
Freya menyempitkan kedua bola matanya. Melirik ke arah pria menyebalkan itu.
"Apa yang kau butuhkan?" Freya balik bertanya.
Tanpa menjelaskan apa pun, Daryan menarik lengan Freya, "Ikuti saja aku!"
"Lepaskan aku, Tuan!" teriak Freya mencoba melawan Daryan.
"Jangan berisik, ini rumah sakit!" ketus Daryan.
Di dalam mobil pria ini menjelaskan bahwa pada saat ia kembali ke rumah, Kelvin tiba-tiba demam dan ia mengigau mengucapkan nama Freya beberapa kali.
Dengan serius Freya mendengar penjelasan Daryan, tanpa bisa berkedip sedikitpun.
Hal ini membuat CEO muda ini sangat percaya diri, "Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tertarik ya denganku?"
“Apa? Tertarik? Aku tidak akan pernah tertarik dengan pria angkuh sepertimu!” jawab Freya tegas.
Hah!
Bukannya ikut marah atau kesal seperti biasanya, Daryan malah tersenyum tipis dan mengumpat, “Awas saja kau akan termakan perkataanmu tadi!”
“Tidak! Sudah kukatakan, aku tidak akan tertarik dengan pria yang memiliki karakter sepertimu!” Freya kembali meyakinkan kepada Daryan, ia tidak akan meletakkan hatinya kepada pria itu.
Mereka pun kembali terdiam. Freya hanya fokus melihat jalan yang mulai sepi karena sudah dini hari.
Sampailah di mansion kediaman Keluarga Jefferson. Sebelum masuk ke dalam, wanita ini melihat pagar yang menjulang tinggi dan disuguhi bangunan berarsitektur Eropa.
Freya keluar dari mobil mewah Daryan. Ia masih tercengang melihat bangunan yang terukir begitu indah.
Pada saat masuk ke dalam, ia sudah disambut oleh para pelayan wanita yang berdiri dan menundukkan kepala dengan balutan pakaian maid yang seragam.
Saking polosnya, Freya menundukkan kepala juga untuk membalas penghormatan kepada pelayan satu persatu. Daryan yang ada disamping melihat hal tersebut.
“Sedang apa kau?” ketus Daryan.
“Aku hanya memberikan salam hormat untuk membalas Nona-Nona ini,” jawab Freya yang begitu polos membuat Daryan tersenyum.
“Tidak perlu melakukan hal itu. Tulang lehermu bisa retak jika kau melakukan hal tersebut,” jelas Daryan melihat kekonyolan yang dilakukan Freya.
Baru kali pertama Freya melihat senyum yang tampak di wajah Daryan. Tanpa disadari pipi Freya tiba-tiba memerah seperti tomat.
Dahi Daryan mengerut, “Kenapa kau sumringah seperti itu, hah? Jangan bilang kau terpikat akan senyumku?”
__ADS_1
Tidak!
Teriakan dari relung hati Freya bergema. Ia kembali menatap Daryan seperti monster tak berperasaan.
'Dia adalah pria kasar dan angkuh! Freya sadarlah!' Freya bermonolog.
Freya segera menggelengkan kepala, “Tidak! Tidak! Aku hanya takjub akan kediamanmu saja.”
Daryan mengangkat alis bagian kirinya, ia seperti tidak percaya yang dikatakan oleh Freya tadi.
“Okee baiklah, ayoo ke kamar Kelvin. Tapi sebelum ke sana, kau harus membasuh diri dulu agar besih. Aku tidak mau putraku terkena kuman darimu!”
Lagi-lagi Daryan membuat Freya kesal. Ingin rasanya wanita ini melempar kepala Daryan menggunakan guci yang terlihat mahal di depannya saat ini.
'Awas yaa kau, Daryan Jefferson!' geram Freya dalam hati seperti macan yang ingin menerkam langsung mangsanya.
Daryan memerintahkan salah satu pelayan untuk menyediakan pakaian dan peralatan yang dibutuhkan istri kotraknya ini.
“Pelayan Oh, saya minta kepadamu antarkan Nona Freya ke kamar mandi utama dan segera sediakan pakaian atau apa pun yang diinginkannya. Setelah selesai kau antarkan dia ke kamar Kelvin.”
“Baik Tuan.”
Setelah memerintahkan hal itu kepada salah satu pelayannya, Daryan melangkahkan kaki menuju ke kamar Kelvin.
Oh Hana, merupakan pelayan yang Daryan percayai dan CEO muda itu sempat bercerita sekilas tentang Freya kepada Hana.
“Ahh, baik Nona. Perkenalkan saya Freya Burton, terima kasih telah menyambut saya dengan begitu baik seperti ini,” ucap Freya begitu sungkan karena ia tidak pernah diperlakukan istimewa seperti ini sebelumnya dengan seseorang.
“Mohon maaf sebelumnya, Nona Freya. Jangan panggil saya dengan sebutan Nona. Panggil saya dengan sebutan Oh atau Hana saja."
Hana yang memiliki usia mungkin 30 tahunan itu tersenyum ramah kepada Freya.
Freya menyetujui hal tersebut dan ia menundukkan kepala, “Baiklah Hana.”
Hana pun segera mengantarkan Freya ke kamar mandi utama.
Apa yang Freya lihat? Kamar mandi utama Daryan begitu luas, mungkin jika dikatakan luasnya bisa sampai melebihi sekomplek perumahan sederhana.
“Waaahh? Ini kamar mandi atau apa ya, Hana? Sangat luas sekali dan indah.” Ekspresi wajah Freya terkagum, hal ini membuat Hana tersenyum.
Hehehe!
“Ini adalah kamar mandi utama di kediaman Keluarga Jefferson, Nona Freya. Dan kamar mandi ini hanya boleh digunakan oleh Tuan Daryan saja. Jujur, saya sedikit terkejut tadi, ketika Tuan Daryan memerintahkan saya untuk mengantar Nona ke kamar mandi utamanya.”
__ADS_1
Hana menutup mulutnya menggunakan tangan, terlihat senyum malu-malu.
Karena merasa aneh dan Freya tidak mengerti maksud dari semua itu, wanita ini pun dengan santun bertanya.
“Hmm! Hana, apakah kau sedang memikirkan sesuatu? Atau mungkin ada yang membuatmu bahagia?”
Hana segera menjawab pertanyaan dari Freya, “Selama 12 tahun bekerja di kediaman Keluarga Jefferson. Baru kali ini Tuan Daryan memperbolehkan orang baru masuk ke kamar mandinya. Tuan Daryan sangat mencintai kebersihan, sedikit saja ada yang terlihat kotor ia bisa-bisa murka. Terutama masalah kamar mandi ini.”
“Lalu apa kaitannya? Aah, aku sama sekali tidak mengerti,” celoteh Freya di dalam hatinya yang belum memahami perkataan pelayan kepercayaan Daryan.
Hana pun segera mempersilahkan Freya untuk mandi, tapi ada hal yang wanita ini tidak ketahui.
“Jangan tinggalkan aku Hana. Aku tidak paham cara menghidupkan air, apakah dari sini? Atau di sini? Astaga banyak sekali tombol yang tersedia ...”
Freya benar-benar bingung karena kediaman Daryan sangat modern. Semua alat di sini terlihat canggih. Ia yang hanya terlahir dari keluarga sederhana dan tidak tahu menahu akan kecanggihan ini begitu frustasi melihat banyak tombol-tombol dengan beberapa fungsi yang berbeda.
“Maafkan saya, Nona Freya. Saya akan memberitahu Nona bagaimana cara menggunakan tombol ini.”
Hana dengan penuh kesabaran menjelaskan fungsi-fungsi tombol yang ada di sana. Ada yang digunakan untuk menyalakan air panas, hangat, dingin. Dan berbagai fungsi lainnya.
“Jika Nona ingin berendam di bathtub, Nona hanya menekan tombol ini saja. Atau menepuk tangan dua kali dan lihatlah ... air mengalir dari bawah,” jelas Hana menampilkan kecanggihan mansion mewah ini.
“Jika merasa airnya sudah cukup, Nona tinggal mengkedipkan mata saja. Dan lihatlah ... airnya berhenti mengalir.”
Pok! Pok! Pok!
“Waaah sangat menakjubkan sekali,” puji Freya yang sangat kagum.
Hanya menggerakkan anggota tubuh saja, semua alat dan barang di kamar mandi ini sudah terdeteksi. Kecanggihan ini hanyalah sebagian kecil dari bagian mansion Keluarga Jefferson.
Freya merasa sangat lega, ia menikmati berendam di air hangat. Setitik kotoran pun tidak akan ia biarkan menempel karena ia ingat dengan perkataan Daryan tadi, mengenai sang putra tidak boleh terkena kuman.
Wanita yang tidak memakai pakaian sehelai pun ini lupa akan waktu karena begitu keasyikan berendam di kamar mandi ternyaman ini.
Hal tersebut membuat Daryan tidak sabar menunggunya.
Di balik pintu ia bertanya kepada Hana, “Pelayan Oh, apakah Freya belum selesai mandi juga?”
“Belum Tuan Daryan. Baiklah, saya akan memanggil Nona Freya segera.”
“Tidak perlu, biar saya saja yang ke dalam menemuinya!”
Bersambung
__ADS_1