My Beloved CEO

My Beloved CEO
Benih Cinta


__ADS_3

Dengan rambut klimis dan mengenakan jas rapi seperti biasa ia menunggu Daniel di cafe Glorya.


Tempatnya sangat indah, Daryan bisa melihat pandangan pegunungan dari atas.


Hah!


Daryan menghela napas sembari memandang jauh keindahan yang diciptakan oleh Tuhan.


Tangan Daryan di lipat berada di dada dan kaki panjangnya di lipat juga.


Ia sungguh menikmati desiran angin, seraya beberapa kali memperbaiki helain rambut yang hampir berantakan.


“Kenapa dia lama sekali?” guman pria tampan ini.


Merasa tuannya merasa gelisah, Sean pria yang lebih tua tiga tahun dari Daryan mendekati CEO muda itu.


“Tuan, apakah saya harus menghubungi Tuan Daniel lagi?”


“Tidak perlu, Sean. Aku akan menunggunya saja, mungkin ia sedang bersenang-senang dengan wanita-wanita bayaran itu,” ucap Daryan.


Sean hanya mengangguk.


“Kau bersembunyi saja lagi Sean, atau kau sudah lapar kah? Ini gunakan kartuku.” Daryan memberikan black cardnya kepada pelayan setia itu.


“Tidak Tuan, saya sudah makan,” jawab Sean hormat.


“Bohong! Ini gunakan saja.” Daryan menoleh Sean sembari tersenyum tipis.


Tidak bisa menolak, Sean segera mengambil kartu yang hanya dimiliki kalangan konglomerat saja.


30 menit kemudian ....


“Hey Bro, maafkan aku karena terkena macet!” teriak Daniel dari jauh mendekati pria yang memiliki tatapan tajam itu.


Aura kemurkaan Daryan begitu terlihat, ia menatap sinis Daniel yang kini membeku karena takut akan kemarahan CEO muda ini.


“Maaf Ian, aku tadi ada pertemuan dengan Jessica mantan pacarku yang di California,” ungkap Daniel sembari menundukkan kepala.


Ia takut melihat Daryan yang sejak tadi memasang wajah tidak ramah.

__ADS_1


“Daniel, kenapa kau bisa membayar wanita yang bernama Freya?” tanya Daryan yang ingin menerkam teman lamanya itu.


“Ohh Nona Freya?” Daniel duduk di hadapan Daryan.


Baaarrgg!


“Ia dia, kenapa?!” Daryan memukul meja kaca di depannya seraya melotot.


Daniel sangat terkejut, setelah sekian abad Daryan tidak pernah menampilkan wajah serius seperti ini.


“Astaga, Ian kenapa kau sampai mar ...”


“Jangan memanggilku dengan nama itu! Cepat jawab pertanyaanku tadi mengenai wanita yang kau bayar kemarin malam di club Victoria!” teriak Daryan memotong pembicaraan Daniel.


Pria tampan yang selalu tersenyum itu tiba-tiba gemetaran. Wajahnya begitu pucat karena kemarahan Daryan.


Daniel menghela napas, secara otomatis ia harus menjawab apa yang terjadi sebenarnya waktu itu.


“Kau tahu kan, aku sedang merasa kesepian karena Jessica memutuskan hubungan sepihak. Naah, pada saat aku menemui Bella, seorang wanita yang sering menawarkanku wanita bayaran, ia melihatkan foto wanita cantik yang bernama Freya kepadaku. Yaah, aku tidak menolaknya karena gadis itu memiliki wajah dingin,” jelas Daniel.


“Kau!” tunjuk Daryan seraya menyempitkan matanya.


“Tidak! Kan kau yang kuberikan? Jika saja kau tidak datang ke club malam, mungkin saja aku akan menikmati ...”


Buurrgghh!


Daryan memukul teman yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri itu, rahang Daniel seperti ingin lepas.


Daniel menyeka darah yang keluar dari mulutnya, sambil melihat Daryan dengan bingung.


“Kau kenapa Daryan? Apa yang kau lakukan?” teriak Daniel.


“Jangan sekali-kali kau sewa wanita itu lagi! Dia adalah milikku, Daniel!”


Daryan segera meninggalkan Daniel dengan wajah kesal. Namun pria yang baru saja di pukul dengan temannya itu malah tersenyum tipis.


“Ohh, jadi wanita itu yang sudah membuat hati dingin Daryan luluh. Tapi sayang, aku juga mulai tertarik dengan wanita jutek itu, Daryan!” gumam Daniel melihat punggung pria tersebut.


“Sial kenapa, harus Freya yang dia sewa? Banyak wanita cantik di kota ini, kenapa harus dia!” gerutu Daryan melampiaskan kemarahannya.

__ADS_1


Setelah itu, Daryan kembali ke kantor pusat.


Semua karyawan menyapa kedatangan CEO muda itu dengan menundukkan kepala.


Tumben sekali Daryan hanya terdiam tanpa menyentuh berkas yang sudah menumpuk di meja kerjanya.


Sampai sekretaris pria itu yang bernama Clara canggung harus melakukan apa. Ia bingung melihat atasannya hanya berdiam diri.


‘Kenapa Pak Daryan diam saja? Sebelum-sebelumnya ia akan selalu berteriak meminta laporan yang harus dikerjakan hari ini?’ Clara bermonolog.


Wanita muda ini tergagap melontarakan pertanyaan.


“Ma-af Pak Daryan, sa-ya ...”


Hah!


“Kenapa dia membuatku gila seperti ini!” teriak Daryan.


Sontak hal itu membuat Clara sangat terkejut dan manik matanya membesar.


‘Sepertinya Pak Daryan sedang tidak baik-baik saja saat ini!’ asumsi Clara dalam hati.


Beberapa kali Daryan memijat kepalanya yang terasa berat, ia tidak bisa melepaskan bayangan mengenai Freya.


Wanita sederhana yang tidak pernah takut kepada Daryan.


Aaarrgghhh!


Daryan kembali berteriak.


‘Siapa yang membuat Pak Daryan seperti ini? Aku tidak pernah melihat Pak Daryan sefrustasi ini!’ Clara semakin takut akan tingkah laku atasannya itu.


Clara kembali memberanikan diri untuk bertanya kepada Daryan, meskipun ia tahu mungkin saja atasannya itu akan marah besar.


“Pak Daryan, maafkan saya. Apakan Anda?”


“Sekretaris Clara, tolong hubungi nomer ini.” Daryan memberikan ponselnya yang berisi nama Freya.


“Jika ia menjawab tolong katakan, saya sedang demam dan suruh dia ke kantor saya!” suruh Daryan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2