Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 40


__ADS_3

Raihan sudah sampai di Padang, ia hanya bisa memberi kabar pada Hasna melalui pesan singkat bahwa ia sudah sampai. Setiba di kantor, Raihan pun langsung memimpin rapat. Pengalaman ia yang belum banyak, cukup membuat Raihan kewalahan dalam mengatasinya. Hingga tak terasa, Raihan baru bisa istirahat dan kembali ke Penginapan pukul 9 malam.


Raihan merebahkan tubuhnya di kasur, punggungnya terasa begitu pegal dan kepalanya yang terasa terus berdenyut-denyut tanpa henti. Ia telah selesai mandi dengan air hangat berharap dapat merilekskan tubuhnya. Namun dampaknya ternyata masih sedikit ia rasakan. Raihan jadi teringat akan pijitan lembut Hasna. Ia merindukan istrinya itu.


"Na, coba kamu ada disini mungkin tubuhku bisa cepat rileks kembali.." Raihan bergumam dan melamunkan istrinya itu sambil memijit-mijit sendiri kepala dan pundaknya.


"Oh ya, sebaiknya aku telpon Hasna sekarang, mumpung belum terlalu malam." Raihan dengan cepat meraih ponselnya. Dan telpon pun terhubung.


Hasna yang lagi bersama Dini, melihat ada panggilan masuk dari suaminya, ia bergegas meminta izin pada Dini keluar dari ruang rawat Dini itu, sedangkan Bu Lena, dipaksa Hasna untuk istirahat di rumah saja karena Hasna mengkhawatirkan kondisi fisik Ibu Mertua nya itu yang sudah tidak muda lagi.


"Sayang, kok lama banget angkat telponnya, apa kamu tak merindukan aku..?" Ujar Raihan saat telponnya diangkat Hasna.


"Maafkan aku Rai, tadi aku harus meminta izin Dini dulu dan aku juga harus mencari tempat yang aman agar nggak terdengar oleh Dini.."


"Oh gitu, kamu sih.. punya rencana yang bikin kamu susah sendiri.." Ucap Raihan yang seolah mengejek istrinya itu.


"Nggak kok Rai, aku malah senang bisa mengenali Dini lebih dekat. Aku jadi punya teman, kan aku jadi nggak kesepian lagi karena nggak ada kamu.." Sahut Hasna dari balik telpon dengan suara yang terdengar tanpa beban sedikitpun.


"Ya sudah... Oh ya, ada yang aku ingin bicarakan padamu sayang.. Ini tentang pernikahan ku dengan Dini.." Ucap Raihan kembali dengan mode seriusnya.


"Tapi, apa nggak apa-apa kan aku bicarakan lewat telpon saja, kamu belum ngantuk kan..? Tanya Raihan kembali sebelum Hasna menjawabnya.

__ADS_1


"Iya Rai, jika itu sangat penting aku siap mendengarkannya.." Sahut Hasna kemudian dan siap-siap mendengarkan suaminya itu.


"Sayang, kata Tante Silvi adik Mama yang sekarang berada di Arab Saudi, pernikahanku dengan Dini, haram dimata Agama. Menurut kamu gimana sayang?" Raihan tak mau langsung menyalahkan Hasna, ia ingin mendengar terlebih dahulu pendapat istrinya itu. Karena selama ini Hasna begitu ngotot ingin ia memperlakukan Dini layaknya istrinya juga.


"Rai, aku pernah mendengar dan membaca jika kasus pernikahan seperti kalian itu boleh saja dilakukan asalkan tidak menggauli istrinya itu selama hamil."


"Pendapat itu disampaikan oleh Imam Abu Hanifah yang menjelaskan bahwa bila yang menikahi wanita hamil itu adalah laki-laki yang menghamilinya, hukumnya boleh. Sedangkan kalau yang menikahinya itu bukan laki-laki yang menghamilinya, maka laki-laki itu tidak boleh menggaulinya hingga melahirkan.. Jadi aku mengacu ke pendapat itu sih Rai.."


"Tapi memang ada pendapat lain yang mengatakan haram. Aku juga belum tahu mana pendapat yang lebih kuat sih.. Dari yang aku baca itu.. Menurut Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan laki-laki yang tidak menghamili tidak boleh menikahi wanita yang hamil, kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan dan telah habis masa 'iddahnya."


"Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi, yaitu wanita tersebut harus sudah bertobat dari dosa zinanya. Jika belum bertobat dari dosa zina, maka dia masih belum boleh menikah dengan siapa pun. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An-Nawawi, jus XVI halaman 253."


"Sedangkan menurut Pendapat Imam Asy-Syafi'iย yang menerangkan bahwa baik laki-laki yang menghamili ataupun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahinya. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43."


"Dalilnya adalah beberapa nash berikut, Nabi SAW bersabda: "Janganlah dis*etubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan." (HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim). Juga dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda: "Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain." (HR Abu Daud dan Tirmizy).


[Catatan; Kutipan pendapat-pendapat diatas Author kutip dari laman Sumsel.kemenag.co.id ditulis oleh Abdul Rachman, M.H.I (Penghulu KUA Kec. Lubuklinggau Utara II Kota Lubuklinggau) Editor: Amrullah, S.Ag, M.M]


"Tapi kalau menurut ku.. kita kembalikan saja pada diri kita masing-masing memakai pendapat yang mananya. Namun aku sendiri juga tidak menutup diri, jika nanti kita menemukan pendapat yang lebih kuat Rai.."


'"Mmmh ya sudah, sebenarnya satu sisi, aku itu senang mendengar kalau ternyata pernikahan ku dengan Dini tidak sah karena haram dilakukan. Dan aku memang belum menggaulinya sama sekali. Jadi istri aku hanya kamu sayang.."

__ADS_1


"Rai... apa nggak ada sedikitpun cinta yang tersisa untuk Dini Rai...?"


"Mmmh, maaf sayang... aku tak bisa menjawabnya.. Kalau gitu aku mau istirahat dulu ya sayang, mungkin sebaiknya kita perlu datangi ustadznya langsung untuk dimintai pendapat tentang ini.."


"Iya Rai, mungkin sebaiknya begitu.. biar nggak ada rasa was-was lagi nantinya. Kamu istirahat lah, kamu pasti capek.."


"Iya sayang.. kamu juga jangan sampai lupa untuk istirahat ya.. minta bantu perawat lain bila kamu tidur."


"Iya Rai, tenang aja.. insyaallah aku akan baik-baik saja disini.. Kamu juga semoga sehat selalu dan masalahnya cepat selesai ya.."


"Aamiin.. selamat tidur sayang... Assalamu'alaikum.." Raihan menunggu jawaban salam dari istrinya tersebut terlebih dahulu baru setelah itu ia mematikan sambungan teleponnya.


Raihan menghela napasnya yang tiba-tiba saja memburu, badannya sudah terasa panas dingin. Ia merindukan istrinya itu berada disisinya karena ada sesuatu gejolak yang seperti ingin disalurkan. Raihan mencoba menepis gejolak itu, ia pun bangkit dari rebahannya, ia berjalan menuju kamar mandi, berniat untuk wudhu dan melakukan shalat witir tiga rakaat yang akhir-akhir ini mulai ia biasakan kerjakan menjelang tidur. Walau kepalanya masih terasa berat dan berdenyut, Raihan tetap tak mau meninggalkan kebiasaan itu. Ia berharap setelah itu ia bisa istirahat dengan tenang.


***


Mohon maaf ya kakak-kakak, jika terdapat kesalahan dan kekurangan Author dalam menyampaikan cerita ini.. yang kadang perlu di revisi berulang kali agar ceritanya bisa tetap lanjut tak melenceng jauh dari alur yang telah direncanakan.. Semoga tidak kecewa pada Author dan langsung meninggalkan author begitu saja ya, hehehe..๐Ÿ˜…


Saling berbagi itu indah, saling mengingatkan itu juga indah, apalagi bisa saling tukar pikiran disini, hingga wawasan kita semakin bertambah. Hobi membacanya tersalurkan dan ilmu pun dapat insyaallah..


Salam santun dan sayang dari Author buat semua.. Terimakasih bagi yang udah ikhlas memberikan support full nya buat author ya...๐Ÿ™๐Ÿฅฐ๐Ÿค—

__ADS_1


ย 


__ADS_2