My Beloved CEO

My Beloved CEO
Firasat Daryan


__ADS_3

Pernyataan Daryan membuat Freya sedikit terkejut, jadi selama ini yang ia asuh adalah keponakan bukan putranya sendiri.


“Maaf, aku baru memberitahumu kebenarannya,” ucap Daryan.


“Kenapa kau minta maaf? Kau tidak salah, Daryan. Terima kasih yaa karena sudah menceritakan hal yang mungkin tidak bisa kau ceritakan oleh sembarang orang,” jawab Freya tersenyum.


Hati yang membara karena api cemburu terhadap mantan kekasih Daryan mulai reda. Dari manik mata pria itu memang tersirat ketulusan, ia tidak ingin berlagak seperti anak muda yang baru kasmaran lagi.


Ia tidak tahu akan kesulitan hidup yang Daryan jalankan, kedua orangnya sudah tidak ada dan kini ia harus menjalankan menjadi seorang ayah untuk keponakannya.


Sampai di rumah sakit, Daryan menggangdeng tangan Freya. Ia ingin memberitahu kepada seluruh dunia bahwa wanita yang ada di sampingnya ini adalah calon istrinya.


Dokter ahli dan para medis menundukkan kepala kepada pemilik rumah sakit ini.


Daryan menemui seorang Profesor Dokter yang diberikan kepercayaan untuk merawat Alesya.


“Freya kita ke ruang Dokter Steve dulu ya, Beliau adalah penanggung jawab untuk segala perawatan Ibundamu,” jelas Daryan sembari menggandengan tangan Freya menuju ruang khusus itu.


Tok! Tok!


“Iyaa silahkan masuk,” suara pria begitu lembut terdengar dari dalam ruangan.

__ADS_1


Pria yang rambutnya hampir semua memutih itu berdiri dari kursinya, ia menundukkan kepala kepada Daryan.


“Tuan Daryan, kau di sini? Apakah ada yang perlu saya bantu?”


Daryan tersenyum, pria ini sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri. Perilakunya sangat mirip dengan mendiang sang ayah.


“Bagaimana kabar Anda, Profesor? Saya harap kau selalu sehat,” ucap Daryan tulus.


“Tentu saja sehat, Tuan Daryan. Oh Iya apakah ada yang perlu saya bantu?” tanya Steve kembali, ini kali pertama Daryan tidak menghubungi Profesor itu terlebih dahulu.


Daryan menggangguk, segera memberitahu tujuan utamanya kemari.


“Profesor, bagaimana keadaan Nyonya Alesya? Apakah Beliau kondisinya semakin membaik?” tanya Daryan diiringi lirikannya ke arah Freya yang terlihat cemas.


Setelah berbincang sebentar, Profesor Steve mengantar Daryan dan Freya ke ruang khusus untuk Alesya.


Di dalam ranjang pasien, Alesya masih tertidur. Freya mendekati ibunya dan segera mencium punggung tangan sang ibu.


“Bu, maafkan Freya baru sempat menjenguk Ibu lagi. Freya janji akan menjenguk Ibu sesering mungkin ya,” lirih wanita ini meneteskan air mata begitu haru.


Daryan mengusap kepala Freya. Ia tersenyum tipis.

__ADS_1


Profesor Steve izin keluar karena Beliau ada kerjaan yang harus diselesaikan hari ini.


Freya mengganti bunga yang sudah layu pada vas di meja dekat brankar Alesya. Sedangkan Daryan berdiri tepat di jendela kaca yang dari sana ia bisa melihat keindahan kota.


Ia seperti memikirkan sesuatu, Freya yang melihat hal itu mendekati Daryan.


“Apa yang telah kau pikirkan Daryan?”


Mendengar suara lembut dari wanita yang sangat ia cintai, ia tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


“Tidak Freya, aku tidak memikirkan apa pun. Hanya sedikit urusan pekerjaan saja,” jawab Daryan yang tentu saja adalah kebohongan.


Daryan berpikir, pastinya Anya tidak akan tinggal diam untuk menghancurkan kebahagiaannya bersama Freya.


Tapi Daryan juga bingung dengan anak yang dikandung Anya, ia tidak ingin menyakiti benih manusia yang ada di rahim seseorang. Ia bisa saja segera mengusir Anya, namun ia juga harus memikirkan nasib anak yang dikandungnya.


“Aku mohon kepadamu, Daryan. Apa pun yang sedang melanda dan mengundahkan hatimu, ceritakan saja kepadaku. Aku tidak ingin merasa terbebani sendirian. Bukankah aku akan menjadi separuh jiwamu sebentar lagi? Apakah ada keraguan untuk menceritakan hal yang mesti aku ketahui juga?”


Mendengar tutur dari Freya, membuat Daryan sangat lega. Ternyata wanita ini ingin masalah yang dihadapkan olehnya juga bisa dirasakan calon istrinya.


Ia menatap lembut manik mata Freya, lalu mengusap ujung kepada wanita yang memiliki senyum indah itu.

__ADS_1


“Sebenarnya aku sangat khawatir mengenai tindakanku yang kurang tegas kepada Anya. Aku takut ia menyelakaimu Freya!”


Bersambung.


__ADS_2