
Di perjalanan kembali ke Villa, Pak Amir menyampaikan niatnya bahwa ia harus segera balik ke Padang karena perintah dari Pak Raam dimana Bu Lena ngotot terbang malam itu juga dari Jakarta saat Pak Amir memberi kabar pada mereka tentang Raihan yang hilang di danau.
"Her, bapak harus balik ke Padang malam ini, karena Pak Raam dan Bu Lena akan terbang malam ini ke Padang, jadi bapak harus menjemput mereka, Kamu gimana apa tak apa-apa sendirian?"
"Pak, saya minta tolong diantarkan ke rumah Om saya aja ya pak." Ucap Hery cepat karena ia tak memiliki nyali untuk tinggal sendirian malam itu di Villa, sedangkan ia sendiri tak tahu Pak Amir jam berapa kembalinya bisa jadi esok pagi saja mereka sampai.
"Sebenarnya kamu bisa nginap di rumah Ibu saja nak Hery, atau ibu akan suruh putra ibu menemanimu di Villa." Sahut Bu Emi yang memang berjalan bareng bersama Hery dan Pak Amir.
"Nggak usah bu, terimakasih, sebaiknya saya tempat Om saya saja."
Pak Amir pun segera bersiap-siap saat sampai di Villa, begitu juga dengan Hery, ia membawa baju ganti untuk persiapan ia menginap di rumah Omnya.
Cukup butuh waktu 10 menit akhirnya mereka sampai di rumah Omnya Hery.
"Terimakasih pak, hati-hati bawa mobilnya.." Ucap Hery saat hendak turun dari mobil.
"Iya nak Hery, insyaallah.. bapak sedikit khawatir kalau hujan deras begini takut nya longsor daerah Sitinjau Lauik."
"Iya pak, semoga hujannya cuma di daerah sini saja."
"Aamiin.."
Hery keluar dari mobil kemudian berlari masuk ke rumah Omnya karena saat itu Hujan turun begitu lebat di daerah tempat tinggal Omnya itu.
Pak Amir pun melanjutkan perjalanannya ditengah hujan yang turun begitu deras tersebut.
Hery disambut Omnya langsung dengan tatapan tak percaya kenapa ponakannya itu kembali lagi ke sana.
"Kau sepertinya mau jadi orang sini ya Her? Baru sebulan udah balik lagi kesini." Ucap Om Hery sambil bercanda menatap heran pada Hery.
__ADS_1
"Oh ya gimana kuliah kamu, lancar?"
"Alhamdulillah Om, emangnya aku tak boleh mengisi liburan ku disini Om?" Selain keluarga Raihan, Hery memang hanya memiliki Omnya itu sebagai keluarga dekatnya.
"Tentu.. silahkan masuk.."
Hery pun masuk, ia pun bercerita panjang lebar tentang kegiatan berliburnya bersama Raihan serta kejadian yang menimpa Raihan dan akhirnya kenapa ia bisa sampai di rumah Omnya itu sambil menikmati hidangan makan malam dari istri Omnya.
***
Malamnya keadaan Hasna sudah membaik, Hasna terlihat serius bercerita dengan istrinya Pak Ahmad setelah sedikit makanan masuk ke dalam perutnya dan minuman teh jahe hangat yang membuat tubuhnya kembali bertenaga dan hangat. Ia pun juga sudah menqadha dua sholatnya yang terlewat.
Hasna dan Buk Par duduk di atas ranjang yang terbuat dari kayu dan beralaskan kasur kapuk itu.
"Oya bu, jadi yang membawa saya kesini siapa ya bu?" Tanya Hasna setelah ia bercerita kejadian yang menimpa dirinya sedetail mungkin pada buk Par termasuk ia yang sudah menikah namun usia pernikahannya hanya berlangsung sehari. Walau istrinya pak Ahmad itu orang yang baru Hasna kenal, tapi Hasna seolah bisa merasakan buk Par adalah orang yang baik. Sehingga ia dengan mudah menceritakan nasibnya pada buk Par.
Hasna terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu.
"Bu, boleh saya minta tolong..?"
"Boleh nak Hasna.. dengan senang hati.." Ucap Bu Hasna dengan senyuman manis terkembang dibibir nya.
"Mmmmh, sebenarnya ini adalah termasuk keputusan yang berat bagi Hasna Bu, tapi Hasna nggak tahu harus bagaimana lagi... Hasna sebenarnya masih trauma dan takut pada laki-laki, takut bila Hasna dikecewakan lagi. Tapi Hasna sungguh merasakan malu saat tahu Raihan telah menyentuh Hasna, walau niat Raihan hanya untuk menolong.. Jadi Hasna minta tolong Ibu untuk..." Ucapan Hasna terputus, ia tampak masih ragu mengutarakan niatnya apa ia siap dengan semuanya nanti. Sedangkan ia tak ingin gagal untuk kedua kalinya. Dan Hasna pun baru saja mengenal Raihan.
"Sampaikan saja nak Hasna.. Bismillah saja, semoga Allah membimbing nak Hasna untuk mengambil keputusan yang terbaik.."
"Bismillahirrahmanirrahim.." Hasna menarik napasnya pelan lalu menghembuskannya dengan pelan juga. Buk Par dengan sabar menunggu apa yang akan disampaikan Hasna.
"Bu, Hasna mau... Ibu menyampaikan pada Raihan bahwa Raihan harus menikahi Hasna secepatnya.." Hasna akhirnya mengucapkannya.
__ADS_1
Ia pun tertunduk malu. Malu jikalau Buk Par berpikir ia adalah perempuan yang terlalu berani. Tapi ia teringat kisahnya Sayyidah Khadijah yang duluan melamar Rasulullah. Jadi walaupun ia perempuan nggak ada salahnya ia meminta duluan agar Raihan menikahinya, apalagi Hasna berpikir Raihan lah yang harus menjadi suaminya karena telah menyentuhnya. Walau sentuhan yang cukup intim menurut Hasna itu dilakukan Raihan dengan terpaksa tapi Hasna tak mau dikemudian hari ia merasakan bersalah karena membawa kisah yang mungkin bisa menyakiti hati suaminya nanti jika ia menikah dengan orang lain. Walau terkesan egois karena Hasna seperti meminta perlindungan dari Raihan agar ia terhindar dari Roby.
"Alhamdulillah... jika itu menurut nak Hasna yang terbaik buat diri nak Hasna.. Ibu mendukung.. Ibu bisa melihat nak Raihan itu laki-laki yang baik, tadi ibu sudah banyak bercerita juga dengan nak Raihan.
"Nak Hasna istirahat lah kembali, sudah larut malam, esok pagi ibu insyaallah akan sampaikan pada nak Raihan."
"Terimakasih banyak Bu.." Hasna memeluk Buk Par dengan erat. Hasna seperti merasakan Mamanya ada didepannya tersenyum padanya.
"Sama-sama nak.."
Hasna melepaskan pelukannya. Bu Hasna pun beranjak keluar dari kamar yang tak terlalu besar itu. Dan ranjang yang ditempati Hasna hanya muat untuk satu orang.
Subuh yang syahdu dan dingin di desa Alahan Panjang.
"Nak Hery, kapan sampai?" Sapa Pak Ahmad yang sedang berjalan menuju Mesjid sendirian. Raihan yang rencananya ikut bersamanya, tiba-tiba tak sanggup melanjutkan perjalanan karena merasakan udara yang begitu dingin diluar rumah. Raihan terpaksa kembali ke rumah Pak Ahmad. Raihan seperti merasakan dirinya terkena demam. Sedangkan sholat Maghrib dan Isya mereka semalam hanya bisa dilakukan berjamaah di rumah karena Hujan lebat yang tiba-tiba turun sehingga menghambat mereka untuk keluar rumah.
"Kemarin siang sih pak, tapi tadi rencananya menginap di villa teman, namun teman saya mengalami kecelakaan di danau pak, sampai sekarang belum ditemukan, rencananya pagi ini mau dilanjutkan pencariannya oleh Tim SAR pak.."
"Tunggu nak Hery, nak Hery bilang teman nak Hery hilang di danau, apa ia laki-laki dan perempuan. Perempuan itu berkerudung warna hitam, sedangkan yang laki-laki memakai kaos berkerah warna hitam juga.
Ajaibnya Allah masih menjaga aurat Hasna saat ia tenggelam, pakaian Hasna sama sekali tak terlepas dan hijabnya masih terpasang di kepalanya walau terlihat sudah acak-acakan.
"Ya Allah, benar sekali Pak, Bapak tahu dari mana?"
"Nak Hery habis sholat nanti, ikut bapak ke rumah saja, mereka ada di rumah bapak."
"Masyaallah walhamdulillah, Baik Pak.." Jawab Hery penuh syukur, hatinya sungguh berdebar dan nggak sabaran untuk bertemu Raihan sahabatnya itu.
TBC...
__ADS_1