My Beloved CEO

My Beloved CEO
Mantan Kekasih


__ADS_3

Mendengar teriakan yang membuat gendang telinga rusak, membuat Freya repleks mendorong tubuh Daryan sangat kuat.


Begitu pula dengan pria yang memiliki kuasa tinggi tersebut. Ia begitu terkejut dengan kedatangan tamu yang tidak diundang.


Daryan menyempitkan bola mata, seakan tidak ingin melihat wanita yang ada di hadapannya.


Pria itu menoleh ke arah Clara, sekretaris yang sangat ia percayai.


Clara segera menunduk, wajahnya begitu pucat karena pasti Daryan akan marah besar kepadanya.


“Maaf Pak Daryan, saya sudah memberitahu kepada Nona Anya tapi ...” jelas Clara, tapi segera dipotong dengan wanita yang bernama Anya. Ia merupakan mantan kekasih Daryan Jefferson.


“Ohh jadi begini yaa, kau mengatakan aku yang selingkuh, hah? Tapi nyatanya kita belum genap putus sebulan kau sudah berani melakukan hal itu kepada wanita rendahan ini?!” teriak wanita yang memakai pakaian serba branded itu.


‘Rendahan? Maksudnya apa?’ tanya Freya dalam hati sangat bingung.


Daryan menunjuk ke arah mantan kekasihnya. “Jaga bicaramu ya, Anya! Kenapa kau malah yang marah? Jelas-jelas kau yang selingkuh dengan sepupuku sendiri! Apa kurang bukti, hah? Aku melihatmu tidur dengannya di hotel ...”


“Cukup! Aku kan sudah minta maaf kepadamu, Daryan. Waktu itu aku hanya kesepian, kau tidak pernah memperhatikanku. Tingkahmu semakin dingin kepadaku,” jelas Anya sembari meneteskan air matanya.


Freya berargumen dalam hati, ‘Ohh, aku baru ingat. Bukankah wanita ini adalah wanita yang pernah bertengkar di pusat belanja dengan Tuan Daryan? Pria ini marah besar dan mengatakan kata-kata kasar yang membuatku sangat kesal. Jadi ini alasan mereka bertengkar waktu itu.’


Meskipun Anya adalah wanita yang pernah Daryan cintai, tapi wanita itu hanyalah pengkhianat baginya.


“Jadi apa maumu untuk mendatangiku kemari? Sudah aku katakan, hubungan kita berakhir pada saat itu juga!” bentak Daryan.


Kondisi ini membuat Freya pusing tujuh keliling, kepalanya sangat berat. Ingin rasanya ia membela wanita itu yang sedang menangis terisak. Tapi nyatanya, ia juga tidak boleh gegabah seperti yang dilakukan dirinya di pusat belanja waktu itu.


“Sudah pernah aku ucapkan kepadamu, aku bisa memaafkan segala kesalahanmu Anya, tapi tidak dengan pengkhianatan yang kau lakukan kepadaku!” teriak Daryan kembali.


Mata pria ini sangat merah serta urat lehernya tampak. Sungguh rasa kecewa yang teramat dalam ia rasakan kini.


Meskipun sangat populer dikalangan kaum hawa, karena Daryan memiliki kuasa tinggi di usia dibilang sangat muda dan wajah bak pangeran. Tidak menjamin pria ini memiliki kisah cinta yang mulus.


Setiap kali ia ingin berkomitmen dengan wanita, pasti selalu ada saja rasa kecewa yang ia dapatkan.


Semua wanita-wanita diluar sana hanya menginginkan kekayaan dari CEO muda ini tanpa mencintai Daryan secara tulus.


“A-ku, a-ku masih mencintaimu, Daryan.” Anya menutup wajahnya sembari masih menangis sendu.


Freya melihat ke arah Daryan.


Pria itu juga menoleh Freya dengan tatapan kesedihan.


Tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi, Freya berlari kecil mendekati Anya. Ia hanya ingin memberikan sentuhan hangat agar wanita itu tidak sedih lagi.

__ADS_1


“Sudah Nona, jangan menangis lagi ya ...” ucap Freya sembari menepuk-nepuk pundak Anya pelan.


Namun, tidak seperti dugaannya. Anya malah menatap sinis ke arah Freya yang sedang tersenyum kepadanya.


Plak!


Anya menampar dengan kuat pipi Freya dibagian kanan. Untuk kedua kalinya, wanita ini mendapatkan tamparan dari Anya.


Sontak hal ini membuat Daryan dan Clara sangat terkejut, dengan apa yang dilakukan Anya kepada gadis polos itu.


“Hah, astaga!” Clara menutup mulutnya.


Daryan segera mendekati Freya, lalu menarik tangannya. Ia menjauhi ibu pengganti Kelvin dari mantan kekasihnya itu.


Dengan netra mata yang melotot, Daryan berteriak, “Apa yang kau lakukan, Anya! Kenapa kau melukainya?!”


“Dasar wanita ******, kau yang merebut Daryan dariku!”


Ucapan kasar dari mulut Anya membuat Daryan geram, dengan repleks ia menampar mantan kekasihnya itu.


Plak!


Anya sangat terkejut, ia menyeka pipinya dan menangis kembali.


“Kau menamparku?”


Namun, karena begitu kesal ia tidak sadar menampar Anya.


“Jangan mengatakan hal itu lagi kepadanya. Wanita ini adalah calon istriku!” jelas Daryan kepada Anya.


Hal tersebut semakin membuat hati Anya panas, tanpa berkata lagi ia segera meninggalkan ruangan Daryan.


Hah!


Daryan memejamkan matanya sejenak seraya menghembuskan napas panjang.


Ia juga masih memegangi tangan Freya begitu kuat.


Namun, seperti ada yang aneh. Wanita itu seperti tidak bergerak sama sekali. Lalu Daryan menoleh ke belakang, benar saja wajah Freya membiru dan tubuhnya seperti batu sangat kaku.


“Kau kenapa Freya?” tanya cemas Daryan.


Dengan cepat Clara membawakan Freya P3K yang ada di lemari Daryan.


Daryan memapang Freya untuk membawanya ke sofa empuk yang ada di ruang kerja CEO muda ini.

__ADS_1


“Sepertinya Nona Freya sedang mengalami syok berat, Pak,” jelas Clara kepada atasannya itu.


“Clara, tinggalkan saya berdua dengan Freya di sini. Terima kasih sebelumnya ya ...” pinta Daryan.


Clara mengangguk dan segera menuruti permintaan Daryan.


Dalam hati Clara bertanya, ‘Nona Freya adalah calon istri Pak Daryan?’


Freya masih memejamkan matanya, ia sengaja melakukan hal itu karena masih syok akan ucapan Daryan tadi yang mengatakan bahwa ia adalah calon istri pria tersebut.


‘Tidak! Tidak! Tuan Daryan mengatakan hal itu pasti karena ia ingin mengusaikan tindakan Nona Anya. Tidak mungkin ia bersungguh-sungguh, tapi raut wajahnya tadi begitu serius.’ Freya bermonolog.


Daryan mengompres tamparan Anya yang begitu keras sehingga membuat pipi Freya tampak merah.


“Aaww” teriak Freya lalu ia membuka matanya.


Tatapan mereka saling beradu, hal ini membuat Freya begitu gugup.


‘Mengapa mata Tuan Daryan begitu indah?’


“Freya apa kah kau tidak apa-apa?” tanya Daryan lembut.


Hitungan detik, Freya membalikkan badannya.


“Tuan, bisakah kau tidak memandangku dengan tatapan seperti itu?”


Pertanyaan Freya membuat pria ini tersenyum merekah, ia bahagia mendengar hal itu. “Memang kenapa? Apakah saya tidak boleh memandangmu seperti ini?” goda Daryan.


“Aku ingin bertanya kepadamu, Tuan. Apakah yang kau katakan tadi kepada Nona Anya benar?”


“Mengenai kau adalah calon istri saya?” Daryan balik bertanya.


Freya tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepada saja.


Heh!


Daryan memegangi dahinya, terlihat ia seperti begitu malu. Memang tidak ada yang lebih indah ketika sepasang manusia sedang jatuh cinta.


“Tentu saja benar!” jawab Daryan singkat.


Freya begitu terkejut, apa yang dikatakan Daryan pasti tidak benar. Ia membalikkan badan kembali, menatap mata Daryan.


“Kau berbohong kepadaku, Tuan Daryan.”


Daryan menggelengkan kepala pelan. “Hati saya telah memilihmu, Freya Burton!”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2