
Pernah ngerasain nggak sih, saat dimana kita takut akan kehilangan orang yang kita sayangi dimana lagi sayang-sayangnya. Kita tertidur.. lalu merasakan sesuatu yang terjadi itu seperti benar nyatanya terjadi, lalu kita seakan tak percaya bahwa itu hanyalah sebuah mimpi dan kita berharap untuk segera bangun. Namun saat kita merasa sudah bangun dan keluar dari mimpi buruk itu, tapi nyatanya kita masih berada di alam mimpi kembali hingga kita benar-benar ketakutan karena tak bisa bangun untuk keluar dari mimpi yang menakutkan itu. Banjir keringat tentunya, bahkan suara tangisan kita di alam mimpi pun seakan bisa didengar oleh orang lain.
Dan itulah yang sekarang dialami Raihan. Ia yakin ia hanya sedang bermimpi buruk tentang Hasna yang tiba-tiba sakit lalu meninggal. Ia berusaha untuk bangun namun kenyataannya ia masih merasakan bahwa itu adalah nyata terjadi. Raihan berteriak sekuat mungkin.. Ia pun berdoa pada Tuhannya agar segera membawa ia keluar dari mimpi buruk itu. Dengan napas yang sudah terasa sesak, keringat membanjiri tubuhnya, tubuhnya berguncang hebat karena menangis tersedu-sedu. Hingga teriakan suara Hasnalah yang akhirnya membuat Raihan bisa keluar dari mimpi buruk itu.
"Rai, kamu kenapa?" Teriak Hasna. Hasna yang sudah berulangkali mencoba membangunkan Raihan, namun Raihan seperti kembali masuk dalam alam mimpinya. Sehingga Hasna tak tahan lagi hingga ia berteriak agar Raihan segera terbangun.
Mata Raihan terbuka, ia seperti mencoba mengumpulkan kesadarannya. Tubuhnya yang tadinya terguncang-guncang sudah kembali tenang, namun keringat sudah membasahi bajunya padahal daerah Alahan Panjang itu terkenal dengan udara dinginnya. Dan sesekali terdengar sisa isakan tangis Raihan.
"Hasna... Kamu masih hidup kan? Kamu tak mati kan?" Ucap Raihan seketika saat melihat Hasna yang duduk di sampingnya. Raihan segera duduk lalu meraba kedua pipi Hasna
"Astaghfirullah Rai, nyebut.. Aku disini baik-baik saja.." Ucap Hasna meyakinkan Raihan.
"Sayang, kamu nggak bohong kan? Coba lihat hidung kamu.." Ucap Raihan sambil memeriksa hidung Hasna.
"Hidung aku kenapa emangnya?"
"Hidung kamu itu mengeluarkan darah sayang.. darah itu tak berhenti mengalir dari hidungmu ini. Dan kamu menolak aku bawa ke Rumah Sakit lalu kamu meninggal di pangkuanku.."
"Sebentar.." Ucap Raihan kembali seraya turun dari kasur lalu berjalan menuju koper pakaian Hasna, ia seperti mencari-cari sesuatu. Dan itu membuat Hasna bingung melihat tingkah suaminya itu.
"Rai, kamu cari apa?"
"Sebuah amplop, ya disini kamu menaruhnya..."
"Amplop apa Rai...?
"Amplop putih berisi tulisan kamu didalamnya."
"Nggak ada Rai..."
"Hasna... Tapi itu seperti nyata sekali... aku menemukan sebuah amplop berisi tulisan tangan kamu disini, saat aku mencari jilbab untuk kamu pakai. Lalu aku kembali memasukkan amplop itu disini."
"Sayang... sini duduk lagi.." Panggil Hasna lembut pada Raihan. Hasna ingin menghentikan ocehan tak jelas suaminya itu.
Raihan menuruti perkataan Hasna, ia kembali naik ke atas tempat tidur.
"Sayang.. Aku beneran nggak di alam mimpi lagi kan..?" Ucap Raihan yang udah duduk diatas kasur. Ia memegang kedua pipi Hasna.
"Rai... kamu tenang dulu ya... aku ambilin minum dulu.." Ujar Hasna dengan lembut.
Raihan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Hasna mengambil botol mineral yang ada di meja pojok kamar itu.
Tak lupa Hasna membukakan tutup botolnya lalu membantu Raihan untuk minum.
"Minum dulu ya Rai...Bismillah.."
"Alhamdulillah.. Makasih sayang.." Ucap Raihan kemudian merasakan sedikit lega setelah minum.
Hasna menganggukkan kepalanya lalu meletakkan kembali botol minum itu ketempat semula dan kembali duduk di dekat Raihan di atas kasur.
"Sayang... sungguh rasanya aku tak sanggup bila kehilangan kamu..." Ucap Raihan sendu.
"Rai, maut itu adalah rahasia Allah dan itu sudah ditetapkan kapan terjadinya, yang nggak bisa di majukan atau di mundurkan sedikitpun. Tapi.. Insyaallah aku masih sehat wal afiat Rai.. kamu nggak usah takut ya.."
"Iya sayang... Aku bersyukur itu ternyata hanya beneran mimpi. Aku nggak akan kuat bila itu beneran terjadi.."
"Insyaallah sayang... bila masanya dah tiba insyaallah kamu akan kuat dengan sendirinya. Karena aku yakin Allah tak akan menguji manusia diluar kemampuannya." Hasna melebarkan senyumnya pada suaminya itu. Namun sesaat kemudian tiba-tiba saja Hasna merasakan pusing. Tampak Hasna memegangi kepalanya.
"Hasna.. Kamu baik-baik saja kan..?"
"Iya Rai... aku nggak apa-apa, cumi pusing aja sikit."
"Uweek, uweeek.. ahhhh." Hasna pun tiba-tiba merasakan mual. Dan Hasna segera turun dari kasur. Ia berlari ke kamar mandi karena merasakan sesuatu bergejolak dari dalam perutnya seperti ingin dikeluarkan.
"Sayang... kamu kenapa..?" Ucap Raihan yang sudah tampak panik dan sangat menghawatirkan istrinya itu.
Raihan terus memijit-mijit pundak Hasna.
"Rai, sepertinya aku masuk angin deh..." Ucap Hasna yang tak ingin suaminya itu khawatir berlebihan terhadap dirinya.
"Sayang, aku akan telpon pak Ali, kita ke Rumah Sakit."
"Rai.. ini cuma masuk angin biasa, aku nggak apa-apa.. Jadi nggak usah ke Rumah Sakit ya.." Ucap Hasna yang sudah tak merasakan mual lagi. Lalu ia hendak keluar dari kamar mandi.
"Kamu nggak usah jalan, aku akan gendong kamu." Ucap Raihan dengan cepat menggendong Hasna. Raihan seolah tak mau terjadi apa-apa lagi pada istrinya itu, karena ia baru saja merasakan bagaimana terlukanya saat ia kehilangan Hasnanya walau itu terjadi hanya dalam mimpinya, tapi cukup membuat Raihan sangat ketakutan.
Raihan berjalan mendekati kasur, lalu menurunkan tubuh Hasna di sana.
"Atau aku akan suruh Dokter saja kesini."
"Rai, disini yang ada hanya bidan Desa sayang..."
__ADS_1
"Ya udah, aku akan suruh Pak Ali menyuruh Bidan Desa itu kesini."
"Mmmmh, baiklah.. Supaya suamiku ini bisa tenang.. aku akan turuti perkataanmu suamiku.." Ucap Hasna sambil tersenyum manis pada Raihan.
"Nah begitu kan bagus, istri Sholehah nggak boleh membantah suami, okey.."
Hasna menganggukkan kepalanya cepat, karena ia juga khawatir bila melihat Raihan dalam keadaan panik seperti itu.
Raihan segera menghubungi Pak Ali untuk membawakan Bidan untuk memeriksa Hasna.
Setelah itu, ia kembali mendekati Hasna dengan membawakan sebotol air mineral untuk Hasna.
"Rai, terimakasih... aku udah nggak apa-apa kok.. Kamu jangan terlalu khawatir begitu.."
"Mmmmh, kamu istirahatlah, nggak usah banyak bicara dulu.."
Hasna pun mengangguk. Raihan mengusap-usap lembut kepala Hasna.
"Rai, aku bahagia.. kamu ternyata menepati janjimu mengajak aku kesini untuk berbulan madu. Katanya di daerah sini ada tempat wisata yang didalamnya ada Villa-villa bernuansa Eropa deh Rai, aku mau di ajak kesana."
"Baik sayangku.. Asalkan kamu dalam keadaan baik dulu, aku akan ngajak kamu kesana.."
"Dan aku juga mau singgah di Mesjid Ummi ya Rai.."
"Iya.."
"Lalu aku mau mampir ke Mesjid yang ada di dekat rumah Yulia juga, boleh?"
"Nggak, nggak, nggak, selain itu boleh."
"Lho, kenapa? Kan aku rindu anak-anak yang pernah aku ajar mengaji dulu."
"Pokoknya tetap tak boleh.."
"Kamu cemburu ya... sama kak Haikal.." Goda Hasna.
"Nggak... siapa yang cemburu.." Ucap Raihan yang tampak salah tingkah.
"Trus kenapa nggak boleh.."
"Uweeek, uweekhh."
__ADS_1
"Sayang, kamu masih mau muntah lagi.. nggak usah berdiri, sini aja biar aku tampung pakai tanganku..."
TBC...