Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 14


__ADS_3

"Raam, apa maksud Raihan menyakiti hati Dini, Dini bilang Raihan memutuskan ia secara sepihak?"


Pak Raam yang tadinya merasa heran kenapa tiba-tiba Dhani sahabat lamanya itu menelponnya. Karena sudah hampir setahun mereka tak berkomunikasi. Dhani adalah Papi nya Dini itu memang tak tinggal di Indonesia, ia tinggal bersama istri mudanya di Singapura dan mengembangkan bisnisnya di sana.


"Hai Dhani, gimana kabarmu? Sudah lama kau tak menghubungi ku, setiap aku mencoba menelponmu selalu saja kau reject, aku bisa terima.. kau pasti sibuk.."


"Raam, nggak usah basa-basi, kau segera lah jawab pertanyaan ku? Dan Raihan putra mu itu jangan jadi pengecut. Sudah berulangkali ku hubungi ia dari kemarin, HP nya seperti sengaja dimatikan."


"Jadi kau dengan mudahnya percaya akan aduan putrimu itu?" Ucap Pak Raam dengan tenang di luar rumah. Pak Raam memang sengaja keluar dari rumah Pak Ahmad saat melihat Papinya Dini itu menelponnya.


"Ooh tentu.. karena ia putriku.. Ia tak mungkin membohongi Papinya sendiri. Dari dulu ia tak pernah membohongiku."


"Kalau gitu sebaiknya kau pulang dulu ke Indonesia, kita bicarakan baik-baik di rumahku."


"Tidak bisa Raam, aku tidak punya waktu. Katakan pada Raihan, jika ia berani membuat hati Dini terluka maka langkahi dulu mayatku. Jadi aku mau Raihan kembali pada Dini." Ucap Dhani penuh penegasan, lalu ia mematikan telponnya.


Pak Raam menarik napasnya berat, ia makin kesal dengan sikap Dhani sahabatnya itu yang dari dulu masih saja belum berubah, yaitu suka seenaknya saja.


"Aku harus mempercepat pernikahan Raihan dengan Hasna, urusan Dini dan ayahnya belakangan, aku akan hadapi sendiri nantinya." Ucap pak Raam dalam hatinya.


***


Pagi itu juga, Raihan dan keluarga ingin kembali istirahat ke Villa sebelum mereka akan berangkat siang nanti ba'da Zuhur menuju Padang menemui Neneknya Hasna dan melangsungkan pernikahan Raihan dan Hasna di sana.


Nenek Hasna yang sudah diberitahu Hasna begitu antusias mendengar kabar dari Hasna cucunya itu. Dan Bu Lena serta Pak Raam juga sudah berbicara pada Nenek Hasna lewat telepon, ia pun menerimanya dengan baik. Nenek Hasna juga bahagia tampak dari cara bicaranya itu di balik telepon.


Pak Ahmad dan Buk Par tak lupa memberikan oleh-oleh khas daerah Alahan Panjang itu pada mereka. Pak Ahmad dan Buk Par istrinya itu sebenarnya ingin ikut ke Padang menyaksikan pernikahan Raihan dan Hasna namun beliau tak bisa meninggalkan ladang bawang mereka yang harus segera di panen semuanya. Di depan rumah Pak Ahmad memang sudah tampak berjejer bawang hasil panen yang digantung dan disusun di atas wadah yang terbuat dari anyaman bambu.

__ADS_1


Dan Pak Raam sendiri tak tanggung-tanggung membalas kebaikan Pak Ahmad dan Buk Par, ia menghadiahkan umroh buat mereka yang tentunya membuat Pak Ahmad dan Buk Par menangis haru.


Sedangkan Hasna sendiri kembali ke rumah Yulia, nanti ia akan di jemput saat di siang harinya saat akan berangkat saja. Hasna ingin mengajak Yulia serta Haikal untuk ikut bersamanya.


Di rumah Yulia, Hasna menyampaikan maksud dan rencananya pada Yulia.


"Na, aku kecewa padamu.. Kamu itu pembohong Na, bukannya kamu yang menyuruhku untuk hati-hati dengan laki-laki Kota tapi kamu sendiri begitu mudah menerima Raihan... Jadi jangan salahkan kami yang tak bisa menghadiri pernikahanmu." Ucap Yulia dengan raut wajah penuh kekecewaan. Lalu ia meninggalkan Hasna sendirian di kamarnya yang sudah beberapa hari ditempati Hasna bersamanya.


Yulia begitu menyayangi kakaknya, ia sudah dua kali melihat kakaknya itu terpuruk seperti kehilangan gairah hidup. Pertama saat Yulia melihat raut wajah kekecewaan dari Haikal kakaknya itu saat tahu Hasna akan menikah dengan Roby dan sekarang disaat Yulia seperti memiliki harapan untuk menyatukan Haikal dengan Hasna, namun Hasna malah menerima lamaran Raihan bahkan mereka akan segera menikah.


Hasna begitu sedih mendengar ucapan Yulia sang sahabat yang sudah seperti saudaranya itu. Dan Hasna sendiri juga tak melihat keberadaan Haikal di rumah itu. Dan ia yang tadinya ingin menanyakan Haikal pada Yulia seketika mengurungkan niatnya setelah melihat reaksi Yulia yang kecewa padanya.


"Maafkan aku Yulia, aku memiliki alasan sendiri kenapa aku harus menerima lamaran Raihan." Ucap Hasna dalam hatinya sendu menatap punggung Yulia yang berjalan keluar dari kamar itu.


Hasna menarik napasnya pelan lalu menghembuskan kembali pelan. Ia segera merapikan pakaiannya dan memasukkan ke dalam tas pakaiannya. Tak terasa bulir bening jatuh membasahi pipinya yang putih. Disaat ia merasakan kebahagian namun ada hati yang terluka karenanya.


***


Di Kota besar, di kamar berukuran luas di sebuah rumah mewah dimana Dini tinggal bersama ibunya.


"Uweeek, uweeek.."


Dini segera berlari ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu, ia memuntahkan isi perutnya setelah beberapa suap makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.


Dini terus merasakan mual. Ia memang sering mual dan muntah di masa trimester pertama kehamilan nya itu.


"Uweek, uweeek.."

__ADS_1


"Sampai kapan ini berakhir...?" Dini merutuki rasa mual yang tak kunjung berhenti.


"Roby kau laki-laki brengsek...Teganya kau meninggalkanku dalam keadaan hamil begini, bukannya kau udah janji menikahiku, tapi kenapa kau menghilang... Aku menyesal... aku menyesal karena telah memilihmu.. Aaaaahh.." Maki Dini saat melihat dirinya dari cermin wastafel tersebut. Napasnya tersengal-sengal karena menahan amarah serta akibat dari rasa mualnya itu.


"Semoga Papi bisa membawa Raihan kembali padaku.. Dan aku... aku akan menggugurkan anak ini, aku tak mau ia lahir ke dunia dan menghalangiku untuk bersatu dengan Raihan kembali..." Ucap Dini dengan yakin.


Dini memang dekat dengan Papinya. Ketika Papinya memutuskan untuk menikah lagi dan tinggal di Singapura, Dini lah orang pertama yang mendukung Papinya itu karena Dini kesal dengan Maminya yang hanya hidup mementingkan karir. Sehingga Maminya itu sama sekali tak memiliki waktu untuk dirinya dan juga Papinya. Dan saat Maminya tahu ia hamil, Maminya seolah tak memperdulikannya. Namun walau begitu, Dini tetap menyayangi Maminya itu dan masih tinggal di rumah Maminya. Dan lucunya orang-orang seolah hanya tahu keluarga mereka adalah keluarga yang harmonis dan tetap disegani Masyarakat. Karena Papinya Dini selalu menyumbangkan sebagian hartanya rutin tiap bulan untuk kepentingan masyarakat di sana. Dan kebaikan Dhani itu seolah menular dari Raam papanya Raihan yang memang terkenal dermawan itu.


***


Siangnya, Hasna dijemput sendiri oleh Raihan ke rumah Yulia ditemani Hery sedangkan orang tua Raihan bersama Pak Ahmad dan istrinya menunggu di Villa.


Hasna terpaksa meninggalkan rumah Yulia dengan perasaan masih sedih karena Yulia hanya mendiamkannya.


Hery pun bingung dengan sikap Yulia yang seperti acuh pada mereka.


Di tengah perjalanan ke Padang, hujan deras dan angin kencang menghalangi pandangan pak Ahmad yang sedang menyetir mobil.


"Pak, apa sebaiknya kita berhenti dulu." Saran dari istri pak Ahmad yang duduk di bangku tengah bersama Bu Lena dan Hasna sedangkan Raihan dan Hery di bangku belakang.


"Iya Pak Ahmad, hujannya lebat sekali bahaya jika dilanjutkan?"


"Tapi disini rawan longsor Bu, jika kita berhenti takutnya nanti kita malah tertimpa longsoran." Ucap Pak Ahmad yang memang tampak khawatir. Daerah yang mereka lalui memang sering terjadi longsor bila hujan lebat turun dan ditambah angin kencang seperti itu. Apalagi sekarang mereka lebih banyak melewati jalan yang tikungan dan menurun.


"Awas pak Amir.."


TBC...

__ADS_1


__ADS_2