
"Aku mau pulang Rai..." Ucap Hasna kemudian. Ia berdiri dari tempat duduknya.
Raihan tampak semakin frustasi, wajahnya semakin kusut, Ia tak mendapatkan kejelasan dari Hasna. Ia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian mengusap kepalanya dengan sedikit pijitan, karena beban berat pikiran membuat kepala Raihan berdenyut nyeri. Dengan berat, Ia pun akhirnya ikut berdiri.
"Rai... sungguh aku sangat berat menjauh dari mu, tapi aku nggak tahu apa aku sanggup hidup menjadi istri kedua mu, hidup dibawah bayang-bayang istri pertama yang merasa terdzalimi olehku nantinya dan tentunya olehmu juga." Gumam Hasna dalam hatinya. Ia sebenarnya tak tega melihat raut wajah sedih Raihan. Ia berjalan ke arah mobil Raihan dan menunggu Raihan di sana.
Raihan memanggil pelayan Rumah Makan untuk menghitung total biaya makan mereka kemudian membayarnya di kasir.
Raihan membuka kunci pintu mobil, Hasna yang mendengar kunci pintu terbuka ia langsung masuk ke dalam mobil. Tak lama Raihan juga masuk ke dalam mobil. Ia pun tak langsung menyalakan mobilnya.
"Na, apa tak ada kesempatan lagi untuk ku untuk mendapatkan cintamu..?" Ujar Raihan memelas, Raihan seperti belum mau menyerah. Ia menatap ke arah Hasna yang duduk disampingnya.
Tampak Hasna menghela napasnya dalam. Dan beberapa detik kemudian Hasna tampak memaksakan dirinya untuk berbicara.
"Rai.. aku sebenarnya juga tak bisa jauh darimu, semakin aku berusaha melupakanmu semakin hatiku tersiksa karenanya, tapi... bagaimana dengan Dini Rai...?"
Akhirnya Hasna mengatakan apa yang mengganjal di pikirannya pada Raihan. Dan Raihan tampak tersenyum karena Hasna mau mengutarakan apa yang dirasakannya pada Raihan.
"Sungguh mulia hati mu Na, walau Dini sudah banyak menyakiti hatimu, namun kamu masih memikirkan perasaan Dini." Ucap Raihan dalam hatinya. Ia memuji dalam diam kelembutan hati yang dimiliki Hasna.
"Na, aku tahu.. istri mana pun akan sakit jika suaminya menikah lagi. Tapi Dini berbeda Na, ia sudah berjanji di awal pernikahan bahwa ia akan menerima persyaratan dariku, aku yang akan tetap menikahimu."
"Lalu bagaimana dengan Mama mu Rai?" Tanya Hasna kembali, bagaimana pun juga Hasna berharap Ridho dari Mama Raihan sangatlah penting baginya nanti dalam mengarungi Rumah Tangga bersama Raihan.
"Mama katanya rindu kamu Na.. Ia sudah nggak sabar ingin bertemu dengan mu."
Hasna tersenyum mendengar ucapan Raihan, tanpa ia pungkiri Hasna juga rindu dengan kehangatan cinta kasih Bu Lena yang pernah ia dapatkan dulu saat di Alahan Panjang. Bu Lena yang juga lembut hatinya mau menerima Hasna dan menyayangi Hasna walau mereka baru kenal.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah aku menerimamu kembali Rai, tapi kamu harus berjanji bisa berlaku adil pada kami nantinya."
"Alhamdulillah ya Allah.." Ucap Raihan penuh syukur. Raihan pun akhirnya bisa bernapas lega.
__ADS_1
"Na, walau kamu jadi yang kedua tapi kamulah yang pertama mendapatkan hakmu sebagai istri dariku Na. Aku masih perjaka Na.."
"Rai, kamu saja mau menerima status ku yang udah janda dua kali, nggak ada alasan aku tidak bisa menerima mu kali ini Rai. Kamu memang yang kedua Rai tapi kamu lah nanti yang pertama mendapatkan hak sebagai suami atas diriku Rai. Aku masih gadis Rai.."
Mereka sama-sama bermonolog dalam hati masing-masing. Dengan perasaan yang tak bisa diutarakan melalui kata-kata.
"Insyaallah Na, bantu aku, ingatkan aku saat aku lupa.." Ucap Raihan kemudian.
"Dan kita.. akan menikah malam ini juga." Ucap Raihan dengan mantap.
"Rai, kamu serius?"
Raihan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kamu tenang aja aku sudah siapkan semuanya."
Hasna tersenyum, ia seperti menemukan kembali kebahagiaannya yang sempat hilang.
Hasna tampak tercengang melihat kesibukan Raihan dengan ponselnya menghubungi orang-orang tersebut.
Kemudian Raihan menyalakan mesin mobilnya, Raihan dengan penuh semangat membawa Hasna ke sebuah Mesjid yang juga sudah ia konfirmasikan sebelumnya dengan Marbot Mesjid.
Setiba di Mesjid, Raihan tampak sibuk kembali dengan ponselnya sembari menunggu Penghulu dan karyawan kantornya datang.
"Ya Allah.. masa aku menikah dengan pakaian kotor seperti ini.." Ucap Hasna yang cemas akan dirinya yang belum mandi selama dua hari karena dalam masa perjalanan. Tentu Hasna merasa risih akan dirinya yang pasti terlihat kumal. Dan bisa-bisa ia membuat Raihan malu nantinya.
Namun tiba-tiba seorang wanita mendekati Hasna.
"Nona Hasna, yuk ikut aku.."
Hasna melirik ke arah wanita yang mengajaknya itu. Hasna bisa melihat tas besar di tangannya.
__ADS_1
"Maaf, ikut kemana kak..?" Tanya Hasna penasaran.
"Ikut saja Nona, ini perintah dari Tuan Muda Raihan Nona.. Mari..!"
Hasna mencoba melihat ke arah Raihan yang sedang berdiri dengan ponsel masih di telinganya. Raihan mengangkat jempolnya memberi kode pada Hasna.
Hasna pun akhirnya manut mengikuti langkah wanita itu yang ternyata Hasna di bawa ke sebuah rumah yang ada di samping Mesjid tersebut.
Satu jam kemudian..
Raihan yang juga sudah rapi dengan stelan kemeja putih berlapis kemeja hitam dan celana dasar hitam tampak begitu gagah dan tampan menunggu Hasna. Tampak seorang Penghulu sudah duduk di depan Raihan dan dua orang karyawan Raihan duduk di belakang Raihan yang bertugas sebagai saksi pernikahan mereka nantinya. Satu orang fotografer yang disewa Raihan juga sudah tampak hadir di sana.
Dan Hasna pun masuk ke dalam Mesjid di bimbing oleh wanita tadi yang ternyata adalah seorang MUA terkenal di Kota Padang.
Dua karyawan Raihan tampak langsung berbisik-bisik.
"Seperti bidadari yang turun dari langit.. Masyaallah.. Tuan Muda Raihan sungguh beruntung mendapatkan istri yang sangat cantik ya.." Ucap salah satu karyawan yang masih bisa di dengar Raihan. Raihan yang tadinya menunduk langsung mengangkat wajahnya. Ia pun terpukau melihat penampilan Hasna yang memang seperti bidadari.
"Alhamdulillah.." Gumam Raihan dalam hatinya, ia langsung memalingkan wajahnya karena takut terlena akan kecantikan calon istrinya itu.
Hasna di dudukkan agak jauh dari Raihan. Dan Acara pernikahan itu pun dimulai. Raihan begitu lancar mengucapkan ijab kabulnya. Hingga suara kata 'Sah' bergema diruang mesjid itu.
Dan yang membuat hati Hasna semakin haru, mahar yang ia terima dari Raihan adalah berupa lantunan surah Ar Rahman yang terasa begitu merdu ditelinga Hasna beserta sebuah cincin emas sebagai tanda lamaran Raihan yang dulu belum sempat dilakukan. Sehingga Hasna menitikkan air matanya yang keluar begitu saja. Ia pun tak henti-hentinya bersyukur pada Yang Maha Kuasa, akhirnya Allah menyatukan cinta mereka dalam ikatan suci.
Raihan pun sungguh tengah berbahagia karena pada akhirnya ia tetap bisa memenuhi janjinya menikahi Hasna dalam rentang waktu seminggu yang ia janjikan sebelumnya walau hanya tempatnya saja yang berbeda. Raihan pun tak henti-hentinya mengucapkan syukur pada Rabb-nya.
Setelah semua prosesnya selesai, walau mereka belum bisa menandatangani dan mendapatkan buku nikah karena nikah dadakan, Raihan membawa Hasna pulang ke penginapannya.
"Rai, kamu tak pantas mengatakan dirimu laki-laki pengecut, karena kamu sungguh berani dan percaya diri." Ucap Hasna saat berada dalam sebuah kamar yang indah dengan dekoran ala kamar pengantin. Hasna tersenyum bahagia karena Raihan benar-benar telah menyiapkan segalanya. Pandangan mata Hasna mengitari seisi kamar itu.
TBC..
__ADS_1