My Beloved CEO

My Beloved CEO
Kecerobohan


__ADS_3

Kelvin mengajak Freya untuk bermain di taman belakang, sekadar mencari kupu-kupu.


Freya dengan senang hati menerima ajakan dari murid kesayangannya ini. Namun, sebelumnya Oh Hana memerintahkan Anya, seorang pelayan muda yang bertugas mengurus Tuan Muda Jefferson untuk membasuh diri.


Tok! Tok!


“Permisi Tuan Muda dan Nona, saya atas perintah pelayan Oh akan memandikan Tuan Kelvin terlebih dahulu.”


Dengan cepat Freya berlari menuju pintu, ia membukakan pintu tersebut.


“Silahkan masuk, Nona” ucap ramah Freya Burton.


Anya masih saja membungkuk dan menunduk, dengan penuh kehormatan dia berkata, “Mohon maaf Nona Freya, tolong jangan menyebut saya dengan sebutan Nona. Panggil saja saya Anya.”


Freya menggaruk-garuk kepala dan mengangguk, “Iyaa, maaf.”


Pelayan muda itu tersenyum begitu manis. Freya terkejut ketika melihat wajah pelayan itu, ia terkagum.


“Waah, cantik sekali.”


Dengan lembut Anya berkata kepada Kelvin, “Tuan Kelvin, sudah waktunya Tuan mandi.”


Kelvin mengkerutkan dahinya, ia menggeleng, “Tidak! Evin tidak ingin mandi.”


Melihat hal itu, Freya membujuk anak lelaki yang kini menjadi putranya.


“Kelvin Sayang, kenapa tidak mau mandi? Di sekolah kan diajarkan kalau Kelvin dan teman-teman semua harus rajin mandi agar kuman-kuman yang ada di tubuh tidak menempel. Jika kumam menempel, maka apa yang terjadi?” tanya Freya dengan suara lembutnya.


“Cakit, Bu Eya.”


“Nah, betul. Jadi Kelvin harus mandi ya, Sayang.”


Kelvin hanya menunduk saja. Freya merasa harus kembali menghibur putranya ini.


“Kalau begitu, Ibu Eya yang akan memandikan Kelvin, bagaimana?” tawar wanita cantik tersebut.


Kelvin segera menoleh ke arah Freya, seketika sakitnya demam tiba-tiba sembuh dan ia mengangkat tangan begitu bahagia.


“Horee!”


Freya melihat Anya, “Aku akan memandikan, Kelvin. Di mana kamar mandinya ya?”


“Saya akan mengantar Anda, Nona Freya. Mari ikuti saya,” ajak Anya sopan.


Freya mengengdong Kelvin. Sepanjang jalan, Freya disuguhi dengan keindahan dan kemewahan kediaman Daryan.


Sejak tadi ia tidak bisa menutup mulutnya karena berdecak kagum dengan barang-barang dan furniture bergaya klasik.


Waah!


Baru kali pertama ia berada di tempat seperti ini, ‘Ternyata istana seperti dongeng di cerita disney, memang benar ada!’


Guci-guci besar yang terbuat dari emas dan perak menambah Freya terkejut. Bukan bahannya yang wanita ini kagumi, namun bentuk serta keunikannya membuat Freya penasaran.

__ADS_1


Wanita yang begitu polos ini pun bertanya, “Anya, apakah guci ini memang terbuat dari emas asli? Bentuknya benar-benar unik sekali.”


Anya menoleh ke belakang, ia tersenyum dan mengangguk.


“Iya benar sekali, Nona Freya. Guci tersebut terbuat dari emas dan perak asli. Semua guci unik ini dibuat langsung oleh para pengrajin keramik dari desa Sakok, Singkawang, China. Tuan Daryan mengundang 100 orang untuk mengerjakan kerajinan berupa guci waktu itu,” jelas Anya membuat Freya mengangguk pelan.


Mereka pun melanjutkan perjalanan, kali ini Freya di buat kagum kembali. Ia melihat seperti gapura dan di tengahnya ada banyak pahatan lukisan yang dikerjakan sangat detail.


Waah!


“Indah sekali,” puji Freya sambil memegangi gapura yang dipahat indah sedemikian rupa.


Anya kembali menoleh, ia pun menjelaskan.


“Ini disebut dengan kawasan suci, Nona Freya. Karena Tuan Daryan tidak memperbolehkan orang sembarangan masuk.”


Namun karena penasaran, Freya ingin melihat saja meskipun dari luar.


Anya memberikan kesempatan kepda nonanya untuk melihat ukiran itu dari luar.


“Kak Anya, ayo ke dalam besama Ibu Eya,” ajak Kelvin.


“Tapi Tuan Kelvin, Tuan Daryan akan marah besar jika mengetahui saya mengizinkan seseorang masuk kemari,” ucap Anya kepada putra tunggal Daryan.


Huum!


Kelvin menggelengkan kepala begitu menggemaskan sembari memayunkan bibirnya.


Ucapan Kelvin sangat percaya diri, karena ia yakin Daryan tidak akan pernah memarahinya. Mengenai dirinya akan meminta ayahnya untuk mengizinkan Freya masuk ke dalam.


Dengan terpaksa Anya menuruti perintah Tuan Mudanya dan memberikan kesempatan untuk Freya berjalan lebih dulu.


Sebetulnya, Anya juga belum pernah masuk ke dalam gapura ini. Di dalam benar-benar begitu indah, seperti surga.


Semua temboknya diukir begitu detail. Ada ukiran yang seperti mengisahkan bidadari yang mandi di sebuah perairan dan ada pria berusaha mengambil salah satu selendang.


Freya mencoba menyentuh timbulan dari ukiran di tembok, “Sungguh indah sekali,” kagumnya.


“Kalau seni ukir ini, apakah Tuan Daryan juga mengundang orang ahli?” tanya Freya sembari melihat-lihat ukiran dan pahatan di sisi ruangan.


Anya kembali mengangguk.


“Benar sekali, Nona Freya. Tapi waktu itu saya belum bekerja di sini, kata pelayan Oh, Tuan Daryan mendatangi langsung para seniman ternama dari Bali.”


Bola mata Freya membesar, karena terkejut mendengar nama daerah yang sangat ia datangi seumur hidupnya.


“Bali?”


Terlalu bahagia, Freya melompat kecil dan ia tidak sengaja menyenggol sesuatu.


Piang!


Ukiran patung yang sangat bernilai harganya terjatuh, dan membuat retakan patung itu berserakan.

__ADS_1


Anya, Kelvin, dan Freya terkejut.


Pelayan muda itu hanya bisa menutup mulut dan ingin menangis.


Ia segera bertindak cepat untuk membereskan serpihan patung yang sangat berarti bagi Daryan.


Freya pun juga bergegas, “Maafkan aku, Anya. Karena kecerobohanku ini, tapi kau tidak perlu khawatir ya. Aku akan mengatakan hal sejujurnya kepada Tuan Daryan.”


Anya hanya menggelengkan kepala, “Tidak Nona Freya, ini semua salah saya. Saya patut dihukum dengan Tuan Daryan.”


“Tidak! Aku yang salah, Anya. Aku akan meyakinkan kepada pria itu!” tegasnya sambil memegangi bahu wanita muda tersebut.


Manik Anya berkaca-kaca, karena ia takut dipecat oleh Daryan.


“Jangan menangis Anya, aku janji akan membantumu.” Freya memeluk gadis itu dengan hangat.


Kelvin yang ada di sana juga berkata, “Kak Anya, jangan nangis ya. Evin juga akan bicala dengan Papa.”


Anak kecil itu juga memeluk Freya dan Anya.


Freya dan Anya memutuskan untuk menyembunyikan patung yang pecah itu di belakang lemari.


Mereka harap Daryan tidak akan sadar dengan salah satu patung yang pecah itu, karena dalam ruangan ini ada puluhan karya seni yang memiliki keunikan masing-masing.


“Semuanya beres,” ungkap Freya seraya membersihkan kedua tangannya yang kotor.


‘Dia tidak akan hapal dengan patung yang jatuh itu, secara hampir ada puluhan karya seni indah di sini. Semuanya akan baik-baik saja.” Freya bermonolog begitu percaya diri.


Kemudian, mereka segera menjalankan tujuan utama untuk memandikan Kelvin.


Sore harinya, Kelvin masih bermain di taman dengan Freya dan sejumlah pelayan lainnya.


Namun, tiba-tiba mobil Daryan muncul.


Ia disambut dengan Oh Hana begitu ramah, “Selamat datang Tuan Daryan, saya sangat senang Anda tidak jadi lembur hari ini.”


Daryan menerima sambutan Hana, sembari berusaha melonggarkan dasi yang ingin menyecek lehernya.


“Hari ini klien tidak jadi menemui Saya. Sepertinya mereka besok akan ke kantor,” jelas Daryan dan segera masuk.


Hana yang masih mengekorinya menunduk.


“Di mana Kelvin dan wanita itu?”


“Tuan Kelvin dan Nona Freya ada di taman bunga, Tuan,” jawab Hana.


Tanpa bertanya lagi, Daryan menuju ke lantai dua. Seperti biasa, ia selalu menyempatkan kekawasan suci. Menurutnya ruangan itu memberikan ia ketenangan lahir dan batin.


Glek!


“Pelayan Oh, cepat kemari!”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2