Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 17


__ADS_3

"Raihan..." Ucap Seorang wanita dengan tampilan elegan ketika masuk kedalam ruang rawat itu. Ia adalah Dini mantan kekasihnya Raihan.


"Kamu yang sabar ya... Papa mu sudah tenang di sana.. Aku bahagia karena kamu sudah bangun.. Dan Mama.. tetap kuat ya Ma.." Ucap Dini dengan lemah lembut, lalu merangkul Bu Lena yang sedang duduk menghadap Raihan.


Bu Lena hanya mengangguk lemah. Selama Raihan koma, Dini lah yang setia menunggu Raihan di Rumah Sakit. Dan saat tahu Raihan siuman, Dini langsung kembali ke Rumah Sakit untuk melihat Raihan, padahal ia baru saja balik ke rumahnya untuk mandi.


"Nggak mungkin, Papa masih hidup, Papa masih hidup kan Ma.. hik hik hik." Raihan tampak shock mendengar ucapan Dini. Ia menangis terisak-isak. Ia tak menyangka Papanya tak selamat dari kecelakaan itu.


Dini mendekati Raihan, ia hendak menyentuh lengan Raihan untuk memberikan ketenangan, namun segera ditepis Raihan.


"Kamu ada perlu apa kesini? Kalau nggak ada urusan, silahkan pulang." Ujar Raihan tegas karena hatinya masih saja merasakan sakit saat melihat Dini.


"Raihan jangan kasar sama Dini.. Dini lah yang menjagamu selalu kamu disini." Ujar Bu Lena saat melihat perlakuan Raihan pada Dini.


"Apa Ma? Kenapa Mama membiarkannya? Bukankah Mama tahu aku tak mau lagi bertemu dengannya." Ucap Raihan yang heran dengan Mamanya.


"Mama katakan jangan kasar pada Dini Raihan, jadi kamu harus patuh perintah Mama." Ucap Bu Lena dengan suara yang tinggi.


"Tapi Ma..."


"Suster, suster.." Bu Lena tidak menjawab, ia malah memanggil Suster yang merawatnya yang kebetulan berada di luar ruangan rawat itu.


Sang Suster pun masuk.


"Suster, bawa saya keluar."


"Baik Bu.." Sahut sang Suster.


Raihan merasa aneh dengan sikap Mamanya.


Sedangkan Dini tersenyum karena mendapatkan pembelaan dari Bu Lena.


"Lihat saja, sebentar lagi kau akan jadi milikku Raihan, karena Mamamu sudah merestuiku.." Gumam Dini dengan senyuman liciknya.


Bu Lena dengan terpaksa menerima kehadiran Dini kembali di kehidupan putranya itu. Sedangkan di lubuk hatinya paling dalam, Bu Lena sangat berharap Hasna segera ditemukan dan bisa menyatukan mereka kembali.

__ADS_1


***


Sebulan kemudian...


Hasna dibawa Roby tinggal di Bandung sesaat setelah mereka menikah. Hasna sama sekali tak dibiarkan keluar rumah.


Roby tak mau keberadaan Hasna diketahui oleh keluarga Raihan dan ingin menjauhkan Hasna dari mereka. Tapi Roby sengaja membawa Hasna tak jauh dari Kota Jakarta, agar ia tetap bisa bertemu Hasna tiap hari, walau ia yang harus bolak balik pulang pergi Jakarta-Bandung setiap harinya untuk bekerja. Dan Hasna dijaga oleh dua penjaga yang diperkerjakan Roby.


"Aaaauu, sakit..." Hasna berteriak saat dirinya kembali di siksa Roby untuk kesekian kalinya.


"Sakit ya sayang... ini masih belum cukup menutupi rasa sakit ku karena ini ia duluan yang menikmati.." Ucap Roby sambil menunjuk bagian anggota tubuh Hasna yang pernah di sentuh Raihan saat ia diberi napas bantuan.


"Aaaaaak" Rintih Hasna kembali saat Roby menyiksa bagian tubuh lain Hasna yang pernah di sentuh Raihan saat menolong Hasna tenggelam.


"Ampun Mas.."


"Hahahaha, makanya jangan sok jual mahal.. coba kau menurut saja saat ku bilang kembali padaku, maka aku tak akan sebenci ini padamu.. hahahaha sekarang nikmatilah sayang... Ini pelajaran buatmu yang sudah berani monolakku dan pelajaran untuk dirimu yang begitu mudahnya mau menikah dengan laki-laki itu..."


Roby selalu menyiksa bagian anggota tubuh Hasna yang ia pikir telah disentuh Raihan saat Hasna dibantu Raihan tenggelam dulu. Dan anehnya ini dilakukan Roby setiap kali ia ingin menunaikan hajatnya pada Hasna. Rasa bencinya pada Hasna dan rasa cemburunya pada Raihan seketika itu selalu saja muncul sehingga ia hanya menyiksa Hasna. Sedangkan untuk pelampiasan nafsunya ia akan mencarinya di luar.


"Ok sayang... Untuk malam ini cukup dulu, aku pergi dulu.. Kau segeralah minum obat pereda nyeri, aku akan pulang esok pagi.. Saat aku pulang, kau sudah siap, kita akan ke Jakarta." Ucap Roby tanpa rasa bersalah.


Ia berencana membawa Hasna dalam acara pernikahan rekan kerjanya di Jakarta.


Kehidupan Hasna sangat menderita setelah menikah dengan Roby. Dan kebiasaan Roby main perempuan masih saja berlanjut, sedangkan Hasna hanya sebagai tempat pelampiasan amarahnya saja.


"Ya Allah... begitu banyakkah dosaku yang telah aku perbuat hingga siksaan ini masih saja belum berakhir.. Jika ini dapat menghapuskan dosaku maka aku ikhlas ya Rabb... Kuatkanlah aku.. dan aku harap nantinya aku kembali pada-Mu dalam keadaan suci... hiks hiks hiks." Rintih Hasna, ia meringkuk di atas tempat tidur menahan rasa nyeri yang ditinggalkan Roby, bukan tubuhnya saja yang sakit tapi hatinya begitu hancur.


"Hasna..." Hasna menoleh ke arah suara itu.


"Mama..." Panggil Hasna saat ia melihat wajah Mamanya.


"Kau wanita kuat sayang... Nenek rindu padamu.."


"Nenek...Mama... tolong jangan tinggalin aku... hiks hiks hiks."

__ADS_1


Bulir bening mengalir begitu saja dari mata Hasna yang terpejam. Ia tertidur setelah tak kuat menahan rasa sakit.


***


Esok paginya...


Raihan sudah beraktivitas seperti biasa bersama Hery, ia sudah kembali ke Kampus dan sesekali datang ke Perusahaan Papanya yang di handel Radit Omnya Hery.


"Kau ini kenapa, apa kau tak ikhlas menemaniku. Ini adalah pernikahan Anak teman baik Papa, jadi aku mau kita tetap menyambung tali silaturahmi yang dijalin Papa selama ini." Ucap Raihan pada Hery yang sedang fokus menyetir mobil.


"Sebenarnya aku ada tugas kampus banyak banget nih Rai.."


"Please Rai, aku tak mau pergi sama Dini berdua saja..." Ucap Raihan yang saat itu mereka memang hendak menjemput Dini.


"Okey, aku ikhlas... Oh ya bagaimana hubungan kamu dengan Dini? Apa kalian jadi menikah?"


"Aku tak tahu Her, tapi Mama seolah mendesakku untuk segera menikah dengan Dini tapi aku beralasan untuk memberi waktu setelah Tamat."


"Oh ya, apa kamu masih tak bisa melupakan Hasna? Dini, sepertinya sudah berubah.."


"Tak akan, Hasna akan selalu ada di hatiku Her.."


"Entah apa kelebihan Hasna hingga kau tak bisa melupakannya, padahal kalian juga tak lama kenalannya sedangkan Dini itu sudah dari kamu SD Rai.. Dan kalian pernah saling mencintai."


"Her, cukup, aku tak suka... pengkhianatan Dini sungguh menghapus semua memori ku bersamanya. Dan Hasna.. walau aku baru mengenalnya tapi ia berbeda dari Dini Her."


"Terserah kaulah, aku hanya mengingatkan.. Dan sampai kapan kau berharap Hasna kembali. Sedangkan sampai sekarang kita tak tahu keberadaannya dimana entah ia selamat atau tidak."


"Aku yakin ia selamat Her, karena Mama sendiri yang melihat Hasna masih hidup saat itu." Ucap Raihan yakin, entah kenapa ia bisa merasakan bahwa Hasna masih hidup.


"Her, awas depan..."


Hery segera memberhentikan mobilnya saat melihat seorang wanita bercadar melintas di depan mobil mereka. Dan di belakang wanita itu tampak seseorang sedang mengejarnya.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2