
Haloo..maafkan baru update lagi..
ternyata dunia nyata lebih sibuk dibanding pernovelan..hehe
oke lanjut yaa..
Happy Reading ❤️
•••
Rengga menghela nafas kasar sambil mengusap kepalanya frustasi. Dea benar-benar berniat membuat kakinya patah! Sudah 7 jam mereka berkeliling mall keluar masuk butik dan toko pakaian yang ada di Mall itu, sudah banyak juga paper bag yang di bawa oleh Rengga, bahkan tadi separuh belanjaan sudah Rengga taruh di mobil karena tangannya sudah tidak muat untuk memegang semua belanjaan Dea. Tentu saja Dea tidak mungkin membantunya membawa belanjaan itu.
Rengga memutuskan untuk duduk disofa yang ada di dalam toko sepatu yang saat ini sedang ia dan Dea kunjungi. Rengga tahu Dea pasti akan membutuhkan waktu lama untuk memilih sepatu. Rengga mengeluarkan HP nya dari saku celana untuk melihat apakah ada pesan yang masuk.
Dia khawatir karena dari tadi Athena sama sekali tidak membalas pesannya. Rengga penasaran apakah Athena sudah sampai rumah atau belum. Ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 9 malam. Akhirnya Rengga memutuskan untuk mengirim pesan lagi kepada Athena.
Udah sampe rumah?
Rengga segera mengirimkan pesan tersebut dan menunggu balasan dari Athena. Namun sudah 5 menit tak ada balasan apapun. Rengga menghela nafas kasar. Kenapa Athena tidak membalas pesannya? Apakah dia sudah tidur? Atau dia marah karena Rengga ingkar janji? Atau sesuatu terjadi?! Rengga semakin panik karena pikirannya sendiri. Akhirnya Rengga memutuskan untuk menelpon Athena, untuk memastikan bahwa Athena baik-baik saja.
Panggilan pertama tidak di jawab oleh Athena, Rengga menghela nafas frustasi, ia mencoba menelpon kembali namun tidak juga mendapat jawaban. Ia masih terus berusaha menelpon Athena.
“Ayolah Then! Angkat! Gw cuma pengen tau lo sampe rumah dengan selamat!” gumam Rengga. Rengga mendengus kesal. Ia akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan lagi kepada Athena.
Then, *are***** *u***** *okay***? Gw cuma pengen mastiin lo udah dirumah. Kalo lo gak ada kabar gw akan kerumah lo buat cari tau!**
Rengga segera mengirim pesan tersebut berharap Athena akan membalasnya. Rengga sangat tahu kalau Athena membaca pesan itu pasti Athena akan membalasnya, karena Athena paling tidak mau kalau ada cowok yang mencarinya ke rumah.
Benar saja tidak berapa lama ada notifikasi pesan masuk ke HP nya. Rengga segera membuka pesan masuk tersebut. Seketika sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat nama pengirim pesan tersebut.
Athena: Iya udah dirumah.
Rengga tersenyum saat Athena akhirnya membalas pesannya.
“Harus banget gw ancem dulu ya.” gumam Rengga. Ia segera memainkan jarinya untuk membalas kembali pesan Athena.
Rengga : Kok baru bales?
__ADS_1
Athena : Tidur, capek
Rengga sedikit kesal karena sebenarnya ia masih ingin berbalas pesan dengan Athena. Tapi mungkin Athena memang sedang lelah. Lagipula ini memang sudah malam. Rengga menghela nafas pasrah. Ia mengetik pesan kembali untuk Athena dengan setengah tidak rela.
Ya udah. Selamat istirahat ya. *Sweet***** *dream***.**
Rengga segera memasukkan HP nya kembali ke saku celananya setelah mengirim pesan tersebut karena bersamaan itu juga dilihatnya Dea sudah berjalan kearahnya.
“Kamu aku cariin dari tadi malah duduk disini!” Kata Dea dengan tangan menyilang di depan dadanya setelah ia sampai di depan Rengga.
“Aku capek.” balas Rengga cuek.
Dea mendengus kesal. “Dulu kamu gak pernah protes waktu aku ajakin muter-muter Mall. Kenapa sekarang jadi lembek gini?!” sinis Dea.
“Ini udah 7 jam De! Mana ada orang normal yang kuat keliling Mall 7 jam!” balas Rengga sarkas.
“Maksud kamu aku gak normal?!” Dea tidak terima dengan ucapan Rengga.
Rengga hanya memutar matanya malas. Ia sudah terlalu lelah untuk meladeni ocehan Dea.
Dea yang sepertinya masih punya cukup energi masih melanjutkan aksi protesnya atas sikap Rengga. Namun Rengga hanya diam malas meladeni.
Rengga tidak menggubris teriakan Dea, dia benar-benar sudah lelah mental dan fisik menghadapi Dea. Dea berlari mengejar Rengga yang sudah hampir keluar dari toko sepatu tempat mereka berada.
“Kamu mau ninggalin aku?!” hardik Dea.
“Aku cape De! Kaki ku udah mau patah ini rasanya. Aku udah ngantuk juga. Aku tunggu di mobil. Terserah kalo kamu masih mau keliling. Aku mau ke mobil!”
Rengga berjalan sambil memijat pangkal hidungnya karena merasa stress. Bisa gila dia lama-lama ngeladenin keegoisan Dea.
Dea akhirnya pasrah dan mengikuti langkah Rengga menuju parkiran walaupun sebenarnya dia masih ingin membeli sepatu lagi. Tapi daripada dia harus keliling sendirian mending dia ikutin aja dulu maunya Rengga. Toh dia juga sudah belanja cukup banyak hari ini. Kakinya juga sudah mulai terasa pegal.
“Rengga tunggu aku!” pekik Dea saat Rengga sudah menjauh darinya, karena cowok itu memang berjalan dengan cepat sampai Dea tidak bisa mengimbangi langkah kaki Rengga yang memang sangat lebar karena tubuh Rengga memang cukup tinggi. Namun Rengga sama sekali tidak peduli seolah-olah di tuli dan tidak mendengar teriakan Dea. Dea masih berusaha mengejar Rengga dengan setengah berlari sampai akhirnya mereka tiba di parkiran tempat Rengga memarkir mobilnya.
“Kenapa sih kamu gak mau pake valet aja? Aku kan cape jalan ke parkiran!” gerutu Dea saat mereka sudah sampai di samping mobil Rengga. Namun lagi-lagi Rengga tidak menanggapi, ia hanya melengos dan jalan menuju pintu pengemudi mobilnya.
“Rengga! Kamu gak bukain aku pintu?!” pekik Dea lagi. Namun Rengga malah langsung masuk kemobilnya setelah meletakkan belanjaan Dea di bangku belakang mobilnya seolah benar-benar tidak mendengar protes Dea.
__ADS_1
“Brengsek!” Dea mengumpat dan segera masuk ke sisi penumpang dan menutup pintu mobil Rengga dengan kasar.
“KAMU NYUEKIN AKU?! MAKSUD KAMU APA MEMPERLAKUKAN AKU KAYAK GINI?!” pekik Dea dengan emosi meluap-luap karena sangat kesal atas perlakuan Rengga padanya.
Rengga menutup kupingnya karena merasa sakit setelah mendengar teriakan Dea yang memang sangat kencang.
“KAMU GILA YA?!” balas Rengga sengit.
“IYA AKU EMANG GILA! DAN KALO KAMU LUPA AKU CUKUP GILA UNTUK BISA NGANCURIN HARAPAN ORANG TUA KAMU!”
Rengga mengeraskan rahangnya karena amarah yang sudah membuncah. Namun terpaksa ditahannya karena ia tahu ancaman Dea tidak main-main.
“Kamu kayaknya emang harus ke donter jiwa De! Sakit mu parah!” balas Rengga sinis dan dingin. Tanpa menunggu balasan protes dari Dea Rengga segera menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran Mall itu. Sebaiknya ia segera mengantar Dea pulang, karena semakin lama bersama cewek sinting ini dia pasti bakal ketularan sinting.
Sepanjang perjalanan Dea menangis dan marah-marah atas perlakuan Rengga. Namun Rengga tidak peduli, ia hanya fokus pada jalanan di depannya. Jika dulu mungkin Rengga tidak akan sanggup melihat Dea menangis, ya, karena dulu Rengga memang sangat tergila-gila pada Dea, cewek paling cantik di sekolahnya. Rengga sangat bangga saat dulu Dea mau menerima dirinya untuk menjadi pacar Dea. Bahkan cowok satu sekolah pun tidak ada yang berani iri kepadanya karena menganggap hanya Rengga lah yang memang pantas untuk Dea. Tapi sekarang sudah berbeda, Rengga tahu air mata Dea adalah air mata buaya. Air mata yang dengan mudah akan dikeluarkan cewek itu demi mendapat apa yang dia mau. Rengga tidak bisa ditipu lagi oleh Dea. Rengga benar-benar sudah jengah dengan segala drama yang diciptakan oleh Dea, Rengga lelah. Sangat!
Namun saat ini Rengga belum bisa melepaskan diri dari perangkap Dea. Karena Rengga masih belum menemukan apa yang dia cari. Karena itu disinilah Rengga berada sekarang, masih berstatus pacar Dea, yang sebenarnya hanya disetujui sepihak oleh Dea saja. Rengga terpaksa menuruti semua kemauan Dea karena ia tidak mau kalau sampai Dea nekat menemui kedua orang tuanya. Rengga tidak siap menghadapi tatapan kecewa kedua orangtuanya, setidaknya jangan sekarang. Nanti saat Rengga sudah menemukan cukup bukti Rengga berniat akan menceritakan sendiri masalahnya kepada kedua orang tuanya.
Akhirnya mobil Rengga sampai di depan rumah megah milik Dea. Rengga langsung membunyikan klakson untuk memberi tanda kepada sekuriti yang berjaga agar membukakan gerbang. Setelah gerbang terbuka Rengga melajukan mobilnya melewati gerbang dan berhenti tepat didepan pintu masuk rumah tersebut.
Rengga segera keluar dari mobilnya dan membuka pintu penumpang belakang untuk mengeluarkan semua belanjaan Dea, seorang sekuriti terlihat berlari mendekat untuk membantu Rengga mengeluarkan semua belanjaan Dea yang memang sangat banyak.
Dea sudah keluar dari mobil dengan mata sembab karena habis menangis sepanjang jalan. Ia berjalan kearah Rengga namun belum sampai di dekat Rengga cowok itu sudah mengeluarkan belanjaan terkahir dan menutup pintu mobilnya.
“Pak ini nanti Bapak yang bawa ya.” pinta Rengga pada sekuriti tadi. Dan dibalas anggukan oleh sekuriti tersebut.
“Aku pulang.” Kata Rengga pada Dea dan tanpa menunggu balasan dari Dea Rengga segera masuk ke mobilnya dan langsung melajukannya dengan sedikit kencang. Dea hanya bisa menahan kesalnya, ia tidak punya cukup energi lagi untuk mengumpat Rengga karena energinya sudah habis untuk mencak-mencak di dalam mobil Rengga tadi.
“Sekarang aku lepasin kamu Ga! Tapi awas kamu kalo berani ninggalin aku lagi!” desis Dea.
Sementara Rengga melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi karena memang dia sudah sangat lelah. Ia ingin cepat-cepat sampai dirumah untuk beristirahat. Rengga ingin segera tidur, setidaknya dengan tidur dia bisa melupakan masalah Dea sejenak. Itulah yang ada dipikirannya.
•••
tbc yaa
kalo ada saran dan masukan boleh yaa..
__ADS_1
jangan lupa tinggalin jejak..terimakasih