
Manik mata Freya membesar, ‘Dasar pria penjilat! Ia mengambil kesempatan di dalam kesempitan!’
Freya masih membungkam dan kini tangannya gemetaran, ketika mendengar perintah yang dilontarakan pria menyebalkan itu kepadanya.
Keringat dari sekujur tubuh Freya menetes dan wajahnya begitu pucat.
Melihat mangsanya terkaku dan seperti takut, Daryan malah tersenyum puas.
‘Rasakan! Dasar wanita menyebalkan kau, Freya! Mana mungkin kau mau melakukan itu kan?’ remeh Daryan sembari menaikkan alisanya.
Merasa begitu puas akan tantangannya yang tidak akan diiyakan oleh Freya, Daryan malah semakin menjadi-jadi.
Bibir tipisnya mendekati ke daun telinga wanita muda nan cantik itu, “Kita akan menikmatinya di malam ini juga.”
Netra mata Freya kembali membesar, tangannya repleks mengarah ke wajah Daryan karena tidak tahan dengan apa yang dilontarkan Daryan kepadanya.
Plak!
Tanpa sengaja karena jarak Daryan dan dirinya begitu dekat, ia menampar pipi tuan besarnya itu.
Hal ini sontak membuat Daryan murka, “Kau dasar wanita gila! Saya sudah begitu sabar menghadapimu!”
Lalu ia menjauhi Freya dengan wajah kesal dan menunjuk ke arah Anya, “Hari ini juga kau boleh meninggalkan kediaman saya, Anya!”
“Tidak! Anya tidak boleh kau pecat, Tuan Daryan!” teriak Freya kepada pria itu.
Daryan menoleh ke arah Freya, ia ingin mendengar kelanjutan apa yang akan dibicarakan oleh wanita muda tersebut.
“Baiklah! Baik, aku akan mematuhi perintahmu dan keinginanmu. Tapi aku mohon jangan pecat Anya dan berikan kesempatan kedua untuk ia bekerja di sini,” mohon Freya begitu tulus.
Apa yang ia katakan sudah direkam di memori ingatan tuan besar itu.
Hah!
Daryan benar-benar tercengang dengan keputusan dari wanita muda tersebut. Ia tidak bisa habis pikir, Freya rela menyerahkan kesuciannya demi menolong seseorang yang tidak ia kenal.
Pria itu berpura-pura melihatkan ekspresinya yang datar. Ia mengangguk pelan, “Oke baiklah. Anya, kau tidak jadi saya pecat dan kau bisa meninggalkan kamar saya sekarang juga. Namun, ingat jika kau melakukan kesalahan lagi, tidak segan-segan saya akan memecat tanpa memberikanmu kesempatan kembali!” tegas Daryan memalingkan pandangan.
Anya menunduk dan ia mengusap air mata yang mulai berhenti.
__ADS_1
“Terima kasih banyak Tuan Daryan,” ucapnya pelan.
“Kau tidak perlu berterima kasih kepada saya, berterima kasihlah kepada wanita itu.” Daryan mengangkat dagunya mengarah Freya.
Anya tidak bisa mengucapkan kata apa pun, ia melihat Freya dengan tulus dan segera memeluk wanita itu.
“Terima kasih banyak, Nona Freya. Jika bukan karena Nona, nasib saya mungkin sudah tidak karuan.”
Freya memberikan peluk kehangat kepada Anya, “Tidak Anya, kau tidak perlu mengatakan hal itu. Sudah kubilang kan, aku akan bertanggung jawab dengan segala hal yang terjadi. Lagi pula semua ini adalah salahku.”
Daryan hanya terdiam melihat pelayannya dan istri kontraknya berpelukan.
“Dasar wanita, mereka sangat dramatis sekali!” gumamnya yang kembali duduk di atas sofa.
Setelah berbincang sebentar, mereka saling melepas. Anya kembali menundukkan kepala dan membungkukkan badannya kepada Freya.
“Saya ucapkan terima kasih sekali lagi, Nona Freya.”
“Jangan menunduk seperti itu Anya,” suruh Freya memengangi bahu wanita muda itu.
Kemudian Anya pun melakukan hal tadi ke hadapan Daryan.
Daryan hanya mengangguk saja tanpa membalas ungkapan dari pelayannya itu.
Ketika Anya melangkah keluar, Freya juga ikut melangkahkan kakinya.
“Hey kau! Siapa suruh kau ikut dengan Anya. Saya bilang hanya Anya saja yang keluar, kau tetap di sini!” teriak Daryan kepada Freya.
Freya pun terkejut, ia segera menghentikan langkahnya.
Anya yang masih belum keluar melihat ke arah belakang, sedih rasanya gara-gara dirinya Freya terkena hukuman.
Seharusnya ia dapat membantu nonanya dari amukan tuan besarnya itu.
“Maafkan saya, Nona Freya,” bisik Anya kepada Freya.
Wanita ceria ini melemparkan senyum kepada Anya, sembari melambaikan tangannya. Seperti menyuruh Anya tidak perlu khawatir kepadanya.
“Sudah, cepat lah keluar Anya,” suruh Freya yang masih tersenyum.
__ADS_1
Setelah Anya benar-benar keluar dari kamar utama milik Daryan Jefferson.
Hah!
Freya menghela napas cukup kuat, ia tidak ingin seperti tadi yang memperlihatkan ketakutan terhadap pria dibencinya ini.
Dengan penuh percaya diri ia menghadap ke belakang, kini ia melihat Daryan dengan tatapan tajam.
Sudut bibir bagian kiri Daryan terangkat satu, sepertinya ia sangat tertarik dengan wanita yang tidak memiliki ketakutan kepadanya itu.
‘Baru kali pertama aku melihat wanita aneh seperti dia. Ini yang membuatku sungguh tertarik!’ Daryan bermonolog.
“Ada apa Tuan, bukannya urusan kita sudah selesai?” tanya Freya.
“Kau pikir masalahmu dengan saya sudah selesai, hah? Apa kau lupa dengan yang kau katakan tadi? Kau akan memberikan kesucianmu kepadaku?” pancing Daryan.
Mendengarkan hal itu saja Freya ingin pingsan, apalagi membayangkannya.
Ingin rasanya ia kabur dari ruangan indah, namun seperti neraka ini.
‘Bodoh kau Freya! Bodoh! Kenapa kau sampai menjatuhkan barang antik miliknya, dan harus berurusan dengan pria arogan ini,” gumamnya dalam hati seraya memejamkan matanya.
Daryan sungguh senang, seperti menang dari pertarungan sengit karena bisa melihat wajah ketakutan Freya yang begitu tampak nyata.
“Kenapa? Apa kau menyesal dengan apa yang kau setujui tadi?” pancing kembali Daryan memberikan kebimbangan kepada Freya.
Wanita ini membuka matanya, lalu menggelengkan kepala dan dengan tegas ia berkata, “Tidak! Aku tidak akan pernah menyesal menyetujui hal tadi, karena aku ingin Anya tetap bekerja di sini!”
‘Waah, hatinya mulia juga wanita ini.” Daryan sedikit memuji Freya dalam batinnya.
“Lalu kenapa kau seperti takut?”
“Bukan takut, aku hanya ...” jawab Freya bersekat. Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya itu.
“Hanya apa?”
“Hanya ...” Dia kembali tidak bisa berkata.
“Jawab saya sekarang juga, jika tidak kau harus melepas pakaianmu itu!” teriak Daryan.
__ADS_1
Bersambung.