
Hmm!
“Pak, kita putar balik ya. Karena ponsel saya kelupaan di kamar,” pinta Daryan kepada supirnya.
“Baik Tuan.”
Ia mengkerutkan dahi, seperti ada yang dipikirkan. Entah mengapa perasaannya sangat kacau ketika ia meninggalkan Freya di rumah sendiri, meski banyak ada pelayan di sana.
Daryan merasa ada yang tak beres, atau akan ada kejadian buruk yang menghampiri calon istrinya itu.
Hah!
Ia menghembuskan napas, dan kembali menarik udara. Agar ia tenang, tak memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
“Freya, aku harap kau baik-baik saja,” gumam Daryan.
Di lain sisi, Anya masih melirik dengan tatap sinis ke arah Freya. Ia sudah dihubungi Louis, sebentar lagi rencananya untuk menghabisi gadis yang menjadi penghalang untuk mendapatkan harta keluarga Jefferson terlaksana.
Dengan raut wajah memelas, Anya mengelabui Freya yang sudah selesai menyantap makanannya. “Freya, bisa tidak aku minta tolong kepadamu?”
Freya menoleh ke arah depan, manik matanya sedikit mengembang, ia heran karena tumben sekali Anya menggunakan nada yang terbilang lembut ketika berbicara kepadanya.
Hu’um.
“Iya ada apa, Nona Anya?” tanya balik Freya dengan menundukkan kepalanya.
Ia masih saja menghormati Anya, meski wanita licik itu terus melontarkan perkataan menyakitkan dan bahkan keselamatan nyawanya menjadi taruhan kini.
“Freya, aku sangat ingin pergi ke taman belakang hanya berdua saja denganmu. Temani aku ya ...,” pinta Anya yang gelagatnya seperti seorang sahabat.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat Freya begitu senang. Setidaknya ia bisa memiliki hubungan baik dengan mantan kekasih calon suaminya ini. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, Freya mengangguk dan menuruti apa yang dipinta Anya.
Ia membantu Anya untuk bangkit, karena kata wanita licik itu kakinya sudah mulai keram dan mengembang. “Terima kasih ya Freya atas bantuanmu,” senyum dilandasi kepura-puraan melintas di wajah Anya.
“Sama-sama Nona Anya, mari saya bantu memapang Nona untuk mengarah ke taman belakang.” Freya merangkul tubuh Anya.
Seperti yang dipinta Anya, mereka hanya ingin berdua saja di taman itu. Freya pun memerintahkan kepada pelayan Oh agar para pelayan lainnya tak mengikuti mereka. “Hana, saya minta tolong perintahkan teman-teman untuk tak mengikuti saya dan Nona Anya.”
Oh Hana, pelayan kepercayaan keluarga ini langsung menyetujui apa yang diperintahkan oleh Freya.
“Baik Nona Freya.” Hana menunduk dan kembali menjalankan tugasnya.
Sampainya di taman yang begitu indah dengan hamparan angin sepoi-sepoi. Anya sengaja memelankan suaranya, seakan ia bersalah kepada Freya.
“Freya, maafkan aku ya. Sebelum-sebelumnya aku selalu menatapmu dengan sinis, dan tak pernah menjaga ucapanku sama sekali. Padahal aku tak boleh bersikap ketus seperti itu dengan seseorang yang sangat dicintai Daryan.” Anya sengaja meneteskan deruan air mata, agar Freya semakin simpati kepadanya.
Sebenarnya ia juga sakit, ketika Anya mengatakan bahwa anak yang dikandung adalah anak dari Daryan. Tapi ia yakin jika penjelasan Daryan waktu itu adalah benar. Mungkin saja anak yang dikandung Anya bukanlah anak pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Anya terus meminta maaf, tak peduli Freya mengatakan tak perlu merasa bersalah.
Sampai ia sengaja memeluk Freya, karena orang suruhan Anya sudah berada tepat di belakang Freya. Dengan wajah yang ditutup dan berpakaian serba hitam, ia siap untuk menusuk pisau lipat itu di bagian belakang Freya.
Anya menganggukkan kepala, seakan Louis diperintahkan cepat melakukan tindakan tersebut.
Glep!
“Aaak ...” Mulut Freya terbuka dan ia merasakan sakit luar biasa di perut bagian samping. Memegangi bagian itu yang telah memuncratkan banyak darah.
“Ke-kenapa kau me-melakukan ini kepadaku?” tanya Freya tergagap kepada Anya, sedangkan Louis masih berada di belakang wanita itu.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkanmu hidup, Freya! Sampai kapan pun, Daryan adalah milikmu kau tak boleh memilikinya!”
“Louis tancapkan pisaumu itu lagi di tubuh wanita rendahan ini! Nanti mayatnya kita buang ke sungai saja!” perintah Anya dengan mata yang melotot sampai memerah. Ia manusia yang lebih mengerikan dibandingkan iblis.
Baru saja ingin menancapkan beberapa tusukan lagi, mereka berdua mendengar teriakan Daryan memanggil Freya.
Sontak hal ini membuat Anya dan pembunuh bayarannya itu bingung. Dengan tingkah gelagapan, ia pun menyuruh Loius untuk kabur. “Ayo, tak ada banyak waktu kita kabur saja. Sialan!”
Sedangkan Freya sudah tersungkur di bawah lantai.
“Freyaa .......” teriak Daryan menggelegar sampai ke dalam ruangan.
Semua pelayan dan pekerja berhamburan ke sumber suara. Daryan meneteskan air mata dan memerintahkan pelayan Oh menelpon dokter spesialis ke rumahnya untuk mengobati Freya.
“Sean!” panggil Daryan.
“Cepat kau kerahkan satuan kepolisian di kota ini, aku yakin orang yang akan berusaha membunuh Freya masih berada disekitaran sini!”
Sean dengan cepat bergerak, mengerahkan semua kesatuan untuk menangkap pelaku yang telah melukai Freya.
“Di mana Anya?” tanyanya kepada pelayan lain.
“Nona Anya tadi bersama Nona Freya di taman ini, Tuan Daryan.”
Huh!
‘Sudah kuduga, aku memberikan kesempatan kepada iblis itu untuk melukai Freya. Aku tidak akan melepaskanmu Anya!’ bisik Daryan dalam hatinya, ia sangat yakin jika kasus penusukan Freya dalangnya adalah Anya.
Bersambung.
__ADS_1