
"Tolong cari tahu siapa laki-laki itu, dan siapa pengirim foto-foto itu? Bagimu tentu sangat mudah kan..? Aku akan bayar lebih jika kau berhasil malam ini juga, segera kabari aku." Ucap Raihan pada kawan lamanya yang ahli di bidang IT. Ia langsung menghubungi kawan lamanya itu setelah membuka pesan yang ia dapat dari nomor yang tak ia kenal.
Raihan baru saja sampai di Kota Padang, Raihan lebih memilih mengendarai mobil sendiri, mobil itu ia sewa selama ia di Padang. Raihan sampai di rumah yang dulunya dijaga oleh Pak Amir dan istrinya, namun sekarang rumah itu kosong tanpa penghuni. Hanya saja ada orang yang datang dua kali dalam seminggu untuk membersihkan rumah itu. Orang itu masih saudaranya istri Pak Amir.
Raihan begitu senang melihat kasur ukuran big size yang ada di dalam kamar utama rumah itu. Kali ini ia bisa dengan leluasa merebahkan dan meluruskan badannya tidur di atas kasur tersebut.
Raihan merebahkan badannya yang terasa begitu lelah, karena hari itu ia begitu sibuk memikirkan masalah yang terjadi di kantor cabang yang ada di Kota Padang itu. Dan kiriman foto itu, juga sempat mengganggu pikiran Raihan, namun ia tak mau gegabah dan percaya begitu saja. Ia harus memastikan siapa laki-laki bersama Hasna tersebut termasuk siapa pengirim foto itu karena itu yang lebih terpenting.
Raihan mencoba memejamkan matanya berharap bisa tertidur agar badan dan pikirannya kembali relaks, karena esok pagi ia harus ke kantor cabang. Namun pikirannya kembali mengingat Hasna.
"Hasna tenang aja.. aku tak akan mudah percaya akan hasutan orang lain terhadap dirimu. Aku harap kamu tetap bersabar menunggu ku Hasna, aku akan berusaha keras untuk menepati janjiku.." Raihan bermonolog sendiri seolah-olah Hasna ada di depannya. Awalnya hati Raihan sempat panas melihat Hasna yang dekat dengan laki-laki, namun seiring bertambahnya usianya dan banyaknya masalah yang ia hadapi menjadikan pribadi Raihan lebih dewasa dalam berpikir.
"Ya Allah ya Tuhanku... mudahkanlah segala urusan ku..." Ucap Raihan penuh harap pada Rabb-nya.
Raihan membaca ayat kursi, dan membaca shalawat, berharap hatinya tenang menghadapi hari esok. Dan akhirnya Raihan terlelap.
***
Setelah shalat Subuh, Hasna langsung merapikan barang-barang yang akan ia bawa balik ke Padang. Hasna lebih memilih naik bus saja daripada naik pesawat, walau uangnya masih bisa untuk membeli tiket pesawat namun Hasna ingin menikmati perjalanannya kali ini, tak ada yang perlu ia kejar lagi agar sampai di Padang dengan cepat, tak ada lagi Nenek yang bisa ia temui, ia peluk dan berbagi cerita dengannya.
"Na, ini Bibik buatin teh hangat.." Ucap Bi Ina di depan pintu kamar Hasna yang terbuka.
"Iya Bik, terimakasih.." Ucap Hasna sembari berjalan mendekati Bik Ina.
"Oh ya Bik, Hasna berangkat pagi ini saja. Nanti jadwal keberangkatan Bus jam 9. Nanti menuju terminal butuh waktu 1 jam lebih, sedangkan Hasna belum beli tiketnya." Ucap Hasna sembari menerima sodoran secangkir teh dari Bik Ina.
"Kalau gitu, baiknya nak Hasna sarapan dulu, Bibik akan buatin nasi gorengnya dulu, nggak lama.. soalnya bumbunya sudah Bibik siapkan." Ucap Bik Ina dengan senyum manis di bibirnya yang tampak seperti dipaksakan.
Bik Ina sebenarnya sedih saat Hasna bilang ia akan kembali ke kampung, Bik Ina juga ikutan prihatin pada Hasna. Namun Bik Ina tak bisa apa-apa, ia tak bisa mempertahankan Hasna agar tetap di sana, apalagi anak-anak yang mengaji nanti juga pasti akan kehilangan Hasna. Karena semenjak Hasna mengajar mereka mengaji, anak-anak di sana semakin semangat dan rajin belajar karena cara Hasna mengajar sangat disukai mereka.
"Iya Bik, makasih ya bik.." Ucap Hasna sopan. Ia berjalan menuju sofa kecil yang ada di dalam kamar itu lalu meminum teh hangat buatan Bik Ina.
__ADS_1
Hasna memang sudah tak menangis lagi namun hatinya masih terasa begitu perih.
***
Dengan langkah gontai, Hasna meninggalkan rumah itu. Tak lupa Hasna menitipkan sebuah amplop pada Bik Ina untuk diberikan pada Raihan.
Hasna berjalan kaki menuju jalan raya yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah itu. Ia tampak kesusahan menyeret kopernya melewati jalan yang tidak terlalu rata.
Tiba-tiba sebuah mobil menepi dan berhenti di depan Hasna. Tampak seorang laki-laki turun dari balik pintu kemudi, lalu berjalan sedikit berlari mendekati Hasna.
"Kamu mau kemana Na?" Ucapnya yang heran melihat Hasna menyeret koper pakaian. Ia menelisik wajah Hasna sehingga ia bisa melihat mata Hasna yang sembab.
"Aku mau balik kampung kak Angga.. Karena urusan ku disini sudah selesai." Ucap Hasna tanpa menatap wajah Angga.
"Kamu naik apa?"
"Naik Bus aja kak..."
"Nggak usah kak, terimakasih.. aku bisa naik taksi aja." Hasna menolaknya dengan halus.
"Na, izinkan aku membantu mu, kali ini aja..." Ucap Angga penuh harap agar Hasna menerima tawarannya.
Hasna menatap sekilas wajah Angga, dengan cepat ia kembali tertunduk sambil berucap,
"Tapi.. apa nggak apa-apa kak? Aku takut merepotkan kakak.."
"Nggak apa-apa Hasna.. aku senang bisa membantumu." Ucap Angga dengan senyuman manis yang terbit dari wajahnya yang tampan.
Ingin rasanya Angga bisa menemani Hasna sampai Padang, namun urusannya di daerah itu belum selesai. Dan memang setelah urusannya selesai, Angga akan lanjut terbang ke Padang. Angga seorang pengusaha muda yang cukup sukses. Jadi ia sering terlibat presentasi di berbagai daerah dalam mengembangkan usahanya.
"Na, jika kamu mau membuka hatimu untukku, aku ikhlas menggantikan posisi Roby untuk menjadi pendamping hidupmu Na.." Ucap Angga dalam hatinya.
__ADS_1
"Baiklah.." Ucap Hasna singkat. Ia sebenarnya agak ragu karena di dalam mobil itu mereka akan berduaan saja. Namun ia juga nggak tega menolak Angga. Toh di dalam taksi nanti Hasna juga akan berdua saja dengan sopirnya, pikir Hasna. Dan mungkin lebih aman ia bersama Angga, karena Hasna sudah mengenal Angga dengan baik.
Di dalam mobil, suasana canggung pun menyelimuti mereka. Hasna hanya diam, pandangannya jauh ke arah luar jendela.
"Na.." Panggil Angga pada Hasna, yang ingin memecah keheningan di antara mereka. Namun arah pandangannya tetap fokus ke depan.
"I-iya kak." Ucap Hasna tergagap.
"Kalau boleh aku tahu, kamu itu habis nangis ya..? Apa ada masalah berat yang menimpamu lagi Na?"
"Nnng, nggak ada kak.. Aku semalam hanya rindu Nenek saja..."
Angga tidak percaya begitu saja atas ucapan Hasna. Namun ia juga nggak berani bertanya banyak pada Hasna walau hatinya sangat ingin mengetahui masalah yang menimpa Hasna dan ingin ikut meringankan beban yang dialami Hasna.
Dan keheningan kembali tercipta di antara mereka. Hingga mereka sampai di Terminal Bus.
"Terimakasih ya kak.." Ucap Hasna kemudian ia turun dari mobil Angga. Angga juga turun dari mobil dan membantu menurunkan koper Hasna dari dalam mobil.
"Sekali lagi terimakasih kak.."
"Sama-sama, aku pamit dulu, kamu hati-hati ya di jalan, kalau boleh.. aku minta nomor ponsel mu.."
Hasna menuliskan nomor ponselnya di secarik kertas. Ia berpikir nggak ada salahnya ia memberikan nomor itu pada Angga, walau nanti ia juga berniat mengganti nomor itu.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, seorang ibu muda hamil berpakaian serba tertutup dan wajahnya juga tertutup cadar sedang sibuk dengan ponselnya. Hasna sempat melirik ke arahnya, dan Hasna berpikir ibu muda itu sedang sibuk berfoto selfi. Karena posenya seolah sedang ber selfi ria.
"Hahaha, aku bahagia sekali Hasna.. akhirnya kamu pergi jauh dari hidup kami.. Dan foto-foto ini akan membuat hati Raihan semakin panas tentunya.." Ucap Ibu muda itu dengan hati yang riang. Ia adalah Dini. Ia tersenyum puas atas usahanya yang ia lakukan seolah-olah berhasil menjauhkan Hasna dari Raihan.
TBC...
Mohon dukungannya untuk karya ini dengan like, komentar dan subscribe nya ya kakak-kakak yang baik.. Semoga rezeki kita semakin deras dan penuh keberkahan.. Aamiin.
__ADS_1