
"Kau jahat Rai, kau jahat.. Kau pasti bawa ia kesini... Aaaaak.. Rai... Aku tak mau bertemu dengannya... Bawa ia jauh dariku..."
Hasna terpaku ditempatnya mendengar ucapan perempuan itu.
"Itu pasti Dini... Ya Allah... apa yang harus aku lakukan...?"
Hasna tak mendengar lagi suara Dini, tapi ia tergerak ingin melihat keadaan Dini.
Hasna mengintip dari balik kaca, ia bisa melihat Raihan yang sedang memeluk Dini, dan tangannya bergerak-gerak mengusap kepala Dini yang terbaring di atas ranjang pasien dengan berbagai macam selang yang menancap di tubuh Dini.
Hati Hasna seketika memanas, keringat pun bermunculan keluar melalui pori-pori kulitnya. Ia seperti tak sanggup melihat momen tersebut. Hasna berusaha keras untuk menekan perasaannya. Ia menghembuskan napasnya kasar.
"Mungkin Raihan hanya menghibur Dini? Tapi nggak salah juga kan, Dini kan istrinya juga, tapi aku ini kenapa ya Rabb... kenapa tiba-tiba hatiku sakit melihatnya..? Bukankah aku sendiri yang sok-sok memperdulikan keadaan Dini... Ya Allah, ada apa dengan perasaan ku ini...? Hiks hiks hiks..." Hasna malah menangis tersedu-sedu, kakinya seolah tak kuat menopang tubuhnya lagi hingga ia terduduk lemas di lantai ruang tunggu Rumah Sakit tersebut.
"Sayang...kamu kenapa?" Ucap Raihan sesaat ia keluar dari ruangan Dini, ia kaget melihat Hasna yang terduduk di depan ruang itu sambil menopang kepalanya yang tertunduk di atas kedua lututnya yang tegak. Tubuh Hasna berguncang seperti sedang menangis.
Raihan segera mendekati Hasna, ia langsung memeluk dam mengusap punggung Hasna.
"Sayang... aku bantu berdiri ya.."
Raihan menunda pertanyaannya dulu, ia ingin membawa Hasna untuk duduk terlebih dahulu di atas bangku ruang tunggu tersebut.
Namun Hasna tak kuat untuk berdiri, hingga Raihan memutuskan untuk mengangkat tubuh Hasna lalu menggendongnya.
Raihan mendudukkan Hasna di bangku tersebut lalu dengan cepat Raihan duduk disamping Hasna dan menarik tubuh Hasna ke dalam rangkulannya. Hasna merebahkan kepalanya di pundak Raihan. Ia kembali menangis tersedu-sedu.
"Rai... ternyata rasa cemburu itu sungguh menyiksaku...hiks hiks hiks." Ucap Hasna dengan susah payah di tengah-tengah tangisannya.
"Sayang... memang apa yang membuat kamu cemburu, sehingga sedih sekali seperti ini?"
"A-aku, aku melihatmu memeluk Dini dan mengusap-usap kepala Dini.. Ternyata rasanya begitu sakit Rai, sakit.. hiks hiks hiks. Aku pikir aku saja yang mendapatkan perlakukan seperti itu darimu... hiks hiks hiks.."
"Sayang... Oh jadi itu yang membuat bidadari ku terluka seperti ini... Sayang... Maafkan aku ya, itu kali pertama aku memeluk Dini, karena hanya dengan itu aku bisa menenangkan ia yang memang sedang frustasi. Tapi di dalam ada suster kok sayang.. Aku semata-mata hanya ingin membuat ia tenang saja dan itu juga saran dari sang suster kok, kalau bukan di saranin seperti itu aku mah ogah sayang... Kamu sih tadinya pakai nolak di suruh pulang sama Mama..."
Hasna cepat menghapus air matanya. Tangannya ia lingkari di pinggang suaminya itu. Hasna seperti tak menyadari sekarang ia berada di mana. Namun suasana seperti mendukung momen mereka tersebut. Tak ada satupun orang yang lalu lalang di sana.
"Rai... ternyata hatiku rapuh juga ya..?" Ucap Hasna sembari mengeratkan rangkulannya di pinggang suaminya itu. Raihan pun mengusap lembut pucuk kepala istrinya itu dan sesekali ia menciuminya.
"Justru itu malah bagus sayang.. Jadi aku semakin yakin bahwa kamu itu sangat mencintaiku, aku tadinya malah mengkhawatirkan akan perasaan cintamu padaku yang lebih memikirkan Mama ataupun Dini. Aku juga cemburu lo... saat kamu fokus membawa Mama ke parkiran, aku malah di cuekin."
"Ya ampun Rai.. Mama sendiri kok di cemburu in, nggak baik lo..."
__ADS_1
"Iya...iya..."
"Rai, aku ngantuk sekali..." Ucap Hasna sambil menutup mulutnya karena menguap, lalu menggesek-gesek matanya.
"Tidurlah sayang... nggak apa-apa kan tidurnya seperti ini? Atau kamu mau aku pesankan satu ruangan untuk kamu agar kamu istirahat.."
"Ya ampun Rai.. ini bukan hotel sayangku..." Ucap Hasna berat karena menahan ngantuk.
"Eh iya aku lupa... Semoga Dini bisa segera pindah ke ruang rawat, kita bisa pilih kamar VIP, jadi Kamu bisa nyaman istirahat di sana, ya kan sayang..."
Raihan tak mendengar balasan dari istrinya itu.
"Sayang..."
Hasna malah sudah terlelap di pelukan Raihan. Ia menggeliat kecil saat Raihan memanggilnya.
"Tidurlah yang nyaman di sisiku sayangku..." Raihan mengusap-usap lembut lengan Hasna, berharap istrinya itu semakin nyaman tidur di pelukannya.
***
Hery yang mendengar berita Raihan sudah kembali ke Jakarta bersama Hasna bergegas meninggalkan kampus. Ia mendapatkan berita dari Bu Lena yang meminta Hery untuk menemui Raihan dan Hasna di Rumah Sakit. Hery seakan langsung paham bahwa Mama angkatnya itu ingin dirinya menggantikan Raihan dan Hasna menunggu Dini di Rumah Sakit.
"Rai.."
"Ssst, kamu tunggu aja disitu.." Ucap Raihan sangat pelan, ia memberi kode pada Hery untuk tidak bersuara dan diam ditempatnya berdiri.
Hery menepuk jidatnya, lalu berpura-pura tak melihat ke arah mereka.
"Rai..." Ucap Hasna yang terbangun karena mendengar suara Raihan dan pergerakan tubuh Raihan yang walau Raihan lakukan sehati-hati dan se pelan mungkin.
"Sayang.. kamu sudah bangun..?"
Hasna merangkul tangannya kembali pada pinggang Raihan yang terlepas karena ia tertidur, ia seolah tak mau kehilangan kehangatan dari suaminya itu. Dan Raihan juga semakin mengencangkan rangkulannya.
"Ehem, ehem.." Hery berdehem seolah memberi tahu Hasna bahwa ia ada di sana.
Hery juga tak menyangka Raihan sahabatnya itu ternyata bisa berlaku romantis juga pada perempuan. Karena selama ini Hery memang tak pernah mendengar Raihan memanggil Dini dengan kata sayang, dan melihat Raihan merangkul Dini bahkan walau sudah jadi istri Raihan sekalipun.
"Hery.. kamu sejak kapan ada disini?" Tanya Hasna yang jadi salah tingkah pada Hery. Hasna cepat menarik tubuhnya dari rangkulan Raihan.
"Barusan.. Maaf kalau aku mengganggu.."
__ADS_1
"Nggak kok.." Sahut Hasna cepat.
"Rai, aku ke toilet dulu ya cuci muka.." Ucap Hasna pada Raihan.
"Iya sayang, hati-hati ya.."
"Her, tinggal dulu ya.."
"Siip." Sahut Hery singkat.
Saat Hasna sudah menghilang dari pandangan mereka, Hery pun langsung mengungkapkan perasaan bahagia nya pada sahabatnya itu. Ia langsung duduk di samping Raihan.
"Rai, aku tak menyangka, Hasna mau menerima mu kembali... Aku bahagia melihat kalian bahagia dan bersatu juga jadinya. Selamat ya Rai, semoga kalian Sakinah Mawaddah Warrahmah until Jannah."
Hery merangkul Raihan sambil mengucapkan selamat serta doa untuk Raihan dan Hasna.
"Aamiin, terimakasih banyak Her, berkat support darimu juga Her, aku jadi berani mengambil tindakan walau awalnya aku sempat frustasi karena Hasna seperti ingin menjauh dariku."
"Syukurlah Rai.. aku turut bahagia.. Lalu bagaimana dengan Dini, aku dengar keadaan Dini memprihatinkan sekarang."
"Ya begitulah Her.. Dini tak terima atas apa yang menimpanya sehingga mempengaruhi kondisi psikisnya."
"Lalu anak Dini bagaimana?"
"Masih dalam perawatan intensif Her, kita doakan saja perkembangannya baik dan ia bisa tumbuh kembang normal seperti bayi lainnya. Mungkin bisa membutuhkan waktu satu bulan bahkan lebih ia harus dirawat Her."
"Iya Rai.. kita doakan saja.."
"Oh ya, malam ini biar aku disini, kamu bawa Hasna pulang sana kasian kalian kan pengantin baru.."
"Sungguh Her, kau serius?"
"Serius lah.. udah sana pergi..!"
"Makasih banyak Her, kau sungguh sahabatku dan saudara terbaikku semoga kau dengan Yulia juga segera bersatu di Pelaminan ya.. Kau pasti juga merasakan betapa indahnya menikah dengan orang yang kita cinta dan bisa mereguk manisnya jadi pengantin baru, kau pasti candu nantinya...." Ucap Raihan seperti setengah berbisik di ujung ucapannya pada Hery.
"Apaan sih... sana pergi... bikin kotor pikiran ku saja..." Ujar Hery sambil mendorong Raihan. Dan Raihan pun tertawa dibuatnya.
"Hahaha, makasih sekali lagi Her..." Ucap Raihan sambil bangkit untuk berdiri kemudian berlalu meninggalkan Hery.
TBC...
__ADS_1