Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 48


__ADS_3

"Rai, izinkan aku tidur di sampingmu.." Ucap Hasna yang tak ingat akan janjinya lagi bahwa ia akan keluar begitu Raihan tidak merasakan sakit lagi.


Hasna mencoba memejamkan matanya, ia pun kembali bersenandung.


Harapan yang nyata, hidup bahagia...


Cinta yang utama, di hati slamanya..


Dengan-mu ya Rasul, rindu tuk bersama


Padamu ya Rabbi, terkabul semoga


Hasna menyenandungkan lagu shalawat nya lagi sambil memeluk Raihan, satu tangannya masih setia mengusap kepala Raihan dengan lembut, melepaskan rindu walau tak tahu apa yang akan ia hadapi nanti setelah Raihan bangun.


Rindunya akan bertemu Rasulullah juga serta merta membuncah di dalam dada Hasna, hingga air matanya pun sudah membasahi pipinya saat melantunkan shalawat itu.


Intajid ya toha binnuril hidayah


Ya Rasulallah Ya Rasullallah


Ji'ta bidinillah ji' kullal baroyah


Yahabiballah Ya Habiballah


Ya ya ya ya basyirol khoir


Ya Rasulallah


Ya ya ya ya dalilannur


Ya Habiballah


Hingga tak terasa, lantunan shalawat itu semakin lama semakin lemah keluar dari mulut Hasna. Hasna ternyata terlelap dalam posisi tersebut.


Hasna pun terbangun saat Azan Zuhur berkumandang dari ponsel yang ada di dalam gamisnya. Hasna melirik ke sampingnya, Hasna tak menemukan Raihan lagi disana.


"Astaghfirullah... aku lupa dengan janjiku, aku harus segera pergi. Jangan sampai Raihan marah padaku." Ucap Hasna setelah sadar, ia langsung duduk.


Hasna turun perlahan dari kasur. Baru saja kakinya menginjakkan lantai, suara datar Raihan seketika membuat Hasna diam terpaku di sana.


"Mau kemana?" Ucap Raihan yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Hasna pun terkesiap, khawatir Raihan marah besar karena ia tak menepati janjinya.


"Kamu yang namanya Hasna kan?" Ucap Raihan sambil berjalan mendekati Hasna. Dengan perasaan masih was was, Hasna mendongakkan kepalanya perlahan menatap Raihan yang memang lebih tinggi darinya.


"Cantik juga.. tapi lebih cantikan Dini.. tapi sayang, Dini jahat.. Ia berani mengkhianati cintaku.. padahal aku tak pernah jahat padanya..." Ucap Raihan dengan gaya alai. Ia seolah seperti anak baru gede. Lebay.. nggak mencerminkan sikap Raihan yang sudah dewasa sama sekali.


Hasna melototi matanya pada Raihan karena tak menyangka gaya bicara suaminya seperti itu.


"Ya Allah... Kenapa sampai gaya bicara suamiku seperti anak kecil begini?" Ucap Hasna seketika itu.


"Hey, kenapa bilang aku anak kecil? Aku ini udah kuliah tahu.. tapi memang baru tingkat awal sih..heee." Sahut Raihan sambil cengengesan.


Sedangkan Hasna memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya. Hasna tampak berpikir, apa mungkin ingatan suaminya hanya sampai ia baru masuk kuliah, sedangkan kenyataannya Raihan sudah tingkat akhir sama dengan dirinya.


"Tapi ya Hasna, kata Mama aku.. kamu ini istriku.. Kenapa kamu mau sama aku ya yang masih kecil ini.. Sedangkan kamu udah tua pastinya kan..?"


Seketika Hasna memegang wajahnya, dengan cepat ia membawa dirinya untuk melihatnya di balik cermin.


"Masih muda gini dibilang tua.." Ucap Hasna sambil cemberut di depan cermin. Namun seketika ia ragu sendiri dengan ucapannya karena ia melihat dirinya memang lebih kurus dan wajahnya tak secerah biasanya.


"Hey, jangan sedih dong.. maksudku.. umurmu itu pasti lebih tua dariku.. soalnya kamu itu kelihatan dewasa banget.." Ucap Raihan yang sudah berada di belakang Hasna.


"Mmmmhee..." Ucap Hasna dengan melebarkan bibirnya sambil membalikkan badannya menghadap Raihan.


"Ngapain?" Ucap Raihan dengan mencondongkan wajahnya pada telinga Hasna sehingga membuat bulu roma Hasna seketika meremang.


"Pergi shalat jama'ah lah Rai... ngapain lagi kan..? Udah waktunya Zhuhur lho.."


"Bentar.. kita katanya kan udah menikah.. berarti aku sama kamu udah "itu" dong.." Ucap Raihan dengan genitnya sambil kedua tangannya membentuk tanda kutip saat menekankan kata "itu" pada Hasna.


"Ya ampun Rai... bukannya kamu itu masih kecil tapi pikiranmu itu..?" Hasna mendorong tubuh Raihan yang sudah semakin menempel saja padanya. Sedangkan Raihan tampak acuh.


"Ah ya aku lupa, kamu ini sebenarnya udah dewasa apa belum sih, pusing aku.." Ucap Hasna kembali sambil menepuk jidatnya, ia pun segera menjauh dari Raihan, lalu keluar dari kamar itu karena hendak melaksanakan shalat Zuhur di kamarnya lantai atas. Sedangkan Raihan tampak mengulum senyumnya.


***


Saat makan siang bersama. Hasna yang baru turun dari lantai atas melihat Bu Lena dan Raihan sudah duduk di meja makan. Netra Hasna mengitari sekitar lalu ia bertanya pada Bu Lena.


"Ma, kok aku nggak ngeliat Dini sama Baby boy ya?"


"Hasna, sini duduk dulu..!" Sahut Bu Lena malah mempersilahkan menantunya itu untuk duduk di sebelahnya. Dan Hasna pun mengikuti saran ibu mertua nya itu.

__ADS_1


"Jadi begini, tadi Dini ingin pamit padamu, tapi ia takut mengganggu kalian, jadi ia pesan pada Mama untuk menyampaikannya padamu Na, bahwa Dini tidak tinggal disini lagi. Ia kembali pulang ke rumah Mamanya.."


"I-iya Ma.."


Hasna sebenarnya ingin Dini masih tinggal di sana bersama mereka. Tapi mungkin itu cara yang terbaik bagi Dini dalam melupakan dan melepaskan Raihan.


"Dan kamu Rai, segera lupakan Dini.. bukalah hatimu hanya untuk Hasna, istrimu.."


Raihan tak menanggapi perkataan Mamanya. Ia malah mengalihkan pembicaraan.


"Ma, aku lapar, apa aku sudah boleh makan?"


Bu Lena hanya mendengus kesal, ia harus menambah stok sabarnya pada putranya itu yang seperti kehilangan jati diri karena penyakit amnesianya.


"Na.. kamu harus makan yang banyak.. biar badanmu kembali bagus. Mama lihat badanmu semakin kurus.."


"Iya tuh Hasna, cantiknya jadi hilang, dan jadi kelihatan tua juga kan.. Jadi aku nggak salah.. nyebut kamu lebih tua dari aku..". Ucap Raihan sembari mencebikkan bibirnya.


"Rai, jaga ucapan mu.. Kalian itu seumuran, hanya saja Hasna terlalu lelah menjagamu di Rumah Sakit, sebulan lebih kamu di Rumah Sakit, Hasna lah yang setia menjagamu. Sampai ia lupa akan kesehatan dirinya sendiri." Ucap Bu Lena dengan geramnya pada putranya itu.


"Ma... aku nggak apa-apa.. Raihan nggak salah.." Ucap Hasna menengahi.


"Ya Allah... untung Hasna yang jadi istrimu, kalau orang lain mungkin kamu udah ditinggalkan pergi.." Bu Lena mendesah sambil menghela napasnya yang terasa berat lalu menghembuskannya secara cepat.


Raihan pun tampak acuh. Ia malah mulai menyandukkan nasi ke dalam piringnya.


"Sini aku bantu Rai.." Dengan sigap Hasna berpindah mengitari meja mendekati Raihan yang ada di depannya. Ia pun mengambil alih sendok yang dipegang Raihan, lalu menyandukkan nasi ke dalam piring Raihan, kemudian menyendokkan lauknya.


"Kamu makan sop ini aja ya, badan kamu dalam masa pemulihan, jadi sop ini bagus untukmu."


Raihan hanya diam, ia malah mulai menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Sedangkan Hasna kembali ke tempat duduknya di sebelah Bu Lena dengan perasaan kecewa.


"Na.. maafkan atas sikap Raihan ya sayang.. Mama yakin jika ia sembuh ia pasti akan malu sendiri bila mengingat sikapnya yang sekarang padamu.. Karena Mama tahu, Raihan itu begitu mencintai mu Hasna. Kamu harus terus bersabar menghadapinya." Ucap Bu Lena sambil mengusap bahu Hasna dan Hasna pun menganggukkan kepalanya serta memberikan senyuman pada Bu Lena bahwa ia akan baik-baik saja.


Di sudut ruangan, Hesti tampak tersenyum.


"Mas Raihan tampaknya tak suka melihat mbak Hasna yang kurus. Ini kesempatan aku.. karena body aku kan bagus tak kalah dari mbak Dini.. Mas Raihan pasti menyukaiku." Ucap Hesti penuh percaya diri.


TBC...


Hai semuanya, semangat pagi... bagaimana kabar kalian? Masih setia nungguin kelanjutan MCH nggak..? Oh ya jangan lupa dukung terus ya.. karena author akan mencari pembaca dengan dukungannya terbanyak kembali mulai hari ini sampai kamis depan.. Dan hadiahnya akan mendarat cantik hari Jum'at nya insyaallah.

__ADS_1


Dan selamat buat kak Ninasyifa ya.. aku tunggu balasan chatnya kak...


__ADS_2