
Haloo..update lagiii
maafkan akhir-akhir ini lama update karena kesibukan di dunia nyata, hehe
oke langsung aja ya,.
happy reading ❤️
•••
Sudah seminggu lebih Athena tidak mau menganggap Rengga, bahkan Athena memblokir nomor cowok itu agar ia tidak bisa menghubunginya.
Bahkan saat di radio Athena sengaja sudah memesan ojek online sebelum keluar ruang siaran agar bisa langsung kabur naik ojek setelah selesai siaran. Disekolah Athena akan pura-pura tidak melihat jika kebetulan bertemu dengan Rengga. Ya, Athena tidak mau memakai cara lamanya yang bersembunyi di dalam kelas untuk menghindari Rengga, ia memilih untuk pura-pura tidak mengenal sama sekali cowok itu. Karena tidak mungkin Athena selamanya harus bersembunyi di dalam kelas. Athena harus lebih berani menghadapi masalah bukan bersembunyi dan menghindarinya.
Sementara Yoga, cowok itu semakin intens mendekati Athena, setiap makan siang Yoga pasti akan mengajak teman-temannya bergabung dengan Athena dan gengnya. Athena tidak keberatan, toh mereka hanya berteman, Athena bersama teman-temannya dan Yoga pun demikian.
Setidaknya Athena bisa menambah teman dari kelas 11. Teman-teman Athena pun tampak sudah akrab dengan teman-teman Yoga. Ya, lebih baik seperti ini, setidaknya Athena tidak akan mendapat julukan pelakor karena dekat-dekat dengan cowok yang sudah memiliki pacar.
“Then, lo udah pilih komik nya?” tanya Disti. Saat ini Athena dan ketiga temannya sedang ke toko buku untuk membeli beberapa komik atau novel karena sedang ada bazar. Kesempatan seperti ini tidak pernah dilewatkan Athena untuk menambah koleksi buku bacaannya.
“Belum nih? Kenapa? Jangan bilang lo udah pegel. Baru bentar doank.” balas Athena sambil sibuk membongkar tumpukan komik di depannya. Ia sedang sibuk memilih-milih komik incarannya.
“Iya ni. Kita minum dulu yuk di food court. Nanti lanjut lagi, Dimi ama Cindy udah kesana duluan.” ajak Disti.
“Hah? Mereka main duluan aja, gak ngajak-ngajak protes Athena. Ia sudah menghentikan kegiatannya dan menghadap disti.
“Iya. abis dari tadi lo sibuk banget, jadi mereka duluan deh. Udah yuk!” Disti menarik lengan Athena agar segera meninggalkan tempat itu. Toko buku itu cukup besar dan ada food court di dalamnya, jadi pelanggan tidak perlu repot-repot keluar jika kelaparan saat sedang berkeliling di toko buku itu.
Saat sedang berjalan ke food court tiba-tiba mata Disti melihat sosok yang ia kenal. Disti panik dan segera berbelok untuk mencari jalan lain, sambil kembali menarik lengan Athena.
“Loh kok kesini Dis? Katanya mau ke food court? food court kan kesana?” tanya Athena bingung. Athena menunjuk ke arah jalan yang seharusnya mereka lewati dan matanya membola saat pandangannya bertemu dengan orang yang setengah mati ingin ia hindari.
Rengga! dan cowok itu tidak sendiri, ada Dea disebelahnya!
Shit! Athena mengumpat dalam hati, begitu juga Disti yang menyadari kalau Athena sudah melihat Renga. Disti menghentikan langkahnya karena Athena berhenti, ingin sekali ia menggeret Athena dari sana namun pasti Rengga akan menyadari itu. Disti akhirnya mencubit lengan Athena agar Athena sadar, karena terlihat jelas bahwa Athena sedang bengong seperti orang bodoh!
Athena terkesiap saat merasakan sakit di lengannya, ia akhirnya sadar dan mengikuti Disti yang sudah kembali menarik lengannya. Athena menyadari kebodohannya sendiri, bisa-bisanya ia terpaku seperti tadi, Athena berharap pacar Rengga tidak memperhatikan.
Athena dan Disti akhirnya sampai di food court setelah terlebih dahulu mengambil jalan berputar karena ingin menghindari Rengga.
“Lama banget, keburu diabisin Dimi tuh minum kalian.” seru Cindy saat Disti dan Athena sudah duduk di bangku kosong di sebelah Cindy dan Dimi.
“Enak aja lo. Emang gw onta, minum sebanyak itu.” protes Dimi, yang malah dibalas tawa oleh teman-temannya.
“Athena tu yang kelamaan milih komiknya.” kata Disti menjawab pertanyaan Cindy. Ia sengaja tidak mau membahas Rengga, sebelum Athena yang memulainya.
“Hehe, abis gw kan budget nya terbatas, tapi bukunya banyak yang bagus jadi harus pilih yang bener.” Athena cengengesan sambil menyeruput minuman yang sudah dipesankan oleh Dimi dan Cindy untuknya. Athena juga tidak mau membahas Rengga, biarlah, kejadian ini justru menjadi penyemangat bagi Athena untuk benar-benar melupakan perasaannya pada Rengga.
Saat Athena dan ketiga temannya sedang asik ngobrol, tiba-tiba Dimi tersedak karena terkejut melihat sesuatu. Athena yang duduk di sebelah Dimi penasaran dengan hal yang membuat Dimi terkejut dan memandang kearah pandangan Dimi tadi.
‘Shit!’ lagi-lagi Athena mengumpat dalam hati. Ia kembali melihat Rengga dengan Dea yang terlihat sedang mencari tempat duduk kosong. Saat ini food court sedang ramai dan semua meja sudah penuh. Athena segera membuang pandangannya dari arah Rengga dan Dea. Ia tidak mau menabur garam di lukanya yang sudah perih.
Athena berdoa dalam hati agar Rengga dan Dea menyerah untuk mencari tempat duduk dan pergi dari sini, tapi sayangnya Doa Athena sedang tidak di dengar kali ini.
“Permisi!” sapa Dea pada Athena dan ketiga temannya. Ketiga teman Athena syok bukan main saat mendengar sapaan Dea.
“Udah lah De, cari tempat lain aja!” bisik Rengga yang berusaha terlihat tenang agar Dea tidak curiga.
“Iya ada apa ya?”tanya Cindy. Disaat seperti ini memang Cindy yang paling bisa diandalkan, ia tidak mudah panik seperti ketiga temannya yang lain.
“Kita boleh gabung gak? Itu masih ada kursi kosong kan, soalnya tempat lain penuh.” tanya Dea sambil tersenyum ramah tanpa memperdulikan protes Rengga. Memang meja yang ditempati Athena dan temannya ini berkapasitas untuk 6 orang dan masih ada 2 kursi yang kosong disebelah Athena dan Disti.
Cindy memandang ketiga temannya untuk menanyakan apakah boleh mereka bergabung. Sebenarnya Cindy ingin menolak karena tahu betul pasti akan tidak nyaman, tapi tidak sopan juga jika ia menolak.
__ADS_1
Athena sadar jika Cindy sedang menatap kearahnya saat ini untuk meminta pendapat.
“Boleh aja. Kebetulan kita juga udah mau selesai kok.” jawab Athena sambil tersenyum yang dipaksakan.
Rengga menatap Athena dengan tatapan yang sulit diartikan, namun Athena sama sekali tidak mau memandang ke arah cowok itu.
“Oke thanks. Tapi sorry, boleh pindah kesana gak. Soalnya aku mau sebelahan sama pacarku.” kata Dea pada Disti, karena memang tempat duduk yang tersisa adalah satu di sebelah Disti dan satu disebelah Athena, dan itu posisinya berhadapan.
Dengan wajah kesal Disti bangkit duduknya dan pindah kesebelah Athena.
“Thanks ya. Aku udah laper banget soalnya. Sayang, pesenin aku salad buah ya.” kata Dea dengan nada manja pada Rengga.
Rengga segera bangkit dari duduknya tanpa sepatah katapun untuk memesankan makanan Dea.
Athena dan ketiga temannya sudah ingin muntah karena mendengar nada bicara Dea yang sangat terlihat dibuat-buat imut. Padahal justru jadi terdengar menjijikkan.
“Mba, kita duluan ya.” Kata Cindy setelah mendapat kode dari ketiga temannya.
“Loh, kok cepet banget? bukan karena aku kan?” tanya Dea masih dengan nada sok imut.
“Bukan kok, kita emang udah selesai. Permisi.” sambung Cindy sambil tersenyum. Athena dan ketiga temannya segera pergi meninggalkan meja laknat itu.
“Jadi masih mau lanjut milih bukunya?” tanya Dimi pada Athena setelah mereka keluar dari food court.
“Jadi donk. Jangan karena hal gak penting gitu ngerusak kesenangan gw!” jawab Athena berapi-api.
Ketiga temannya tersenyum lega mendengar jawaban Athena, walaupun mereka tahu di dalam hati Athena pasti sedang hancur lebur sekarang.
Athena sudah bertekad kalau ia tidak akan menghindari masalah lagi. Lagipula mungkin hal seperti ini akan sering terjadi kedepannya, jadi Athena harus terbiasa. Tidak mungkin ia terus mengurung diri hanya untuk menghindari seorang Arengga Hastomo. Please deh, dia tidak sepenting itu!
***
Rengga membawa pesanan salad buah Dea. Dia sedikit lega setelah dilihatnya Athena dan teman-temanya sudah pergi. Karena Rengga tidak suka Athena melihatnya bersama Dea. Sebenarnya Rengga sedikit kecewa karena Athena terlihat biasa saja saat Dea menyebutnya pacarnya. Entahlah Rengga juga bingung reaksi apa yang ia harapkan dari Athena.
“Yuk kita cari tempat makan lain.” kata Dea setelah Rengga sampai di mejanya. Rengga sudah menduga kalau Dea memang hanya ingin membuatnya kesal. Untung saja tadi salad buahnya sengaja Rengga pesan untuk dibungkus, karena Rengga tahu seorang Dea tidak mungkin mau makan di food court yang ramai seperti ini. Dea pasti sudah tahu siapa Athena, karena Rengga sangat yakin Nancy pasti pernah memberikan foto Athena kepada Dea dulu.
“Jadi cewek kayak gitu selera kamu sekarang?” tanya Dea dengan nada meremehkan saat mereka sudah berada di mobil.
“Sekarang mau kemana lagi?” Rengga tidak menjawab pertanyaan Dea.
“Aku nanya sama kamu, dijawab dulu.” protes Dea.
“Udah tau jawabannya kan, pake nanya segala. Kalo udah gak mau kemana-mana kita pulang.” balas Rengga seraya melajukan mobilnya.
“Apa bagusnya sih dia?! Cuma karna dia bikinin kamu puisi sampe kamu jadi dingin sama aku gini!?” Dea masih tidak mau mengalihkan topik pembicaraan.
“Yang bikin aku begini itu ya kamu! Gak usah nyalahin orang lain! Sebelum ketemu dia juga aku udah bilang kan kalo kita udah gak bisa kayak dulu!” Rengga mulai terpancing emosi. Setiap berbicara dengan Dea memang selalu menguras emosinya.
“Kalo kamu kasih kesempatan sama aku buat berubah, aku gak akan segila ini Ga!” pekik Dea tak mau kalah.
Rengga menepikan mobilnya di pinggir jalan karena sudah terpancing emosi. Ia tidak mau menyebabkan kecelakaan karena menyetir sambil marah-marah.
“Berapa lama De?! Sampe sekarang kamu bukannya berubah jadi lebih baik malah jadi makin keterlaluan!” Rengga menatap Dea tajam.
Dea menciut karena tatapan Rengga. Rengga adalah tipe orang yang selalu ramah dan bisa mengendalikan emosinya, karena itu sangat jarang Dea melihat Rengga marah, biasanya Rengga akan memilih pergi meninggalkan Dea jika memang sudah tidak tahan dengan emosinya.
Rengga menarik nafas dalam dan menghembuskannya kuat-kuat untuk meredam emosinya sebelum ia melajukan kembali mobilnya.
Rengga melajukan mobilnya dengan cepat, ia ingin segera mengantar Dea pulang dan pergi ke suatu tempat. Rengga harus segera membereskan sesuatu, ia tidak peduli dengan protes Dea yang belum ingin pulang.
“RENGGA! AKU GAK MAIN- MAIN AKU AKAN BILANG SAMA ORANG TUA KAMU!!” Pekik Dea sesaat setelah Rengga menurunkannya di depan pintu masuk rumahnya. Selama dijalan Dea memang sudah protes tidak ingin pulang, Namun Rengga tidak peduli ia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari halaman rumah besar itu.
***
__ADS_1
Rengga telah berada di salah satu ruang vip dalam restoran jepang, ia tampak gelisah menunggu seseorang.
“Sudah dari tadi?” tanya pria muda yang terlihat jauh lebih tua dari Rengga. Ia memakai setelan jas dan rambut klimis seperti pria kantoran.
“Sekitar 10 menitan lah. Gimana?” tanya Rengga saat pria tadi sudah duduk di kursi depannya.
“Sudah beres.” Pria tadi segera mengeluarkan laptopnya dan menyalakannya.
“Mana?” Rengga sudah tidak sabar ingin segera melihat file yang ingin ditunjukan oleh pria tadi.
“Sabar Ga, masih booting ni.” Pria tadi tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Rengga yang tidak sabaran.
“Om tau kan saya udah lama nunggu ini.” balas Rengga.
“Iya. Kamu juga tau, gak mudah buat om nutupin ini dari papa mu Ga, makanya butuh waktu agak lama buat om cari ini semua.” Pria tadi segera membuka file yang dia bicarakan kepada Rengga setelah laptopnya menyala sempurna.
Rengga memperhatikan layar laptop itu dengan seksama, wajahnya tampak sangat serius.
“Ini om dapet CCTV dari bar tempat kamu waktu itu, disitu terlihat kalo dia memang memasukan sesuatu ke minumanmu. Ini juga ada CCTV saat kamu dibawa ke mobil.” Terang pria yang dipanggil Rengga Om tadi.
“Terus cowok ini udah ketemu?” tanya Rengga sambil tetap memperhatikan layar laptop.
“Sudah, ini yang kamu minta.” Pria itu memegang mouse dan membuka file lain. Rengga tersenyum melihat file itu.
“Alhamdulillah! Thanks Om!” Rengga tidak kuasa menyembunyikan kebahagiaanya. Ia memeluk pria tadi sambil berkali-kali mengucapkan terimakasih.
“Sama-sama Ga, ini semua om lakuin karena Om percaya sama kamu.” Pria tadi tersenyum menyambut pelukan Rengga.
“Terimakasih, emang gak salah Papa milih Om jadi tangan kanannya.” Rengga memuji pria tadi. Rupanya pria tadi adalah tangan kanan papanya Rengga yang bernama Rendy.
“Haha, bisa aja kamu. Keluarga Hastomo itu udah banyak bantu Om, ini hanya salah satu cara Om untuk berterimakasih.” balas Om Rendy sambil tersenyum tulus.
“Jadi, kapan kamu mau beresin semua ini?” tanya Om Rendy saat Rengga sudah duduk kembali ke kursinya.
“Secepatnya Om. Saya harus segera beresin ini semua sebelum masa persiapan ujian mulai. Saya udah capek diganggu sama urusan gak penting gini.” Rengga jadi teringat ucapan Andrian untuk membereskan satu-satu permasalahannya. Ya, mungkin inilah saatnya Rengga harus mulai mencicil untuk membereskan masalahnya, dimulai dari yang paling susah tentunya.
“Oke. Kalo ada yang perlu Om kerjain lagi kamu hubungin Om aja.” balas Om Rendy seraya menyerahkan sebuah flashdisk kepada Rengga.
Rengga segera menerima flashdisk tersebut dan memasukannya ke saku celananya.
“Dengan senang hati Om, karena cuma Om yang Rengga ceritain masalah ini.” balas Rengga.
“Oke. Kalo gitu om duluan ya, Papa kamu masih di kantor, om harus balik lagi sebelum dia nyariin.” Om Rendy bangkit dari tempat duduknya.
“Loh, gak makan dulu Om, padahal Rengga mau traktir.” kata Rengga terkejut karena ia memang sudah memesankan beberapa makanan.
“Om udah makan tadi Ga, lain kali ya. Kalo papa mu tau om keluar kantor pasti dia nanya nanti, dan kamu tau sendiri om susah buat bohong sama Papamu.”
Rengga mengerti dan segera berdiri untuk mengantar Om Rendy keluar ruangan. Tidak henti-hentinya mulutnya mengucapkan terimakasih kepada Om Rendy sebelum orang kepercayaan Papanya itu keluar dari ruangan.
Drrtt.
Tiba-tiba HP Rengga berbunyi, ia segera mengeluarkan HP dari saku celananya, dahi nya berkenyit saat melihat nama yang muncul di layar HP nya.
Papa
Ada apa papanya menelpon? Biasanya papanya tidak pernah menelponnya. Rengga menerima panggilan tersebut dengan sedikit ragu.
“Ya pa?”
“Ada apa..oke Rengga pulang sekarang.” Rengga menyugar rambutnya kesal, ia merasakan firasat buruk. Dengan segera ia mengambil kunci mobil dimeja dan keluar dari ruangan vip tersebut, ia bahkan tidak mengindahkan pelayan restoran yang memanggilnya karena pesanan Rengga baru diantar. Rengga tidak punya waktu untuk makan sekarang.
•••
__ADS_1
bersambung next chapter yaa..
jangan lupa tinggalin jejak biar tetep semangat..terimakasih❤️❤️