My Annoying Senior

My Annoying Senior
23


__ADS_3

Haloo..mumpung lagi weekend update 2 chapter yaa..


Happy reading ❤️


•••


Athena dan teman-temannya sedang duduk di pinggir lapangan bersama dengan anak-anak sekelasnya. Sekarang sedang pelajaran olahraga, pelajaran yang sangat disukai Athena. Walaupun Athena tidak pernah mengalami masalah di mata pelajaran teks book, namun tetap saja belajar di dalam kelas membuatnya bosan. Karena itu Athena sangat suka pelajaran olah raga karena ia bisa bebas lari-larian diluar kelas. Pelajaran olah raga hari ini adalah praktek basket. Salah satu olahraga yang sampai saat ini belum bisa Athena kuasai dengan baik.


“Oke, materi hari ini saya mau kalian mempraktekan teknik lay up dan dunk ya.” Seru Pak Pardi guru olahraga Athena.


“Aduh, kenapa gak belajar dribel dulu sih.” gumam Athena.


“Lo sampe sekarang masih belum bisa dribel bola?” tanya Disti yang duduk di sebelah Athena.


“Belom. Gimana ya? Gw juga heran kenapa gw gak bisa.” Athena menghela nafas, baginya mendribel bola basket itu sangat sulit, dia sangat kagum dengan para pemain basket yang bisa mendribel bola dengan cepat sambil berlari bahkan tanpa melihat bolanya.


“Haha, santai Then. Pelan-pelan aja.” Disti menyemangati Athena. Berbeda dengan Athena, disti justru jago main basket, dia selalu jadi ketua tim basket di SMP nya.


“Ada juga ternyata yang lo gak bisa-bisa ya.” sambung Disti.


“Lo mau nyemangatin apa mau ngejek gw.” balas Athena kesal. Disti hanya tertawa karena melihat wajah Athena yang cemberut.


“Nanti untuk uts saya akan pakai lay up dan dunk ini untuk pengambilan nilai praktek ya.” seru Pak Pardi lagi. “Jadi kalian harus perhatikan baik-baik materi ini.” sambung Pak Pardi lagi.


“Asem lah, kenapa harus basket sih. Kenapa gak voli, lari, koprol atau apa kek.” gerutu Athena saat mendengar Pak Pardi akan menjadikan materi lay up dan dunk sebagai materi ujian praktek uts mereka. Sudah bisa dipastikan nilai Athena bakal jelek ni.


“Lo latihan dulu Then, uts kan masih lumayan lama, masih ada waktu.” kata Cindy yang baru kembali dati toilet dan langsung mengambil tempat duduk di sebelah Athena.


“Gw dari dulu latihan tetep aja gak bisa-bisa.” balas Ahena ragu. Karena ya memang dari SMP dulu dia sudah berusaha menguasai olahraga satu itu, tapi tetap saja skill nya gak nambah.


“Nti gw ajarin deh. Main di lapangan samping kolam renang aja pulang sekolah, kan enak tu indoor.” Disti menawarkan. Di Sekolah mereka memang ada fasilitas kolam renang indoor, dan di sebelahnya masih ada sisa ruangan yang dijadikan lapangan basket mini yang biasa digunakan ketika ada yang ingin sekedar berlatih melempar bola atau main 3 on 3.


“Alah, males. Satu doank nilai jelek gak masalah lah.” ucap Athena pede.


“Dih. Iya sih yang nilainya gak pernah jelek.” sahut Disti. Athena hanya cengengesan.


“Dis, kalo Athena gak mau gw aja deh yang latihan. Gw juga gk bisa ni. Kok kayaknya susah ya.” kata Dimi yang duduk disebelah Disti.


“Gw jg ikut ya.” sahut Cindy semangat. Disti langsung menoleh ke Athena.


“Masih gak mau?” Disti menoleh ke arah Athena. Athena yang mendengar ketiga temannya semangat ingin latihan mau tidak mau tertarik, karena sepertinya akan menyenangkan jika mereka bisa main basket berempat.


“Oke deh. Nanti sore aja ya. Mumpung bawa baju olah raga ni. Biar sekalian kotor.” sambung Athena.


***


Athena dan ketiga temannya telah berganti pakaian olah raga, saat ini mereka telah berada di lapangan samping kolam renang. Disti mengajak ketiga temannya untuk melakukan gerakan pemanadan terlebih dahulu.


“Buset. Udah kayak pak pardi aja lo dis, pake pemanasan segala.” gerutu Dimi.

__ADS_1


“Yee, lo mau nanti tiba-tiba lo keseleo gara-gara loncat-loncat tapi gak pemanasan?” seru Disti, sambil memaksa Dimi mengikuti gerakannya.


Setelah selesai pemanasan Disti meminta keriga temannya untuk mencoba gerakan lay up secara bergantian. Dimulai dari Dimi, Cindy dan terakhir Athena.


“Then sambil lari!” seru Disti saat Athena terlihat dengan susah payah mendribel bola.


“Gila lo, kalo gw lari bolanya ketinggalan!” jawab Athena sambil tetap fokus pada bola ditangannya.


Disti mendekati Athena. “Lari nya jangan kenceng-kenceng, ikutin aja gerakan dribelnya, coba lo dribelnya agak cepetan.”


Athena menurut, ia mencoba mendribel bolanya dengan sedikit lebih cepat, namun sial bolanya malah terpental jauh karena terlepas dari tangan Athena. Athena hanya nyengir saat melihat Disti menggengkan kepalanya frustasi.


“Gila, emang gak bakat dribel kali lo ya.” gerutu Disti. Athena terkekeh dan membalik badannya bermaksud ingin mengambil bola yang kabur entah kemana.


“Bukan gak bakat, mungkin belum nemu coach yang pas aja.” Seru seseorang yang tiba-tiba sudah ada di ruangan tersebut seraya memungut bola yang tadi sukses kabur dari tangan Athena. Athena dan ketiga temannya sontak terkejut saat orang tersebut berdiri dan melemparkan senyum super manisnya ke arah Athena dan teman-temannya.


“Kok pada bengong? Gw gak ganggu kan?” Kata cowok itu sambil mendekat ke arah Athena dan Disti yang masih berdiri di tengah lapangan.


“Eh, gak kak.” Athena berhasil mengembalikan kesadarannya yang sempat terbang akibat senyum berkilau dari cowok tadi.


“Kak Yoga mau pake lapangannya?” tanya Disti kemudian setelah ia juga berhasil mengumpulkan nyawanya.


“Gak kok, tadinya gw mau pulang, terus denger ada suara orang main basket, jadi gw kesini deh. Ternyata kalian lagi latihan ya.” jawab Yoga dengan senyum yang tidak pernah meninggalkan bibirnya.


“Lo gak bisa dribel bola then?” tanya Yoga kemudian yang membuat Athena nyengir malu.


“Gw ajarin mau?” tanya Yoga lagi. Hal itu membuat ketiga teman Athena saling berpandangan penuh arti. Dimi semakin yakin dengan dugaannya.


“Iya kak. Kita cuma iseng main-main doank. Gak harus bisa kok.” Cindy membela Athena.


“Hmm. Ya udah kalo gitu gw boleh ikutan kalian main donk.” Yoga tidak kehabisan akal. Athena dan ketiga temannya saling berpandangan, seolah sedang melakukan telepati. Mereka tidak punya alasan untuk menolak seniornya itu main bersama mereka kan?


“I-iya gak papa sih. Tapi tadi bukannya kakak bilang mau pulang?” Athena memberanikan diri menolak secara halus.


“Lagian kita juga udah mau selesai kok.” sambung Athena lagi dengan nada hati-hati takut kalau seniornya itu tersinggung.


“Gak papa, gw biasa pulang malem lagi. Ya udah gw ikutin kalian, kalo kalian udahan gw juga udahan.” Kata Yoga lagi seraya menaruh tasnya di pinggir lapangan dan membuka kancing baju seragamnya untuk berganti dengan baju basket yang memang ia pakai dibalik seragamnya. Sontak hal tersebut membuat keempat cewek disana menelan saliva. Padahal Yoga tidak telanjang, namun tetap saja penampilannya dengan seragam basket itu bisa membuat cewek manapun ngences.


Mau tidak mau akhirnya Athena dan ketiga temannya membiarkan Yoga bergabung dengan mereka. Disti yang tadinya ingin mengajari teman-temannya sekarang perannya sudah digantikan oleh Yoga. Tentu saja ia senang, karena kapan lagi kan bisa dapet coach bule ganteng gini. Berkali-kali mereka mencoba melakukan lay up dan dunk, ketiga teman Athena sudah lancar melakukannya kecuali Athena tentunya. Sepertinya olahraga basket memang bukan olahraga yang mudah untuknya. Entah kenapa otaknya tidak pernah sinkron dengan tubuhnya saat bermain basket.


“Oke. Lo relaks dulu. Tarik nafas. Mulai kaki kiri dulu, 1, 2, 3 jump!” Yoga memberi instruksi kepada Athena sambil memegang bahu Athena dari belakang dan membisikan instruksinya di telinga kiri Athena. Hal itu membuat Athena merinding geli dan refleks menjauhkan telinganya dari mulut Yoga. Yoga hanya tersenyum melihat reaksi Athena.


“Oke coba!” perintah Yoga sambil menepuk bahu Athena.


Athena menarik nafas dan mengikuti petunjuk yang telah diberikan Yoga. Kemudian ia mulai melangkahkan kaki kirinya mencoba melakukan lay up. 1, 2, 3 lompat! Dan berhasil!


“What?!” ketiga teman Athena histeris karena melihat Athena akhirnya berhasil melakukan lay up dengan teknik yang benar dan bolanya masuk!


“Yeayy!! Akhirnya gw bisa!” Athena bersorak sambil lompat-lompat kegirangan seperti anak kecil di bawah ring basket. Hal tersebut sontak membuat Yoga tertawa terbahak-bahak sampai wajah bulenya memerah. Athena yang menyadari sedang ditertawai segera menghentikan tingkahnya dan memandang takjub kearah Yoga, begitupun ketiga temannya. Karena baru kali ini mereka melihat Yoga tertawa sampai mukanya memerah seperti itu. Buat mereka ini merupakan salah satu pemandangan indah yang tidak boleh dilewatkan.

__ADS_1


Yoga berusaha menghentikan tawanya sambil memegangi perut, ia berjalan ke arah Athena yang masih berdiri di bawah ring.


“Lo amazing banget sih, cantik, lucu!” kata Yoga sambil memencet hidung Athena yang terbengong akibat ucapannya. Yoga melanjutkan kembali tawanya sambil berbalik meninggalkan Athena dan berjalan mengambil seragam dan tasnya.


“Oke, karena udah pada bisa gw duluan ya.” Seru Yoga kepada ketiga teman Athena yang berdiri tidak jauh dari tempat ia menaruh tasnya. Tak lupa ia mengedipkan sebelah matanya kepada Athena yang masih mematung di bawah ring sebelum beranjak pergi.


Setelah Yoga tidak terlihat ketiga temannya segera menghampiri Athena yang masih bengong di bawah ring.


“Then! Sadar Then!” Seru Disti sambil menepuk pipi Athena.


“Aw! Sakit Dis!” protes Athena. Ketiga temannya menghela nafas lega mendengar balasan Athena.


“Gw kira kesambet lo.” Disti terkekeh.


“Amit-amit.” balas Athena sambil berusaha meredakan detak jantungnya yang masih tidak beraturan akibat ulah Yoga tadi.


“Ciyee. Yang dibilang Cantik dan lucu!” Goda Dimi kemudian. Hal itu membuat wajah Athena memerah karena kembali teringat ucapan Yoga tadi.


“Apasih! Udah deh. Katanya gw disuruh hati-hati ama dia!” gerutu Athena sambil berusaha menahan malu.


“Hahaha. Tapi asli Then emang tingkah lo tadi lucu!” sambung Disti.


“Iya. Sampe si Bule gitu banget ketawanya.” sambung Cindy juga.


“Namanya juga reflek. Setelah sekian lama akhirnya gw bisa lay up.” balas Athena, kali ini ia benar-benar malu karena ingat tingkahnya yang lompat-lompat seperti anak kecil. Kebiasaan itu memang susah sekali dia hilangkan.


“Emang bukan gak bakat. Tapi tergantung coach nya.” sindir Cindy menggoda Athena. Athena hanya merengut. Ia juga tidak tahu, kenapa otak dan tubuhnya bisa sinkron saat mendengar arahan dari Yoga. Aish, ini namanya the power of cogan!


“Au ah. Ya udah yuk balik aja. Udah gerah banget gw.” Athena mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya yang terasa gerah.


“Ya iya lah gerah. Wong abis di cubit gemes ama bule ganteng.” goda Disti, yang disambut kekehan dari Dimi dan Cindy.


Athena mendengus kesal dan segera berjalan ke pinggir lapangan untuk mengambil tasnya.


“Lo gak ganti baju dulu?” tanya Cindy sambil mengikuti Athena.


“Gak ah, lagian mau pulang ini.”


“Ih, jorok. Nanti gw gak ada yang mau duduk deket-deket lo di angkot.” balas Disti. Karena rumah Athena dan Disti yang berdekatan, mereka memang selalu pulang bareng naik angkot.


“Gak bau kok.” Athena mengangkat tangan nya dan mencium ketiak nya sendiri sambil nyengir.


“Ya elo mah gak kebauan tapi orang lain yang nyium!” sambung Disti lagi. Sambil memaksa Athena ganti baju. Memang sih Athena gak bau, tapi tetep aja Disti risih.


“Males gw Dis.” rengek Athena saat Disti menariknya keruang loker. Disti tidak menggubris rengekan Athena. Kalau sudah seperti ini Disti mirip dengan mamanya Athena. Namun belum sampai mereka diruang loker langkah Disti terhenti dan membuat Athena menabrak punggung Disti dari belakang.


“Aduh! Kok lo berenti mendadak sih!” gerutu Athena.


“Kak Rengga, sejak kapan disini?” tanya Disti yang sontak membuat keringat dingin tiba-tiba menjalar di badan Athena. Entah mengapa mendengar nama itu saja sudah bisa membuat jantungnya bertingkah. Athena bermaksud ingin memaki Disti karena tiba-tiba menyebut nama cowok itu namun tidak jadi karena ia melihat orang yang disebut namanya sudah berjalan ke arah mereka dengan pandangan yang sulit dimengerti. Athena menelan salivanya, tanpa sadar ia meremas tangan Disti yang masih memegang tangannya. Disti mengernyit karena merasakan remasan di tangannya, namun ia menahan untuk berteriak karena ia tahu Athena sedang terlihat gugup. Seperti ketahuan habis mencuri. Padahal jelas-jelas ia tidak mencuri apapun.

__ADS_1


•••


lanzutt yaa..


__ADS_2