
Teriakan Freya membuat pria tampan yang masih tertidur pulas di sampingnya membuka mata perlahan, sembari merengangkan tangan ke atas.
Ekspresi Freya begitu terkejut, terlebih kini ia melihat tubuhnya tidak memakai pakaian sama sekali.
‘Astaga apa yang aku lakukan dengan pria kasar ini kemarin malam?’ gumam Freya dalam hati.
Ia masih melihat Daryan dengan tatapan penuh tanda tanya. Wanita cantik ini tidak sabar lagi ingin menanyakan banyak hal kepada tuannya itu.
“Tuan, apa yang kau lakukan denganku?”
Daryan belum terlalu sadar, ia membuka salah satu matanya.
Huaam!
Pria ini tanpa malu memperlihatkan ototnya setelah melakukan peregangan. Lalu ia bangkit dengan posisi duduk sembari memperbaiki rambut agar terlihat tetap klimis.
Daryan begitu tenang berbeda dengan Freya yang sejak tadi memasang wajah kebingungan.
Lalu ia menatap mata Freya dengan hambar.
“Apa kau tidak mengingat kejadian kemarin malam?” tanya balik Daryan.
Freya mengkerutkan dahinya, ia menggelengkan kepala seraya mengingat-ngingat kejadian kemarin.
Berkali-kali ia berusaha mengupas memori itu, tapi tetap saja Freya tidak mengingatnya sama sekali.
“Maksud Anda, Tuan Daryan? Aku tidak mengingat kejadian kemarin sedikit pun,” tutur Freya dengan ekspresi wajah yang masih tampak bingung.
Pria ini tersenyum tipis, karena ia sudah tahu jawaban yang akan terlontar dari mulut Freya.
Hah!
Ia menghela napas dan bergumam dalam batinnya, ‘Sayangnya ia tidak mengingat malam panas yang dia lakukan bersamaku!’
Daryan mencoba menggoda Freya dengan meletakkan salah satu tangannya di sisi bibir sambil berbisik, “Kemarin malam, kau membuat saya seperti terbang melayang. Permainanmu sungguh liar dan begitu luar biasa.”
Ucapan Daryan membuatnya pusing, bola matanya membesar.
‘Apa maksud pria ini?!’
“Tolong katakan dengan jelas apa yang telah kita lakukan, Tuan?” Freya kembali bertanya, ia ingin jawaban detail dari Daryan.
Hah!
Daryan menggelengkan kepala pelan, sembari memijat dahinya. Karena kepala pria tampan ini juga sungguh berat.
“Sudah saya katakan tadi, Freya. Kau membuat saya melayang, apa kau tidak paham akan maksud saya tadi? Coba kau pikirkan, apa yang akan dilakukan wanita dan pria dalam satu kamar tanpa mengenakan busana? Menurutmu mereka akan melakukan apa, hah?” kata Daryan tanpa melihat ke arah wanita muda itu.
__ADS_1
Freya meneteskan air mata, selebih area sensitifnya terasa begitu perih. Ia melihat ada bercak darah di sprey berwarna putih.
‘Apa? Kenapa ia begitu tenang sekali setelah menodaiku? Aku benar-benar benci dengan pria ini! Benci dan benci!’ Freya membatin.
Merasa wanita cantik itu tidak menjawab tuturnya tadi, Daryan menoleh mengarah Freya yang ada di sampingnya itu.
Manik mata Daryan membesar, tatapannya kini berbinar sendu. Sebenarnya ia sangat merasa bersalah dengan Freya, tapi ia tidak bisa mengekspresikannya ataupun mengucapkannya.
Menurut Daryan kejadian kemarin malam hanyalah sebuah kecelakaan. Freya yang memancingnya untuk melakukan hal itu. Jadi bukan seratus persen kesalahan CEO muda ini.
Mana ada pria yang dapat mengindari situasi seperti kemarin malam, apalagi Daryan masih terpengaruh alkohol.
“Kenapa kau menangis?” tanya Daryan.
Freya berusaha tidak lagi meneteskan air matanya, tapi ia tidak bisa menahan rasa gundah, kecewa, kesal, benci, yang bercampur jadi satu untuk Daryan.
Dalam hati Daryan bermonolog, ‘Ternyata gadis ini bisa menangis juga, maafkan aku ya Freya.’
Ia masih melihat Freya dengan rasa iba. Namun, pria ini tetap memilih diam tanpa bersuara.
Freya mengusap-usap matanya.
Kini gadis itu menatap Daryan tajam.
“Apakah kau senang melakukan hal ini, Tuan? Tidak kah kau merasakan apa yang aku rasakan saat ini? Sungguh keterlaluan kau, Tuan Daryan Jefferson!”
Plaak!
Freya menampar tepat di pipi kanan Daryan. Ia tidak tahan lagi dengan perbuatan pria itu.
Ia tidak bisa menerima, meskipun Daryan sudah mengatakan hal yang sejujurnya.
Hati Freya sungguh terluka, karena ia tidak pernah melakukan hal tersebut sebelumnya. Namun, tiba-tiba ia harus menerima kesuciannya kini telah direnggut oleh pria yang merupakan ayah dari murid disayanginya.
Daryan terkejut, ia segera menyeka pipinya yang terasa begitu perih dan sakit. Gigi Daryan seperti ingin terlepas dari rahangnya.
Tidak hanya itu, Freya memberikan hantaman keras di perut tuannya itu.
Buugghh!
Arrrgghh!
Daryan meraung kesakitan. “Kau sudah gila ya, Freya!” teriak pria itu menatap sinis istri kontraknya.
Freya segera mengambil pakaiannya yang berserakan di bawah. Begitu pula Daryan yang menahan rasa sakit.
Setelahnya, Freya kembali menatap Daryan dengan menunjuknya dengan kasar.
__ADS_1
“Jangan pikir kau bisa seenaknya kepada seseorang karena memiliki kuasa tinggi dan banyak uang! Dengar yaa Tuan, tidak semua wanita yang menyukai harta dan ketampananmu! Aku sungguh benci dengan pria sepertimu!”
Daryan terdiam, ia memilih tidak mengejar Freya.
Ia hanya bisa menghela nafas begitu dalam, karena hantaman Freya benar-benar kuat.
Meskipun masih dilanda masalah dan membuat hatinya kacau, Freya segera mengganti baju terlebih dahulu untuk menuju rumah sakit.
“Bu, tunggu Freya ya.”
Gadis muda ini juga menghubungi pihak sekolah, “Ibu Margaret, mohon maaf hari ini saya telat ya Bu karena masih menjenguk ibu saya di rumah sakit.”
Ketika sudah sampai di rumah sakit, dokter mempersilahkan Freya untuk melihat sang ibu.
Pada saat melihat ibunya tertidur pulas, Freya memeluk tubuh lemas wanita yang semakin hari semakin tua itu.
Tiba-tiba wanita kuat ini menangis dipelukan sang ibu.
“Bu, maafkan Freya yaa. Freya tidak bisa menjaga martabat sebagai seorang wanita,” bisiknya sembari mencium kening Alesya yang belum juga tersadar.
Ia pun harus segera ke sekolah, pasti anak-anak kelas Lily sudah merindukannya.
“Bu, Freya bekerja dulu yaa ...” Ia mencium tangan Alesya sebelum meninggalkan ruangan.
Freya segera ke playgrub Winston, sembari melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
“Aku sudah telat hampir 2 jam, semoga anak-anak belum tidur siang.”
Beberapa menit kemudian setelah naik kendaraan umum, Freya terkejut melihat ada plang yang tertulis.
“TETAP LAH TERSENYUM DAN MAAFKAN AKU!”
Namun, Freya tidak mempedulikan hal itu. Ia pikir mungkin Ibu Margaret atau guru-guru lainnya sedang melakukan kegiatan.
Ia melangkah ke dalam dan ...
Freya di sambut dengan bahagia menggunakan terompet dari anak-anak. Wanita muda itu begitu bingung.
“Waah ada apa ini anak-anak?” tanya Freya keheranan.
Mereka semua memeluk bu guru cantiknya itu.
Freya tersenyum melihat anak-anak ini tampak bahagia, tapi senyumnya tiba-tiba runtuh setelah dirinya melihat sosok yang sangat ia benci berdiri di samping Bu Margaret.
“Mau apa dia kemari?”
Bersambung.
__ADS_1