My Annoying Senior

My Annoying Senior
40


__ADS_3

Halo haloo...


Maafkan karena lama menghilang, lagi susah cari ide, imajinasinya lagi buntu..hehe


semoga masih belum lupa ceritanya yaa..


happy reading❤️


•••


Rengga terkejut saat dilihatnya Dea ada diruang tamu rumahnya. Papa dan mamanya juga sedang duduk di sofa yang bersebrangan dengan Dea duduk.


Sialan!


Rengga mengumpat, hari yang paling Rengga takutkan akhirnya datang. Rengga mengalihkan pandangannya ke Dea yang terlihat sedang pura-pura menangis, ya, Rengga sangat yakin kalau Dea hanya pura-pura menangis! Dasar cewek ular!


“Rengga duduk!” suara Papa Rengga memecah keheningan diruang tamu itu. Rengga segera mengikuti perintah Papa nya, ia tahu Papa nya sedang emosi sekarang walaupun tidak diperlihatkan di wajahnya, karena Papa Rengga memang tipe orang yang bisa menyembunyikan emosi nya dengan baik.


“Bisa kamu jelaskan siapa dia?” tanya Agatra Hastomo to the point saat Rengga sudah duduk di sofa yang terletak di sebelah mama nya. Rengga tidak mau duduk satu sofa dengan Dea.


“Dia Dea Pa.” balas Rengga tetap berusaha tenang.


“Hubungan dia sama kamu apa?” tanya Agatra lagi.


“Dia..” Rengga bingung ingin menjawab apa, karena ia juga tidak tahu hubungan nya dengan Dea sekarang, Rengga merasa tidak mau menyebut Dea pacarnya, tapi mereka juga bukan teman.


Mantan?


Ya mungkin mantan adalah sebutan yang pas untuk Dea.


“Arengga?” suara Agatra kembali terdengar. Papanya menatap tajam kearah Rengga, membuat Rengga terasa sulit bernafas.


“Dia.. mantan Rengga pa.” jawab Rengga akhirnya.


Mendengar jawaban Rengga Dea semakin mengencangkan suara tangisannya.


‘Cih! Akting nya jelek sekali!’ batin Rengga.


“Kamu bilang apa? Mantan? Setelah semua yang aku kasih ke kamu, sekarang seenaknya aja kamu bilang aku mantan?!” kata Dea histeris.


Rengga memandang nyalang ke arah Dea, Cewek ini benar-benar gila! Rengga segera mengalihkan pandangannya ke arah kedua orang tuanya yang saat ini juga sedang memandang ke arah nya. Rengga sangat tahu kedua orang tuanya ini pasti sedang menunggu penjelasan darinya.


“Om, tante! Saya gak terima kalau Rengga ninggalin saya! Saya mau Rengga nikahin saya!” sambung Dea lagi yang sontak membuat Rengga emosi.


“Cukup De!” bentak Rengga.


“Arengga Hastomo! Jaga sikap kamu! Papa tidak pernah ajari kamu untuk membentak perempuan!” Ucapan Agtara sontak membuat Dea tersenyum menang. Ia merasa diatas angin karena melihat Papa Rengga lebih membelanya dibanding Rengga.


“Mama mau denger penjelasan kamu Ga!” kali ini mama Anggi angkat suara, karena jika tidak ia yakin suami nya pasti akan semakin emosi karena berfikir yang tidak-tidak.


“Memang benar Rengga dulu Pacaran sama Dea, tapi Rengga sekarang udah gak bisa lagi lanjutin hubungan sama dia. Gak ada gunanya nerusin hubungan yang cuma bikin stres.” ucap Rengga.


“Maksud kamu aku bikin kamu stres?!” Dea tidak terima dengan omongan Rengga.


“Nak Dea, bisa biarkan anak saya bicara?” mama Anggi memandang tidak suka ke arah Dea. Dari awal sejak Dea datang kerumah mama Anggi memang sudah punya firasat tidak enak tentang Dea. Dan benar saja dugaannya cewek ini membawa masalah.


Dia sangat heran kenapa Rengga bisa-bisa nya berpacaran dengan cewek macam ini, walaupun cantik tapi attitude nya sangat buruk.

__ADS_1


Dea hanya mendengus kesal saat mama Rengga menegurnya.


“Rengga gak tau apa aja yang udah Dea ceritain ke mama papa. Tapi Rengga berani sumpah, Rengga gak pernah melanggar semua larangan yang udah mama papa ajarin ke Rengga.”


Mendengar jawaban anaknya itu Anggi tersenyum lembut, ia sangat percaya dengan anak sulung nya itu. Feeling nya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa Rengga tidak berbohong.


“Bohong! Kamu udah ambil keperawanan aku! Dan sekarang kamu mau ninggalin aku buat cewek lain! Om dan Tante punya anak perempuan kan? Gimana kalo anak om yang ngalamin kayak saya? Apa om dan tante akan biarin cowok itu pergi gitu aja?! Saya gak terima! Saya mau Rengga nikahin saya!” Dea semakin histeris karena merasa orang tua Rengga lebih percaya pada Rengga.


“Kalo anak saya gak mau nikahin kamu gimana?” tanya Agatra dengan nada datar.


“Saya akan sebarin ke media! Dan om tau sendiri akibatnya buat perusahaan om kalau sampai ini tersebar ke media!” ancam Dea.


Mama Rengga semakin geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita muda di depannya ini. Benar-benar tidak punya sopan santun saat berbicara dengan orang tua.


“Kamu punya bukti untuk menampik tuduhan mantan kamu ini Ga?” Agatra kembali mengalihkan pandangan ke putranya.


“Ada pa. Selama ini Rengga gak cerita ke mama papa karena Rengga berusaha untuk membuktikan ke diri sendiri kalo Rengga gak salah.” Melihat tatapan penuh keyakinan dari anaknya, Agatra semakin percaya kalau anak kebanggaannya ini memang tidak bersalah. Sebagai orang tua tentu ia akan lebih mendukung anaknya, namun jika memang Rengga bersalah maka ia tidak akan segan-segan untuk menyuruh Rengga bertanggung jawab.


“Bukti apa maksud kamu?” Dea menatap bingung ke arah Rengga.


“Sebentar pa.” Rengga berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya, tanpa memperdulikan Dea yang menatapnya bingung.


Dea tidak tahu bukti apa yang dimaksud Rengga, apa Rengga ingin membuktikan kalau ia masih perjaka? Tidak! Tidak mungkin, tidak ada yang bisa membuktikan keperjakaan seseorang, Dea sudah sempat mencari tahu hal itu sebelumnya. Lalu apa yang ingin Rengga buktikan?


Tidak lama Rengga sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa laptop nya, Rengga memasang flashdisk yang tadi diberikan om Rendy dan mulai membuka beberapa file.


Rengga menunjukan file yang sudah dibukanya kepada kedua orang tua nya, Dea pun ikut melihat karena penasaran.


Terlihat video cctv sebuah bar, sontak mata Dea membola saat ia menyadari bar yang ada pada rekaman cctv itu. Wajah nya mulai memucat, namun bukan Dea namanya jika tidak bisa berakting untuk tetap tenang. Lagipula cctv itu tetap tidak bisa membuktikan kalau ucapannya bohong kan?


“Ini tempat aku sama Dea ketemu, sebelum kejadian yang menurut Dea aku ngelakuin yang ‘enggak-enggak’ ke dia.” Rengga memperbesar tampilan video nya dan terlihat Dea sedang memasukan sesuatu ke minuman yang ada di depan tempat duduk Rengga saat cowok itu sedang asik ngobrol dengan seorang cowok di sebelahnya.


“Rengga gak tau apa yang dimasukin Dea ke minuman Rengga, tapi yang pasti setelah minum itu Rengga gak inget apapun, Rengga kayak orang pingsan” Rengga melanjutkan kisahnya sambil terus memutar rekaman cctv, tampak laki-laki yang tadi ngobrol bersama Rengga membantu Dea membopong Rengga keluar dari bar beberapa saat setelah Rengga meminum minuman yang telah dimasukan sesuatu oleh Dea.


Mama Rengga hanya bisa menutup mulut tidak percaya dan menatap Dea dengan pandangan tidak suka. Ternyata bukan hanya attitude nya jelek, cewek ini juga seorang kriminal, batin Anggi.


“Ini rekaman waktu Rengga di bawa ke hotel sama Dea dan temannya. Seperti yang mama papa liat, Rengga jalan aja gak bisa, gimana mau macem-macem?” Rengga terus melanjutkan kisahnya sambil menunjukan rekaman demi rekaman kejadian pada hari itu.


“Itu gak membuktikan apapun! Iya memang kamu pingsan saat sampe ke hotel, tapi setelah kita berdua aja kamu bangun dan kita ngelakuin itu!” pekik Dea setelah rekaman video dari Rengga berakhir.


“Oh ya? Kamu pikir aku cuma punya itu?” Rengga tersenyum sinis, membuat keringat dingin mulai mengalir ke pelipis Dea.


Rengga membuka lagi file beberapa file yang tadi baru saja diserahkan Om Rendy.


“Ini catatan laundry dari hotel itu keesokan hari dari waktu aku dan Dea nginep disana. Biasanya petugas laundry dan cleaning service akan mendata jika ada seprei handuk atau hal lain yang terdapat noda yang karena harus dicuci terpisah, tapi menurut catatan ini dari kamar 202 tempat Rengga nginep tidak ada seprai atau apapun yang ada noda darah.”


Anggi dan Agatra kompak mengangguk mengerti dengan maksud sang anak.


“Gak semua cewek ngeluarin darah saat pertama kali, om dan tante juga pasti itu kan?!” Dea masih tidak mau kalah.


“Lagian bisa aja mereka lupa nyatet seprai waktu itu! Itu tetep gak ngebuktiin apapun!” lanjut Dea lagi.


“Maaf ya nak Dea, bisa gak bicaranya pelan-pelan. Kami disini tidak tuli!” Anggi mulai kesal dengan tingkah Dea yang benar-benar tidak punya sopan santun.


Dea menciut setelah mendengar teguran dari Mama Rengga. Wajahnya sudah memerah karena menahan kesal.


“Tapi yang dikatakan Dea ada benernya juga Ga, bisa aja pegawai disana lupa nyatet seprai nya.” Agatra akhirnya buka suara. Dea tersenyum senang saat mendengar Papa Rengga membelanya.

__ADS_1


Rengga segera membuka file lain untuk menjawab pertanyaan sang Papa. Ia memutar video kesaksian petugas housekeeping hotel tempatnya dan Dea menginap.


“Beruntung housekeeping yang bertugas hari itu adalah fans Dea, jadi dia punya rekaman saat ngeberesin kamar yang baru aja ditidurin sama idolanya, karena waktu itu memang Rengga langsung pergi ninggalin Dea saat Rengga bangun. Dan dari rekaman yang ada, terlihat jelas kalau gak ada noda apapun di tempat tidur.” Terang Rengga sambil memperlihatkan rekaman di laptopnya.


Rengga menunjukan video seorang housekeeping tampak kegirangan saat membersihkan tempat tidur dan beberapa kali housekeeping itu mengambil gambar tempat tidur sambil mengatakan bahwa idolanya semalam tidur disana.


“Tadi kan aku udah bilang gak semua cewek keluar darah!” Dea masih tidak mau kalah.


“Oh ya? Kamu bener-bener mau aku nunjukin bukti yang lain?” Rengga tersenyum sinis.


Dea sedikit menciut, ia bingung dengan bukti apalagi yang dimiliki Rengga. Apakah kamar hotel tempat mereka menginap ada cctv juga? Tidak, tidak mungkin kan, hotel tempat mereka menginap termasuk hotel berbintang jadi tidak mungkin ada kamera tersembunyi.


“Bukti yang kamu tunjukin itu belum membuktikan apapun Ga.” tantang Dea setelah meyakinkan dirinya sendiri.


“Oke. Kalo kamu memang maksa. Setelah ini kamu jangan pernah muncul lagi di depan aku.” balas Rengga sambil tersenyum miring. Sementara Agatra dan Anggi hanya bisa memandang penuh ingin tahu ke Rengga.


Rengga membuka file lain yang tadi baru saja di berikan Om Rendy.


“Ini, pengakuan dari teman Dea, kalo dia pernah melakukan ‘itu’ dengan Dea sebelum kejadian Rengga dan Dea di hotel.” Rengga memandang sinis ke arah Dea sebelum membuka file nya.


Rengga membuka file rekaman suara, terdengar suara wanita berteriak dari rekaman itu, tidak diragukan lagi itu adalah suara Dea.


Dea membelalak dan mendengar rekaman itu, reflek ia ingin mengambil laptop Rengga dan menghentikan rekaman itu, namun dengan cepat Rengga menjauhkan laptopnya dari jangkauan Dea, masih terdengar suara teriakan dan desahan dari laptop Rengga.


“Stop it! Please!” Dea memohon dan hampir menangis. Ia benar-benar tidak menyangka Rengga memiliki rekaman itu. Rekaman saat ia pertama kali melakukan ‘itu’ dengan teman kerjanya bernama Dino yang memang menjadi selingkuhan Dea, karena saat itu ia terbawa suasana dan berada di bawah pengaruh alkohol. Memang tidak ada video, hanya rekaman suara saja karena pada saat itu Dea tidak mengijinkan Dino untuk merekamnya menggunakan video, namun Dino yang memang sangat tergila-gila dengan Dea diam-diam mengabadikan momen tersebut melalui rekaman suara.


Rengga menghentikan rekaman suara yang menurutnya menjijikkan itu.


“Sekarang kamu masih mau bilang aku gak punya bukti?” Rengga menatap tajam Dea.


Dea benar-benar sudah kehabisan kata-kata. Rencananya untuk mempertahankan Rengga sepertinya gagal total.


“Sepertinya bukti yang anak saya berikan sudah cukup, nak Dea. Saya minta kamu jangan ganggu anak saya lagi.” Anggi berdiri dan mengangkat tangannya ke arah pintu keluar untuk mengusir Dea. Sudah dari tadi ia ingin melakukan itu, dan sekarang ia sangat senang bisa merealisasikan keinginannya.


Dea menghentakan kakinya dengan keras ke lantai sebelum keluar dari rumah Rengga.


“Astaghfirulooh, Rengga bisa-bisanya kamu macarin cewek kayak mak lampir gitu.” Kata Anggi sambil mengelus dadanya setelah dilihatnya Dea keluar dari rumahnya.


Sementara Rengga masih menunduk tanpa berani memandang kearah kedua orang tuanya karena merasa bersalah.


“Sejak kapan kamu simpan masalah ini?” kali ini Agatra yang buka suara.


“Beberapa bulan ini Pa.” Rengga melirik sekilas ke arah sang Papa dengan takut-takut.


“Syukurlah, setidaknya kamu bisa menyelesaikan masalah ini.” kata sang Papa lagi.


Rengga sedikit lega mendengar ucapan sang Papa, syukurlah Papanya tidak marah kepadanya.


“Tapi kamu berhutang penjelasan ke Mama Ga.” Rengga menoleh kearah Mamanya yang sudah dalam mode Kepo luar biasa. Rengga menelan salivanya susah payah, sepertinya setelah ini ia harus siap diinterogasi habis-habisan oleh sang Mama.


Tapi setidaknya Rengga sekarang sudah bisa bernafas lega, satu masalahnya sudah dapat ia selesaikan. Ya masih ada masalahnya dengan Athena dan Rengga ingin segera menyelesaikannya.


•••


Segini dulu, semoga smenghilangkan penasaran ya..lanjut nanti masalah Athena yaa..😁


jangan lupa tinggalin jejak biar semangat updatenya yaa..

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2