My Beloved CEO

My Beloved CEO
Memberikan Kesucian


__ADS_3

Deg!


‘Kenapa aku merasa tidak enak? Apakah akan ada sesuatu yang terjadi?’ ucap Freya sambil memegangi dadanya.


“Ibu Eya, kenapa?” tanya Kelvin yang mendapati ibu gurunya melamun.


Freya merasa akan ada sesuatu hal besar menimpanya, entah apa itu.


Namun, wanita ceria ini segera menepis dan membuyarkan perasaan yang tidak ada pastinya. Ia kembali melangkah sembari melihat-lihat bunga.


Heem!


Freya mencium aroma bunga gardenia jasminoides yang memiliki wangi semerbak.


Selain menyukai hal klasik dan barang-barang antik. Daryan juga sangat menyukai tanaman hias, berupa bunga dan tumbuhan lainnya.


Bunga dari berbagia negara hampir Daryan miliki!


Wanita ini menatap langit yang begitu menawan. “Kelvin, coba lihat warna langitnya sangat indah.”


Freya menunjukkan kepada Kelvin, sembari mengajari anak muridnya untuk menghapal warna.


Namun, tiba-tiba ada pelayan yang memanggil Freya dengan tergesa-gesa.


Pelayan tersebut menundukkan kepala memberi hormat kepada gadis manis yang ada dihadapannya, “Nona Freya, mohon maaf mengganggu kegiatan Anda. Saya diperintahkan pleh pelayan Oh untuk segera memanggil Anda, Tu-an Da-ryan ... Tuan Da-ryan ...”


Ketika menyebut nama tuan besarnya, pelayan muda itu seperti tergagap. Ia tidak kuasa menyebut nama seseorang yang sangat berkuasa di kediaman ini.


“Kenapa? Ada apa?” Freya bingung dengan gelagat pelayan itu.


Ia menunjuk ke arah dalam, “Nona Freya, Anda diperintahkan Tuan Daryan untuk ke kamarnya.”


Melihat wanita muda itu seperti habis melihat hantu. Freya pun menarik napas berlahan.


‘Apa yang akan terjadi? Apakah perasaan tidak enak ini berasal dari pria kasar itu?’ tanya Freya dalam hati.


Apa pun yang akan terjadi, Freya akan tetap menghadapinya.


Pada saat Freya mengikuti pelayan muda tersebut, Kelvin merasa keberatan.


“Evin ikut ....” ucapnya penuh manja.


Freya melihat pelayan muda itu, ia seperti bertanya apakah Kelvin boleh ikut?


“Maaf Tuan Kelvin, Tuan Daryan tidak mengizinkan Anda untuk ikut,” jelas pelayan muda tersebut yang sejak tadi tangannya tidak diam-diam diletakkan di dada.


Manik mata Kelvin berkaca-kaca, sebentar lagi ia akan menangis. Kelvin memang sangat sensitif bila ia dijauhkan dari Freya.


Intinya ia selalu ingin berada di sisi ibu guru yang sangat disayanginya.

__ADS_1


Freya tersenyum, ia mengusap-usap kelapa Kelvin dengan lembut.


Hanya Daryan dan Freya lah yang berani mengusap kelapa Kelvin dengan leluasa.


Wanita cantik ini tersenyum sembari memperlihatkan giginya, “Kelvin, jangan nangis ya. Setelah Ibu Eya berbicara dengan Papamu. Ibu janji akan menemui Kelvin lagi.”


Freya menjulurkan jari kelingking yang berarti mereka sedang melakukan berjanjian.


Huu’um!


Kelvin mengangguk dan bibirnya masih mayun. Padahal ia tidak ingin dipisahkan oleh Freya.


Wanita ini terus menoleh ke belakang, melambaikan tangan ke arah Kelvin.


“Ibu Eya sayang Kelvin.” Beberapa kali ia membuat tanda love menggunakan kedua tangannya kepada putra sulung Daryan.


Sampainya di depan kamar Daryan, semua pelayan yang berjejer dari sudut lorong menunduk dan tampaknya mereka sedang ketakutan.


Freya menyempitkan matanya, ‘Apa yang sedang terjadi? Kenapa wajah mereka begitu tegang?’


Tiba-tiba di hadapannya muncul Anya dengan wajah yang begitu serius.


“Kau juga dipanggil dengan Tuan Daryan, Anya?” tanya Freya sedikit terkejut.


Anya hanya menunduk, matanya berkaca-kaca dan ingin menangis.


“Iya, Nona Freya.”


Wanita ini segera mengangguk atas ucapan Hana, dan ia melangkahkan kaki ke dalam bersamaan dengan Anya.


Daryan menunggu di sofa yang ada di dekat kasurnya.


Dengan tatapan tajam, kaki disilang dan kemeja dibuka setengah sehingga melihatkan otot padatnya. Hal ini membuat pria dingin itu terlihat sangar.


Daryan menaikkan salah satu alisnya menatap dengan penuh kesal mengarah Anya dan Freya.


“Pelayan Anya, apakah kau sudah tahu aturan bekerja di sini?” tanya Daryan dengan suara seraknya.


Anya menunduk, kedua tangannya di letakkan sejajar di dada.


“Ta-hu Tuan Daryan,” jawab Anya gagap.


Freya menoleh ke arah kiri, melihat tangan dan kaki Anya gemetaran.


‘Apa yang ditakuti dari pria arogan ini?’ celetuk Freya membatin.


Kemudian ia kembali melihat Daryan. Pria itu kini menatap Freya dengan begitu sinis.


Namun, sejak awal pertama bertemu dengan Daryan, Freya sama sekali tidak pernah takut dengan pria arogan tersebut.

__ADS_1


Menurut Freya, Daryan hanya manusia yang sama-sama memakan roti, nasi, daging dll.


“Kau!” Tunjuk Daryan begitu menyeramkan.


“Aku? Kenapa denganku?” Freya balik tanya dengan menunjuk dirinya sendiri.


Freya tampak tenang dan santai, jauh berbeda dengan Anya yang sejak tadi gemetaran diajak bicara dengan Daryan.


“Anya, apakah benar wanita ini memaksa kau untuk memasuki kawasan suci saya?!” teriak Daryan, ingin penjelasan.


Tiba-tiba Anya meneteskan air mata, karena ia takut akan bentakan Daryan seperti binatang buas yang ingin menerkam.


Anya berlutut, sambil meletakkan tangannya sejajar dengan kepala, “Maafkan saya Tuan Daryan. Ini salah saya bukan salah Nona Freya.”


Melihat hal itu Freya berusaha membangunkan Anya.


“Anya, ayo bangun. Kau tidak perlu melakukan hal ini. Dia bukan lah dewa yang harus kau puja,” bisik Freya.


“Apa pun penjelasanmu kau tetap salah, Anya. Sebelum bekerja di sini kau sudah tahu kan aturannya, mana yang tidak boleh dilakukan dan yang boleh! Saat ini juga kau saya pecat! Pergi dari kediaman saya!”


Suara Daryan bergema hingga penjuru istana ini.


Anya memohon kepada Daryan untuk diberikan kesempatan, “Tuan saya tahu, saya salah. Namun, saya mohon kepadamu Tuan, berikan saya kesempatan sekali lagi. Hanya hanyalah anak desa yang harus menghidupi ayah dan anak-anak saya yang masih bersekolah,” lirih Anya sembari menangis.


Hah!


Freya mengela napas, ia beranjak dan mendekati Daryan. Ia menatap tajam pria itu sebelum mengeluarkan unek-uneknya.


“Seharusnya kau mendengar penjelasannya terlebih dahulu, Tuan Daryan! Tidak sepantasnya kau memecat Anya seenakmu saja! Dia hanya mengantarku dan aku lah yang salah!” jelas Freya.


Anya menggelengkan kepala, “Tidak, Tuan Daryan saya yang salah.”


Freya mendekati Anya, menyuruhnya untuk bangkit dan memegangi bahunya lembut.


“Sudah Anya, jangan ditutupi lagi. Kau sama sekali tidak salah, sudah kukatakan denganmu aku akan bertanggung jawab,” tutur Freya.


Daryan tersenyum licik, “Jadi apa maumu, Freya?”


“Aku mohon kepadamu, Tuan Daryan. Jangan pecat Anya dan berikan ia kesempatan bekerja di sini,” ucap Freya begitu tulus untuk memperjuangkan hak pelayan muda itu.


“Harus ada jaminan jika aku memberikan Anya kesempatan kedua untuk bekerja di sini,” ucap Daryan remeh.


“Maksud Anda?” Freya tidak mengerti dengan ucapan Daryan tadi.


Daryan beranjak dari duduk santainya, kemuadian mendekati Freya lalu menyondongkan tubuhnya.


“Apakah kau tahu patung itu sangat berharga bagiku, bahkan kau tidak bisa membayar dengan apa pun!”


“Jika kau ingin Anya kembali bekerja, kau harus bertanggung jawab dan memberikan kesucianmu itu kepadaku!”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2