My Beloved CEO

My Beloved CEO
Cinta Pertama


__ADS_3

Manik mata Freya membesar. Bulu kuduknya merinding ketika mendengar apa yang dikatakan pria tersebut.


Apakah ini hanyalah sebuah mimpi atau lamunannya saja? Tidak mungkin pria arogan layaknya Daryan dengan mudah mengatakan hal lembut seperti itu kepada Freya!


“Tidak!” Freya berteriak.


“Hey, apakah kau sudah bangun?” tanya Daryan khawatir.


Benar saja, apa yang dibicarakan Daryan tadi hanya lamunan semata gadis cantik ini.


Hah!


Freya menghembuskan napas panjang, ia begitu bahagia dengan kenyataan bahwa Daryan tidak bersungguh-sungguh mengucapkan hal tadi.


Wanita ini beranjak dari sofa, kini ia sedang duduk. Kepalanya begitu pusing.


“Freya minumlah ini.” Daryan memberi istri kontraknya itu segelas air putih.


Wanita ini mengambil gelas tersebut, lalu meneguknya.


“Freya, maafkan saya ya karena saya, kau mendapatkan tamparan keras dari mantan kekasih saya,” ujar Daryan dengan mata yang begitu sayu.


Kali ini, Freya bukannya malah kesal atau benci dengan perbuatan kasar Daryan tadi kepada Anya.


Freya bahkan begitu iba, ternyata selama ini ketika rasa kesalnya menjadi dendam mengenai pertemuan pertama mereka di pusat belanja, tidak lah benar. Ia membenci seorang pria yang baru saja dikhianati oleh kekasihnya.


“Tidak Tuan, kau jangan minta maaf kepadaku. Aku lah yang salah karena ikut campur masalahmu,” jelas Freya sembari menunduk malu kepada Daryan.


Pria yang selama ini ia benci, tidaklah begitu buruk.


Karena masih penasaran, Freya kembali bertanya tentang hal tadi.


“Tuan Daryan, aku ingin bertanya masalah calon istri yang tadi kau katakan kepada Nona Anya. Apakah ...?”


Hu’um!


“Memang ada apa, apakah ada yang salah mengenai penuturan saya terkait hal itu kepada Anya? Kau tidak ingin menjadi istriku?”

__ADS_1


Gelagat angkuh dan cuek Daryan kembali terlihat. Ia mengangkat dagunya sembari menatap tajam Freya.


Wanita ini memalingkan pandangan, entah mengapa semenjak Daryan melontarkan kata itu jantung Freya berdebar kencang sejak tadi.


Freya masih belum percaya dan bersikeras mengenai perasaannya kini terhadapa pria tersebut, bahwa semua itu hanyalah rasa yang timbul sementara.


Tidak mungkin dia mencintai Daryan!


Ingin hal pasti, Freya kembali memberanikan diri untuk bertanya.


“Maksud Anda bagaimana ya, Tuan Daryan? Bukankah aku hanya ibu pengganti bagi Kelvin?”


Daryan mengangguk dan menyandarkan tubuhnya di sofa.


“Iya benar, tapi kau masih ingat syarat yang tertulis itu? Segala perintah saya harus kau turuti!”


Baru saja menilai Daryan adalah pria yang baik dan tidak seburuk pemikirannya. Kini semua asumsi itu hilang, Daryan tetap lah Daryan. Pria yang sangat menyebalkan dan ia selalu berbuat seenaknya!


“Apakah kau pikir aku ini boneka, Tuan? Apakah kau tahu arti dari pernikahan? Pernikahan adalah sesuatu hal sakral yang menyatukan dua jiwa manusia menjadi satu, dan mereka memiliki arah tujuan hidup yang sama,” jelas Freya.


Heh!


Daryan tersenyum tipis. Lantas ia bertanya, “Jadi hanya itu pemahamanmu akan pernikahan?”


Freya menggangguk. “Iyaa, maka dari itu pernikahan bukanlah permainan semata. Mengakui wanita sebagai calon istri yang bahkan tidak memiliki perasaan kepadamu,” jelas Freya sembari menatap sinis Daryan.


Haha!


Daryan tertawa kecil.


“Kenapa kau malah tertawa, Tuan?” Freya sangat heran dengan tingkah Daryan.


Lalu Daryan melontarkan perkataan, “Pernikahan juga bisa terlaksana secara paksa bukan? Mereka akan dipertemukan dalam kondisi yang tepat dan di hati mereka akan timbul perasaan aneh.”


Pria ini menyondongkan tubuhnya, menatap bibir Freya dengan mata berkabut.


“Apakah kau tahu Freya? Perasaan manusia itu mudah berubah! Lihat saja, saya akan membuat perasaanmu itu mengalih kepada saya!” ucap Daryan begitu percaya diri.

__ADS_1


Freya memejamkan matanya, lalu ia berteriak, “Tapi aku tidak menyukaimu, Tuan! Aku menyukai cinta pertamaku yang sampai sekarang masih aku cari keberadaannya!”


‘Cinta pertama?’


Daryan tersenyum melihat kepolosan Freya.


“Kau masih percaya dengan cinta pertama?” tanya Daryan.


“Iya aku sangat percaya, bahkan setelah kejadian itu aku tidak bertemu dengannya lagi. Entah mengapa, ia seperti sosok pangeran yang selalu menjagaku dari anak-anak lelaki usil. Ia tampak berbeda, Tuan.”


Hah!


‘Sebenarnya aku juga sangat mempercayai cinta pertamaku, tapi sayang ia sudah bahagia bersama Tuhan saat ini.’ Daryan membatin.


Tanpa sadar ia meneteskan air mata.


Freya bingung dengan Daryan. ‘Sepertinya pria ini memang mengidap sakit jiwa, tiba-tiba baik lalu arogan lagi, setelah itu menangis tanpa sebab. Dasar pria aneh!” celetuk Freya dalam hatinya.


Wanita ini memilih untuk tidak bertanya, ia hanya terdiam dan memalingkan pandangan.


“Jika cinta pertamamu sudah meninggal dunia, apa yang kau lakukan?” Daryan bertanya sembari menoleh melihat Freya.


Ibu pengganti Kelvin tidak bisa langsung menjawab, ia bahkan tidak sanggup bila cinta pertama yang selama ini ia tunggu sudah menghadap kepada Yang Kuasa.


“Kenapa kau diam?” Daryan penasaran dengan apa yang akan di jawab oleh Freya.


“Mengapa Tuan menanyakan hal ini? Apakah Tuan percaya dengan cinta pertama juga? Atau mungkin dia telah ...”


“Iya dia telah berpulang, padahal ia adalah cinta pertamaku pada saat SMP,” jawab Daryan sebelum mendengar pembicaraan Freya.


“Memang siapa nama cinta pertamamu, Tuan?”


“Namanya Yaya ...”


‘Yaya? Mengapa sama dengan nama panggilanku pada saat tinggal di New York?’


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2