
Beberapa menit kemudian, dengan rasa takut Freya berjalan dilorong rumah sakit berusaha tenang untuk mengantisipasi kemurkaan Daryan.
“Dia pasti marah!” gumamnya.
Selayang pandang, Daryan melihat Freya yang menundukkan kepala sembari bibirnya kumat-kamit seperti membaca mantra.
“Sean bersembunyilah,” suruh Daryan kepada anak buahnya itu.
Hmm!
Ia sengaja melihat Freya dengan tatapan tajam, menyorot wanita itu secara detail.
Seakan-akan Daryan akan menerkam wanita yang sedang menghafalkan ucapan maaf kepada Daryan.
“Bagaimana yaa cara minta maaf dengan pria arogan itu? Aah, kenapa aku harus minta maaf, dia tidak mungkin tahu makhluk mitologi itu, buktinya ia seperti kebingungan kan tadi.”
Freya masih berbicara sendiri tanpa melihat ke arah jalan, yang sejak tadi Daryan mendengar gumamnya itu.
“Siapa pria arogan?!” tanya tegas Daryan.
“Astaga, Tuan mengagetkanku saja,” ucap Freya sembari meletakkan kedua tangannya di dada.
‘Kenapa pria ini ada di depanku?’ Freya membatin.
“Jawab pertanyaanku tadi, siapa yang kau katakan pria arogan, hah?” Daryan meninggikan nada suara.
Dagunya diangkat serta kedua tangannya dilipat di depan dada.
Ingin rasanya Freya berteriak, “Siapa lagi jika bukan kau!”
Namun ia menurunkan niatnya, ia tidak ingin membuat perkara lagi dengan pemiliki rumah sakit ini.
Hah!
Freya malah menghembuskan napas terpaksa, untuk menenangkan diri dari tatapan tajam Daryan.
“Tidak ada Tuan, aku hanya menilai karakter tokoh novel yang kubaca,” jawab Freya tanpa melihat wajah tuannya.
__ADS_1
“Apakah kau tahu aturan tata krama sopan santun yang baik dan benar? Pantaskah kau memalingkan pandanganmu pada saat ada seseorang yang bertanya serius kepadamu, Freya?” tegas Daryan.
Freya hanya mampu menelaah ucapan pria yang sangat arogan menurutnya itu, sembari mencoba menghembuskan napas kembali lantas memberanikan diri untuk melihat ke arah Daryan.
Tatapannya sangat mematikan Freya.
‘Kenapa dia sepertinya marah sekali? Memang perasaannya seperti roller coaster!’ celetuk Freya dalam hati.
Daryan tidak bersua lagi. Tatapannya dingin, tapi sepertinya ada makna yang tersirat di dalamnya.
Karena canggung dilihat seperti itu, Freya menunduk sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Tuan, kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu? Apakah ada yang salah?”
“Aku tahu dengan apa yang kau katakan kepadaku tadi, aku tahu makhluk itu. Dan apakah benar aku seperti itu, Freya?”
“Maksudmu iblis Astaroth?” tanya balik Freya meyakinkan Daryan.
Pria ini hanya mengangguk, ia terlihat pasrah.
“Bukan begitu maksudku, Tuan. Aku hanya repleks saja mengatakanmu dengan sebutan itu, karena hanya makhluk tersebut yang terlintas dibenakku,” jelas Freya seraya tersenyum tipis agar Daryan memaafkannya.
“Tolong jangan perlihatkan wajah dengan senyuman jelek itu kepadaku, aku tidak menyukainya,” ujar Daryan.
Namun ada sambungannya, ia hanya berani berucap dalam hati. ‘Jika terus kau melihatkan senyuman manismu itu, aku akan semakin gila karenamu, Freya!’
Wanita itu mengangkat alisnya satu, sudah ia duga pasti Daryan akan berceletuk dan membuatnya tidak suka.
Sudah berapa ratus kali pertanyaan yang selalu berputar-putar dibenaknya, dengan pengakuan Daryan terkait cinta pertamanya itu. Namun tetap saja, Freya tidak percaya bahwa Daryan adalah Ian, pangeran yang ia tunggu-tunggu selama ini.
‘Aah sudahlah, ingat Freya dia bukan pangeranmu. Dia hanyalah iblis Astaroth!’
Daryan mengajak Freya untuk segera ke mansionnya.
“Kenapa tiba-tiba, Tuan? Bukannya aku masih butuh perawatan di sini?” heran Freya.
Daryan menggeleng.
__ADS_1
“Tidak! Siapa yang akan menjagamu di sini, jika kau masih kekeh di rawat di tempat ini?” tanya Daryan.
“Kan ada suster dan beberapa dokter lainnya, Tuan.”
“Tidak! Sudah aku katakan tidak, kau harus ke rumah agar aku bisa menjagamu!” Daryan menarik tangan Freya dengan lembut.
Lag-lagi gadis ini harus menuruti apa yang diperintahkan pria itu.
Freya memperhatikan punggung Daryan dan ia melihat bagian leher pria itu.
‘Tidak! Tidak! Apa sih yang sudah aku pikirkan saat ini!’
Ia menggelengkan kepalanya cepat, untuk membuyarkan lamunan yang tersirat mengenai Daryan.
Menepis semua prasangka yang ia timbulkan dalam hati.
Tidak mungkin ia jatuh cinta dengan pria arogan ini!
“Apakah aku sudah gila, hah!” teriak Freya yang tak terkontrol.
Hal ini membuat Daryan menghentikan langkahnya, segera menoleh ke belakang meyakinkan Freya baik-baik saja.
Ia menatap dengan tatapan kebingungan dan dahinya dikerutkan.
“Kau kenapa, Freya? Teriak-teriak tidak jelas, jaga volume suaramu. Ini adalah rumah sakit,” sahut Daryan.
Lalu ia tidak bertanya lagi, kembali berjalan dan bibir Daryan mengembangkan senyuman kebahagiaan. Sepertinya ia tahu apa yang dipikirkan gadis ini.
Soalnya pada saat ia terus memikirkan Freya, pria ini berteriak kencang seperti itu pula.
Memang cinta membuat kedua insan ini menjadi gila.
Awalnya perasaan mereka ditumbuhkan kebencian satu sama lain, serta selalu ada konflik yang membuat mereka tidak akrab.
Tapi sekarang semuanya berubah.
“Ayo kita ke rumah, Sayang,” ucap tengil Daryan.
__ADS_1
“Sayang?”
Bersambung.