My Beloved CEO

My Beloved CEO
Perintah Daryan


__ADS_3

“Perkenalkan namaku Ian, senang bisa berkenalan denganmu ...”


“Kak Ian!” teriak Freya sembari bangun dari tidur pulasnya.


Freya melihat ke arah Kelvin dan ternyata ia baru saja bermimpi. Kepalanya terasa sakit dan berat, sehingga ia memberikan sentuhan di kening.


“Aah, ternyata semua itu hanyalah mimpi. Tapi kenapa setelah sekian lama, pria bernama Ian itu muncul lagi?” gumamnya sembari terus memijat pelan keningnya yang sakit.


Namun, wajah Daryan tiba-tiba ada di depan Freya, jarak mereka begitu dekat.


Dengan repleks tangan gadis cantik itu memukul wajah Daryan.


Plak!


“Astaga, maaf Tuan aku tidak tahu jika yang di depanku adalah ...”


Daryan begitu terkejut, ia mengusap-usap pelipisnya yang ditampar begitu kuat oleh istri kontraknya ini.


“Kau kira aku hantu, hah? Sudah dua kali kau memukulku! Dasar wanita aneh!”


Pria yang memiliki tatapan tajam itu melihat sinis ke arah Freya, sehingga membuat wanita ini hanya terdiam dan menundukkan kepala sembari bertanya dalam hati, ‘Memang kapan aku memukulnya lagi?’


Keributan mereka berdua membuat Kelvin sedikit terusik. Anak berusia 4 tahun itu bergerak, hal ini membuat Daryan dan Freya berusaha untuk menenangkan Kelvin.


Secara bersaman tangan Freya dan tangan Daryan berada di paha Kelvin, sehingga membuat Daryan tidak sengaja memegangi jari-jari mungil ibu pengganti sang putra.


Hal ini sontak membuat keduanya saling menatap satu sama lain.


Daryan segera melepas pegangannya itu, ia mengkerutkan dahinya dan membuang muka. Tidak ingin melihat Freya.


“Gara-gara kau berteriak, Kelvin jadi bangun!” bentak pria ini kepada Freya.


“Maafkan aku Tuan, aku akan segera membuat Kelvin tidur pulas kembali.”


Keesokan paginya.


Freya masih tertidur pulas, ia tidak sadar ternyata Kelvin sejak tadi sudah bangun dan memeluk ibu guru yang sangat ia sayangi itu.


Wanita ini kemarin malam tidak bisa tertidur, ia masih memikirkan kondisi ibunya yang masih di rumah sakit.


Daryan yang sudah memakai pakaian lengkap dan segala outfit mahalnya, membuka pintu kamar sang putra.


Ia melihat Kelvin yang tersenyum kepadanya, “Papa ...” panggil Kelvin begitu manja.


Hah!

__ADS_1


Daryan menghela napas dan ia pun mendekati Freya sembari menggerak-gerakan tubuh wanita itu agar cepat bangun.


“Hey! Hey bangun,” suruh kasar Daryan.


Kelvin yang ada disampinya meminta kepada sang ayah, “Pa, jangan di bangunkan Ibu Eya.”


Dengan lembut Daryan menyentuh rambut Kelvin dan berucap, “Ini sudah menjadi tugas Ibu Eya, Sayang. Masa Kelvin menjaga Ibu Eya?”


Daryan kembali membangunkan wanita itu sembari berceletuk dengan begitu kesal dalam hati, ‘Baru pertama kali aku bertemu dengan wanita seperti dia ini!’


Freya belum juga terbangun, tapi Daryan tidak kehabisan akal.


Ia menginjak dengan begitu kuat jari kaki Freya menggunakan sepatu stefano bemer yang terbuat dari kulit unta asli ini.


‘Cepat bangun!’


“Aarrghh!” teriak Freya kesakitan, mendapati jari kakinya hampir putus.


Kelvin terkejut dan ia bertanya sangat lembut kepada Freya, “Ibu Eya, ada apa?”


Freya melihat ke arah bawah, lalu menoleh menatap mata Daryan dengan penuh kekesalan. Ingin rasanya saat ini ia mengatakan turnamen bela diri dengan pemilik binis raksasa ini.


Bayangan Freya ...


Di sebuah ring arena tempat pertandingan, Daryan dan Freya telah memakai pakaian tinju masing-masing.


Gerakan Freya sungguh gesit dan ia begitu bahagia melakukan hal tersebut kepada pria arogan itu.


“Rasakan kau!”


Hahaha!


Freya tertawa sangat senang.


Hal ini sudah sangat lama ingin dilakukan oleh Freya semenjak awal pertemuannya dengan Daryan di pusat pembelanjaan waktu itu.


Dengan bangga Freya menaikkan tangannya dan tersenyum sumringah.


“Memang wanita aneh! Apa yang kau pikirkan?” tanya Daryan kepada Freya yang sejak tadi melamun seperti sedang membayangkan sesuatu.


Freya dengan cepat menggelengkan kepalanya, membuyarkan semua bayangan mengenai kemenangan dirinya di ring tinju melawan pria yang sangat ia benci.


Seandainya saja saat ini Kelvin tidak ada, pastinya Freya akan melawan pria angguh itu.


Wanita ini segera bangkit dan menundukkan kepala, “Maafkan Ibu Eya ya Vin, Ibu terlambat bangun.”

__ADS_1


Freya menoleh ke arah jam dinding, jarum jam menunjukkan pukul 07. 13.


‘Astaga, aku harus cepat ke rumah sakit menjengguk ibu.” Freya membatin.


“Kelvin, maafkan Ibu tidak bisa berlama-lama ya. Ibu Eya ada urusan mendadak dan ibu juga harus mengajar di kelas Lyli,” jelas Freya sembari memberikan sentuhan di pipi putra Daryan.


Freya segera berlari ingin ke luar, tapi piyama di bagian leher wanita ini di tarik oleh Daryan.


“Ingin kemana kau?” cetus CEO muda itu.


“Tuan, kau sudah tau kan ibu ku masih berada di tahap pemulihan. Aku akan ...”


“Kau tidak perlu ke rumah sakit. Aku sudah menugaskan 12 dokter ahli untuk menjaga dan merawat ibumu.”


“Tapi Tuan aku ingin ...”


“Sudah kukatakan kau tidak perlu ke sana, tidak usah khawatir.” Lagi-lagi Daryan memotong ucapan yang akan dilontarkan Freya.


‘Sunggu pria yang begitu arogan dan angkuh! Seenaknya dia memerintahku seperti ini, apa ia tidak mengerti perasaan seorang anak yang sangat ingin melihat wajah ibunya setelah operasi, hah? Apa semua orang yang memiliki jabatan dan kekayaan tingkahnya seperti ini?’ gumam Freya dalam batinnya.


Daryan melepas piyama Freya.


“Aku akan bersiap ke kantor, tugasmu hari ini menjaga Kelvin seharian di rumah!” perintah Daryan kepada Freya.


Wanita ini menyempitkan bola mata, “Aku ini seorang guru playgrub, Tuan Daryan yang terhormat. Hari ini aku harus mengajar anak-anak, kau tidak bisa sesuka hati memerintahkanku untuk tidak masuk!”


Wajah Daryan datar ketika mendengar perkataan Freya.


“Masih ingat persyaratan yang sudah kau setujui itu kan? KAU HARUS MENJALANKAN APA YANG KUPERINTAHKAN!”


Setelah mengingatkan hal itu kembali kepada Freya, Daryan mendekati Kelvin, lalu mencium kening putranya dan berpesan, “Sayang, Papa berangkat kerja dulu ya. Kelvin harus makan banyak agar tidak sakit.”


Tanpa melihat Freya, Daryan menuju keluar kamar sang putra.


“Awasi wanita itu Oh. Saya ada meeting dengan klien, mungkin akan pulang larut malam,” perintah Daryan kepada pelayan kepercayaannya.


Freya masih membeku, melihat keangkuhan dari Daryan.


Merasa aneh, Kelvin memanggil wanita yang ia sayangi, “Ibu Eya ...”


Freya menoleh ke arah Kelvin, ia tersenyum. “Tunggu sebentar ya Vin, Ibu akan menghubungi kepala sekolah Margaret.”


Anak kecil itu mengangguk dan memberikan senyum manis kepada Freya.


“Selamat pagi Bu Margaret, maaf hari ini saya tidak bisa masuk untuk mengajar anak-anak, karena ada urusan mendadak.”

__ADS_1


“Iya Bu Freya, kami sudah mendapatkan telpon pagi-pagi sekali, jika kau tidak bisa masuk hari ini. Lagipula kami tidak sedang melakukan kegiatan seperti mana biasa, karena semua anak-anak dan para guru di sini diberikan tiket wisata gratis dengan seorang donatur yang tidak diketahui namanya.”


Bersambung.


__ADS_2