Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 31


__ADS_3

Bu Lena mendapatkan kabar dari salah satu pembantu Mama Dini yang sudah lama bekerja di sana, bahwa Dini masuk rumah sakit. Bik Sumi terpaksa memberi tahu Bu Lena karena Mama Dini juga, Mama Dini tak bisa pulang katanya sehingga menyuruh Bik Sumi menghubungi Bu Lena Mamanya Raihan.


Bu Lena tak mungkin memberi tahu Raihan karena Bu Lena tak mau mengganggu waktu putranya itu yang baru saja menikah dengan Hasna, dan lagian waktu pun sudah malam. Hingga Bu Lena memutuskan ke Rumah Sakit sendirian diantar Pak Ujang supir pribadi Bu Lena. Ia ingin memastikan keadaan Dini terlebih dahulu baru ia menghubungi Raihan.


Setiba di Rumah Sakit, Bu Lena mendapatkan kabar dari Dokter yang menangani Dini bahwa Dini harus segera di Operasi Cesar untuk melahirkan anaknya, karena kondisi Dini yang tidak stabil dan tekanan darahnya begitu tinggi sehingga berisiko buat janinnya jika masih dipertahankan di dalam. Begitu juga resiko kematian bagi Ibu yang mengandungnya.


Bu Lena pun menyerahkan semuanya pada Dokter.


"Lakukan saja yang terbaik Dokter, jika itu jalan satu-satunya.." Ucap Bu Lena memasrahkan semuanya pada Dokter itu.


"Baik bu, kami akan berusaha semampu kami. Walau masih ada resiko yang mungkin terjadi pada Bu Dini nantinya. Tapi mohon doanya Bu." Ucap sang Dokter yang dibalas anggukan lemah oleh Bu Lena.


Akhirnya Dokter melakukan tindakan Operasi Cesar untuk mengeluarkan bayi Dini. Bayi itu terlahir prematur dengan organ-organ tubuh yang belum berkembang sempurna karena usianya yang baru masuk 6 bulan dalam kandungan Dini. Hingga bayi itu langsung diberikan perawatan intensif di dalam inkubator.


Dan Dini selepas Operasi juga langsung di bawa ke dalam ruang pantau, karena Tekanan Darah Dini masih tinggi.


***


Waktu Subuh pun menyapa Di Kota Padang.


"Na, bangun udah subuh.. " Ucap Raihan membangunkan Hasna yang masih tampak tertidur pulas. Raihan sudah selesai melakukan shalat malamnya, ia tidak tega membangunkan Hasna untuk shalat malam bersamanya karena Raihan kasihan melihat Hasna yang pasti sangat kelelahan.


"Na, sayaang.. bangun ya..."


"Mmmmmph.." Hasna akhirnya merespon. Ia meregangkan kedua tangannya ke atas.


"Rai, udah jam berapa sekarang..?" Tanya Hasna dengan mata yang masih terpejam.


"Udah hampir jam lima sayang..."


"Haaa, kenapa aku nggak dibangunin awal Rai.. jadi ketinggalan deh shalat malamnya.." Ucap Hasna yang langsung membuka matanya kaget. Ia pun memasang wajah cemberut pada Raihan yang menundukkan badannya pada Hasna hingga posisi wajah Raihan tepat diatas muka Hasna.


"Aku itu kasihan lihat kamu kecapaian, tapi esok aku bangunin awal ya..." Ucap Raihan yang hendak memencet hidung Hasna namun Hasna segera memalingkan wajahnya dari tangan Raihan.


"Nggak mau wudhu nya batal kan?" Ujar Hasna kemudian.


"Batal juga nggak apa kan, nanti aku bisa wudhu lagi..." Ucap Raihan tak mau kalah, ia langsung menjatuhkan tubuhnya berbaring di dekat Hasna. Raihan seolah hendak melahap habis kembali istrinya itu.


"Rai.. nanti kita telat sholatnya.."

__ADS_1


"Belum azan kok..." Ucap Raihan yang udah memeluk Hasna.


Hasna mencoba mengangkat tangan Raihan yang melingkar di atas perutnya. Namun tenaganya kalah kuat dari tenaga Raihan yang semakin erat memeluk istrinya itu.


"Rai... nggak boleh gitu... ibadah itu tetap yang utama.."


"Ini juga ibadah kok.."


"Aku tahu sayang... Nanti ya..."


"Alhamdulillah, aku senang deh dengarnya kamu manggil aku dengan sebutan sayang, janji ya nanti..."


"Insyaallah.. shalat dulu sana.. Kamu emangnya nggak mau ke Mesjid?"


"Tadinya mau, tapi diluar lagi hujan lebat, jadi aku mau sholat bareng kamu aja di sini."


"Iya deh.." Hasna hendak langsung berdiri dari posisi tidurnya, namun Raihan dengan sigap menangkap tubuh Hasna yang tiba-tiba sempoyongan.


"Hati-hati sayang... kalau dari bangun tidur itu nggak boleh langsung berdiri, duduk dulu sebentar biar nggak pusing seperti ini kan.." Nasehat Raihan pada Hasna dan Hasna malah semakin menyandarkan tubuhnya pada Raihan yang duduk di belakangnya.


Ia melirik wajah Raihan dari posisi wajahnya yang berada di bawah dagu Raihan. Ia meraih kedua tangan Raihan yang masih melingkar di pinggangnya. Kedua tangan itu ia buat semakin erat memeluk dirinya. Posisi Hasna sekarang berada di pangkuan Raihan. Raihan pun menatap wajah istrinya itu dengan lekat.


"Rai, terimakasih... aku semakin cinta padamu karena Allah Rai.."


Jari-jari mereka sekarang malah saling bertautan, Raihan mengangkat satu tangan Hasna mendekati bibirnya lalu ia kecup dengan penuh khidmat.


"Love you sayang, Hasna ku, bidadari Surgaku.."


"love you too sayang..."


Raihan semakin menundukkan wajahnya pada wajah Hasna.


"Rai, udah azan.." Ucap Hasna sambil mendorong pelan wajah Raihan.


"Mmmmmh iya..." Jawab Raihan terkesiap mendengar peringatan dari Hasna dan suara Azan yang sudah berkumandang dengan merdunya di Subuh yang syahdu.


Kebahagiaan Raihan begitu sempurna ia rasakan setelah Shalat berjamaah berduanya dengan Hasna istrinya itu. Raihan seolah lupa dengan semua permasalahan kantor yang sedang ia alami. Dengan kebersamaannya dengan Hasna semalam, beban yang dirasa Raihan langsung jauh berkurang dari pikirannya. Apalagi ia yang kembali mendapatkan jatah dari Hasna selepas shalat subuh mereka itu. Mereka pun tampak saling menikmati satu sama lain. Raihan juga tak mau egois sendiri, ia berusaha membiarkan Hasna menyelesaikan hajatnya terlebih dahulu baru setelah itu ia menyelesaikan hajatnya. Hingga Hasna semakin merasakan cinta Raihan yang begitu besar padanya.


"Rai.." Panggil Hasna dengan merdu pada suaminya yang terbaring disampingnya. Hasna menghadapkan tubuhnya miring ke arah Raihan.

__ADS_1


"Ya.." Balas Raihan dengan lembut.


Raihan yang tadinya tidur terlentang juga ikut memiringkan tubuhnya, sehingga posisi mereka sekarang berhadap-hadapan.


"Apa aku boleh pulang ke rumah Nenek hari ini? Aku juga mau ziarah ke makam Nenek.." Ucap Hasna dengan pelan dan santun.


"Tentu boleh sayang.. Tapi aku nggak bisa lama-lama nemenin kamu karena ada urusan kantor yang harus segera aku selesaikan."


"Nggak apa-apa Rai, kita sebentar saja.. Nanti aku akan ikut ke kantormu boleh?"


"Tentu boleh dong... malah aku sangat senang ada kamu selalu di sisiku, jadi aku makin semangat kerjanya.."


"Rai, kamu hebat ya, masih muda udah mimpin perusahaan.."


"Terpaksa Na, kalau bukan aku siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan Papa yang dulunya sudah bersusah payah mengembangkan Perusahaan sampai buka Cabang disini."


"Alhamdulillah Rai... kamu itu beruntung punya Papa yang juga hebat."


"Alhamdulillah Na.."


"Oh ya kuliahmu bagaimana Rai..?"


"Alhamdulillah kuliahku tetap jalan Na, namun kali ini aku minta izin untuk beberapa hari, karena ada urusan penting yang harus aku selesaikan disini."


"Syukurlah Rai, kalau aku terpaksa mundur di wisuda nya Rai, karena harus ada satu semester lagi yang harus ku ulang tahun depan.." Ucap Hasna dengan raut wajah sedih.


"Nggak apa-apa sayang... jangan sedih ya.." Ucap Raihan sambil mengecup kening Hasna. Ia pun mengusap lembut pucuk kepala Hasna.


Hasna pun mengangguk sambil tersenyum.


Drrrt, drrrt, drrrt. Suara getaran dari Ponsel Raihan yang tergeletak di atas meja kecil disamping kasur terdengar oleh Hasna.


"Rai, sepertinya ada telpon masuk dari ponsel mu?"


"Iya sepertinya.. sebentar ya sayang.."


Hasna pun kembali menganggukkan kepalanya.


Raihan mengambil ponselnya lalu ia melihat ada panggilan masuk dari Bu Lena, ia melirik ke arah Hasna.

__ADS_1


"Mama Na.. Ada apa ya?" Ucap Raihan heran.


TBC...


__ADS_2