
"Rai"
"Na"
"Aku mau bicara padamu.." Ucap mereka secara berbarengan.
Pandangan mata mereka bertemu, dan tampak saling salah tingkah.. namun sesaat kemudian Hasna cepat menundukkan pandangannya. Ia merasakan debaran jantungnya begitu kencang.
"Kalau gitu kamu duluan bicara." Ucap Raihan mempersilahkan Hasna untuk bicara terlebih dahulu.
"Kamu aja.." Ucap Hasna menolak sembari berusaha menetralkan debaran jantungnya.
"Ladies first.." Raihan tetap memaksa Hasna agar Hasna lah yang berbicara duluan. Saat pandangan mata mereka bertemu, Raihan seolah kesulitan mengontrol debaran jantungnya yang tiba-tiba terpompa lebih cepat.
"Mmmmh baiklah.. Rai.. aku mau minta maaf atas sikap jutek ku yang mungkin menyinggung perasaanmu." Ucap Hasna pelan, tapi Raihan dapat mendengarnya dengan jelas.
"Nggak apa.. kalau aku jadi kamu mungkin aku juga akan bersikap seperti itu." Ucap Raihan yang seketika merasakan lega dihatinya. Ia tak menyangka sikap Hasna bisa berubah 180 derajat seperti itu dalam waktu singkat dan sekarang Hasna yang sudah mau bicara saja padanya membuat Raihan bahagia.
"Memang bisa seperti itu? Bukannya kamu laki-laki dan aku perempuan. Laki-laki lebih mengutamakan logikanya sedangkan perempuan lebih cenderung menggunakan perasaannya." Hasna kembali berbicara namun kepalanya masih saja tertunduk.
"Ma-maksudku aku bisa memahaminya kok.." Ucap Raihan sedikit tergagap, ia tak menyangka Hasna ternyata wanita yang cerdas. Raihan teringat saat Hasna mengajar, Raihan sungguh terpesona dengan cara mengajar Hasna. Raihan membayangkan jika nanti ia berumah tangga dengan Hasna, anak-anak mereka nantinya pasti juga senang mengaji dengan Hasna, Umminya.
"Mmmmh, terimakasih Rai.. terimakasih juga karena telah menolong ku.."
"Rai.."
"Ya.."
"Sebenarnya aku...?"
Raihan deg deg an menanti kelanjutan ucapan Hasna.
"Aku minta tolong buk Par untuk memberitahumu agar kamu bisa menikahi ku segera. Tapi nyatanya kamu lah yang duluan menyampaikannya. Awalnya aku bahagia saat mendengar ucapan mu.. tapi sekarang aku tak tahu Rai.. apa aku harus menerima lamaran mu atau tidak?"
"Lho kenapa kamu jadi ragu, bukannya kamu barusan bilang bahwa kamu ingin aku segera menikahi mu..?"
__ADS_1
"Aku ini janda Rai, aku takut jika Mama kamu tak mau menerima ku... aku sadar statusku sekarang bisa jadi penghalang untuk mendapatkan restu dari orang tuamu."
Hasna yang dari tadi hanya menunduk memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap Raihan.
Satu detik, dua detik, tiga detik.. Mereka saling tatap dan terpaku untuk beberapa saat.
"Trus apa salah.. jika Mama tak mempermasalahkan nya?"
***
Di perjalanan menuju ladang bawang Omnya Hery, Hery dan Pak Raam tampak serius berbincang-bincang.
"Pa, apa Papa setuju jika Raihan melamar Hasna?"
"Kenapa tidak? Justru Papa bahagia, Raihan bisa melupakan Dini dengan cepat."
"Lho, Papa kenapa bisa begitu yakin seperti itu, apa Papa sudah mengenal Hasna dan tahu akan kisah Hasna?"
"Tanpa Papa harus tahu juga, jika Raihan sudah mengambil keputusan, Papa yakin anak itu sudah tahu akan konsekuensinya."
"Cukup hanya sebatas kasian jangan sampai kau juga punya perasaan pada Hasna, kau tak mau Raihan kecewa untuk kedua kalinya kan apalagi saudaranya sendiri yang merebut Hasna darinya." Ucap Pak Raam penuh tekanan pada Hery yang sudah ia anggap seperti anaknya itu.
"Tenang Pa, aku sudah punya tambatan hatiku.." Hery tersenyum seolah membayangkan kedekatan ia dengan Yulia dari saat pertama mereka bertemu.
"Oh ya? Kalau gitu Papa akan menikahkan kalian sekaligus.
"Serius pa? Tapi.. aku belum yakin ia mau menerima dan siap ku nikahi."
"Dan kamu sendiri gimana, apa sudah yakin mau melamar anak gadis orang dalam waktu dekat seperti Raihan? Dan Papa berencana memang akan mendesak Raihan untuk menikah dengan Hasna secepatnya."
"Mmmmh, kalau aku Fifty-Fifty saja Pa, jika ia siap aku juga siap.."
"Ya sudah.."
***
__ADS_1
Di rumah Pak Ahmad, Raihan dan Hasna tengah berbahagia. Kenapa tidak, Bu Lena ternyata merestui mereka.
"Jadi Rai apa rencana kamu setelah ini? Mama tidak akan mengizinkan waktu liburan kamu habis disini sebelum kalian halal.. Jika kalian sudah halal itu terserah kalian.."
"Jika Mama Papa tak keberatan aku mau hari ini kita ke kampung Hasna di Padang ma, sekalian aku ingin melamar Hasna langsung pada Nenek Hasna."
"Ok Mama setuju.. Kapan perlu kalian langsung nikah saja sekalian di sana.."
"Apa Ma? Mama serius dengan ucapan Mama?"
"Kamu masih saja bertanya, apa kamu mau Mama mengurungkan niat Mama? Kalian menikah setelah kalian lulus saja."
"Jangan Ma.."
"Tuh kamu juga sepertinya nggak sabaran kan..."
"Dan kalian tenang saja Papa akan menyuruh orang suruhan Papa untuk mengurus surat-surat nikah kalian secepatnya."
Ucap Pak Raam yang ternyata sudah kembali dari ladang Pak Ahmad bersama Pak Ahmad sedangkan Hery masih membantu Omnya di ladang.
"Tapi Mama rasa kalian harus siapkan mental bila menikah sekarang kalian pastinya harus LDR an dulu."
"Nggak masalah, ya kan Na..?"
Hasna yang ditanyai Raihan seperti itu hanya bisa mengulum senyumnya.
"Dan Hasna, jika Raihan nanti menyakiti hati kamu, kamu jangan segan-segan bicarakan sama Mama.." Ucap Bu Lena sambil merangkul Hasna.
Buk Par terharu melihat momen tersebut. Sedangkan Pak Ahmad bisa menangkap kebahagiaan itu juga karena istrinya juga banyak sedikitnya sudah bercerita padanya.
Tiba-tiba ponsel Pak Raam berdering. Pak Raam pun mengangkatnya dengan dahi yang berkerut.
"Halo, ya Dhani?
"Raam, apa maksud Raihan menyakiti hati Dini, Dini bilang Raihan memutuskan ia secara sepihak?"
__ADS_1
TBC...