My Beloved CEO

My Beloved CEO
Kebohongan


__ADS_3

Freya mengernyitkan dahinya, ia masih belum paham akan jalan pemikiran pria ini.


Dengan senang hati Daryan membukakan pintu mobil untuk Freya.


“Silahkan, Freya. Masuklah.”


Daryan memberikan senyum manis, tapi menurut Freya, itu adalah senyum yang membuatnya takut.


‘Apakah dia memiliki motif lain?’ Freya membatin.


Wanita ini masih belum bisa sepenuhnya percaya kepada Daryan. Sewaktu-waktu mungkin saja Daryan akan bersikap kasar kepadanya lagi.


Ia terdiam, tanpa bersuara. Freya enggan berbicara, tapi sejak tadi Daryan meliriknya berulang kali.


“Tuan jika kau sedang berkendara, fokuslah. Jangan jelalatan melihat ke sana kemari,” celetuk Freya.


“Aku sedang tidak menyetir, kan sedang lampu merah. Dan Siapa bilang aku jelalatan? Aku sedang melihat wanita yang akan menjadi ibu dari Kelvin,” tegas Daryan.


Freya tidak sadar, jika ucapan Daryan untuknya. Ia menoleh pria itu dengan ekspresi wajah datar, dan ia kembali melihat ke luar jendela.


Ia mencari tahu siapa wanita yang dikatakan tuannya itu. Manik matanya menari melihat setiap wanita yang berada di pinggir jalan.


Freya melihat seseorang wanita yang sangat cantik, berpakain rapi. Sepertinya ia adalah pejabat yang sederhana.


Ia iseng menunjuk wanita itu, “Apakah wanita dengan style sederhana mengenakan kemeja putih dan rok coklat muda?” tanyanya polos melirik Daryan.


Hah!


Tidak memberi jawaban, Daryan malah menghela napas sembari menaikkan kedua alisnya.


‘Wanita ini memang pura-pura tidak tahu, atau memang tidak peka atau sengaja melakukannya!’ Daryan membatin.


Ia menekan pedal mobil, karena lampu sudah menunjuk warna hijau.


Freya memanyunkan bibirnya, karena ia merasa tidak dihiraukan Daryan. Ia kembali menghadap ke arah jendela.

__ADS_1


“Freya, aku ingin bertanya kepadamu,” ujar Daryan seraya tetap fokus ke depan tanpa melihat wanita yang membuatnya luluh itu.


Huum!


Putri dari Tuan Burton ini mengangguk pelan.


“Bertanyalah, aku akan menjawab sebisanya.”


“Jika benar aku adalah Ian, mau kan menikah denganku?”


Bola mata Daryan seperti berkaca-kaca, namun dia masih fokus ke depan.


Raut wajah Daryan membuat wanita ini sedikit takut.


“Maaf Tuan, aku masih belum yakin jika kau adalah Kak Ian. Karena kau sama sekali tidak memiliki bukti untuk membuktikan bahwa kau adalah dia. Mungkin kau tahu beberapa cerita itu dari seseorang atau mungkin saja, Kak Ian adalah teman akrabmu?” elak Freya masih belum percaya kepada Daryan.


Terdengar napas Daryan terhembus.


“Jika aku bisa membuktikannya, apakah kau mau melakukan itu?” Daryan tidak akan pernah menyerah sebelum Freya menjawab “iya” pertanyaannya.


Sikap itu yang sangat tidak disukai oleh Freya.


Seenaknya saja tanpa memikirkan perasaan orang lain!


“Kenapa kau terus mengatakan hal seperti ini, Tuan? Kenapa kau mengungkit hal yang tidak pasti, meski aku pernah mengucapkan kepadamu jika aku selama ini menunggu Kak Ian, tapi menurutku kita mustahil akan bertemu lagi ...”


“Semua itu tidak ada yang namanya mustahil!” potong Daryan.


“Jika aku dapat membuktikannya, seminggu lagi kita akan menikah. Dari besok aku akan menyewa gedung dan peralatannya, kau bersiap-siaplah,” suruh Daryan.


Freya mengepal tangannya sampai gemetaran, bibirnya digigit menggunakan gigi. Ingin rasanya ia memberikan hantaman ke wajah Daryan.


Tapi ia tidak ingin melakukan kekerasan, sekuat hati dan setegarnya ia menahan emosi.


Ia tetap tenang, karena semua itu mustahil. Freya sudah menganggap Ian telah lama meninggal dan pria itu hanyalah kenangan yang tidak bisa ia lupakan sampai kapanpun.

__ADS_1


“Sekarang aku yang akan melontarkan pertanyaan kepadamu, Tuan,” ujar Freya.


“Hmm, iya katakanlah.”


“Kenapa kau sangat ngebet menikah denganku?!” Freya meninggikan nada bicaranya, karena ia sangat kesal dengan Daryan.


Tersirat ada rautan yang membuat pipi Daryan meninggi, ia tersenyum.


Ia melirik sebentar ke arah Freya sebelum kembali mengemudi mobil mewahnya itu.


“Kenapa ekspresimu seperti itu? Bukankah kau senang Freya, bisa menikah denganku?”


“Siapa yang bilang jika aku senang! Aku ingin menikah dengan pria yang kucintai!” teriak Freya memperjelas Daryan.


Hehe!


Daryan meletakkan lengan kanannya di sisi jendela mobil sembari jarinya menutupi bibir.


“Pria itu adalah aku,” jawab Daryan sangat percaya diri.


“Tidak, bukan kau. Aku sedang menyukai seseorang!”


Ucapan itu membuat Daryan sampai menghentikan mobilnya dipinggir jalan, ia benar-benar syok dengan apa yang dilontarkan sang pujaan hati.


Manik matanya membesar, ekspresinya sangat takut bila tutur Freya benar.


Ia menyentuh lembut bahu wanita tersebut, “Katakan yang kau ucapkan tadi hanyalah kebohongan, Freya.”


‘Memang bohong!’ Freya bermonolog.


Ia sengaja melakukan ini, agar Daryan berhenti memintanya untuk menikah dengan pria itu.


“Aku sebenarnya sudah memiliki seorang kekasih!”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2