
Semua pihak berwajib dikerahkan untuk mencari keberadaan Anya. Daryan memberikan perintah agar Kelvin tak langsung di ajak ke rumah, agar lelaki kecil yang sangat menyayangi Freya tak melihat calon ibunya terbaring.
“Bagaimana dok?” Daryan berdiri mendekati beberapa dokter spesialis yang telah dihubungi pelayan kepercayaannya itu tadi.
Matanya berkaca-kaca berharap apa yang dikatakan para dokter bisa membuat hatinya tenang mengenai keadaan Freya.
“Nyonya Freya tidak kenapa-napa, Tuan Daryan. Luka tusukan yang ada di bagian perut bagian samping kiri tak sampai menembus organ dalamnya. Untung saja segera diobati, mungkin Nyonya Freya akan sembuh total sehari atau sampai tiga hari. Kami sudah memberikan beberapa penanganan yang terbaik,” jelas salah satu dokter yang sudah sangat dipercaya Daryan.
“Terima kasih banyak dok atas bantuannya.”
Beberapa ahli medis kembali menjalankan tugas menuju rumah sakit, sedangkan Daryan meminta dua orang medis untuk tinggal di sini sampai Freya benar-benar sembuh total.
Ia tak akan meninggalkan Freya dalam kondisi seperti ini, padahal niat hati ia ingin sekali membantu mencari keberadaan Anya agar perempuan iblis itu segera di tangkap dan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Daryan pun mendekati Freya yang masih terlihat begitu pucat terlentang di atas kasur besar itu. “Freya, maafkan aku ya karena tak bisa menjagamu dengan baik. Maaf karena telah membiarkan Anya berada di rumah ini, seharusnya aku menuruti feelingku sejak awal jika ia mungkin saja akan menyelakaimu.” Pria dengan wajah merasa bersalah itu mencium pundak tangan kanan Freya. Dan ia pun tak mampu untuk membiarkan air matanya memendung dikelopak mata.
Butiran air mata membasahi tangan Freya.
Hmm!
Gerakan motorik dari Freya membuat Daryan tersadar.
“Ya, kamu sudah siuman?” tanya Daryan dengan mata yang mengembang menatap ke arah Freya.
Freya berusaha untuk membuka matanya begitu pelan, dan ia melihat samar-samar wajah pria yang sangat ia cintai sedang menatap sendu.
__ADS_1
“Kak Ian? Ada apa?” tanya Freya yang bingung, seingatnya ia baru saja bercengkrama dengan Anya di taman belakang.
Namun, ia pun cepat menyadari. Ia memegangi perutnya yang telah diperban dan kembali menoleh ke arah Daryan, “Kak Ian, aku ...”
“Tenang Freya, kau perlu istirahat yang banyak. Aku mohon kau jangan banyak gerak dulu ya ...,” pinta Daryan yang matanya bengkak. Sepanjang Freya diobati dia terus menangis, memikirkan kondisi wanita yang sangat ia sayangi.
Freya masih merasakan sakit luar biasa di bagian perut akibat luka tusuk itu. Ia masih trauma untuk bertemu dengan orang yang tak dikenal.
“Yaya, apakah kau ingat siapa yang melakukan ini kepadamu?” tanya Daryan hanya ingin memastikan, padahal ia sudah tahu siapa dalang dari kejadian semua ini.
“Hmm,” geram Freya ia tak dapat memberitahu pelakunya, karena ia hanya melihat sosok yang mengenakan pakaian serba hitam. Tapi ia ingat ekspresi Anya yang begitu mengerikan seakan wanita itu akan menghabisi Freya secepat mungkin.
Tiba-tiba Daryan mendapatkan panggilan dari Sean. Pria kepercayaan Daryan itu melaporkan bahwa dirinya telah menemukan Anya dan seorang pria yang ingin menyeberang pulau.
“Cepat tangkap mereka berdua dan setelah itu kau urus segala sesuatunya, Sean. Langsung jebloskan mereka ke jeruji besi!” ucap Daryan yang begitu tegas.
Daryan kembali mendekati Freya dan mencium kening wanita malang itu. “Sudah, kau tak perlu khawatir. Pelaku yang membuatmu seperti ini sudah aku bereskan.”
Freya hanya mengangguk, ia percaya Daryan bisa menyelesaikannya. Namun, ketika ia melihat jam dinding yang ada di depannya, “Sudah pukul 2 siang, Kelvin di mana Kak Ian?”
Daryan tersenyum tipis, meski masih terbaring akibat luka tusukan dan merintih kesakitan. Freya masih saja memikirkan putra sambungnya itu.
Pria ini menatap tajam manik mata indah Freya sembari mengelus-elus ubun-ubun gadis cantik itu. “Kelvin sedang berada di luar, Freya. Kau tak perlu khawatir, untuk saat ini aku minta kepadamu jangan banyak gerak dan istirahat yang banyak ya, Sayang.” Daryan memberikan sentuhan lembut di pipi kanan Freya.
Tiga haripun berlalu, Freya sudah sembuh total dan Anya serta Louis dipenjara dengan hukuman seumur hidup karena mereka telah melakukan pembunuhan berencana.
__ADS_1
Daryan, Freya, dan Kelvin sedang bersantai di taman belakang.
Kelvin yang asyik berlarian di taman seraya mengejar kupu-kupu terbang membuat Daryan bernostalgia.
“Yaya, waktu cepat sekali berlalu ya. Baru saja kita bermain di taman seperti Kelvin lakukan saat ini,” ujar Daryan sambil merangkul pundak Freya.
“Iya Kak Ian, aku juga tak menyangka semua itu akan berlalu dengan cepat.”
“Besok kau sudah menjadi istriku, Ya. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikanku wanita indah sepertimu.” Daryan menoleh ke arah Freya.
Tanpa menunggu aba-aba, bibir lembut Daryan menyentuh bibir tipis Freya.
Keesokan harinya mereka menggelar acara pernikahan di lapangan terbuka. Alesya, ibunda Freya pun sudah bisa menjalankan kehidupan bebas dari rumah sakit, tapi masih menggunakan alat bantu yaitu kursi roda.
Ia menangis melihat sang putri akan menikah dengan pria baik seperti Daryan.
Ada wejangan dari Alesya untuk Daryan, “Nak, terima kasih banyak karena telah melabuhkan hati kepada putri Ibu. Ibu minta kepadamu Nak Daryan, tolong jaga dan kasihilah Freya.”
Daryan hanya mengangguk, ia tak dapat melontarkan kata-kata karena saking bahagianya di hari ini. Ia masih belum bisa menyangka, dirinya telah menikahi seorang yang sangat dicintainya sejak dulu.
Mereka pun memasangkan cincin satu sama lain. Dan pada saat sesi foto, Kelvin ada di tengah-tengah sembari Freya dan Daryan mencium pipi mungil putra mereka.
Tampak terlihat jelas wajah bahagia memenuhi tempat ini.
“Terima kasih Kak Ian karena telah menjadikanku istrimu.”
__ADS_1
“Seharusnya aku yang berterima kasih, Freya. Karena kau mau kujadikan istri. Aku harap kita akan bahagia selamanya.”
Tamat.