca Mesjid mengintip ke arah dalam Mesjid.


"Ma-maaf ustadz.." Jawab Raihan gelagapan.


Hery yang masih fokus melihat Yulia sampai tak menyadari kehadiran Haikal.


Haikal memperhatikan arah pandangan Hery, ia pikir Hery ikutan memperhatikan Hasna seperti yang lainnya.


"Hasna.."


Hasna langsung kaget mendengar suara laki-laki yang memanggil namanya itu. Ia sangat mengenal suara itu.


"Mas Roby.."


Hasna seketika menutup mulutnya tak percaya saat melihat sosok Roby sudah berdiri di depan pintu masuk. Hasna segera bangkit dan lari keluar dari Mesjid melewati Roby begitu saja.


"Ustadzah Hasna... ustadzah mau kemana..? Pertanyaan Putri seolah mewakili teman-temannya yang juga penasaran.


"Hasna, tunggu.."


Robby langsung mengejar Hasna, Haikal dan Raihan tampak saling lirik.


"Ustadz, saya ke sana dulu.." Raihan pamit pada Haikal, ia juga ikut mengejar Hasna.


"Rei, tunggu.." Hery yang menyadari Raihan tak ada disampingnya segera mengejar Raihan.


Haikal segera mengumpulkan anak-anak ngajinya, dan hari itu belajar mengaji mereka dicukupkan sampai disitu, karena Haikal tiba-tiba merasakan hatinya gelisah.


"Kak, Hasna kemana..? Kenapa ngajinya udah selesai aja? Tanya Yulia bingung, ia tak menyadari atas apa yang telah terjadi.


"Ya Allah dek, tadi itu kamu ngapain aja..?"


"Baca novel.." Ucap Yulia tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Astaghfirullah dek... di Mesjid bukannya ngaji tapi malah baca novel.."


"Tapi novelnya islami kok kak, serius.." Yulia seakan takut melihat mata kakaknya yang melotot padanya.

__ADS_1


"Terserah kamu lah... segera susul Hasna kakak khawatir terjadi apa-apa padanya.."


"I-iya kak.."


Yulia hendak keluar Mesjid mencari Hasna sahabatnya. Tapi seketika ia berhenti.


"Kenapa berhenti dek...?"


"Kakak tahu arah Hasna kemana?"


"Tadi kakak lihat Hasna menuju jalan ke arah danau, kamu cepat susul, kakak mau bereskan ini dulu.."


Yulia pun segera berlari keluar Mesjid mengikuti arah sesuai petunjuk kakaknya itu.


"Ustadz Haikal, ustadzah Hasna ada masalah apa? Kenapa Ustadz tampak cemas begitu?" Tanya Putri yang tak mau pulang begitu saja seperti temannya.


"Tunggu kamu besar dulu ya nanti kamu akan mengerti.."


"Tapi Putri sudah besar ustadz, kata Mama tamat SMP Putri boleh nikah... Kan cuma tiga tahun lagi.." Ucap Putri dengan polosnya.


"Ya Allah Put... Ustadz jadi lupa kalau kamu itu nyatanya udah besar.."


Usia putri memang sudah menginjak 15 tahun namun karena keterbatasan kemampuannya dalam belajar akhirnya ia sering tinggal kelas dan sekarang masih duduk di kelas 6 SD.


"Ya ustadz, itu kan ustadz sadar Putri sudah besar, jadi cerita lah ustadz.."


"Maaf ya Put.. Ustadz tak berhak cerita tentang ustadzah Hasna.. karena ustadz bukan siapa-siapanya zah Hasna."


"Yeeea ustadz pelit, kalau gitu mari kita buat ustadz ada apa-apanya dengan ustadzah Hasna.."


"Maksud kamu..?"


"Ustadz Haikal juga ikut kejar ustadzah Hasna.. Aku setuju kalau ustadz bisa nikah dengan zah Hasna.. Kalian cocok.. dan Ustadzah Hasna selalu bersama kita disini..." Sahut putri sambil membuat simbol hati lewat jarinya. lalu ia tempelkan didadanya.


Haikal terdiam mendengar ucapan Putri. Ia nggak boleh gegabah mengikuti sarannya Putri. Bagaimanapun Haikal sudah tahu dari Yulia bahwa Hasna gagal dalam pernikahannya yang belum berumur sehari itu.


"Ustadz nggak gentle... aku pulang dulu... Assalamu'alaikum." Ucap Putri yang kecewa dengan sikap Ustadznya yang menurutnya tidak gentleman itu.


"Wa'alaikumussalam.." Haikal pun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Putri yang sok tahu itu.


***


"Hasna.. berhenti.." Teriak Roby dengan napas terengah-engah.


"Hasna awas... jangan bergerak lagi.." Raihan ikut meneriaki Hasna yang sudah berdiri di atas batu pinggiran danau. Posisi batu itu cukup tinggi dari permukaan danau.

__ADS_1


TBC..


__ADS_2