
Setelah memastikan pesan itu dibaca, Dini kembali mengirimkan sesuatu ke nomor itu. Setelah itu, Dini menghubungi Papanya.
"Aku nggak mau tahu ya Pa... pokoknya buat Raihan lama di sana.."
"Kamu tenang aja sayang, soal itu kamu percayakan saja sama Papa.."
"Makasih ya Pa.. Dini sayang Papa..."
"Papa juga sayang kamu..."
Dini merasa lega setelah menelpon Papanya. Ia pun bersiap-siap untuk tidur.
"Tak sabar rasanya menunggu hari esok, aku pastikan ia akan pergi jauh dari Raihan." Ucap Dini dengan senyuman penuh kemenangan, kemudian ia memejamkan matanya.
***
Selepas Isya, Hasna memang terbiasa menyibukkan dirinya dengan tilawah Qur'an, targetnya setiap hari adalah satu juz. Setelah selesai, Hasna ingin segera merebahkan badannya di atas kasur, ia teringat akan janji Raihan yang akan datang menikahinya yang tinggal dua hari lagi.
Hasna mengambil ponselnya dari atas meja rias, Hasna seolah menginginkan adanya pesan masuk dari Raihan ataupun Hery. Karena Hasna bingung, untuk pernikahannya kali ini ia tak memiliki persiapan apa-apa. Hery memang sudah menitipkan kartu ATM dari Raihan untuk Hasna, dan itu bisa Hasna pakai untuk segala yang Hasna butuhkan.
Namun Hasna sama sekali belum menggunakan uang yang ada dalam kartu itu. Karena uang pemberian Roby yang sempat ia masukkan ke dalam buku tabungannya, masih cukup untuk kebutuhannya sehari-hari. Walaupun Roby bejat namun masalah memberi nafkah makanan dan pakaian serta kebutuhan Hasna, Roby tetap menjalankan tugasnya sebagai suami dengan baik.
Bahkan uang yang diberi Roby jauh lebih dari cukup sehingga walau sudah tiga bulan Roby berhenti menafkahi Hasna, Hasna masih bisa menggunakan sisa uang di tabungannya itu untuk kebutuhannya sehari-hari.
Sedangkan setelah hari itu, tak ada konfirmasi apapun dari Raihan.
"Sebaiknya besok aku beli gaun buat nikahan nanti." Gumam Hasna sambil menarik napas dalam, kemudian ia melirik ke arah ponsel yang tadinya ia genggam.
Hasna melihat ada beberapa pesan masuk, Hasna pun tiba-tiba mengernyitkan keningnya, saat melihat ada pesan masuk dari nomor yang tak ia kenal, karena dalam ponsel itu hanya ada nomor Raihan, Hery dan satu lagi nomor Yulia sahabat yang dulunya sempat kecewa pada Hasna. Namun berkat Hery juga, Yulia akhirnya paham akan kondisi Hasna apalagi setelah Hery bercerita tentang kehidupan yang penuh luka Hasna bersama Roby setelah kecelakaan itu. Hati Yulia menjadi lunak, Yulia jadi prihatin akan kehidupan sahabatnya itu. Sehingga Yulia kembali merajut persahabatan mereka yang sempat terputus, walau hanya baru bisa via telpon.
__ADS_1
0811*******
"Aku harap kamu pergi jauh dari suamiku, apa kamu mau menjadi orang ketiga dalam hubungan kami?"
Jantung Hasna seketika berdebar tak karuan setelah membaca pesan itu. Namun Hasna mencoba berprasangka baik siapa tahu pesan itu salah kirim.
Tak lama pesan bergambar kembali masuk dari nomor yang sama. Napas Hasna serasa tercekat di tenggorokannya, saat melihat sebuah foto pernikahan di sana. Dengan perasaan yang begitu terasa campur aduk. Hasna kembali membaca kalimat demi kalimat yang terpajang dibawah foto pernikahan tersebut.
("Jika kau tak percaya, aku kirimkan foto pernikahan kami. Kau tahu, aku adalah cinta pertamanya Raihan. Jadi karena aku yakin kamu adalah seorang wanita yang paham akan ilmu Agamanya, kamu pasti tak akan mau merusak rumah tangga orang lain dengan masuknya kamu dalam kehidupan kami."
"Ya Allah..."
"Entah seberat apa dosa yang telah aku perbuat di masa lalu, hingga sampai sekarang ujian demi ujian masih saja menghampiri hidupku, hiks hiks hiks... Ya Rabb... ujian apa lagi ini.. hiks hiks hiks.." Hasna pun menangis pilu dan tersedu-sedu.
Tok tok tok
"Na.. kamu kenapa nak..?"
"Na, Bibik masuk ya.."
Bik Ina kembali bersuara namun Hasna tetap tak mendengar suara Bik Ina. Pikiran Hasna benar-benar kacau. Dunia seolah selalu mempermainkan nasibnya.
Bik Ina yang khawatir mendengar suara tangisan Hasna akhirnya menerobos masuk ke dalam kamar itu, beruntung Hasna memang tak mengunci kamar nya.
"Ya Allah nduk... kamu kenapa?"
Bik Ina langsung memeluk Hasna, tubuh Hasna berguncang hebat di pelukan Bik Ina. Tangisnya pun semakin pilu.
Bik Ina mengusap-usap lembut punggung Hasna berharap menenangkan Hasna.
__ADS_1
"Bik... hiks hiks hiks.. Apa salah Hasna Bik...? Kenapa nasib buruk selalu menghampiri Hasna..? Kapan kebahagiaan itu datang, kapan..? Apakah Hasna tak berhak mendapatkan cinta dari makhluk Nya...? Kenapa hanya luka yang Hasna dapat, kenapa Bik...? Hu hu hu huuu..."
Hasna mengutarakan semua isi hatinya pada Bik Ina dengan tangisan yang sungguh menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
"Sssssst, nggak boleh ngomong seperti itu ya nduk.. istighfar... Allah nggak akan memberi cobaan pada hambaNya jika tak ada kebaikan yang menyertainya. Jadi nak Hasna bersabar, coba tenang dulu.. Bibik ambilkan minum dulu ya..."
Hasna membalas ucapan Bik Ina dengan anggukan kepala lemah. Ia bersusah payah menghela napasnya yang terasa berat. Ia menyeka air mata nya yang masih saja terus mengalir, hidung Hasna tampak merah setelah ia pencet dan seka beberapa kali dengan tisu.
"Nenek... Hasna rindu nenek...hiks hiks hiks."
Hasna memang begitu menyayangi Neneknya karena dari kecil Neneknya lah yang memberikan kasih sayang penuh karena Papa Hasna sudah meninggal semenjak Hasna lahir dan Mamanya sibuk mencari nafkah untuk mereka, setelah Hasna duduk di Sekolah Menengah Atas Mama Hasna juga menyusul Papa Hasna, meninggalkan Hasna anak satu-satunya dengan sang Nenek.
"Andai saja Nenek masih hidup.. hiks hiks hiks."
Bik Ina kembali masuk ke dalam kamar Hasna.
"Diminum dulu ya nduk... habis ini cerita sama Bibik... Siapa tahu Bibik bisa membantu.."
Hasna pun menurut apa yang dikatakan Bik Ina, ia mengambil gelas berisi air hangat dari tangan bik Ina, saat hendak mengangkat nya ke mulutnya, Bik Ina dengan cepat membantu memegang tangan gelas itu, karena Bik Ina melihat tangan Hasna begitu gemetar saat mengangkat gelas ke mulutnya itu.
Setelah beberapa tegukan, kemudian Hasna menarik napasnya dalam, lalu ia berucap pada Bik Ina. Ia menceritakan tentang isi pesan yang ia dapatkan dari nomor yang sebelumnya tak ia kenal dan setelah membaca isinya Hasna jadi mengetahui bahwa itu adalah nomor Dini. Karena foto pernikahan di dalamnya adalah foto pernikahan Dini dengan Raihan.
"Jadi Bik, esok sebaiknya Hasna balik kampung saja... Nggak ada gunanya lagi Hasna disini karena Hasna nggak mungkin merebut suami orang Bik.. Dan sampai sekarang Raihan juga nggak ada menghubungi Hasna dan Hasna jadi paham alasan kenapa Raihan dulu menjauh dari Hasna Bik.. Ternyata ini alasannya... Dan Hasna juga nggak habis pikir sama Raihan Bik... kenapa ia tidak berkata jujur pada Hasna.. dan Hery, ia pasti tahu akan hal ini... Dan ia juga kenapa harus menyembunyikannya dari Hasna..? Dan ternyata benar perasaan Hasna Bik, mereka dulu merahasiakan sesuatu dari Hasna...hiks hiks hiks..." Hasna kembali terisak-isak. Matanya pun sudah sembab karena menangis.
Bik Ina tak bisa berkata apa-apa, ia begitu shock mendengar apa yang telah disampaikan Hasna tentang Raihan yang ternyata sudah menikah dengan Dini, karena Bik Ina memang tidak mengetahui hal itu. Yang Bik Ina tahu Hasna lah calon istri Raihan saat ia yang diberi tahu Hery, waktu Hasna dititipkan padanya dan akan tinggal bersamanya.
Bik Ina hanya bisa memeluk erat Hasna. Kemudian Bik Ina membantu Hasna untuk berbaring.
"Istirahatlah dulu malam ini, jika memang itu yang terbaik menurut nak Hasna, Bibik hanya bisa bantu dengan do'a, semoga Allah menguatkan nak Hasna dalam menghadapi segala ujian hidupnya... dan Bibik yakin Hasna termasuk hamba-Nya yang terpilih.. insyaallah tersimpan banyak kebaikan setelah ini..."
__ADS_1
"Terimakasih Bik.." Ucao Hasna yang sudah mulai tenang, namun air matanya masih saja setia mengalir di pipinya.
TBC...