My Beloved CEO

My Beloved CEO
Ingin Melenyapkan Freya


__ADS_3

Di pagi harinya, Daryan dengan ekspresi seperti anak kecil merengek kepada Freya. “Sayang, aku masih ingin ditemanimu saat ini.”


Hmm!


“Kak Ian, kau jangan mencoba menggodaku lagi. Sudah kerjakan lah tugasmu, lagian kau ngantor kan hari ini?” Lirik Freya sembari mengenakan pakaiannya lalu berdiri.


Namun, belum saja melangkahkan kaki Daryan kembali seperti anak kecil sambil memegangi pergelangan tangan kanan wanita yang sangat dicintainya. “Ya, kau mau kemana? Kau mau meninggalkanku sendiri di sini?”


Freya menoleh dengan tatapan sayu, ketika ia menelusuri tubuh Daryan yang masih diselimuti bed cover berwarna putih. Tiba-tiba ia ingat apa yang dilakukan dirinya dengan Daryan kemarin malam. Menghabisi waktu secara nikmat, ia pun benar-benar merasakan hal yang begitu berbeda.


Deg!


‘Aku pernah melakukan hal ini sebelumnya dengannya, tapi rasa yang diberikan dia kemarin begitu berbeda. Adanya cinta yang memberikanku sampai masuk ke dalam hati, sungguh lembut permainannya,’ bisik Freya dalam hati. Lalu wajahnya tiba-tiba berubah merah padam dan ia pun menunduk.


“Freya, kau kenapa? Ada apa dengan wajahmu?” tanya Daryan yang cemas karena Freya menampilkan gelagat yang aneh.


Segera tubuh atletis Daryan itu meninggalkan ranjang luas dan meletakkan punggung tangannya di dahi Freya.


“Hmm ... kau tidak panas, tapi kenapa wajahmu tiba-tiba merah seperti ini?” Daryan masih mengira-ngira penyebab dari perubahan warna wajah Freya.


Deg! Deg!


Detak jantung Freya semakin tak keruan, ia sampai tak bisa mengontrol perasaannya saat ini ketika Daryan semakin dekat dengannya.


Ia masih membayangkan apa yang telah dilaluinya dengan pria dicintai Freya sejak dulu.


“Ya, kau tak apa-apa ‘kan?” Daryan kembali bertanya kepada Freya untuk meyakinkan.


Pria pemilik mata yang sangat indah itu memegangi kedua pundak Freya sembari menatap jauh wanita yang begitu dekat dengannya.


“Freya, lihat lah mataku. Aku tak ingin kau kenapa-napa, atau ini ada sangkut pautnya dengan apa yang sudah aku lakukan kemarin? Kau merasa tak nyaman dengan apa yang ku ...”


Belum kelar ucapan dari Daryan, dengan cepat Freya memeluk tubuh pria yang akan menjadi suaminya itu dengan erat.


“Kak Ian, terima kasih untuk yang kemarin. Aku benar-benar merasakan cinta yang kau berikan kepadaku. Kak Ian, aku mohon padamu jangan tinggalkan aku lagi ya,” pinta Freya begitu tulus, karena suasananya mendukung ia pun sampai meneteskan air mata.

__ADS_1


Butiran air dari mata indah Freya sampai mengalir ke tubuh Daryan yang belum menggunakan pakaian. Daryan menghembuskan napas pelan, ia merasa lega ketika Freya mengatakan hal itu.


“Kau nangis, Ya? Kenapa?” tanya Daryan dengan suara seraknya sembari memberikan sentuhan lembut di kepala Freya.


Hu’um!


“Entah lah Kak Ian, aku tidak tau. Tiba-tiba tetesan air mata ini mengalir saja, aku bahagia bisa berada di sisimu. Aku senang kau ada dikehidupanku.”


“Terima kasih ya, Freya. Aku juga sangat bahagia.”


Setelah menyalurkan rasa kasih, Freya izin menyiapkan sarapan untuk Daryan.


“Tidak perlu kau yang siapkan, Freya. Kan ada pelayan yang sudah menyiapkannya, kau duduk saja dan ikut sarapan denganku.”


Freya menggeleng, ia kurang setuju dengan pendapat Daryan. “Kak Ian, sebentar lagi aku akan menjadi istrimu. Aku ingin bisa melayanimu dengan segenap hati, karena ini adalah tugasku, Sayang.”


“Sayang? Kau memanggilku dengan sebutan seperti itu?” Ekspresi Daryan begitu terkejut, karena jarang sekali Freya menyebutkan hal tersebut kepadanya.


“Udah ah, aku mau ke bawah dulu nyiapin sarapan ya ...,” ucap Freya yang tak ingin ditanya-tanya lagi dengan Daryan.


Beberapa menit kemudian, Daryan menuruni anak tangga seraya mencoba memasang kancing dibagian pergelangan tangan.


Hm!


Pria itu menyunggingkan bibir seraya menatap lembut ke arah Freya. Tak pernah bosan ia menatap wajah cantik wanita yang akan menjadi istrinya sebentar lagi.


“Kak Ian, bisa tidak kau tak menatapku seperti itu?” celetuk Freya canggung bilamana Daryan terus menatapnya dengan penglihatan seperti ingin menerkam.


“Memang kenapa, aku tak boleh menatap istriku seperti ini?”


“Sudah ah, ayo makan.” Freya menepuk dada Daryan dan ia mencari topik lain, agar pria tersebut tak berbicara hal yang mengandung keintiman seperti kemarin malam.


Melihat Freya seperti terburu-buru menuju ruang makan, Daryan pun memegangi dahinya sembari tersenyum dengan mata yang masih lurus menatap punggung wanita itu. “Yaya, kau ternyata masih malu-malu ya.”


Mereka berdua sarapan, sebelum Daryan ke kantor. Sedangkan Kelvin, sudah sejak tadi berangkat karena di yayasan ada kegiatan.

__ADS_1


Hari ini dan sampai seterusnya, Daryan meminta Freya untuk tak bekerja lagi. Ia ingin Freya bersantai dan bisa meluangkan waktu lebih banyak nantinya baik kepada Kevin, maupun Daryan.


Anya yang melihat kedekatan mereka berdua tanpa ada rasa malu sama sekali, duduk di depan Freya.


Hal ini membuat Daryan dan Freya sedikit terkejut.


“Kenapa kau makan di sini?” tanya Daryan ketus.


“Memang aku tidak boleh ikut makan bersama kalian berdua? Anakmu juga butuh nutrisi, Sayang,” ujar Anya yang berusaha memegangi tangan Daryan.


Daryan segera menepis dan ia mempertegas, “Anya, sudah aku katakan berulang kali kepadamu. Kita sudah tidak ada hubungan sama sekali, dan kau bukan siapa-siapa lagi. Tolong jangan panggil aku dengan sebutan tadi, apalagi dihadapan Freya!”


Huh!


Anya menghembuskan napas kasar, ia pun menunduk. Matanya menari seperti tak suka dengan apa yang diperintahkan Daryan tadi.


Sedangkan Freya melirik Daryan dan menggelengkan kepalanya pelan, dengan mulutnya bermimik tanpa suara, tapi dipahami oleh pria yang wajahnya tampak begitu kesal itu. “Jangan terlalu keras dengan Anya, Kak Ian. Biarkan saja ia makan bersama-sama dengan kita.”


Daryan hanya bisa terdiam, ia melanjutkan menyantap makanan hanya dua sendok saja. Selera makannya hilang karena Anya. Ia bangkit dari duduknya, dan berpamitan kepada Freya.


“Freya, aku berangkat ya ....” Daryan mencium kening Freya.


Ketika Freya ingin mengantar. Daryan menoleh ke belakang dan berujar, “Kau lanjutkan saja makannya. Jangan ikut mengantarku, ingat makan yang banyak ya.”


Setelah itu bayangan Daryan hilang secepat kilat.


Tak disangka, Anya kembali membuat perkara. “Seharusnya aku yang ia suruh makan banyak. Secara anak yang kukandung adalah anak darinya,” celetuk Anya sembari menatap sinis Freya.


Namun, Freya tak mengubris ia tetap tenang dan menyantap makanan yang ada di depannya.


“Freya, asal kau tau ya. Daryan itu sangat mencintaiku, sampai sekarang saja dia diam-diam masih memperhatikanku tanpa sepengetahuanmu.” Tentu yang diucapkan oleh Anya ini tak benar, ia ingin Freya merasa cemburu dan membenci Daryan.


Namun, perkiraan Anya salah. Ekspresi Freya tak berubah sedikitpun, bahkan ia menjawab dengan kalimat, “Oh, jadi begitu ya Nona Anya. Ya bagus, Kak Ian masih peduli denganmu.”


Bukannya cemburu, ia mendukung calon suaminya bersikap seperti itu kepada wanita lain. Tapi menurut Anya, perkataan Freya tadi seperti kalimat yang seakan-akan merendahkan harga dirinya.

__ADS_1


‘Awas ya kau Freya. Kau tak akan lepas dari jeratanku, hari ini kau akan mati!’ Anya berdialog. Ia sudah membayangkan nasib Freya yang telah ia rencanakan dengan pembunuh bayaran yang ia sewa.


Bersambung.


__ADS_2