
"Yaudah, lebih baik Mama ke kamar aja istirahat," ucap Umi Kulstum sambil menuntun Sarah menuju kamarnya.
"Mama mau ke ruang tamu dulu. Mama mau mastiin kalo adekmu itu udah pulang atau belum," balas Sarah kemudian berlalu ke ruang tamu.
##
"Aisyah belum pulang nih?" Tanya Sarah ketika sudah sampai diruang tamu yang penuh dengan teman-teman Aisyah.
"Belum tan. Siti juga belum balik," jawab Fatimah sambil menggelengkan kepalanya. Semua yang mendengar ucapan Fatimah langsung mengangguk cepat.
//Deg//
Firasat Sarah semakin tidak karuan. Kenapa Aisyah pergi begitu lama? Padahal minimarket tepat disebrang jalan. Mungkin, itulah yang ada dipikiran Sarah.
"Kayaknya, rencana gue berhasil nih!" Batin Angeline sinis. Tanpa disadari, Angeline tersenyum penuh kemenangan.
Tiba-tiba---
'Kring kring kring!!'
Ponsel Angeline berdering. Ketika Angeline melihatnya, tertera nama samaran 'Reza'.
"Tante, semuanya, aku mau angkat telfon dulu ya. Saudara aku telfon nih. Sebentar yah," tutur Angeline sambil berdiri. Setelah mendapatkan respon "Iya!" Dari Sarah, Angeline pun langsung pergi keluar mengangkat telfon dari suruhannya itu.
"Ada apa? Gimana? Lancar ga?" Tanya Angeline To The Point.
"Lancar pastinya. Tapi, dia langsung dibawa ke Rumah Sakit sama temannya," balasnya dari balik telfon.
"Bagus! Uangnya udah ke transfer kan?" Ucap Angeline dengan senyum penuh kemenangan.
"Udah nyonya muda!" Ucapnya dari balik telfon.
'Tuut'
Angeline mematikan telfon sepihak.
"Akhirnya! Dendam gue terbayarkan," batin Angeline sambil senyum sinis.
"Angeline!" Pekik seseorang yang berada dibelakang Angeline. Angeline langsung menoleh tanpa menghilangkan senyum sinisnya.
"Lo? Lo kenapa?" Tanya seseorang itu yang ternyata adalah Kiki.
__ADS_1
"Nggak kok," jawab Angeline langsung menghilangkan senyumnya. Setelah mendengar jawaban Angeline, Kiki langsung berkata.
"Yaudah. Masuk! Disuruh Mamanya Aisyah,"
Tanpa basa-basi, Angeline langsung masuk kedalam meninggalkan Kiki yang masih diluar dengan keadaan bingung.
##
"Hiks hiks, gimana ini???!!" Siti terlihat sangat panik.
"Oh iya! Coba telfon Tante Sarah!" Tiba-tiba ide itu muncul dari otaknya.
Siti pun menyalakan ponsel milik Aisyah. Diponsel itu, ada puluhan panggilan tak terjawab terutama dari Sarah dan Umi Kultsum. Siti langsung memanggil balik Sarah.
"Assalamu'alaikum! Aisyah! Kamu dimana? Kok lama?" Tanya Sarah ketika mengangkat telfon yang tertera nama 'Aisyah'.
Mendengar pertanyaan Sarah yang terbulang bertubi-tubi bagi Siti. Siti pun langsung menangis kembali.
"Hiks--hiks--hiks---hiks." Tangis Siti pecah begitu saja.
"Nak? Kamu kok nangis? Tapi, kenapa suara kamu beda?!!" Sarah sangat heran ketika mendengar suara anaknya berbeda dari sebelumnya.
"Tante-- hiks hiks-- Aisyah....." Siti mulai menjawab tetapi diiringi oleh isak tangis.
"Aisyah.... Hiks Aisyah..... Ke-kecelakaan.... Hikss hiks," ucap Siti yang masih diiringi isak tangis.
PRANG!!
Piring dari tangan Sarah tiba-tiba terlepas dari genggaman tangannya dan pecah hingga berkeping-keping.
"SEKARANG KAMU SAMA AISYAH ADA DIMANA?!" Pekik Sarah dari balik telfon hingga menggema diseluruh penjuru ruangan.
"A-ada di Rumah Sakit Keluarga," jawab Siti dari balik telfon.
"Tante segera kesana sekarang!" Balas Sarah lalu mematikan sambungan sepihak.
"Ada apa tan?" Tanya Zahra ketika melihat raut kepanikan tingkat dewa diwajah Sarah.
"Aisyah.. Aisyah..." Jawab Sarah dengan menggantung.
"Aisyah kenapa?" Tanya mereka semua yang ada diruang tamu.
__ADS_1
"Aisyah... Kecelakaan," jawab Sarah dan disaat itu juga air mata mengalir kembali.
Semuanya panik kecuali Angeline. Ia merasa sangat senang karena, musuh yang sangat ia benci kini terbaring diranjang Rumah Sakit. Bahkan, ia ingin bukan berbaring diruang rawat inap melainkan Kamar Jenazah~. Emang nih, kurang ajar banget tuh! Guvluk sekaleh 🤗👊🏿 kalo dibogem kayaknya enak nih, terus dipakein cabe rawit, bawang putih terus cabe merah dikit soalnya kan cabe merah mahal :( sama garam, gula, micin, kalo perlu kacang tanah, sama gula merah dicampur jadi satu cocolin ke bakwan beuhhh mantab 👍🏿
##
Setelah sampai dirumah sakit, Sarah langsung bertanya kepada resepsionis yang berada diLobby Utama Rumah Sakit. Setelah mengetahui bahwa Aisyah masih berada diruang UGD, Sarah langsung berlari menuju UGD diikuti sang suami, anak sulungnya dan teman-teman Aisyah termasuk si pelaku yaitu Angeline.
***
"Tante!" Sapa Siti yang duduk didepan ruang UGD.
"Aisyah masih ditangani dokter," ucap Siti seperti tau apa isi hati Sarah.
Disaat itu juga dokter keluar dari ruang UGD dan berkata.
"Ada pihak dari keluarga pasien?" Tanya Dokter itu.
"Saya dok!" Jawab Shodiq, Sarah dan Umi Kultsum berbarengan.
"Dok, saya ibunya. Bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Sarah To The Point.
"Luka yang dikepalanya tidak terlalu serius. Untungnya, pasien langsung dibawa ke Rumah Sakit jika terlambat beberapa menit saja akan fatal akibatnya. Tetapi, pasien terlalu banyak kekurangan darah," jelas Dokter itu dengan nada lesu diakhir kalimat.
Wush~
Sarah langsung terduduk rapuh dilantai Rumah Sakit. Tubuhnya seakan tidak mampu berdiri lagi, kakinya seakan tidak kuat untuk menompang tubuhnya. Seketika, oksigen hilang dari hidupnya itu. Sarah langsung pingsan tak berdaya.
"MAMA!!" Pekik Umi Kulstum ketika melihat Ibunya pingsan. Shodiq langsung membopong tubuh Sarah yang tak berdaya masuk ke dalam ruang UGD untuk diperiksa.
Dokter mejelaskan, bahwa stok darah yang sesuai dengan Aisyah sedang kosong. Sedangkan, Aisyah kekurangan banyak sekali darah. Tiba-tiba terlintas dipikiran Umi Kulstum untuk mentranfusikan darahnya untuk adik kecilnya itu.
Dokter pun menyuruh Umi Kulstun untuk mengikutinya dan memeriksanya apakah darahnya sesuai atau tidak.
##
"Tekanan darah ibu Sarah tinggi. Sebaiknya, jangan banyak pikiran, jangan terlalu stress, dan jangan memberitahu berita buruk apapun itu," jelas sang Dokter itu kepada Shodiq.
"Saya sudah memberikan obat tidur supaya Ibu Sarah bisa beristirahat," sambungnya.
"Baik Dok. Terimakasih," ucap Shodiq sambil bersalaman kepada Dokter itu.
__ADS_1
"Oh iya Pak! Saya akan memberikan Ibu Sarah beberapa vitamin dan Bapak bisa menebusnya diapotek," tutur Dokter itu lagi sambil menuliskan resep obat.
-Bersambung-