
"Rumi Hasna Amara, itu namamu kan..?" Ucap Dini sembari berjalan melewati punggung Hasna.
"Bolehkah aku tetap memanggilmu dengan panggilan Rumi?" Tanya Dini yang sekarang sudah berada tepat di depan Hasna. Ia kemudian berjongkok menyetarakan posisinya dengan Hasna yang sedang duduk bersimpuh. Hasna tak berani menatap wajah Dini, ia menundukkan kepalanya.
Sedangkan Dini malah menatap Hasna dengan bibir yang terkembang.
Hasna hanya diam, ia bersiap-siap bila Dini marah padanya karena ia telah berpura-pura menjadi perawat khusus Dini dengan nama Rumi.
"Rumi Hasna Amara, wanita yang cantik berseri, memiliki daya tarik serta pribadi yang baik. Sungguh nama kamu sesuai dengan kepribadianmu Rum.. Dan wajahmu juga cantik berseri.." Ucap Dini dengan memegang dagu Hasna, seketika Hasna mendongakkan kepalanya.
Hasna terkejut, pandangan mata mereka beradu. Hasna baru sadar bahwa Dini sudah bisa melihat kembali.
"Din, Alhamdulillah.. aku senang kamu akhirnya bisa melihat lagi..." Ucap Hasna seketika bersyukur mengetahui penglihatan Dini yang sudah kembali.
"Ini yang membuat aku malu padamu Rum... Kamu selalu saja memikirkan kebahagiaan orang lain sedangkan kebahagiaan dirimu sendiri kamu abaikan.." Ucap Dini yang sudah ikutan duduk bersimpuh di depan Hasna.
"Din.. kamu tidak marah padaku?" Ucap Hasna memberanikan diri menatap mata Dini kembali.
"Rumi... Rumi, bagaimana bisa aku marah padamu? Sedangkan aku saja yang begitu jahat padamu, kamu malah mendekatiku, menyayangiku layaknya saudaramu sendiri.. Kamu rela berbagi kebahagiaanmu padaku, dan kamu rela berbagi suamimu padaku..."
Sejenak Dini terdiam, mereka masih saling pandang. Lalu Dini mengatur napasnya, dan kembali berucap,
"Aku pikir saat itu kamu ikut Raihan ke Padang. Tapi nyatanya kamu malah ingin disini, menemaniku bahkan merawatku.. Dan aku curiga, jangan-jangan kamu lah yang membujuk Raihan saat itu agar mengizinin kamu jadi perawat khusus untukku, karena mustahil Raihan melakukannya dengan inisiatif dia sendiri.."
"Kamu tahu.. saat mendapat kabar Raihan kecelakaan, saat itu juga aku baru tahu bahwa kamu itu adalah Hasna, aku jadi malu Rum... Malu sekali... Selama ini aku telah egois pada kalian."
Dengan cepat Dini menyeka air matanya. Ia tak mau Hasna malah sedih bila melihatnya menangis.
Hasna terdiam, matanya sudah berkaca-kaca karena menahan haru.
"Tahan air matamu Rum, aku takkan membiarkan kamu menangis lagi.. Sudah cukup pengorbanan kamu selama ini untukku.." Ucap Dini yang melihat genangan air mata di pelupuk mata Hasna.
__ADS_1
"Din..." Ucap Hasna lirih, hatinya begitu haru dan bahagia.
"Dan sekarang... aku akan mengembalikan kebahagiaanmu, kebahagiaan kalian berdua... Aku mengikhlaskan Raihan untukmu Rum.."
"Tapi Din... Bagaimana kalau penyakit amnesia Raihan bersifat permanen? Raihan tak mengingat siapa aku dan ia hanya ingat kamu. Bukankah ini kesempatan untukmu untuk memupuk cinta kalian lagi..?" Tanya Hasna walau hatinya terasa berat namun ia tetap memaksakan menanyakannya pada Dini.
"Rum... Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku? Bahwa kita harus yakin Pada Allah Sang Pemilik Jiwa. Ia lah yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Hati manusia saja dengan mudah bisa Dia balikkan apalagi hanya ingatan Raihan Rum.. termasuk hatiku ini Rum.. walau Raihan sekarang berkata ia hanya mencintaiku namun hatiku sudah terlanjur sayang padamu Rumi.. Aku tak akan merebut kebahagiaanmu lagi. Aku akan menyayangimu seperti saudaraku juga. Dan seorang saudara tak akan mungkin merebut kebahagiaan saudaranya sendiri bukan..? Dan aku tahu siapa Raihan Rum.. ia tipe laki-laki setia dengan satu wanita. Jadi akan sulit baginya untuk membagi perhatian bila memiliki dua istri.."
"Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah Allahuakbar... Lahaula wala Quwwata illa billah.." Hasna pun langsung berdzikir memuji kebesaran Allah. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
"Alhamdulillah Din... aku juga menyayangimu karena Allah... hiks hiks hiks." Hasna pun menangis haru di depan Dini yang menatapnya lembut dan penuh kasih sayang.
"Sssst, barusan aku katakan, tak boleh ada air mata lagi yang tumpah disini.. Okey..!"
"I-iya.. tapi ini air mata kebahagiaan lo Din, aku bahagia Din.. Walau Raihan..." Ucapan Hasna tertahan karena tiba-tiba hatinya kembali terasa sakit teringat suaminya sendiri tak mengenali dirinya.
"Hey, mana Rumi ku yang tegar dan kuat, mana Rumi ku yang jago menyamar, haaa Mana.. ?"
"Ini hanya masalah waktu.. bersabarlah.. Bila ingatan Raihan kembali, aku yakin.. ia akan semakin mencintaimu karena kamu bersabar menghadapinya saat ia tak ingat akan dirimu." Ucap Dini dengan penuh semangat dan keyakinan bahwa suatu saat Raihan akan mengingat Hasna kembali. Kalaupun ingatannya tidak pulih tapi nanti hanya ada Hasna yang akan selalu menemani Raihan sehingga lambat laun Raihan akan bisa menerima Hasna dan mencintai Hasna lagi.
Dan itu tak akan sulit bagi Hasna merebut hati Raihan kembali karena Hasna memiliki kepribadian yang begitu baik sehingga membuat siapa saja senang berdekatan dengannya. Cuma butuh waktu saja untuk semua itu.
"Terimakasih Din, terimakasih..."
Dini pun bahagia setelah mengucapkan semuanya. Ia menumpahkan kebahagiaannya dengan memeluk Rumi alias Hasna dengan begitu erat. Bu Lena yang mengintip dari balik pintu merasakan haru yang begitu mendalam. Ia pun masuk dan berjalan mendekati Hasna dan Dini dengan putranya Dini yang begitu anteng dalam gendongannya.
"Sayang..." Panggil Bu Lena dengan lembutnya.
"Ma..." Ucap Dini dan Hasna serentak. Mereka pun saling melepaskan pelukan.
"Masyaallah... Baby boy sudah pulang.." Ucap Hasna seketika melihat putranya Dini dalam gendongan Bu Lena. Hasna langsung meraih bayi mungilnya Dini dan ia bawa ke dalam pelukannya saat Bu Lena menyerahkannya pada Hasna.
__ADS_1
"Iya sayang, ini putra kalian.. Masyaallah Baby boy pasti bangga memiliki 2 orang Bunda yang memiliki hati yang begitu mulia.."
Dini dan Hasna pun tersenyum mendengar pujian Bu Lena.
"Din, izinkan aku juga merawat putra mu.. Kamu tidak keberatan kan..?" Ucap Hasna pada Dini kemudian.
"Tentu..." Dini membalasnya dengan senyuman hangat pada Hasna. Mereka pun tertawa bahagia bersama.
***
Di dalam kamar, Raihan merasakan frustasi karena ia tidak bisa mengingat sebenarnya apa yang telah terjadi dengan dirinya. Kenapa Dini tiba-tiba saja sudah memiliki anak dan mengatakan bahwa ia tidak mencintainya lagi.
"Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku hanya bisa mengingat bahwa hubungan aku dan Dini baik-baik saja...? Dan rasanya baru kemarin kami tamat SMA dan masuk kuliah. Hery, Dini dan aku, kami baik-baik saja dan bahagia bisa kuliah di kampus yang sama. Lalu sekarang Mama berkata Hasna adalah istriku.. Bagaimana bisa aku menikah dengan Hasna? Siapa dia? Arrrgh, sakit..."
TBC...
*Udahlah Rai jangan terlalu dipaksakan.. Semoga kamu cepat pulih ingatannya ya, kasihan Hasnanya...
Jangan sampai author juga lupa ingatan bahwa kamis esok hari terakhir pengumpulan data bagi pembaca pendukung terbanyak kisah kamu Dan Hasna minggu ini, Rai.. hehehe.
Yuklah yang udah mampir, jangan ikutan lupa kasih jempolnya buat Author ya..😅🙏🤗*
**FYI: Tinggal dua hari lagi dari sekarang.. Siap-siap nama yang beruntung berikutnya mendapatkan voucher data dari Author ya.. dengan cara dukung karya ini dengan like, komen, vote atau giftnya juga boleh.. atau yang belum kasih bintang lima nya juga boleh banget...
Tapi author kasih reward nya buat yang benar baca karya ini aja ya kak, intinya jangan di boom like. Karna reward tidak berlaku bagi pembaca yang cuma boom like ya.. kasian yang beneran baca, cuma karena nggak nge like dan kasih dukungan lainnya jadi tak kepilih. Sebenarnya Author punya bukti juga nanti di laporan Mingguan dari NT, ketahuan sih sebenarnya siapa pembaca teraktif dan pembaca dengan bacaan terbanyak*.
Terimakasih... Salam santun dan sayang dari Author Gadih Hazar, anak Sumatera.. 🙏🤗🥰
Dan selamat buat kak Mery, pendukung teraktif dan terbanyak minggu lalu, semoga hadiah kuota internetnya bisa bermanfaat dan berkah ya kak.. Aamiin..
__ADS_1