
Freya mengkerutkan dahinya.
Mustahil ia akan mengatakan “iya” dengan pertanyaan Daryan tadi.
Yang jelas Freya tidak ingin hidup dengan pria kasar dan menyebalkan seperti pria ini.
“Aahh, ternyata kau pintar membuat lelucon juga yaa, Tuan.” Freya memukul pelan bahu pria tersebut sembari tersenyum lebar, ia pikir semua yang dikatakan Daryan hanya guraun saja.
Srrek!
Daryan memegang erat pergelangan tangan Freya dan menatap serius bola mata indah cinta pertamnya, yang kini tumbuh sebagai seorang wanita cantik.
“Semua yang kukatakan tadi benar adanya, Yaya!”
Yaya?
Manik mata Freya membesar, ia tidak menyangka dipanggil dengan sebutan itu lagi dengan seseorang.
Sorot mata Freya tajam.
“Dari mana kau tahu nama kecilku?”
“Apakah benar selama ini kau adalah penguntit? Dari awal bertemu denganmu, aku sudah sangat curiga karena setiap kali aku melihat wajahmu kau mirip seseorang yang sangat kusayangi, setelah ayah!” Freya bangkit dari ranjang pasien, kini posisinya duduk.
Sebenarnya Freya lebih dekat dengan Alexander Burton, yang merupakan sang ayah dibanding Alesya Barker, sang ibu.
Namun, semenjak kejadian Burton meninggalkan putri kecilnya dan sang istri, membuat Freya tumbuh akan dendam terhadap seorang pria.
Sama sekali ia tidak pernah dekat dengan pria manapun, ia hanya trauma ditinggal lagi dengan orang di sayang seperti Burton dan Ian.
“Memang siapa yang kau sayangi, setelah Tuan Burton?”
Hal ini membuat Freya kembali terkejut.
__ADS_1
“Dari mana kau tahu marga ayahku?” tanya Freya penasaran.
Hah!
Disituasi serius seperti ini, Freya masih saja begitu alim dan polos. Daryan hanya bisa menghela napas melihat keluguan wanita ini.
“Sejak dulu otakmu tidak ada perubahan sama sekali yaa, tetap saja lemot!” celetuk Daryan kepada wanita yang tengah memasang wajah serius itu.
Seketika wajah Freya berubah.
‘Apa maksudnya?’ tanyanya dalam hati.
“Coba kau pikir Freya, nama margamu adalah Burton. Secara otomatis, nama ayahmu Tuan Burton bukan?” jelas Daryan seperti mengajarkan anak sekolah dasar.
Dengan santainya, Freya malah mengangguk dan mengiyakan penjelasan dari CEO muda itu.
Namun, Freya kembali menatap tajam pria yang kini menjadi suami kontraknya.
Ia masih sangat penasaran dengan apa yang disebutkan dan dimaksud Daryan tadi.
Daryan tidak menjawab, ia sengaja melakukan hal itu agar menambah rasa penasaran Freya.
Pemilik Royal Hospital ini berucap, “Kau sudah cukup banyak bertanya, sekarang giliranku!
Lagi-lagi Daryan membuat Freya kesal.
“Iya, aku sudah bertanya tadi, tapi kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, malah kau selalu balik bertanya!” bentak Freya.
Wanita ini mengalihkan padangannya sembari bergumam, “Dasar pria egois, ia selalu memerintah seseorang sesuka hati!”
Tanpa sadar gumaman Freya di dengar jelas oleh Daryan, hal ini membuat pria tampan itu tersenyum lebar.
Daryan memperoleh senyum tulusnya kembali setelah sekian lama. Menurut pria yang bisa dikatakan tidak kekurangan apa pun ini, menerima dan memberikan cinta adalah segalanya bagi Daryan, dibanding kekuasaan yang ia terima kini dari mendiang kedua orang tuanya.
__ADS_1
Pria berusia 27 tahun ini merasa kembali ke dirinya sendiri, di mana ia bisa merasakan hangatnya sebuah ketulusan dari seseorang.
“Sekarang aku yang akan melontarkan pertanyaan kepadamu. Kenapa pada saat gempa melanda Kota New York, kau tidak ada kabar sama sekali?”
“Bukannya tidak ada kabar waktu itu, aku jatuh pingsan dan entah aku tidak ingat apa pun. Setelah sadar, aku sudah dirawat di rumah sakit yang berada di London. Kata ibuku, aku koma selama 6 bulan,” jelas Freya meneteskan air mata.
Setiap kali ia mengingat kejadian tersebut, hati wanita ini terasa teriris. Setelah bangun dari komanya, ia malah mendapat kabar buruk bahwa pria yang sangat ia sayangi memilih menikah dengan seorang wanita kaya raya. Burton memutuskan meninggalkan Freya dan sang istri.
Tangisan Alesya pecah saat itu, Freya kecil pun berjanji tidak akan percaya lagi kepada setiap pria, meski dengan sang ayah sekalipun.
Daryan tidak banyak bertanya, ia seperti tahu kesulitan yang dialami Freya sangatlah berat.
Tanpa sadar, tangannya seperti bergerak ingin mengusap air mata kesedihan yang membasahi pipi wanita cantik ini.
“Jangan menangis aku mohon. Hatiku sangat sakit ketika melihat kau seperti ini,” lirih Daryan.
Masih menjadi pertanyaan dalam hati Freya, mengenai siapakah sebenarnya pria yang ada di hadapannya.
“Apakah sesungguhnya kau adalah Kak Ian, Tuan?”
Sontak pertanyaan dari Freya membuat Daryan terpaku, tiba-tiba ia meneteskan air matanya.
‘Kenapa begitu cepat ia menyadari bahwa aku adalah Ian?’ Daryan bermonolog.
“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya balik ayah dari Kelvin ini.
Freya menundukkan kepalanya bersamaan dengan menggelengkan pelan.
“Tidak, lupakan saja tuturku tadi. Aku mungkin hanya terbawa suasana saja, karena aku sangat merindukan sosok cinta pertamaku.”
“Seperti janjiku dulu, aku pernah mengatakan kepada Papa. Jika aku akan menikahi cinta pertamaku yang bernama Yaya, dan itu kau Freya!”
“Apa? Jadi benar kau adalah Kak Ian?”
__ADS_1
Bersambung.