
Judul: Aku yang Dikhianati
Author: Gadih Hazar
AyD 1.
Aku merasakan sesuatu yang tak beres telah terjadi di rumah. Aku yang baru saja selesai mandi dan hendak bersih-bersih rumah setelah pulang dari dinas malam, merasakan sesuatu yang mengganjal saat menyapu bagian bawah tempat tidur. Aku menunduk untuk melihat benda apa yang ada di bawah kasur. Aku terkejut sebuah pakaian atasan berwarna merah menyala tergeletak begitu saja di sana.
Dan aku langsung teringat beberapa hari yang lalu, aku pernah melihat Ibuku memakai baju atasan berwarna merah menyala tersebut.
"Aneh," itu yang aku rasakan kenapa sampai ada baju atasan Ibu itu ada di bawah tempat tidur kami. Tak mungkin juga baju itu dilarikan tikus hingga dibawanya sampai ke kolong tempat tidur.
Pandangan ku beralih ke arah atas tempat tidur, mencari sesuatu sebagai petunjuk.
Ku lihat alas kasur tampak rapi, dengan bantal yang tersusun rapi ditempatnya. Aku menarik napas lega. Mas Rudi, suamiku memang suka sekali merapihkan tempat tidur setelah bangun, dan itu membuat aku kagum pada Mas Rudi, ia bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Walau belum serapi bila aku yang mengerjakannya. Dan aku biasanya kembali mengulang pekerjaan itu bila aku di rumah agar terlihat lebih bersih dan rapi.
Aku mengambil baju itu, ku angkat ke atas dengan kedua tanganku masing-masing memegangi bagian bahu baju itu, benar saja baju itu yang pernah Ibu pakai. Ku dekati ke hidung untuk menciumi baunya. Baunya masih terasa segar namun bau parfum khas wanita malah menyengat menusuk hidungku. Aku terhenyak sejak kapan Ibu memakai parfum menyengat seperti itu.
Sedangkan suamiku yang aku cari keberadaannya malah tak tampak batang hidungnya sama sekali dari semenjak aku pulang.
Sudah sebulan aku menjalani pernikahan dengan suamiku yang seorang pekerja lepas, yang kadang ia mendapatkan tawaran pekerjaan kadang tidak sama sekali alias menganggur.
"Apa mungkin Mas Rudi masuk kerja hari ini? Tapi kemarin Mas Rudi berkata bahwa ia masih belum mendapatkan tawaran pekerjaan lagi.." Gumamku sambil mencoba berpikiran positif pada suamiku yang tak tahu entah kemana. Karena jika suamiku tak ada pekerjaan, ia lebih betah tinggal di rumah dibanding keluyuran di luar rumah.
Aku pun beranjak keluar kamar, aku mencari Ibu di dapur karena jam segitu ibu biasanya sedang memasak di dapur, bahkan sangat senang sekali memasak makanan kesukaan suamiku.
Aku sudah tak sabar ingin menanyakan perihal baju atasan Ibu yang aku temukan sambil memegangi baju itu untuk memperlihatkannya pada Ibu. Sedangkan aku berusaha untuk tidak berpikir macam-macam, akan baju Ibu yang bisa ada di bawah tempat tidur ku. Barangkali baju Ibu terbawa saat aku melipat pakaian, lalu terjatuh... Aaah, kenapa otakku sudah traveling kemana-mana.
__ADS_1
"Astaghfirullah.." Aku segera beristighfar untuk menepis pikiran itu dari kepalaku. Karena suatu pikiran yang bahkan tak pantas terlintas di benakku.
Memang tak ada yang mencurigakan sama sekali semenjak kami menikah. Aku dan suamiku menjalani hari-hari sebagai pengantin baru yang terasa begitu indah, layaknya pasangan suami istri yang menjalani awal pernikahan yang dilandasi dengan cinta. Ya, aku sangat mencintai Mas Rudi walau ia sekalipun belum memiliki pekerjaan tetap, namun aku tak mempermasalahkannya karena aku sendiri sudah berstatus sebagai Pegawai Negeri di sebuah Rumah Sakit berprofesi sebagai perawat.
Sehingga gaji bulananku insyaallah cukup membantu perekonomian rumah tangga kami nantinya. Sedangkan Mas Rudi sendiri juga pernah menyatakan cintanya padaku hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Dan Ibuku juga langsung memberi restu saat aku mengenalkan Mas Rudi padanya.
Setelah menikah, aku memang memutuskan untuk masih tinggal di rumah orang tuaku dengan alasan aku tak tega meninggalkan ibuku sendirian di rumah. Rumah yang dibuat oleh almarhum Bapakku yang sudah tiga tahun meninggalkan kami. Sedangkan aku adalah anak satu-satunya.
"Bu.." Ucapku memanggil Ibu karena tak melihat Ibu di dapur.
Karena tak menemukan Ibu di sana, aku memutuskan mencari Ibu ke kamarnya, lalu ku ketuk pintu. Tak ada sahutan terdengar dari dalam, ku goyang kan handel pintu dan ternyata pintu itu tidak dikunci sama sekali.
Dan aku juga tak melihat Ibu di dalam kamar.
Sehingga aku mendengar suara ketawa cekikikan dari luar rumah. Aku segera keluar dari kamar Ibu dan langsung berjalan menuju pintu utama.
"Apa mungkin itu suara ketawa Ibu?" Gumamku seakan tak percaya sambil berjalan mendekati pintu.
Aku segera menjauh sambil menetralkan debaran jantungku yang tiba-tiba saja berdetak tak karuan. Aku segera berlari menuju kamar.
"Ya Allah... semoga ini hanya mimpi.." Doaku seketika karena tak percaya akan penglihatan ku. Aku sandarkan punggungku dibalik pintu kamar. Dan siap siaga kalau-kalau pintu kamar dibuka Mas Rudi.
Pagi ini entah kenapa aku bisa pulang lebih awal dari biasanya, biasanya ada saja pekerjaan yang harus aku selesaikan yang akhirnya membuat ku pulang terlambat dari jadwal yang telah ditetapkan bila Dinas malam.
"Apa mungkin karena Allah ingin menunjukkan sesuatu padaku." Tanyaku dalam hati.
"Aaah nggak mungkin..." Ucapku sambil menepis pikiran buruk itu yang tiba-tiba kembali menari-nari di benakku.
__ADS_1
"Tapi perlakuan Ibu pada Mas Rudi barusan itu tak pantas saja dilakukan oleh seorang Ibu Mertua pada menantunya." Protesku dalam hati.
Aku menajamkan pendengaranku. Aku kembali mendengar suara tawa cekikikan Ibu.
"Sayang... kamu tahu malam tadi begitu indah... coba kita pergi saja dari sini pasti jauh lebih indah karena hanya ada kita berdua."
"Deg.." Aku kenal betul suara itu, itu adalah suara suamiku.
Jantungku tiba-tiba saja rasanya seperti berhenti berdetak. Dengan susah payah aku mencoba untuk menetralkan kembali denyut jantungku.
"Ya Allah..." Ku sebut nama Allah dengan lirih.
Dan entah mendapatkan kekuatan dari mana, aku malah membuka pintu kamar. Aku ingin memastikan lagi apa yang aku dengar barusan itu tidak hanya halusinasi ku sendiri.
"Ibu, Mas Rudi, kalian..." Teriak ku seketika melihat adegan mesra mereka yang terpampang jelas di mataku. Ku lihat mereka seketika saling menjauh satu sama lain.
"Astaghfirullah... Kalian benar-benar berbuat di luar batas.. Aku benci kalian.. Kalian mau pergi dari sini kan? Silahkan... Kalian segera pergi saja dari sini.. Aku tak sudi lagi melihat muka kalian.." Aku berteriak histeris pada dua orang di depan ku yang benar-benar membuat diriku murka dan tak menyangka sama sekali.
"Dan kau Ibu... panggilan itu tak pantas lagi kau sandang untukku bahkan untuk siapapun di dunia ini. Kau tak pantas menjadi seorang Ibu." Teriakku kembali pada Ibuku yang telah melahirkan ku dan membesarkan ku yang selama ini ku hormati, bahkan ku jaga setiap lisanku yang keluar untuknya demi menjaga perasaannya. Tapi apa yang telah ia perbuat. Ia sama sekali tak menjaga perasaan putrinya, putri satu-satunya yang ia punya. Bahkan ia berani berbuat diluar norma Agama.
"Dan kau Mas.. Kau berani bermain api di belakangku, bahkan dengan Ibu Kandung ku sendiri. Apa kau tak sadar Mas, ia itu Ibu Mertuamu, bahkan bila kau cerai denganku, kau juga tak akan bisa menikah dengannya karena status Ibu mertua akan tetap menjadi mahrammu, dan haram bila kau nikahi karena kau sendiri telah menyentuhku, putri yang ia lahirkan dari rahimnya. Apa kau tak sadar akan hal itu Mas hubungan yang kalian lakukan adalah hubungan yang terlarang." Ucapku dengan suara yang lantang pada laki-laki yang masih berstatus suamiku itu.
Hilang sudah rasa santunku pada dua orang yang begitu aku hormati itu. Aku memang tak ahli Agama namun aku tahu status Mertua itu terhadap menantunya. Sungguh perbuatan mereka tak lazim terjadi dan tabu dimata masyarakat.
Dan sekarang aku sangat merasakan jijik pada mereka. Sama sekali tak ada perasaan bersalah yang muncul dari dalam diri mereka. Suamiku yang masih menyentuhku dua hari yang lalu saat aku tidak dinas malam, juga menyentuh Ibuku semalam.
"Kalian segera pergi dari sini, pergi..."
__ADS_1
TBC...