My Beloved CEO

My Beloved CEO
Mabuk Asmara


__ADS_3

Daryan benar-benar seperti orang gila. Atau jika bisa di deskripsikan ia seperti vampire yang kehausan akan darah.


Tubuhnya kini seperti cacing liat yang tidak bisa diam. Mondar-mandir di depan meja kerja sampai membuat Clara tidak tahu harus berbuat apa.


“Cepat telpon wanita itu menggunakan telpon saya!” Daryan memberikan ponselnya.


Clara pun sangat bingung, karena hari ini atasan yang dikenal cuek tiba-tiba menampilkan tingkah aneh.


“Baik Pak Daryan.” Clara mengambil ponsel Daryan sembari menunduk.


Tut! Tut!


Di lain sisi Freya sedang sibuk mengurus anak-anak didiknya untuk makan siang.


“Ayoo anak-anak, sekarang waktunya makan. Tapi tunggu dulu, Ibu Eya mau bertanya siapa di sini yang tidak suka makan sayur?” tanya Freya begitu ramah di kelas Lyli.


Hampir semua anak-anak mengangkat tangan. Hal ini membuat Freya sedih, karena setiap anak harus disuguhkan makanan yang bernutrisi tinggi.


Dengan dalih ia segera menyembunyikan sayuran itu di bawah roti yang mereka makan, agar anak-anak tidak menyadarinya.


Setelah selesai melakukan tugasnya, Freya istirahat sebentar dan mengecek ponselnya yang diletakkan di dalam tas.


Ketika melihat layar ponsel, manik mata Freya membesar.


“Ada panggilan sebanyak 110 kali dari pria itu?!”


Ia sungguh terkejut, apa yang membuat Daryan sampai menelpon Freya sebanyak itu.


“Apakah ini berkaitan dengan Kelvin yang belum masuk sekolah?” Perkiraan Freya yang masih memegangi ponselnya.


Wanita cantik ini tidak langsung menghubungi Daryan, ia hanya mengirim pesan singkat kepada pria arogan itu.


‘Ada apa Tuan kau menelponku sebanyak itu?’


Dalam ruangan Clara yang begitu lelah karena sejak tadi Daryan selalu menyuruhnya untuk menghubungi Freya pun bangkit dari sofa.


Dreet! Dreet!


“Pak Daryan, Nona Freya mengirimkan Anda pesan!” teriak Clara begitu bahagia.


Karena jika Freya sudah menghubungi Daryan, otomatis Clara akan diberikan izin untuk melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.


Netra mata pria yang tengah gila di buat oleh Freya itu membesar. Sontak ia menyuruh membacakan apa isi pesan dari wanita yang ditunggu-tunggu kabarnya tersebut.


“Kata Nona Freya, kenapa Anda menelponnya sebanyak itu?” ucap Clara sembari menatap layar ponsel Daryan.


Pria ini mengkerutkan dahinya.


Daryan tidak habis pikir, Freya menjawab ketus setelah pria ini menelpon sampai sebanyak itu.


“Apa? Dia hanya bertanya seperti itu saja? Apa dia tidak pernah berpikir sama sekali, aku sejak tadi menunggu kabarnya, hah?” teriak Daryan ke arah Clara.

__ADS_1


Sontak hal ini membuat wanita berusia 26 tahun itu terkejut, ia melangkah mundur karena takut akan teriakan Daryan seperti binatang buas.


‘Bekerja selama 3 tahun bersamanya di sini, baru pertama kali aku melihat wajah stressnya ketika tidak di telpon dengan wanita. Bukannya kekasih Pak Daryan adalah Nona Anya?’ Clara bermonolog.


Clara kembali bertanya kepada pria yang kini membuka jas dan rambutnya berantakan itu.


“Maaf Pak, jadi apa yang harus saya lakukan se ...?”


Daryan memotong pertanyaan Clara, “Telpon dia sekarang, Clara! Cepat katakan dia harus kemari saat ini juga!”


Glek!


Clara hanya bisa menganggukkan kepala dan melakukan perintah Daryan.


Ia segera menghubungi Freya dengan speaker sengaja dibesarkan agar Daryan dapat mendengarnya juga.


Clara : “Selamat siang Nona Freya, maaf telah mengganggu waktu Anda.”


Freya : “Ohh, bukan Tuan Daryan? Iyaa selamat siang juga, maaf ada keperluan apa ya menghubungi saya?”


Clara : “Maaf Nona, saat ini Pak Daryan sedang deman dan ia ingin bertemu dengan Nona di kantor pusat.”


Freya : “Maaf hari ini saya ada kegiatan mengajar, lagian nanti sore saya akan ke kediaman Beliau.”


Clara menoleh ke arah Daryan, ia ingin bertanya apa yang harus dikatakkan selanjutnya.


Daryan berbisik, “Bilang saja, saya sedang sekarat harus bertemu dengannya sekarang juga!”


Clara menggangguk.


“Good job, Clara. Terima kasih kau sudah menolong saya!”


Clara hanya mengangguk pelan sembari melihatkan senyuman tipis terpaksanya.


“Oke baiklah, kau boleh meninggalkan ruangan saya,” suruh Daryan.


Akhirnya Clara bisa terlepas dari penjara yang dibuat oleh pria aneh ini.


Namun, karena penasaran Clara bertanya sedikit mengenai wanita yang bernama Freya itu.


“Pak, mohon maaf sebelumnya. Apakah Nona Freya adalah ...”


“Dia adalah wanita gila yang membuat saya gila, Clara.” Daryan seakan tahu pertanyaan sekretarisnya yang mengarah terkait ibu pengganti Kelvin.


Jawaban pria itu semakin membuat Clara pusing dan bingung. Lalu tanpa bertanya lagi, Clara segera meninggalkan ruangan mewah Daryan.


‘Sepertinya Pak Daryan sedang di mabuk asmara,” ucap Clara dalam hati.


Sedangkan Freya masih bingung dengan apa yang diucapkan wanita yang tidak dikenalnya di ponsel Daryan.


Melihat Freya bingung, Margaret mendekatinya.

__ADS_1


“Bu Freya apa yang sedang kau pikirkan?” tanya pimpinan sekolah tersebut.


Freya terkejut, ia tidak sadar bahwa kepala sekolahnya ada di depan mata. Ia segera menggelengkan kepala pelan, “Tidak Bu, ini hanya ...”


“Coba ceritakan,” pinta Margaret.


Freya menceritakan mengenai telpon yang ia terima tadi.


Puk!


Margaret memukul pundak Freya pelan, dan ia menatap mata wanita muda itu.


“Bu, cepat ke kantor Tuan Daryan saat ini. Saya yakin Tuan Daryan membutuhkan Ibu sekarang,” pinta Margaret.


“Tapi Bu, bagaimana dengan anak-anak? Mereka belum tidur siang,” elak Freya mengkhawatirkan anak-anak didik yang menggemaskan itu.


“Jangan cemaskan anak-anak, masih banyak ada guru lain yang bisa mengurus mereka. Bu, saya pikir Tuan Daryan memiliki ketertarikan dengan Ibu. Jadi agar ia selalu berkontribusi untuk kestabilan yayasan ini, saya mohon temuilah ia sekarang juga!”


Tidak bisa menolak lagi, Freya segera ke kantor pusat Daryan.


Dalam perjalanan ia masih membayangkan apa yang dikatakan oleh pimpinannya terkait Daryan.


‘Apa, pria itu tertarik denganku?’


“Kenapa pria itu tidak pergi ke rumah sakit saja? Kenapa harus aku yang ke sana?” gumamnya mengenai permintaan Daryan yang begitu aneh.


Sampainya di kantor mewah milik Daryan. Ia di sambut dengan penjaga. Ternyata sudah sejak tadi Daryan melihat cctv.


Daryan memerintahkan penjaga untuk segera mengantarkan Freya ke ruangannya.


Beberapa menit kemudian.


Clara menundukkan kepala pada saat Freya ingin menemui Daryan.


“Selamat datang Nona Freya, sudah sejak tadi Pak Daryan menunggu Anda,” ucap Clara ramah.


Freya tersenyum dan memberikan hormat juga.


Tok! Tok!


“Masuk, pintunya tidak di kunci!” teriak Daryan dalam ruangan.


‘Aduh, aku harus terlihat normal. Aku tidak boleh merasa gugup seperti ini!’ celetuk Daryan dalam hati ketika Freya ingin menemuinya.


Clara menggerakkan tangan, mengarahkan Freya untuk masuk.


“Silahkan Nona Freya.”


Freya menundukkan kepala.


Namun, pada saat ia masuk. Dirinya hanya melihat Daryan yang sedang membawa koran dan duduk santai di singgasananya.

__ADS_1


“Kau? Bukannya kau sedang demam?”


Bersambung.


__ADS_2