Musuh Menjadi Sahabat

Musuh Menjadi Sahabat
Alam Bawah Sadar.


__ADS_3

Kini, Angeline sedang berada dihamparan ilalang rumput hijau bagaikan dipadang pasir. Keadaan disana sangat sepi sekali. Sangat! Seperti, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Hanya ada ilalang rumput hijau dan angin yang berhembus perlahan.


"Aku dimana?" Tanya Angeline pada dirinya sendiri.


"Kenapa disini sepi banget?" Sambungnya.


"Mommy! Daddy! Kalian dimana?! Oppa!! Omma!!!" Pekiknya sambil menjelajah penglihatannya.


Tiba-tiba,


"Elin?" Sapa seseorang. Seperti suara perempuan suaranya sangat tidak asing! Pikir Angeline.


Angeline pun menoleh ke belakang. Dibelakangnya, terdapat Calista sang kakak yang telah lama pergi.


"Kakak??" Tanya Angeline penasaran. Calista hanya tersenyum dan mengangguk sebagai responnya.


"Ini dimana kak?" Sambungnya.


"Ini adalah alam bawah sadar kamu," Tutur sang kakak.


"Alam bawah sadar? Maksudnya? Apa maksud kakak, Elin itu udah nggak ada didunia ini?" Ucap Angeline dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Hahaha. Bukan, ini itu seperti mimpi kamu. Ini bukan alam kematian kamu kok." Jelas Calista.


"Tapi, kenapa kakak ada disini?" Tanya Angeline.

__ADS_1


"Kakak cuma kangen kok sama kamu." Jawabnya.


"Terus, kok aku sama kakak bajunya samaan?" Tanya Angeline lagi.


"Eh, iya ya. Kakak juga kurang tau." Cerca Calista yang memang dia tidak tahu.


Lama kelamaan Calista mulai menghilang seperti debu yang tertiup oleh angin. Calista pun tersenyum dan berkata,


"Kamu harus pergi ke arah selatan sana. Disana, ada banyak orang yang menunggumu."


"Mak-maksudnya kakak apa?" Angeline sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Calista. Tetapi, Calista sudah menghilang setelah mengucapkan kalimat terkahir.


"Apa maksudnya? Jalan ke arah selatan?" Angeline terus bermonolog sendiri.


Perlahan, Angeline memutar balik badannya dan menghadap ke arah selatan setelah itu ia mulai melangkahkan kakinya.


Cahaya menyilaukan keluar setelah gerbang itu terbuka Angeline pun mundur beberapa langkah dan memejamkan matanya karena cahaya tersebut.


Setelah beberapa detik kemudian, cahaya itu terlihat remang-remang tak lama kemudian cahaya itu pun menghilang. Bagaikan berpindah ke dimensi lain! Angeline melihat keluarganya disebuah ruangan.


"Mommy?! Daddy?! Omma! Oppa!" Pekiknya ketika melihat semua keluarganya berkumpul. Tetapi, mereka semua tak menggubris pekikan Angeline.


Sekali lagi Angeline berteriak memanggil-manggil mereka tetapi nihil hasilnya.


"Omma! Oppa! Ini Elin! Elin ada disamping Omma sama Oppa!" Mungkin, ini adalah pekikan yang ke-100 kali. Author gatau soalnya ga ngitungin.

__ADS_1


Tetapi, mereka tetap saja tak merespon sedikit pun. Angeline mulai merasa ada yang janggal. Angeline pun menoleh ke arah kanan. Ternyata, disana terdapat tubuhnya juga.


Angeline baru tahu, ini bukanlah jasadnya tetapi hanya nyawanya. Maka dari itu, mereka semua tidak mendengar pekikkan pekikkan Angeline.


Angeline pun berjalan ke arah tubuhnya sendiri. Ia melihatnya. Tiba-tiba, bulir bening keluar dari lubuk matanya.


Ia merasa, mimpi yang sebelumnya ia alami ternyata menjadi kenyataan. Tetapi, berbeda dengan mimpinya. Dimimpinya, ia melihat jasadnya sedang berada dipeti mati. Tetapi, disini, didalam kenyataan, ia melihat tubuhnya sedang berbaring lemah diranjang Rumah Sakit.


Entahlah, keajaiban apa yang akan menghampiri Angeline kali ini.


*****


Tidak lama kemudian, tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk-ketuk oleh seseorang dari luar.


Sisca pun membuka pintu ruang rawat Angeline. Ternyata disana terdapat Aisyah yang sedang terduduk dikursi roda dan Siti yang berada dibelakang Aisyah seperti Siti yang mendorong kursi roda tersebut.


"Eh, kalian. Silahkan masuk." Tutur Sisca seraya menghapus air matanya lalu tersenyum ramah.


"Iya Tan." Balas Siti dan Aisyah secara bersamaan.


"Tante minta maaf ya." Ucap Sisca ketika Siti dan Aisyah sudah masuk kedalam ruangan tersebut.


"Minta maaf? Buat apa Tan?" Tanya Aisyah penasaran.


Nyawa Angeline yang melihat itu terlihat sangat menyesal lalu berkata, "Maaffin gue Syah. Gue yang bikin lo celaka begini. Gue tau, jika suatu saat nanti ketika gue mengakui kesalahan gue, lo pasti bakal benci banget sama gue."

__ADS_1


"Yaa, eumm tante minta maaf aja hehe." Balas Sisca dengan kekehan garing diakhir katanya.


-Bersambung-


__ADS_2